Materi Atau Tuhan? Debat Teologi dan Fisikawan Materialis [229]


Oleh Sayyid Muhammad Baqir as Shadr (Penerjemah: Muhammad Nur Mufid) dan Disunting Kembali Oleh Sulaiman Djaya

Pada bab terdahulu, kita berkesimpulan: prinsip yang tertinggi dan paling primer alam semesta adalah sebab yang pada esensinya niscaya, yang rantai sebab-sebab berakhir padanya. Timbul persoalan baru kemudian: “Apakah yang wajib ada dengan sendirinya dan yang dianggap sebagai sumber pertama kemaujudan itu adalah materi itu sendiri atau sesuatu lain di luar batas-batas materi?” Secara filosofis pertanyaan tersebut adalah: “Apakah sebab efisien alam itu adalah sebab material itu sendiri atau bukan?”

Untuk memperjelas, kita ambil contoh kursi. Kursi adalah suatu kualitas atau bentuk tertentu yang terjadi karena pengorganisasian tertentu Sejumlah bagian material. Karena itu kursi tidak mungkin maujud tanpa materi seperti kayu atau besi dan lain sebagainya. Dengan alasan ini, kayu itu dinamakan sebab material kursi kayu, karena tidaklah mungkin kursi kayu itu maujud tanpa kayu. Tetapi jelas sekali bahwa sebab material tersebut bukanlah sebab hakiki yang bertanggung-jawab atas terciptanya kursi tersebut. Pembuat hakiki kursi itu adalah sesuatu yang bukan materinya, yaitu tukang kayu. Karena itu, filsafat menyebut tukang kayu itu “sebab efisien”.

Sebab efisien kursi tersebut bukan sebab materialnya itu sendiri, seperti kayu atau besi. Kalau kita ditanya materi kursi itu, kita jawab bahwa materinya adalah kayu. Dan jika kita ditanya siapa pembuatnya, tidak kita jawab bahwa pembuatnya adalah kayu, tetapi kita katakan bahwa tukang kayu telah membuatnya dengan alat-alat dan metode-metode tertentunya. Jadi, perbedaan antara materi dan penyebab adanya kursi tersebut (atau dalam ungkapan filosofis: antara sebab material dan sebab efisien adalah jelas sejelas-jelasnya).

Tujuan pokok kita dengan persoalan tersebut adalah menunjukkan perbedaan yang sama antara materi pokoknya (sebab material) dan pembuat hakikinya (sebab efisien). Apakah pencipta alam ini adalah sesuatu yang bukan materi dan berbeda dengap materi, karena pembuat kursi berbeda dengan materi kayunya, atau ia adalah materi itu sendiri yang darinya entitas-entitas di alam tersusun? Inilah persoalan yang akan menentukan tahapan akhir dari persengketaan filosofis antara teologi dan materialisme. Dialektika tidak lain hanyalah salah satu upaya yang gagal yang dilakukan materialisme untuk menyatukan sebab efisien dan sebab material alam, sesuai dengan hukum-hukum kontradiksi dialektik.

Supaya selaras dengan prosedur buku ini, kami akan membahas persoalan tersebut melalui telaah filosofis atas materi berdasarkan fakta- fakta ilmiah dan kaidah-kaidah filosofis, dengan menghindari kedalaman filosofis di dalam pembahasannya dan rincian di dalam pemaparannya.

Materi dalam Fisika
Ada dua paham ilmiah mengenai materi, yang keduanya dibahas dan dipelajari para pakar selama beribu-ribu tahun. Pertama, semua hal material yang dikenal ada di dalam alam itu tersusun dari sejumlah terbatas materi sederhana yang dinamakan “unsur-unsur” (elemen-elemen). Kedua, materi itu terbentuk dari benda-benda sangat kecil yang dinamakan “atom-atom”. Paham pertama diterima oleh orang-orang Yunani secara umum. Pendapat yang umum beranggapan bahwa air, udara, tanah dan api adalah elemen-elemen sederhana, dan mereduksi semua susunan kepada elemen-elemen tersebut karena elemen-elemen ini adalah materi-materi primer alam. Kemudian beberapa pakar Arab berusaha menambahkan kepada empat elemen tersebut tiga elemen lain, yaitu belerang, air raksa dan garam. Karakteristik-karakteristik elemen-elemen sederhana tersebut – dalam pandangan pakar-pakar klasik – merupakan pembeda elemen-elemen ini satu sama lain. Jadi, tidak mungkin satu elemen sederhana berubah ke elemen sederhana lain.

