Sonyaruri



Adakalanya kau merindukan sesuatu yang tidak ada, tapi mengabaikannya ketika hadir dan ada di depan matamu dan di sekitarmu.

Kuarahkan dua mataku menembus lembab kaca jendela demi memandangi dinding-dinding langit dan cakrawala selepas dzuhur di bulan Juli setelah reda hujan. Rumput-rumput dan jalan-jalan basah yang kulihat seakan dunia-dunia yang tengah terbaring dalam sapuan gelombang-gelombang angin yang mengirimkan dingin pada tubuh dan wajahku melalui pintu yang memang sengaja kubuka setelah kunyalakan selampu ruangan demi mengusir kegelapan yang menutup wajah-wajah langit siang hari.

Tanpa sengaja, aku pun melihat sepasukan burung-burung kuntul melintasi keheningan langit sebelum aku duduk di kursiku, burung-burung kuntul yang selalu saja mengingatkanku pada masa kanak-kanak, ketika aku kembali membuka dan menatapi lembar-lembar di mana aku akan menulis bersama alunan-alunan jazz sentimentil yang kudengarkan.

Sekelompok burung kuntul yang tengah menempuh perjalanan migrasi mereka itu kuandaikan sebagai perubahan hidup dan pengulangan itu sendiri, kesementaraan dan usia yang menghitungi dirinya sendiri di saat waktu sebenarnya hanya bisa diam dan tak beranjak ke mana pun, di mana gerak dan kebisuan saling berpadu dan melengkapi satu sama lain seperti sepasang kekasih yang tengah dirundung kelesuan dan rasa cemburu yang membuat mereka kehilangan gairah dan spontanitas pertama mereka.

Tanpa kukehendaki, keindahan menjelmakan dirinya sebagai kebisuan dan hening cuaca yang membasahi pepohonan dan tiang-tiang lampu sepanjang jalan. Waktu pun lelap bersama mimpi-mimpinya di antara buih-buih dan kabut yang kupandangi sembari bersandar pada punggung kursi di mana aku duduk dalam kesendirian, terasa sendu dan agak murung, yang membuatku membayangkan diri sebagai seorang lelaki yang tengah merasakan cinta menggebu.

Sampai hari di mana aku kembali terjaga dalam sepi ini, sudah empat hari hujan datang berturut-turut, sampai-sampai semua yang diciuminya dengan lembut ataupun tergesa seakan jadi beku dan lelap dalam pandangan kedua mataku, meski dedaunan kadang-kadang bergerak pelan di saat angin menghembus, seolah-olah ada tangan-tangan gaib para malaikat yang tengah mencandai mereka.

Aku jadi teringat peristiwa beberapa tahun silam, ketika aku mengajaknya dengan rasa percaya diri sekaligus agak sedikit tolol ketika itu. Rasa-rasanya aku sendiri tak percaya bahwa aku telah melakukannya. Aku ingin membuatnya bahagia ketika ia datang ke Jakarta sendirian untuk menemuiku. Spontanitas yang mungkin demi menutupi kecanggunganku sendiri karena pesona yang terpancar dari kelembutan wajahnya dan keteduhan pandangan matanya yang redup sekaligus tampak menyala bagi dua mataku.

Caranya berbicara dan menatapku dengan agak nakal dan sendu membuatku menjadi seorang lelaki yang seketika menemukan apa yang mesti kucari dalam hidup: gairah kehangatan dari getaran-getaran tubuh dan jiwa. Aku pun berusaha membayangkan gugusan rambutnya yang bersembunyi dibalik kerudung hijau yang dikenakannya saat itu.

Di pojok Bintaro Plaza itu kami menghabiskan waktu bersamanya selama dua jam lebih. Waktu yang entah kenapa terasa singkat hingga terdengar kumandang adzan dari arah yang cukup jauh. Ia sendiri yang memutuskan untuk menyudahi perbincangan dan canda kami, sebab ia merasa letih setelah menempuh perjalanan Bandung-Jakarta.

