Apa Puisi dan Siapa Penyair?


(Disampaikan di House of Salbai 21 Oktober 2017 dalam Rangka Peluncuran Buku Puisi karya Rois Rinaldi)

Ketika saya diminta untuk menyampaikan orasi budaya, yang dalam hal ini materinya adalah sastra, wabil khusus puisi, bukan berarti saya sanggup memilih tema apa yang ingin saya bicarakan, termasuk dalam soal puisi dan penyair. Sehingga tema yang ingin saya bahas ini, yaitu apa puisi dan siapa penyair, sesungguhnya upaya saya sendiri untuk bertanya dan kalau bisa menemukan jawaban sementara.

Bagi saya pribadi, sekedar contoh, kepenulisan puisi dan kepenyairan adalah masalah keterlibatan saya dengan kehidupan sehari-hari yang saya jalani. Saya tidak tahu bagi para penyair lain. Bahwa menulis puisi adalah juga menyangkut kerja mengolah bahasa menjadi ‘buah seni’ adalah benar adanya, namun tentu saja, saya menggali bahan-bahan perenungannya dari pengalaman dan perasaan bathin, di mana bahasa itu berusaha saya beri konteks hidup dan kehidupannya.

Rois Rinaldi adalah mitra dalam kiprah kepenulisan saya dalam artian intersubjektivitas kreatif dunia kepenulisan, ia kawan sekaligus lawan, bukan musuh. Ia orang yang jujur dan apa adanya sebagai penulis puisi. Karya-karya puisinya acapkali menyodorkan kritik sosial, tak jarang juga sindiran estetik tentang dunia kepenulisan puisi itu sendiri. Namun tentu saja, upaya untuk mengangkat polemik mestilah didasarkan pada dasar dan argumen yang kuat.

Saat saya membaca puisi-puisi dalam draft kumpulan puisi bertajuk Nada-nada Minor-nya, saya dihadapkan pada puisi-puisi panjang, yang mohon maaf, mengingatkan saya pada buku puisinya Agus R. Sardjono, Sebuah Cerita dari Negeri Angin. Itu berbeda dengan puisi-puisinya di buku kumpulan puisinya yang perdana.

Perubahan gaya dan bentuk itu barangkali saja sejalan dan seiring dengan perubahan minat untuk mengangkat konsen isu-isu yang dipilihnya dalam sejumlah puisi-nya yang cenderung naratif dan prosais itu. Mungkin saja akan ada beberapa pembaca yang merasa lelah ketika membaca sejumlah puisinya tersebut, apalagi jika beberapa pembaca belum terbiasa ‘membaca’ puisi.

Dalam konteks resepsi dan pembacaan, ada beberapa resiko membaca puisi naratif yang panjang jika puisi bersangkutan kurang merayu dan menarik para pembacanya untuk ikut terlibat dalam peristiwa dan isu yang diangkat puisi bersangkutan. Misalnya para pembaca akan jenuh dan merasa lelah, dan lalu menghentikan pembacaan sebelum mereka membaca keseluruhan sebuah puisi atau malah mereka akan enggan meneruskan pembacaan bila baris-baris pertamanya dirasa tidak menarik bagi mereka.

Kita, para penulis, tak mungkin mengingkari bahwa kita ingin berdialog dengan para pembaca karya-karya kita. Mereka adalah para penerima pesan kita ketika kita hendak mengutarakan pendapat dan pandangan kita sejauh menyangkut hidup dan soal-soal lainnya. Tetapi tentu juga, puisi adalah substansi estetik yang berbeda dengan bahasa komunikasi biasa. Puisi adalah seni, dan karena ia seni, disampaikan dengan unsur keindahan.

Acapkali puisi-puisi singkat yang padat makna lebih memukau dan mempesona bagi para pembaca, meski tak menutup kemungkinan bahwa puisi naratif yang panjang sanggup mengajak para pembaca untuk terlibat mengiyakan atau bahkan menolak isu dan pandangan yang ada dalam sebuah puisi, tergantung pada kepiawaian penyair mengolah bahasa, membangun retorika dan stilistika narasi dan daya ungkap.