Sedangkan paham kedua – yakni bahwa benda-benda tersusun dari atom-atom kecil – menjadi pokok konflik antara dua teori: teori materi tidak rapat (teori atomistik atau al-nazhariyyah al-infishaliyyah) [230] dan teori materi rapat (al-nazhariyyah al-itishalliyyah). [231] Teori “tidak rapat” adalah teori atomistik filosof Yunani Democritus, yang menyatakan bahwa suatu benda tersusun dari bagian-bagian kecil yang terdapat kekosongan di antaranya. Terhadap bagian-bagian tersebut dikatakan oleh Democritus “atom”, atau “bagian yang tidak terbagi”. Teori “rapat” adalah teori yang lebih dominan, yang diambil Aristoteles dan tokoh-tokoh alirannya (Aristotelian), daripada teori “tidak rapat”. Benda, dalam teori tersebut, tidak mengandung atom-atom dan tidak tersusun dari satuan-satuan kecil. Tetapi, ia adalah sesuatu yang solid yang bisa dibagi menjadi bagian-bagian, yang terpisah karena pembagian. Tidak benar kalau ia mengandung bagian-bagian seperti itu sebelum pembagian.

Setelah itu, berperanlah fisika modern (berkenaan dengan isu ini). Ia mempelajari dua teori tersebut secara ilmiah berdasarkan penemuan-penemuannya di dalam dunia atom. Pada dasarnya ia mengukuhkan kedua teori tadi, teori elemen-elemen sederhana dan teori atom-atom, dan menemukan dalam masing-masing teori itu fakta-fakta baru yang tidak mungkin dicapai sebelumnya.

Dalam hal paham pertama, fisika menemukan sekitar seratus elemen sederhana, yang darinya materi primer alam semesta secara umum tersusun. Alam, meski pada pandangan pertama, tampak sebagai himpunan luar biasa realitas-realitas dan berbagai spesies, tetapi massa yang luar biasa lagi bermacam-macam ini, dalam analisis ilmiah, direduksi ke dalam elemen-eleman yang terbatas ini.

Substansi-substansi [232] – berdasarkan ini – ada dua macam. Pertama, substansi [233] sederhana, yang terdiri atas salah satu dari elemen-elemen tersebut, seperti emas, tembaga, besi, timah dan air raksa. Kedua, substansi[234] yang tersusun dari dua elemen (sederhana) atau beberapa elemen sederhana, seperti air yang tersusun dari satu atom oksigen dan dua atom hidrogen, atau kayu yang secara keseluruhan tersusun dari oksigen, karbon dan hidrogen. Dalam hal paham kedua, fisika modern, secara ilmiah membuktikan teori materi tidak rapat dan bahwa elemen-elemen sedarhana itu terdiri atas atom-atom kecil sedemikian, sehingga satu milimeter materi mengandung berjuta-juta atom. Dan atom adalah bagian kecil dari satu elemen. Kalau bagian itu dibagi, hilanglah karakteristik-karakteristik elemen sederhana tersebut.

Atom mengandung nucleus (inti atom) pusat dan muatan-muatan listrik yang berputar di sekitar nucleus dengan kecepatan yang sangat besar. Muatan-muatan listrik itu adalah elektron-elektron. Elektron adalah kesatuan muatan negatif. Nucleus juga mengandung proton-proton dan neutron-neutron. Proton adalah partikel kecil. Masing-masing kesatuan proton mengandung muatan positif yang sama dengan muatan negatif elektron. Neutron adalah jenis lain partikel yang juga dikandung nucleus, dan ia tidak mengandung muatan listrik.

Tampak, berdasarkan perbedaan yang nyata dalam panjang gelombang sinar-sinar yang dihasilkan dari pembombardiran unsup-unsur kimiawi dengan elektron-elektron, bahwa perbedaan antara unsur-unsur tersebut hanya terjadi karena perbedaan dalam jumlah elektron-elektron yang dikandung atom-atom unsur-unsur tersebut. Dan perbedaan jumlah elektron-elektron itu juga menuntut perbedaan mereka dalam kuantitas muatan positif di dalam nucleus. Hal ini karena muatan-muatan listrik atom itu sebanding. Muatan positif atom kuantitasnya sama dengan muatan negatifnya. [235] Karena bertambahnya jumlah elektron dalam sebagian elemen melebihi jumlah elektron dalam sebagian elemen yang lain berarti bertambahnya satuan-satuan muatan negatif di dalam elemen yang pertama maka nucleus elemen seperti itu tentu juga mengandung muatan positif yang sebanding.