Sebelum kami memutuskan pergi ke Bintaro Plaza itu, kami sempat makan bersama di sebuah rumah makan yang berdekatan dengan kampus Universitas Islam Negeri Jakarta. Di malam setelah kami berbincang bersama di sudut Bintaro Plaza itu, aku mengantarkannya ke kosan temanku, seorang mahasiswi yang kebetulan satu jurusan. Mahasiswi itu adalah kakak tingkatku yang juga telah berteman dengan dirinya.

Tetapi waktu jualah yang pada akhirnya mengambil alih kenangan dan ingatan tersebut. Jika pun aku menuliskannya, tentu tak lebih sebuah upaya untuk melakukan pengobatan pada diri sendiri. Sebab yang kini kucintai tak lain kenangan dan ingatan itu sendiri. Kenangan dan ingatan yang juga telah mengajarkanku untuk menulis dan melupakan, atau lebih tepatnya mengajarkanku untuk memaafkan masa silam.

Aneh juga rasanya, ingatan-ingatanku selalu tersulut oleh suara-suara dari puisi-puisi yang kubaca, ketika beberapa puisi yang kubaca justru mengingatkanku pada pengalaman dan kenanganku sendiri, meski tentu saja puisi-puisi tersebut tak mesti persis menyuarakan sesuatu yang sama dengan apa yang kualami dan yang kuingat. Semua itu terjadi begitu saja, tanpa kesengajaan, ketika kubuka lembar-lembar koleksi buku-buku puisi dari ragam penyair yang dipublikasikan oleh penerbit-penerbit semisal Penguin Books, Everyman Books, dan yang lainnya.

Seperti itulah, kali ini aku menulis setelah kubaca puisi-puisi yang ditulis oleh Octavio Paz, di mana bait-bait dan suara-suaranya mampu menyulut erudisi dan ingatanku sendiri. “Seperti sebuah sungai yang tenang, siang dan malam saling membelai, seakan lelaki dan perempuan dimabuk cinta, sementara musim-musim dan seluruh manusia mengalir di bawah lengkung-lengkung abad, menyerupai sebuah sungai tanpa akhir”.

Aku suka sekali dengan suara-suara yang dibisikkan oleh bait-bait puisinya Octavio Paz tersebut ketika menggambarkan hidup, ingatan, waktu, dan mungkin kematian yang digambarkan seperti sebuah ketenangan sungai yang sebenarnya tak pernah mampu kita terka dan kita selami dengan persis dan tepat dalam hening dan kebisuannya.

Ada kesenangan tersendiri ketika aku kembali mereka-reka pengalaman persahabatanku dengannya yang begitu intim dan akrab. Pengalaman-pengalaman yang memberiku kebahagiaan seorang mahasiswa yang kembali memiliki hasrat pada seorang perempuan setelah masa-masa sekolah menengah.

Di hari itu ia menelponku perihal kedatangannya ke Jakarta. Dan keesokan harinya kedatangannya di Jakarta sesuai dengan apa yang dikatakannya, ia datang ke Jakarta selepas dzuhur. Aku menjemputnya di stasiun kereta Gambir. Hanya beberapa menit saja aku langsung melihatnya berjalan ke arahku setelah turun dari kereta eksekutif itu. Ia langsung tersenyum lirih ketika berada persis di hadapanku, dan aku segera saja mengajaknya berjalan ke sebuah warung serba ada di mana kami membeli minuman sebelum kami menaiki bus yang akan membawa kami ke Ciputat.

Semenjak pertemuanku dengannya itulah aku mulai menyukai novel-novel sentimentil dan puisi-puisi romantis. Bahkan sejak saat itu aku mulai serius belajar menulis puisi-puisi cintaku sendiri setelah membaca puisi-puisi yang kusukai yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia atau para penulis asing yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Aku bisa belajar dari kenangan untuk bisa menjadikannya sebagai pembimbing agar aku bisa juga bersikap rasional dan realistis dengan apa yang akan kualami dan apa yang akan kurasakan.