Sebenarnya, saya sendiri ragu, apakah prosentasi pembaca puisi di jaman ini meningkat atau malah menurun. Jaman ketika orang-orang lebih sibuk memainkan jari-jemari tangan mereka dan memfokuskan mata serta menghabiskan waktu mereka pada android: berselancar di dunia maya dan jejaring sosial semisal fesbuk, instagram, twitter dan yang sejenisnya. Namun keraguan saya itu sedikit terobati ketika ternyata masih ada anak-anak muda yang menulis puisi dan bahkan menerbitkan buku puisi. Yah Rois Rinaldi ini contohnya.

Saya mengajukan pertanyaan tersebut karena menurut saya puisi lahir bersama jamannya. Puisi lahir dan ditulis oleh penyair dari kehidupan, dalam arti puisi tidaklah lahir dari ruang hampa yang tercerabut dari kondisi manusiawi yang berjalan bersama sejarah, bersama kondisi-kondisi sosial-kultural-politis, bahkan eksistensial. Singkat kata, puisi lahir dari rahim sejarah dan kondisi kemanusiaan sebagai sebuah refleksi dan sikap seorang penyair menjalani dan memandang hidup. Karena itu tak jarang puisi juga mencerminkan ideologi dan pandangan-pandangan tertentu penyairnya.

Dalam kadar yang demikian, sudah merupakan sesuatu yang lazim bahwa puisi adalah cerminan geliat dan ruh hidup. Acapkali puisi merupakan modus mengada dan metode seorang penyair untuk mengajukan dan menawarkan pandangan dan sikap hidup itu sendiri. Puisi digali dan ditulis dari relung jiwa kehidupan dan keseharian manusiawi bersama sejarah, dari pertarungan dan perjalanan manusia sebagai ‘Sang Pengada’ dalam lautan banalitas dan kedalaman sejarah. Karena itulah puisi acapkali mengandung kearifan.

Akhirnya, saya ingin menutup orasi singkat ini dengan membacakan cuplikan puisi yang ditulis M. Rois Rinaldi yang bertajuk ‘Abah’ berikut ini:

“Setiap hari kepalaku dikunyah
iklan dan sinetron.
Para imam dunia
membentur-benturkan kepalaku pada slogan,

bendera, mars, dan warna pakaian.
Aku menutup mata, tapi suara tukang khotbah
khianat kepada kalimatnya sendiri....”

Wassalam dan terimakasih!
Sulaiman Djaya
(Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Banten)

Membaca Domba Kata Padang Makna



(Disampaikan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 10 Oktober 2017 pukul 13.30 di Auditorium Gedung B)

“Di meja tak bernomor ini
kita duduk berhadapan
kita tulis pesan, dengan amat hati-hati
seperti rahasia.....”

(Herwan FR dalam Domba Kata Padang Makna, halaman 50)

“Usai puisi tak ada di halaman belakang koran itu,
sebuah kata menyandar di halte, suatu Sabtu
ia seperti kehilangan medan, ia seperti memimpikan
ruang, seperti memimpikan taman”

(Herwan FR dalam Domba Kata Padang Makna, halaman 39)


Saya merasa takjub bila saat ini puisi masih ditulis, meski seringkali saya ragu apakah prosentasi pembaca puisi cukup banyak di era digital dan jaman android sekarang ini, ketika orang-orang lebih sibuk dan lebih senang menghabiskan waktu keseharian mereka untuk berselancar di media sosial: fesbuk, instagram, twitter dan yang sejenisnya. Tak jarang orang-orang begitu mudahnya menganggap yang hoax sebagai fakta dan kebenaran, jadi korban hasutan, ketika akal dan analisis dibunuh oleh tekhnologi internet, yang justru diciptakan manusia, bahkan tak sedikit yang kemudian menjadi mesin perang yang berubah menjadi zombi-zombi yang akalnya mati sebelum tubuh mereka sendiri menjadi jenazah atau mayat. 