Berdasarkan ini, diberikan angka-angka menaik pada elemen-elemen tersebut. Hidrogen = 1, berdasarkan angka (nomor) atomnya. Dalam nucleus-nya, hidrogen mengandung satu muatan positif yang dibawa satu proton, dan dikelilingi satu elektron yang mempunyai satu muatan negatif. Helium berada lebih tinggi daripada hidrogen dalam table atomik elemen-elemen, karena (angka atomiknya) = 2; karena ia mengandung di dalam nucleus-nya dua kali muatan positif, yang terpusat pada nucleus hidrogen; yakni nucleus helium mengandung dua protun yang dikelilingi dua elektrun. Lithium mengambil angka ketiga. Demikian seterusnya, angka-angka atomik itu terus menaik sampai mencapai uranium, ialah elemen terberat yang ditemukan hingga sekarang. Angka atomik uranium adalah sama dengan 92, dalam arti bahwa nucleus pusatnya mengandung 92 satuan muatan positif, dan juga sejumlah sama elektron, yakni satuan-satuan muatan negatif yang mengelilingi nucleus-nya.

Pada sederetan angka-anka atomik ini, tidak tampak pengaruh sedikit pun neutron-neutron dalam nucleus-nucleus, karena tidak mengandung muatan sama sekali. Tetapi, hanya mempengaruhi berat atomik elemen-elemen, karena sama beratnya dengan proton-proton. Karena hal itu, berat atomik helium, misalnya, sama dengan berat empat atom hidrogen. Ini karena nucleus helium mengandung dua neutron dan dua proton, sedang nucleus hidrogen hanya mengandung satu proton. Salah satu kebenaran yang dapat ditetapkan ilmu pengetahuan adalah kemungkinan mengganti elemen-elemen itu ke dalam satu sama lain, dan sebagian proses penggantian ini berlangsung secara alami, dan sebagian terjadi dengan sarana-sarana ilmiah.

Jelaslah kemudian bahwa elemen uranium melahirkan tiga macam sinar, yaitu sinar alfa, beta dan gamma. Ketika Ernest Rutherford [236] meneliti ketiga macam sinar itu, ia mendapatkan bahwa sinar alfa tersusun dari partikel-partikel kecil yang mengandung muatan-muatan listrik negatif. Sebagai hasil dari penelitian ilmiah, tampaklah bahwa partikel-partikel alfa tak lain adalah atom-atom helium. Ini berarti bahwa atom-atom helium berasal dari atom-atom uranium. Dengan kata lain, elemen helium lahir dari elemen uranium. Begitu pula, elemen uranium berubah secara berangsur-angsur ke elemen lain, yaitu elemen radium, setelah memancarkan sinar alfa, beta, gamma, dan radium memiliki bobot atom yang lebih ringan daripada uranium. Ia pada gilirannya melewati beberapa perubahan elemental, hingga ia mencapai elemen timah hitam.

Setelah itu Rutherford melakukan upaya pertama untuk mengubah satu elemen ke elemen lainnya. Ia melakukan hal itu dengan menjadikan inti-inti atom helium (partikel-partikel alfa) bertabrakan dengan inti-inti atom nitrogen. Maka lahirlah neutron-neutron; yakni atom hidrogen dihasilkan dari atom nitrogen, dan atom nitrogen berubah ke oksigen. Lebih dari itu tampak bahwa bagian tertentu atom bisa berubah ke bagian lain. Maka, proton – selama proses pecahnya atom – bisa berubah ke neutron, demikian pula sebaliknya.

Demikianlah, perubahan elemen-elemen menjadi termasuk proses mendasar di dalam ilmu pengetehuan tetapi ilmu pengetahuan tidak berhenti sampai batas ini. Ia bahkan mulai melakukan upaya mengubah materi ke energi murni, yakni mencabut sepenuhnya kualitas materi dari elemen itu, berdasarkan satu segi dari teori relativitas Einstein yang mengatakan bahwa massa suatu benda adalah nisbi, dan tidak konstan. Ia bertambah dengan bertambahnya kecepatan, sebagaimana ditegaskan eksperimen-eksperimen yang dilakukan pakar fisika atom terhadap elektron-elektron yang bergerak di dalam medan listrik yang kuat, dan terhadap partikel-partikel beta yang berasal dari nucleus substansi-substansi radioaktif. Karena massa benda yang bergerak bertambah dengan bertambahnya gerak benda itu, dan karena gerak adalah salah satu manifestasi energi, maka massa yang bertambah pada benda itu adalah energi yang bertambah benda itu. Jadi, di alam semesta ini tidak ada dua elemen, yang berbeda sebagaimana sebelumnya dipercaya para ilmuwan: Yang satu adalah materi yang terinderai yang terepresentasikan kepada kita dalam massa; dan yang lain adalah energi yang tidak bisa dilihat dan tidak memiliki massa. Tetapi, ilmu pengetahuan menjadi tahu bahwa massa tersebut hanyalah energi konsentrat.