Tak pernah terpikir olehku bahwa pengalaman-pengalaman itulah yang ternyata mengajarkanku untuk menulis puisi dengan setia di kemudian hari, bahkan hingga sampai saat ini. Dengan kata lain, aku mesti menjadi pecundang sebelum aku mampu mencintai dan menyukai perempuan lain selain dirinya. Aku diingatkan oleh pengalaman-pengalaman itu bahwa aku hanya berhak untuk menjalani dan mengalami apa yang kini kulakukan dan kuniatkan dalam hidup, tanpa harus memutuskan akan ke mana langkah-langkahku berhenti atau menghendaki dirinya berakhir tanpa mesti menyesalinya.

Dengan begitupun, aku bisa menghayati setiap novel yang kubaca. Madame Bovary-nya Gustave Flaubert, Love in the Time of Cholera-nya Gabriel Garcia Marquez, Cintaku di Kampus Biru-nya Ashadi Siregar, Crime and Punishment-nya Dostoyevsky, Anna Karenina-nya Leo Tolstoy, Snow-nya Orhan Pamuk, Samarkand-nya Amin Maalouf, Burung-burung Manyar-nya Mangunwijaya, Bumi Manusia-nya Pramudya Ananta Toer, dan novel-novel lainnya yang terlalu panjang bila harus kuabsen satu persatu.

Aku membaca novel-novel itu seakan-akan untuk memberikan sejumlah perbandingan bagi pengalaman-pengalamanku sendiri, kenangan-kenangan dan ingatan-ingatanku di waktu-waktu aku duduk di dalam kamar bertemankan komposisi-komposisi musik.

Meski pengalaman-pengalaman yang sudah berlalu beberapa tahun silam itu seolah baru terjadi berbulan-bulan yang lalu, aku berhasil juga memperlakukannya hanya sebagai hiburan bagi kesepian dan kesendirianku sendiri. Tak lebih dari itu. Sebab aku harus melanjutkan hidupku dengan pengalaman-pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang baru, yang mungkin lebih bergairah dari sebelum-sebelumnya. Persis seperti bait-bait puisinya Octavio Paz yang kusukai, yang kubaca sebelum menulis catatan harianku untuk yang kesekian kalinya: “Esok, kita akan kembali menemukan, sekali lagi, kenyataan dunia ini”.


Hak cipta (c)Sulaiman Djaya (2010) 


Penari Izu


oleh Yasunari Kawabata (diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh Ajip Rosidi)

1
Ketika kukira jalan berliku-liku mendaki yang kutempuh itu mendekati puncak Amagi, hujan pun turun renyai, membuat hutan sugi nampak putih meruap naik dari kaki gunung mengejarku dari belakang.

Usiaku dua puluh. Aku mengenakan topi murid Sekolah Menengah Atas dan memakai hakama di bawah kimono berwarna dasar biru tua dengan corak putih sambil menyandang tas sekolah pada bahu. Hari itu adalah hari yang keempat aku berjalan seorang diri di daerah Izu. Malam pertama aku menginap di pemandian air panas Shuzenji, dua malam berikutnya di pemandian air panas Yugashima dan sekarang menempuh jalan naik menuju ke Amagi dengan memakai geta yang tinggi. Sambil menikmati pemandangan musim gugur di pegunungan dan lembah serta jurang yang dalam, aku berjalan bergegas, dengan hati berdebar karena adanya semacam harapan. Sementara itu butir-butir hujan yang besar-besar mulai berjatuhan menimpa tubuhku. Aku berlari-lari mendaki jalan yang curam dan berliku-liku. Dengan susah payah akhirnya aku tiba di sebuah warung teh yang terletak di sebelah utara puncak Amagi. Aku merasa lega. Namun seketika itu juga aku tertegun di depan pintu masuk warung itu, karena harapanku ternyata terwujud. Betul-betul terwujud. Di sana kudapati serombongan anak wayang yang sedang beristirahat.

Seorang penari wanita yang melihatku tertegun segera bangkit dan menarik zabuton yang dipakainya, kemudian membalikkannya dan menaruhnya di sampingku.

“Oooo,” kataku dan aku duduk di atas zabuton itu. Setelah berlari-lari menempuh jalan yang mendaki aku masih terengah-engah dan begitu terperanjat sehingga ucapan terima kasihku tersekat di kerongkongan.