Karena itulah, tak diragukan lagi, di jaman ketika mesin telah membunuh akal dan intelegensia, yaitu era android dan internet kita saat ini, para penyair mestilah menjalankan tugas profetik sebagai para pencerah, penginterupsi, penanya, dan tentu saja para penyingkap yang senantiasa memberi lentera dan pelita bagi hidupnya akal manusia melalui puisi-puisi yang mereka tuliskan. Sebab jika tidak, intelek dan bahkan jiwa manusia akan remuk ditelan tekhnologi internet yang diciptakannya sendiri, yang belakangan menjadi medan penyebaran hoax, hasutan, ujaran kebencian, propaganda politik dan perang. 


Di dunia maya dan jejaring sosial itu, bahasa pun dibunuh dan hancur, tak ada lagi tata bahasa, tak ada lagi balaghah, kata dan kalimat ‘disingkat’ agar memenuhi ruang terbatas kolom status twitter, sebagai contoh, hingga maraknya bahasa-bahasa yang menjelma menjadi laku kebencian, bully, meme, hinaan, permusuhan, dan lain sebagainya, singkat kata: bahasa pun berubah menjadi mesin dan senjata yang destruktif, dan orang-orang tak lagi mampu membaca dan mencerna narasi panjang yang mengajak mereka untuk menelaah, berpikir, dan menganalisis. Medsos dan internet, ternyata, sanggup membunuh kecerdasan manusia, terlebih bagi mereka yang tak membaca. 

Tapi jangan terburu-buru untuk mengatakan bahwa puisi-puisi Herwan FR telah menjalankan laku profetik, sebab barangkali baru berada di maqam mendekati atau hampir profetik saja. Lagipula, perkenalan pertama saya bukan dengan puisi-puisinya, tetapi dengan penyairnya: orang yang jarang mentraktir teman-temannya dan kurang suka menerima kritikan, meski acapkali kritikan itu sesuai dengan fakta dan kenyataan sejauh menyangkut dirinya. Meski demikian, sebelum saya mengomentari sejumlah puisinya, percayalah bahwa Herwan FR adalah orang baik. 

Sekarang marilah kita mulai membaca sejumlah puisinya, terutama sekali saya ingin mengemukakan terlebih dulu pembacaan atas beberapa puisi lamanya, yang contohnya adalah puisi berikut: 

“Demi pengakuan yang kelak kekal dan menyakitkan
aku setia membidikmu. Matamu menjadi kelereng
di atas lantai jiwa yang oleng oleh rindu yang dungu.
Sungsumku berhenti membeku. Aku kini lapar kembali
mencari kekasih. Tanganku menggenggam bukit,
menyentuh lahar yang ngalir di tiap kepundan gunung,
jari-jari merembah liar hutan-hutan tubuhmu.
Aku ingin menggambar lagi peta : daerah-daerah tak bertuan
Dan menjadi petualang pertama, menjelajah dengan perkasa.
Kulukis anak-anak di rahimmu dengan hidung panjang
seperti Pinokio, lalu kuhidupkan dengan bayangan” 

Puisi “Aku Setia Membidikmu” itu adalah gambaran seorang lelaki yang gagal menjadi Don Juan atau Cassanova, namun tak sadar kalau dirinya telah gagal menjadi Don Juan dan Cassanova, hingga masih saja mengharapkan cinta dari seorang perempuan yang tak lagi mungkin untuk dimenangkan hati dan tubuhnya, sebuah puisi tentang keputus-asa-an, yang anehnya malah dirayakan, barangkali sebagai upaya untuk menertawakan diri sendiri. Saya tak tahu nama perempuan yang dihasrati seorang penyair dalam puisi tersebut, dan ini tentulah harus ditanyakan kepada penyairnya. 

Sejujurnya, untuk memahami puisi-puisi yang ditulis Herwan FR, kita juga perlu mengenal ‘sisi biografis’ penyairnya, dan kebetulan saya cukup mengenal, meski perjumpaan saya dengan Herwan FR baru terjadi secara singkat, beberapa tahun saja hingga saat ini, bahwa ia yang berkawan baik sekaligus seringkali bersitegang dengan almarhum Wan Anwar, terkadang saling ‘mencuri’ bunyi dan suara puisi mereka masing-masing, dan karena itu kita tak perlu heran bila beberapa puisi Herwan FR dan Wan Anwar memiliki kemiripan bunyi dan gaya penulisan yang tak jauh berbeda.