Dalam perbandingannya, Einstein berkata: energi sama dengan massa materi kali kecepatan cahaya pangkat dua (E = mc2). Kecepatan cahaya sama dengan 816.000 mil per detik. Massa sama dengan energi dibagi kecepatan cahaya pangkat dua (M = E/C2 ).

Dengan demikian, jelaslah bahwa atom, dengan proton dan elektronnya, sebenarnya hanyalah energi konsentrat yang bisa dianalisis dan direduksi ke keadaan semulanya. Jadi, menurut analisis modern, energi adalah substrata [237] alam. Dan ia termanifestasi pada berbagai rupa dan dalam bentuk yang bermacam-macam, seperti bentuk sonik, magnetik, listrik, kimiawi dan mekanik. Berdasarkan hal tersebut, dualitas antara materi dan radiasi, antara partikel-partikel dan gelombang-gelombang, atau antara penampakan elektron dalam bentuk materi pada suatu saat, dan dalam bentuk cahaya pada saat lain, tidak lagi aneh. Bahkan dapat dimengerti dengan kadar tertentu, karena semua fenomena tersebut adalah bentuk-bentuk satu realitas, yaitu energi.

Eksperimen-eksperimen secara praktis telah menetapkan kebenaran teori tersebut, karena para pakar dapat mengubah materi ke energi dan mengubah energi ke materi. Materi berubah ke energi melalui penyatuan nucleus atom hidrogen dan nucleus atom lithium. Hasil dari itu adalah dua nucleus atom-atom helium ditambah energi, yang sebenarnya adalah perbedaan antara bobot atomik dua nucleus helium, dan bobot atomik nucleus hidrogen dan nucleus lithium. Energi juga berubah ke materi melalui pengubahan sinar gamma – yaitu sinar yang memiliki energi dan tidak memiliki bobot – ke partikel-partikel material dan elektron-elektron negatif dan elektron-elektron positif yang pada gilirannya berubah ke energi jika partikel-partikel positif di antara mereka bertabrakan dengan yang negatif. Eksplosi terbesar dan substansi yang dapat dihasilkan oleh ilmu pengetahuan adalah eksplosi yang dapat dicapai bom atom dan bom hidrogen. Melalui dua eksplosi ini satu bagian dan materi berubah menjadi energi yang mahabesar.

Konsep (utama) bom atom berdasarkan kemungkinan memecahkan materi yang memiliki atom-atom berat, sedemikian sehingga masing-masing atom ini terbagi menjadi dua atau lebih nucleus elemen-elemen yang lebih ringan. Hal itu terrealisasikan dengan memecah nucleus di dalam beberapa isotop dan elemen uranium, yang disebut uranium 235 sebagai hasil tabrakannya neutron dengan nucleus.

Dan gagasan bom hidrogen berdasarkan penyatuan nucleus dan atom-atom ringan sehingga setelah berfusi, mereka menjadi nucleus dan atom yang lebih berat, sedemikian sehingga massa baru dan nucleus ini menjadi lebih sedikit daripada massa pembentukan aslinya. Perbedaan pada massa tersebutlah yang tampak dalam bentuk energi. Salah satu metode (untuk mencapai hasil ini) adalah melebur empat atom hidrogen melalui panas dan tekanan yang intens untuk menghasilkan atom helium plus energi (tertentu), yang merupakan perbedaan dalam bobot antara atom yang dihasilkan dan atom-atom yang berlebur.[238] Ini (sebanding dengan) sangat kecilnya (penurunan) pada bobot atom.

Kesimpulan Fisika Modern
Dari realitas-realitas ilmiah yang telah kami kemukakan di atas dapat disimpulkan beberapa hal berikut:

(1) Materi asli alam adalah satu realitas yang sama bagi seluruh maujud dan seluruh fenomena alam. Realitas umum tersebut tampak dalam rupa dan bentuk yang bermacam-macam.

(2) Semua kualitas senyawa material itu aksidental dalam kaitannya dengan materi primer. Dengan demikian kualitas fluiditas air tak esensial bagi materi yang darinya air itu tersusun. Tetapi, ia adalah kualitas aksidental. Hal itu dibuktikan oleh fakta bahwa air – seperti telah kita ketahui sebelumnya – tersusun dari dua elemen sederhana yang dapat dipisahkan dari satu sama lain, dan dengan demikian kembali kepada keadaan uapnya. Pada titik ini, kualitas air pun hilang sama sekali. Adalah jelas bahwa kualitas-kualitas yang bisa hilang dari sesuatu tidak mungkin esensial bagi sesuatu itu.