Karena tepat benar berhadapan dengan penari itu, aku gugup mengambil rokok dari tamoto kimonoku. Penari itu segera mengambil tempat abu rokok dari depan seorang wanita kawannya, lalu meletakkannya di dekatku. Aku diam saja.

Penari itu kukira berumur tujuh belas tahun. Rambutnya diandam besar-besar secara model lama yang aneh bentuknya, sehingga aku pun tidak mengenal nama andaman itu. Andaman rambut itu membuat wajahnya yang berbentuk telur yang anggun itu nampak kecil tetapi menimbulkan keseimbangan yang indah. Ia nampak bagaikan lukisan gadis dalam roman sejarah yang rambutnya dengan sengaja digambar lebih besar. Kawan-kawan anggota rombongannya terdiri atas seorang perempuan yang berumur empat puluhan, dua orang perempuan muda, dan seorang laki-laki yang kira-kira berusia dua puluh lima atau dua puluh enam yang memakai hanten yang bertuliskan nama rumah penginapan di tempat pemandian air panas Nagaoka.

Sebelumnya aku pernah melihat rombongan penari ini dua kali. Yang pertama di dekat jembatan Yugawa, ketika aku sedang menuju ke Yugashima dan rombongan itu sedang menuju ke Shuzenji. Waktu itu dalam rombongan tersebut ada tiga orang wanita muda, dan penari itu menjinjing taiko. Aku berulang kali menoleh untuk memandang mereka dan pada waktu itu aku merasa sayu, perasaan yang biasa dialami oleh orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Pada malam kedua aku di penginapan Yugashima, mereka datang di sana dan menyelenggarakan pertunjukan. Sambil duduk di atas tangga, aku asyik menontonnya menari di atas lantai papan dekat pintu masuk depan. Pada hari sebelumnya mereka menginap di Shuzenji dan malam itu mereka menginap di Yugashima, kukira keesokan harinya mereka pasti menuju ke arah Selatan ke tempat pemandian air panas Yugano dengan melalui puncak Amagi. Aku akan bisa mengejar mereka di tengah jalan gunung yang berliku-liku di sekitar Amagi. Dengan harapan seperti itu aku berjalan bergegas, tapi ternyata aku bertemu dengan mereka di warung teh, ketika berteduh dari hujan. Karena itulah aku gugup.

Tak lama kemudian wanita tua pelayan warung itu memimpinku ke bilik yang lain. Rupanya bilik itu jarang dipakai, serta terbuka ke berbagai arah. Ketika aku melihat ke arah bawah, maka nampaklah jurang indah yang dalam sekali, sehingga dasarnya tak dapat kucapai oleh pandanganku. Bulu romaku berdiri dan aku merasa gamang sedang gigiku gemeletuk. Kepada pelayan tua yang tadi datang membawa teh, aku berkata, dingin.

“Oh ya, Tuan basah kuyup. Silakan ke mari dan berdiang sebentar, keringkan pakaian tuan,” sambil berkata begitu perempuan itu mengajakku ke bilik duduknya, hampir menuntunku.

Di kamar itu ada perapian dan ketika kubuka shoji, menyergaplah udara panas dari api. Aku agak ragu-ragu berdiri di ambang. Di dekat perapian itu duduk bersila seorang tua yang badannya agak tembam seperti orang mati tenggelam. Dan dia mengarahkan matanya yang busuk menguning sampai pada hitam matanya dengan malas kepadaku. Di sekitarnya bertumpuk-tumpuk surat-surat tua dan kantung kertas dan di tengah-tengah tumpukan kertas itu ia nampak duduk terbenam. Aku tertegun melihat makhluk gunung ganjil yang duduk seperti tak bernyawa itu.

“Saya agak malu Tuan melihat tubuhnya yang memalukan, tapi saya harap Tuan jangan cemas karena ia adalah suami saya yang sudah tua. Mungkin tubuhnya menjijikan orang, tapi karena ia tak bisa bergerak sama sekali saya harap Tuan bisa memaafkannya.”