Baik Herwan FR maupun Wan Anwar sama-sama memiliki kemampuan mengkonversi ‘penderitaan’ lahir-bathin mereka dalam soal ‘eros’, tentu dengan kadar dan kapasitas mereka masing-masing, menjadi kidung-kidung permenungan, yang pada tingkat tertentu jadi gubahan lagu-lagu sembahyang kegembiraan, dalam arti mereka sanggup merayakan kepedihan eksistensial ke dalam nada-nada yang mengalir dan enak dibaca, yang pada saat bersamaan, puisi-puisi mereka adalah juga refleksi bathin dan intelektual, yang sekali lagi saya katakan, hampir mendekati maqam profetik. 

Dalam banyak suara dan bunyi, sejumlah puisi-puisi Herwan FR, sebagaimana juga sejumlah puisi-puisi Wan Anwar adalah amarah yang disamarkan menjadi nyanyian dan lagu-lagu ziarah dan pengembaraan: 

“aku tak pernah lagi mengirimkan kata-kataku pada siapapun, seperti janjiku padamu: seratus tahun lalu. aku menyimpan seluruh erangan rasa sakit, air mata yang bertahun mengajariku berbicara dengan perasaan lurus, telah lama kusimpan dalam laci bisu. aku di sini sendiri, melata seperti lintah, menuju jalan setapak yang sulit untuk kusebut ujungnya. jangan pernah tanyakan kemana aku akan menuju, sebab tak satu puisiku pun bisa kau baca. makna dalam darah dan hati lintah yang melata, yang kerap hanya menemukan pembunuhan. mudah kau duga, aku akan sekadar menemukan taburan garam, pada tubuhku, menambah kesempurnaan pedih. sekali lagi akan kusimpan dalam kepundan sunyi seluruh kata-kata, paling secuma ini yang bisa kau eja. sehanya samar bayang rambat-latanya ini. ya, kata-kata serambat ini. sedang berjuta bahasa lain, sudah kusimpan pula di luar galaksi, antara rasi-rasi, bergesekan dengan para meteor, di luar dugaanmu”.


Sesekali juga, secara naratif dan stilistik, beberapa puisi Herwan FR memiliki kemiripan bunyi dan tuturan dengan sejumlah puisi-puisinya Acep Zamzam Noor. Tentu puisi juga tak semata lahir dari rahim bahasa atau permainan serta kepengranjinan menyusun dan menenun kata-kata, melainkan lebih dari itu, puisi adalah ‘buah perih’ dan ‘sembahyang kegembiraan’ seorang penyair dari dan dalam hidup, keseharian dan pengelaman eksistensial dan intelektual penyairnya yang senantiasa berada dalam ziarah lahir-bathin. Puisi lahir dari kehidupan yang mengarungi jaman dan sejarah, dalam lautan banalitas dan kedalamannya. Puisi juga menyangkut sikap dan komitmen seorang penyair kepada kehidupan:

“aku giring domba kata
ke padang-padang makna terbuka
serupa tegal maksud, lahan tuju...”

(Herwan FR dalam Domba Kata Padang Makna, halaman 39)

Rupa-rupanya, buku puisi Domba Kata Padang Makna yang menghimpun sejumlah puisi penyair Herwan FR yang diterbitkan Berjaya Buku (2017) itu memang sejumlah puisi yang menyengajakan diri berdialog, bertukar-pikir secara akrab dengan puisi-puisi yang ditulis sejumlah penyair sekaligus merupakan perbincangan dengan para penyair: Wan Anwar, Acep Zamzam Noor, Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad, Soni Farid Maulana, Chairil Anwar, dan yang lainnya, dengan tendensi dan maksud untuk ‘mengkoreksi’ atau ‘memunculkan pandangan alternatif’ menyangkut sejumlah isu dalam satu lokus bersama: apa itu puisi dan siapakah penyair?

SULAIMAN DJAYA