(3) Kualitas-kualitas elemen-elemen sederhana itu sendiri tidaklah esensial bagi materi, apalagi kualitas-kualitas komposit-komposit. Bukti ilmiah atas hal tersebut adalah transformasi atau berubahnya, seperti telah dipaparkan, sebagian elemen ke sebagian elemen yang lain, dan sebagian atom dari elemen-elemen ini ke atom-atom lain, baik secara alami maupun secara buatan. Ini menunjukkan bahwa kualitas-kualitas elemen-elemen hanyalah kualitas-kualitas aksidental materi yang sama bagi semua elemen sederhana. Jadi, kualitas radium, timah hitam, nitrogen, oksigen bukanlah esensial bagi materi yang terepresentasikan dalam elemen-elemen tersebut, karena mengubah mereka menjadi atu sama lain adalah mungkin.

(4) Akhirnya, kualitas materialitas itu sendiri – berdasarkan fakta-fakta di atas – menjadi aksidental juga. Ia tidak lebih merupakan sejenis atau sebentuk energi, karena, sebagaimana disebutkan, ia bisa menggantikan bentuk ini dengan bentuk lain. Maka materi berubah menjadi energi, dan elektron berubah menjadi listrik.

Kesimpulan Filsafat
Kalau kita pertimbangkan kesimpulan-kesimpulan ilmiah tersebut, kita harus mempelajarinya secara filosofis, agar kita mengetahui: apakah mungkin atau tidak mengasumsikan bahwa materi adalah sebab pertama (sebab efisien) alam? Tidak ada keraguan bahwa jawaban filsafat terhadap pertanyaan itu benar-benar negatif. Hal ini karena materi primer alam adalah satu realitas tunggal yang umum bagi seluruh fenomena dan entitas-entitas alam. Tidaklah mungkin bahwa satu realitas memiliki efek-efek dan aksi-aksi yang berbeda-beda. Analisis ilmiah terhadap air, kayu, tanah, besi, nitrogen, timah hitam dan radium, pada akhirnya memandu ke satu materi yang kita temui di semua elemen tersebut dan di semua komposit itu. Jadi, materi masing-masing hal-hal itu tak berbeda satu dengan lainnya. Karena itu, mengubah materi sesuatu ke sesuatu lain adalah mungkin. Nah, bagaimana mungkin kita menisbahkan berbagai benda dan perbedaan geraknya ke materi primer yang terdapat pada segala sesuatu? Kalau ini adalah mungkin, tentu artinya adalah bahwa satu realitas bisa memiliki manifestasi-manifestasi yang kontradiksi dan aturan-aturan yang berbeda-beda.

Tetapi hal tersebut akan benar-benar menumbangkan semua ilmu alam tanpa kekecualian. Karena, ilmu alam-ilmu alam itu berdiri di atas gagasan bahwa satu realitas memiliki manifestasi-manifestasi dan hukum-hukum tertentu yang tidak berbeda-beda, sebagaimana telah kita telaah secara terinci pada bab terdahulu. Kami telah katakan bahwa eksperimen-eksperimen seorang ahli ilmu alam dilaksanakan terhadap subjek-subjek tertentu saja. Meskipun begitu, ia membangun hukum ilmiah umumnya, yang berlaku pada segala hal yang realitasnya sesuai dengan subjek eksperimennya. Hal itu tidak lain karena subjek-subjek yang dikenai hukumnya itu melibatkan realitas yang sama yang dipelajarinya di dalam eksperimen-eksperimen khususnya. Ini berarti bahwa satu realitas tunggal lagi umum tidak mungkin memiliki manifestasi-manifestasi yang kontradiktif dan efek-efek berbeda. Kalau apa pun dari hal ini mungkin, tentu ilmuwan tersebut tidak akan dapat membuat hukum umumnya.

Berdasarkan hal itu kita mengetahui bahwa realitas material yang umum bagi alam yang dibuktikan ilmu pengetahuan tidak mungkin merupakan agen atau sebab efisien alam. Karena, alam penuh dengan fenomena-fenomena yang berbeda-beda dan perkembangan yang bermacam-macam. Ini dari satu sisi. Dari sisi lain, kita telah tahu, berdasarkan kesimpulan-kesimpulan ilmiah terdahulu, bahwa karakteristik-karakteristik atau kualitas-kualitas yang dimanifestasikan materi dalam berbagai lapangan wujudnya adalah aksidental bagi materi primer, atau bagi realitas material yang umum. Jadi, karakteristik-karakteristik komposit-komposit adalah aksidental bagi elemen-elemen sederhana, dan karakteristik-karakteristik elemen-elemen sederhana adalah aksidental bagi materi atomik. Dan karakteristik materi itu sendiri adalah juga aksidental, seperti telah dipaparkan. Hal ini menjadi jelas dengan fakta bahwa tidak mungkin mencabut masing-masing dari kualitas-kualitas tersebut, dan memisahkan realitas yang umum itu dari mereka. Jadi, tidak mungkin materi itu adalah dinamik, dan menjadi sebab esensial didapatkannya karakteristik-karakteristik tersebut.