Begitulah dia minta maaf, lalu dia berbicara tentang suaminya itu, bahwa ia sudah lama lumpuh sehingga seluruh tubuhnya sudah kaku. Tumpukan kertas itu adalah surat-surat dari seluruh negeri yang memberi keterangan tentang penyakit lumpuh tersebut dan kantung-kantung kertas itu adalah bekas wadah obat. Si kakek tua itu kalau mendengar dari pelancong yang lewat di sana, atau melihat iklan dalam surat kabar tentang obat penyakitnya, selalu ia meminta keterangan tentang cara pengobatannya dan selalu membeli obat itu. Dan segala surat dan kantung obat itu tak satu pun dibuang, melainkan ditaruhnya di sekitarnya dan ia terus memandang tumpukan kertas tersebut. Dalam waktu yang sekian lama, akhirnya tumpukan kertas itu membentuk sebuah gunung.

Aku tidak tahu bagaimana menjawab si perempuan tua, melainkan hanya menunduk saja di dekat perapian. Terasa warung teh itu bergegar karena ada mobil yang lewat di jalan. Sekarang musim rontok, tapi udara sudah dingin dan mungkin tak lama lagi puncak ini akan ditutupi salju, tapi aku agak heran mengapa si kakek tidak turun dari sini. Dari pakaianku membubung uap dan nyala api itu kuat sekali sehingga kepalaku terasa pusing. Perempuan itu pergi ke depan dan berbicara dengan perempuan dalam rombongan anak wayang itu.

“Oh, begitu ya. Jadi sudah sebesar ini anak kecil yang dahulu kaubawa ya. Dia nampak baik dan kau beruntung sekali. Dia menjadi secantik ini. Anak gadis memang cepat menjadi besar.”

Kira-kira satu jam kemudian, terdengarlah suara-suara yang menandakan bahwa rombongan itu akan berangkat. Aku pun sebenarnya tak dapat berleha-leha tetapi merasa kikuk dan cemas sehingga tidak berani berdiri untuk pergi. Walaupun mereka sudah biasa berjalan, tapi mereka perempuan. Kalaupun aku ketinggalan satu atau setengah mil, aku akan dapat mengejar mereka dengan lari satu lintasan. Sambil berpikir begitu aku duduk di depan perapian dengan perasaan gelisah. Tetapi setelah rombongan itu berangkat lamunanku melonjak lebih bebas. Aku bertanya kepada pelayan tua yang melepas rombongan itu,

“Mereka menginap di mana malam ini?”

“Makhluk seperti itu tak pernah diketahui dimana akan menginap. Kalau ada peminat dimana saja mereka mau bermalam. Saya kira mereka tak punya rencana akan menginap dimana malam ini.”

Perkataan pelayan tua yang sangat menghina mereka itu, menyinggung perasaanku, sehingga aku sampai berpikir untuk mengundang mereka menginap di kamarku saja.

Hujan mulai tipis mereda, dan puncak-puncak gunung menjadi jelas kelihatan. Walaupun berulang-ulang ditahan oleh pelayan tua itu agar menunggu barang sepuluh menit lagi, kerena sepuluh menit lagi alam akan terang kembali, namun aku tak bisa duduk tenteram.

“Kakek tua, jagalah kesehatan karena udara mulai dingin!” sambil berkata demikian dari dalam hati yang tulus aku pun berdiri. Kakek itu mengangguk sedikit sambil mengejapkan matanya yang kuning seakan-akan pelupuk matanya itu berat sekali.

“Tuan! Tuan!” sambil berteriak demikian pelayan tua itu mengejarku. “Ini terlalu banyak. Maaf…”

Dia mengambil tasku, dan memeluknya seakan tak mau melepaskannya. Dan walau berkali-kali kutolak, ia tetap mau mengantarkan aku beberapa jauhnya. Maka sejauh kurang lebih seratus meter ia terus berlari-lari anjing mengikutiku sambil mengulangi kalimat-kalimatnya yang tadi.

“Ini terlalu banyak. Maaf…Tak saya layani Tuan secara layak. Saya akan selalu mengingat wajah Tuan. Kalau lain kali Tuan singgah, saya akan membalas kebaikan Tuan. Jangan lupa singgah kalau lain kali Tuan lewat di daerah ini. Saya tidak akan melupakan Tuan.”