Tentang Kaum Empiris
Mari kita bertanya sebentar tentang mereka yang mengkuduskan eksperimen dan pemahaman ilmiah, dan yang mengumumkan dengan sangat bangga bahwa mereka tidak mempercayai gagasan apa pun selama belum ditetapkan dengan eksperimen dan dibuktikan secara empirik. (Mereka terus berkata) bahwa karena posisi teologi itu berkenaan dengan persoalan gaib di luar batas-batas indera dan eksperimen, maka maka wajib mengesampingkannya, dan berpaling kepada kebenaran-kebenaran dan pengetahuan yang dapat dicerap dalam lapangan eksperimen. Kita bertanya kepada mereka: “Apa yang kalian maksud dengan ‘eksperimen’? Apa yang kalian maksud dengan menolak setiap ajaran yang tidak dikukuhkan oleh indera?”

Kalau yang dimaksud perkataan tersebut adalah bahwa mereka tidak mempercayai adanya apa pun selama mereka tidak menginderai hal itu secara langsung, dan menolak setiap gagasan selama mereka tidak mencerap realitas objektifnya dengan salah satu inderanya, maka berarti mereka telah menumbangkan bangunan ilmiah seluruhnya, dan menganggap tidak benar semua kebenaran yang dibuktikan dengan eksperimen yang mereka kuduskan. Memaparkan kebenaran ilmiah dengan eksperimen tidak berarti menginderai langsung kebenaran tersebut di lapangan eksperimen. Newton, misalnya, ketika membuat hukum gravitasi umum berdasarkan eksperimen, tidak menginderai kekuatan gravitasi tersebut dengan salah satu panca inderanya. Tetapi, ia menemukannya melalui fenomena inderawi lain, yang tidak ditemukan penafsirannya selain dengan pengasumsian adanya kekuatan gravitasi itu. Ia melihat bahwa planet-planet tidak berjalan lurus, tetapi berputar-putar. Fenomena ini, dalam pandangan Newton, tidak mungkin terjadi seandainya tidak ada kekuatan gravitasi. Karena, prinsip defisiensi esensial menghendaki benda bergerak dalam arah yang lurus selama tidak ada gerak lain yang ditimpakan atasnya dari kekuatan luar. Dari hal ini Newton memperoleh hukum gravitasi yang menetapkan bahwa planet-planet tersebut tunduk pada kekuatan sentral, yaitu gravitasi.

Apabila kaum eksperimentalis yang mengkuduskan eksperimen itu menghendaki metode yang sama, yang melalui metode ini kekuatan-kekuatan alam semesta dan misteri-misterinya tersingkapkan secara ilmiah, yaitu mempelajari fenomena terinderai dengan eksperimen dan menyimpulkan sesuatu yang lain dari fenomena itu secara rasional sebagai penafsiran satu-satunya atas adanya fenomena itu, maka ini adalah metode pembuktian posisi teologi. Eksperimen-eksperimen empirik dan ilmiah telah menunjukkan bahwa segala karakteristik materi primer, perkembangan dan macam-macamnya, tidaklah esensial, tetapi aksidental, seperti gerak planet-planet matahari di sekitar pusatnya. Karena berputarnya planet-planet di sekitar pusat itu tak esensial bagi mereka – memang mereka menghendaki gerak lurus, sesuai dengan prinsip defisiensi esensial – maka demikian pula kualitas-kualitas elemen-elemen sederhana dan komposit-komposit (yang tak esensial bagi elemen-elemen dan komposit-komposit ini). Lalu, karena gerak planet-planet (di seputar pusat itu) tidak esensial, membuktikan adanya kekuatan luar gravitasi menjadi mungkin. Demikian pula, kebermacaman dan perbedaan kualitas-kualitas materi umum itu mengungkapkan juga sebab di luar materi. Hasil dari hal itu adalah bahwa sebab efisien alam bukanlah sebab material alam. Dengan kata lain, sebab alam itu berbeda dari materi mentahnya yang segala sesuatu juga mengandungnya.