Karena aku hanya memberinya sekeping logam lima puluh sen, aku merasa terharu sehingga terasa air mataku tergenang. Tetapi aku ingin mengejar rombongan penari itu, maka wanita tua yang terhuyung-huyung mengikutiku itu, terasa agak mengganggu. Ia terus mengikutiku sampai terowongan di puncak.

“Terima kasih, silahkan segera kembali, karena si kakek sendiri saja menunggu!” kataku kepada pelayan tua itu. Dan akhirnya dia menyerahkan tas itu kepadaku.

Begitu masuk terowongan yang gelap, tetesan-tetesan air yang dingin jatuh. Dan di depan, agak jauh, nampak terang mulut terowongan yang menuju ke arah Izu Selatan.

2
Dari tempat keluar terowongan itu terjulurlah jalan yang sebelah sisinya berpagar yang dicat putih, menurun bagaikan ular. Agak jauh di bawah, bagaikan dalam sebuah pemandangan buatan, nampaklah rombongan penari itu. Sebelum aku berjalan kira-kira enam ratus meter, mereka sudah terkejar. Tapi karena aku tak dapat begitu saja memperlambat jalanku, maka aku mendahului mereka seakan-akan tidak mempedulikannya. Laki-laki yang berjalan sekitar lima puluh langkah di depanku segera setelah melihatku, berhenti.

“Sungguh cepat Tuan berjalan. Untung juga cuaca sudah cerah kembali.”

Aku merasa lega dan mulai berjalan bersama dengan laki-laki itu. Ia tak henti-hentinya bertanya kepadaku tentang berbagai macam hal. Melihat kami bercakap-cakap, perempuan-perempuan dari rombongan itu berderap berlari mengejar kami.

Laki-laki itu menggendong sebuah yanagigori yang besar.

Perempuan yang berumur empat puluhan itu mendekap seekor anak anjing dan gadis yang paling tua menjinjing bungkusan dari kain dan gadis yang tengah membawa yanagigori juga. Mereka masing-masing membawa barang bawaan yang cukup besar. Gadis penari itu menggendong taiko dan penyangganya. Perempuan yang berumur empat puluhan itu juga mengajakku bicara sekali-sekali.

“Dia siswa SMA,” bisik anak gadis yang paling tua itu kepada si penari. Ketika aku menoleh kepadanya, ia berkata sambil tersenyum.

“Betul, ‘kan? Saya tahu hal itu. Ada juga siswa SMA yang datang ke pulau kami.”

Rombongan itu orang Habu, pelabuhan di pulau Oshima. Mereka berkata bahwa sejak meninggalkan pulau itu pada musim semi mereka terus mengembara, tapi sekarang udara sudah mulai dingin dan mereka tidak siap untuk menghadapi musim dingin, jadi setelah tinggal kira-kira sepuluh hari di Shimoda, mereka akan pulang ke kampungnya dari tempat pemandian air panas Ito. Ketika mendengar nama pulau Oshima, perasaanku menjadi tergerak. Aku memandangi lagi ambut penari itu yang indah. Aku menanyakan bermacam-macam hal tentang pulau Oshima.

“Banyak mahasiswa yang datang untuk berenang di Oshima, bukan?” kata penari itu kepada kawannya.

“Mungkin pada musim panas, ya,” kataku sambil menoleh kepada si penari. Si penari nampak gugup dan rupanya ia menyahut dalam suara kecil,

“Pada musim dingin juga….”

“Musim dingin juga?”

Si penari tersenyum memandang kepada kawannya.

“Bisa berenang di musim dingin juga?” tanyaku sekali lagi. Si penari mukanya merah padam dan mengangguk sedikit dengan wajah sungguh-sungguh.

“Tolol anak ini!” kata perempuan empat puluhan itu sambil tertawa.

Kami menempuh perjalanan kira-kira dua belas kilometer di jalan menurun sampai di Yugano sepanjang lembah sungai Kawazu. Setelah melewati puncak, warna gunung dan langit pun nampak seperti di daerah Selatan. Aku dan si laki-laki terus berbicara sehingga kami menjadi akrab. Melalui dusun-dusun yang kecil seperti Onigori dan Nashimoto, kami tiba di tempat dari mana nampak atap-atap jerami rumah Yugano di kaki gunung, lalu aku memberanikan diri berkata kepada si laki-laki bahwa aku akan menyertai mereka sampai Shimoda. Ia sangat gembira.

Ketika sampai di rumah penginapan yang sederhana di Yugano, perempuan empat puluhan itu berwajah mau berkata bahwa kami berpisah, tapi si laki-laki berbaik hati berkata,

“Tuan ini mau menyertai kita.”

“Ooo begitu. Dalam perjalanan lebih baik berkawan. Begitu juga dalam hidup, saling tolong-menolong. Mungkin Tuan akan dapat menghilangkan rasa jemu kalau bersama kami, walaupun kami hina. Silahkan naik dan beristirahat sebentar,” sahutnya dengan acuh tak acuh. Gadis-gadis itu serentak melihat kepadaku dan membisu dengan wajah tak peduli, tapi kemudian mereka jadi agak kemalu-maluan memandangku.

Kami sama-sama naik ke bilik tingkat dua dan meletakkan barang-barang. Tatami dan fusuma sudah usang dan kotor. Si penari membawa teh dari bawah. Ketika duduk di depanku wajahnya merah padam dan tangannya gemetar sehingga cangkir teh hampir jatuh dari alasnya, supaya jangan jatuh dia mau meletakkannya di atas tatami, tetapi tertumpah juga. Ia begitu kemalu-maluan sehingga aku sendiri merasa heran.

“Oh, sungguh menjengkelkan! Anak kecil ini rupanya sudah mulai tahu cinta. Bagaimana ini…?” demikian kata perempuan empat puluhan itu takjub sambil mengernyitkan kening, lalu dilemparkannya sehelai handuk. Handuk itu dipungut oleh si penari dan dipelnya tatami dengan perasaan kikuk.

Mendengar perkataannya yang sama sekali di luar dugaan aku jadi merenungi diriku sendiri. Harapanku untuk mengundang mereka dalam bilikku, seperti pernah timbul dalam hatiku ketika mendengar mereka diejek oleh pelayan tua itu, menjadi lenyap.

Sementara itu tiba-tiba perempuan empat puluhan berkata, “Bagus betul pakaian Tuan,” dan ia menatap padaku. “Corak kimono Tuan ini sama benar dengan pakaian anakku Tamizi. Betul ya, coraknya sama, ya?” demikian ia berkali-kali mendesak gadis di sampingnya supaya menyetujui perkataannya, lalu berkata kepadaku pula:

“Di kampung saya ada anakku yang masih bersekolah. Sekarang saya ingat kepadanya, karena corak kimono Tuan kebetulan sama dengan corak kimononya. Sekarang ini mahal sekali corak tenunan begitu. Jadi sangat susah, ya.”

“Sekolahnya di mana?”

“Sekarang dia duduk di kelas lima SD.”

“Oh, di kelas lima…”

“Ia bersekolah di Kofu. Walaupun sudah lama tinggal di Oshima, sebetulnya kami berasal dari Kofu di Kai.”

Sesudah beristirahat kira-kira satu jam, si laki-laki membawaku ke rumah penginapan yang lain. Tadinya aku mengira aku pun akan menginap di rumah penginapan yang sederhana itu bersama dengan mereka. Dari jalan besar kami menyimpang ke lorong berkerikil dan melalui tangga batu lalu berjalan menurun kira-kira seratus meter dan menyeberangi jembatan di samping tempat pemandian umum yang terletak di sebelah anak sungai. Di seberang jembatan itulah halaman penginapan.

Waktu aku mandi berendam dalam pemandian di dalam penginapan itu, datanglah si laki-laki. Dia bercerita bahwa umurnya dua puluh empat dan isterinya mengalami dua kali kematian anak karena keguguran dan karena lahir terlalu dini. Tadinya aku mengira ia orang tempat pemandian air panas Nagaoka, karena dia mengenakan pakaian yang memakai cap tempat itu. Dan karena wajahnya dan caranya bicara cukup terpelajar maka kukira ia suka tertarik kepada apa saja atau jatuh cinta kepada salah seorang gadis anggota rombongan itu, sehingga ia menggabungkan diri sambil membawakan barang-barangnya.

Segera sesudah mandi, aku makan siang. Aku berangkat dari Yugashima pukul delapan pagi, sedangkan waktu itu hampir pukul tiga.

Ketika mau pulang si laki-laki mengucapkan salam sambil menengadah dari halaman.

“Belilah kesemak, ini, maafkan saya melemparkannya dari tingkat atas,” kataku sambil melemparkan bungkusan uang. Dia menolak dan mau berjalan terus, tapi karena dilihatnya uang itu tergeletak di halaman, dia kembali lagi dan memungutnya dan melemparkannya kembali kepadaku sambil berkata,

“Tuan jangan begitu!”

Bungkusan itu jatuh di atas atap jerami. Kulemparkan sekali lagi, kali ini diterimanya dan dibawanya pulang.

Menjelang senja turun hujan lebat. Gunung-gunung yang jauh maupun yang dekat tak kelihatan bedanya, menjadi putih belaka. Air yang mengalir di anak sungai depan penginapan warnanya cepat saja menjadi kuning dan keruh, alirannya menjadi deras. Aku kira dalam hujan selebat itu rombongan penari itu takkan datang mengadakan pertunjukan, tapi aku tak bisa sabar hanya duduk-duduk saja sehingga sampai dua-tiga kali aku pergi mandi. Bilikku taram temaram. Sebuah lampu listrik tergantung pada kamoi menerangi dua buah bilik melalui fusuma penyekat yang dilubangi empat persegi.

Tung-tung-tung-tung…samar-samar kudengar bunyi taiko melalui suara hujan lebat. Aku menggeser pintu seolah-olah mencabiknya saja, lalu melongokan kepala. Bunyi taiko itu terdengar seolah-olah mendekat. Hujan dan angin menerpa kepala. Sambil memejamkan mata dan memasang telinga, aku ingin tahu mereka yang membawa taiko bagaimana bisa sampai ke sini melalui jalan mana. Tak lama kemudian terdengar bunyi shamisen. Juga teriakan perempuan yang panjang-panjang. Juga suara tawa beramai-ramai. Ternyata anak-anak wayang itu diminta mengadakan pertunjukan di ruangan tamu sebuah ryoriya yang terletak berhadapan dengan penginapan mereka. Sekarang dapat kubedakan suara wanita dua-tiga orang dengan suara laki-laki tiga-empat orang. Aku menunggu dengan harapan bila mereka sudah selesai mengadakan pertunjukan di sana, akan datang ke tempatku. Tapi rupanya minum-minum sake itu terlalu ramai sehingga boleh dikatakan ribut saja. Kadang-kadang terdengar pekik wanita membelah kegelapan malam seperti halilintar. Aku menajamkan sarafku dan tetap duduk dengan pintu terbuka. Setiap mendengar bunyi taiko itu, dadaku menjadi lega sedikit.

“Penari itu masih duduk di tempat minum-minum sake, sambil memukul taiko.”

Kalau bunyi taiko itu berhenti, aku merasa tak tahan. Seolah tenggelam ke dasar gemercik hujan.

Beberapa lama kemudian terdengar derap langkah, entah karena mereka berkejar-kejaran entah karena menari berputar-putar, lalu tiba-tiba berhenti dan suasana hening. Aku menajamkan mata. Aku mencoba melihat mengapa sebabnya maka suasana menjadi hening. Aku ingin melihat menembus gelap malam. Aku risau jangan-jangan si penari dinodai orang malam ini.


Bahkan setelah aku membaringkan diri di atas futon sesudah menutup pintu geser itu, dadaku tetap risau. Aku pergi mandi lagi. Dengan ganas aku mengaduk air panas. Hujan berhenti dan bulan terbit. Malam musim gugur yang dicuci oleh hujan menjadi terang sejernih-jernihnya. Aku kira aku takkan bisa berbuat apa-apa walaupun aku lari ke luar dari tempat mandi dengan kaki telanjang. Waktu sudah lewat jam dua.