Tentang Dialektika
Dalam Bab 5 kami telah membahas dialektika dan mengungkapkan kesalahan-kesalahan mendasar yang menjadi tumpuan dialektika, seperti pengabaiannya terhadap prinsip non-kontradiksi dan lain sebagainya. Sekarang, kami hendak membuktikan lagi ketidakmampuan dialektika untuk memecahkan problem dunia [239] dan membentuk konsep yang benar tentang alam, tanpa memperhatikan kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan di dalam sendi-sendi dan asas-asas dialektika.

Dialektika beranggapan bahwa segala sesuatu itu dihasilkan dari gerak materi, dan bahwa gerak materi itu adalah produk esensial dari materi itu sendiri, karena materi mengandung kontradiksi-kontradiksi yang mengalami konflik internal. Nah, mari kita uji penafsiran dialektika ini dengan menerapkannya pada realitas-realitas ilmiah yang telah kita ketahui tentang alam, agar kita melihat apa hasilnya.

Elemen-elemen sederhana itu ada beberapa macam. Setiap elemen sederhana memiliki angka atomik yang berkaitan dengannya. Semakin tinggi elemen tersebut, semakin besar pula angkanya, sampai deretan (angka) tersebut berakhir pada uranium, elemen paling tinggi dan paling besar (yaitu 92). Ilmu pengetahuan juga telah menjelaskan bahwa materi dari elemen-elemen sederhana tersebut adalah satu dan umum bagi semua (elemen tersebut). Karenanya, adalah mungkin mengubah sebagian menjadi sebagian yang lain. Nah, bagaimana bisa ada macam-macam elemen dalam materi umum itu? Jawabannya, berdasarkan perubahan dialektik, tersimpul sebagai berikut: Materi berkembang dan satu tahapan ke tahapan yang lebih tinggi, sampai mencapai derajat uranium. Berdasarkan ini, elemen hidrogen tentu menjadi titik mula dalam perkembangan tersebut, karena ia adalah yang paling ringan di antara elemen-elemen sederhana. Jadi, hidrogen secara dialektik berkembang karena kontradiksi yang terkandung di dalamnya. Melalui perkembangan dialektika itu, ia menjadi elemen yang lebih tinggi – yaitu elemen helium yang pada gilirannya mengandung hal kontradiktifnya. Dengan demikian, kembali menyalalah konflik antara penafian dan penetapan, antara segi negatif dan segi positif, sampai materi masuk pada tahapan baru. Dan maujudlah elemen ketiga. Demikian inilah bagaimana materi itu bergerak sesuai dengan tabel atom.

Inilah penafsiran satu-satunya yang dapat diajukan dialektika sebagai justifikasi atas dinamisme materi. Tetapi, adalah mudah sekali kita menjelaskan tidak mungkinnya mengambil penafsiran tersebut dari segi ilmiah. Karena, kalau hidrogen mengandung lawannya secara esensial dan berkembang karena kenyataan ini, sesuai dengan hukum-hukum dialektika, maka mengapa tidak semua atom hidrogen menyempurna? (Dengan kata lain), mengapa penyempurnaan esensial ini berkaitan dengan sebagian atom dan tidak dengan sebagian yang lain? Spesifikasi adalah di luar penyempurnaan esensial. Kalau saja faktor-faktor penciptaan perkembangan dan progresi itu maujud di dalam saripati materi abadi, tentu efek-efek faktor-faktor tersebut tidak berbeda, dan tentu itu terbatas pada sekumpulan tertentu (atom-atom) hidrogen, yang mengalihkan mereka ke helium dan meninggalkan (atom-atom) hidrogen yang lain. Jadi, apabila nucleus hidrogen (proton) dalam dirinya mengandung penafian sendiri dan berkembang sesuai dengan hat ini sehingga menjadi dua proton sebagai ganti dan satu proton, tentu akibatnya adalah benar-benar lenyapnya air dan permukaan bumi. Karena, jika alam kehilangan nucleus atom hidrogen, dan semua nucleus ini menjadi nucleus atom helium, maka adalah tidak mungkin setelah itu terdapat air.

Nah, sebab apakah yang membuat perkembangan hidrogen ke helium itu terbatas pada sejumlah tertentu (atom hidrogen), dan melepaskan yang lain dari perkembangan yang mau tidak mau harus terjadi ini?

Penafsiran dialektika terhadap komposit-komposit tidak lebih berhasil ketimbang penafsiran dialektika terhadap elemen-elemen sederhana. Kalau air maujud sesuai dengan hukum-hukum dialektika, maka artinya adalah bahwa hidrogen dapat dianggap sebagai penetapan, dan penetapan ini menimbulkan penafiannya sendiri dengan melahirkan oksigen. Kemudian penafian dan penetapan itu menyatu bersama-sama di dalam suatu satuan yaitu air, atau kita balik: andaikata oksigen sebagai penetapan dan hidrogen sebagai penafian, dan air adalah suatu satuan yang mengandung penafian dan penetapan sekaligus dan yang tampil sebagai hasil progresif dan konflik dialektika antara keduanya. Nah, apakah mungkin bagi dialektika untuk menjelaskan kepada kita bahwa jika progresi dialektika itu berlangsung secara esensial dan dinamik, maka mengapa terbatas pada sejumlah tertentu dari dua elemen itu, dan tidak terjadi pada setiap (atom) hidrogen dan oksigen?

Dengan itu, kami tidak hendak mengatakan bahwa tangan gaiblah yang memulai setiap proses dan varitas alam, dan bahwa tidak ada ruang bagi sebab-sebab alami. Tetapi, kami yakin bahwa varitas dan perkembangan-perkembangan tersebut adalah produk dari faktor-faktor alami di luar kandungan esensial materi. Faktor-faktor ini berantai sehingga, pada analisis filosofis terakhir, faktor-faktor itu sampai pada suatu sebab di luar alam dan bukan materi itu sendiri.

Kesimpulannya adalah bahwa satuan materi primer alam yang, dari satu segi, dibuktikan ilmu pengetahuan dan, dari segi lain, ditunjukkan ilmu pengetahuan bahwa varitas dan tendensinya yang berbeda-beda adalah aksidental dan bukan esensial, itu mengungkapkan misteri posisi filsafat dan menjelaskan bahwa sebab tertinggi bagi setiap varitas dan tendensi tersebut tidak terletak pada materi itu sendiri, tetapi pada suatu sebab di luar batas-batas alam. Segenap faktor alami eksternal yang menyebabkan varitas dan tendensi-tendensi alam dinisbahkan ke sebab tertinggi itu.

Catatan:

229. Bab ini membahas masalah “materi atau Allah-kah sumber puncak alam semesta ini?” Baik garis besar dalam permulaan buku ini pada bagian yang berjudul “Sifat Karya Ini”, maupun judulnya, tidak menjelaskan bahwa pembahasan dalam bab ini dimaksudkan untuk mengungkapkan masalah ini. Namun demikian, begitu paragraf pertama bab ini dibaca, menjadi jelaslah bahwa hal inilah yang memang yang dituju.
230. Secara harfiah, teori tak rapat.
231. Secara harfiah, teori rapat.
232. Teks: al-ajsam (jasad-jasad).
233. Teks: al-jism (jasad).
234. Teks: al-jism (jasad).
235. Hal ini demikian karena atom memiliki sejumlah muatan positif dan negatif yang sama. dan netral secara elektris.
236. Ernest Rutherford adalah, fisikawan sekaligus ahli kimia Inggris (1871-1937). Pada 1908, ia mendapat Hadiah Nobel dalam bidang kimia. Ia mempelajari radioactivity, dan menetapkan bahwa sinar yang dipancarkan oleh zat radioaktif itu bermacam-macam. Ia menyebut sinar yang bermuatan positif sebagai “sinar alfa” dan sinar yang bermuatan negatif sebagai “sinar beta”. Ia pun menunjukkan bahwa radiasi yang tidak terpengaruh oleh medan magnetik terdiri atas sinar elektromagnetik. Ia menyebutnya sebagai “sinar gamma”. Ia terkenal sebagai pengembang teori atom nuklir. Menurut teori ini, atom memiliki nucleus kecil di pusatnya. Proton, partikel bermuatan positif yang memberi bobot atom, ada di nucleus-nya. Elektron, partikel bermuatan negatif yang ringan dan yang tak membentuk rintangan bagi sinar alfa, ada di luar nucleus-nya. Jelas bahwa teori ini tidak sesuai dengan pandangan Demokritus bahwa atom tidak dapat dibagi. Akhirnya, mesti disebutkan bahwa Rutherford adalah orang yang pertama mengubah satu elemen menjadi elemen lain dan yang pertama menunjukkan bahwa reaksi nuklir artifisial dapat dibuat.
237. Teks: al-ashl al-‘ilmiy (asas ilmiah).
238. Yaitu, atom-atom inisial yang semula tidak berlebur.
239. Yaitu, problem sebab pertama dunia.

Sumber:  Sayyid Muhammad Baqir as Shadr,
FALSAFATUNA
Penerjemah : M. Nur Mufid bin Ali
Penerbit : Mizan
Tahun Penerbitan : Jumada Al-Awwal 1415/Oktober 1994

Tidak ada komentar: