Ayatullah Khomeini –Sang Wali yang Mengguncang Dunia


Oleh Robin Woodsworth Carlsen (Penyair dan filsuf Kanada)

Saya duduk di bagian depan ruangan. Kursi Khomeini, yang tertutup kain putih, terletak di atas panggung di hadapan kami kira-kira lima belas kaki di atas lantai. Seorang mullah bercambang putih mengawasi kami ketika kami memasuki ruangan. Ia memperbaiki mikrofon, sambil dengan sabar menunggu kedatangan Imam dari pintu tertutup di sebelah kanan panggung tempat ia memberikan ceramahnya. Ruangan dipenuhi harapan yang disampaikan dengan berbisik. Sekali-kali sebagian orang Islam meneriakkan slogan atau ayat-ayat Al-Quran, lalu diikuti oleh ratusan orang Islam dan pengawal revolusi yang hadir di situ. Tidak seorang pun diperbolehkan merokok. Sikap penghormatan yang menguasai orang-orang yang menunggu Imam telah mengubah pemandangan yang biasanya kita lihat di Iran.

Ketika saya mengamati panggung tempat Imam Khomeini menyampaikan ratusan pidatonya, mata saya menangkap ketenangan, kemurnian, dan kesegaran fisik yang melayang-layang, atau lebih tepat lagi berkumpul dalam sebongkah energi yang kokoh dan tembus cahaya, yang sangat berbeda dengan hotel tempat kami menginap, bahkan berbeda dengan lingkungan mana pun yang pernah saya lihat dalam dua kali kunjungan saya ke Iran. Masjid saja tidak memancarkan sifat-sifat ini, sosok energi yang bulat. Mungkin Imam itu seorang manusia yang tercerahkan seorang sufi sejati atau barangkali lebih dari itu? Semua tanda menunjukkan bahwa apa yang terjadi di sini menyeruak kepada apapun yang terjadi di Iran di luar ruangan ini. Perasaan seperti ini hanya mirip dengan apa yang saya rasakan ketika saya berada di front pertempuran atau ketika saya berjalan-jalan di pemakaman Beheste Zahra.

Saya hanya dapat menjelaskan perasaan ini dengan berasumsi bahwa barangkali kesyahidan itu ada, bahwa pelepasan ruh suci yang tiba-tiba dari tubuh, dengan membawa ruh itu ke langit karena niat syahid, telah menciptakan energi yang suci, energi yang dibekahi Allah sendiri.

Kami menunggu di sana kira-kira 45 menit sebelum terlihat tanda-tanda kedatangan Imam. Tanda-tanda itu sangat jelas. Beberapa ulama bersurban muncul dari pintu itu dan memberi isyarat kepada mullah yang ada di panggung bahwa sang pemimpin, ulama besar, panglima, dan imam sebentar lagi datang. Ketika Khomeini muncul di pintu semua orang bangkit dan mulai berteriak, “Khomeini…Khomeini… Khomeini” teriakan penghormatan kepada manusia yang paling menggetarkan, paling ceria, dan paling bergelora yang pernah saya saksikan.

Semua orang betul-betul diseret ke dalam gelombang cinta dan pemujaan yang spontan seraya dengan setiap butir sel dalam jantungnya menyatakan keyakinan mutlak bahwa orang yang mereka hormati itu pantas mendapatkan kehormatan di sisi Allah. Sungguh, aku berani mengatakan bahwa ledakan ekstase dan kekuatan yang menyambut Imam bukan hanya sekadar refleks karena pancingan tertentu tentang Imam. Ia adalah senandung puji yang alamiah dan bahagia; senandung penghormatan yang lahir karena keagungan dan kharisma dahsyat dari orang ini.

Ketika pintu dibuka untuknya, saya mengalami badai gelombang energi yang datang dari pintu itu. Dalam jubah cokelat, serban hitam, dan janggut putih, ia menggerakkan semua molekul dalam ruangan itu dan mencengkeram semua perhatian sehingga lenyaplah apapun selain dia. Dia adalah pancaran cahaya yang menembus jauh ke dalam kesadaran semua orang di ruangan itu. Dia menghancurkan semua citra yang ditampilkan untuk menyainginya. Kehadirannya begitu mencekam sehingga aku harus menyusun kembali sensasiku, jauh di luar konsep-konsepku, jauh di luar kebiasaanku mengolah pengalaman.

Aku sudah mempersiapkan apapun keadaan orang ini untuk meneliti wajahnya, menggali motivasinya, memikirkan sifat yang sebenarnya. Kekuasaan, kebesaran, dan dominasi absolut Khomeini telah menghancurkan semua cara penilaianku. Di situ aku hanya mengalami energi dan perasaan yang memancar dari kehadirannya di panggung. Walaupun ia itu taufan, segera kita akan menyadari bahwa di dalam taufan itu ada ketenangan yang mutlak. Walaupun perkasa dan menaklukkan, ia tetap tenang dan damai.

Ada sesuatu yang tidak bergerak dalam dirinya, tetapi ketidak-bergerakkannya itu telah menggerakkan seluruh Iran. Ini bukan orang biasa. Bahkan, semua orang suci yang pernah aku temui, semacam Dalai Lama, pendeta Budha dan pendeta Hindu, tidak seorang pun memiliki sosok yang menggetarkan seperti Khomeini. Bagi siapa saja yang dapat melihat atau merasa, tidak mungkin meragukan integritas pribadinya atau anggapan orang-orang yang disembunyikan oleh orang-orang seperti Yazdi bahwa ia telah meninggalkan diri manusia yang normal (atau abnormal) dan telah mencapai tempat tinggal yang mutlak.

Kemutlakan itu dinyatakan dalam udara, dinyatakan dalam gerak tubuhnya, dinyatakan dalam gerak tangannya, dinyatakan dalam nyala kepribadiannya, dinyatakan dalam ketenangan kesadarannya. Tidak mengherankan apabila ia dicintai jutaan orang Iran dan kaum Muslim sedunia. Bagi pengamat ini, paling tidak ia telah menunjukkan bukti empiris tentang adanya tingkat kesadaran yang tinggi.

Mula-mula ia tidak bicara; pemimpin agama yang lain yang berbicara kepada hadirin. Khomeini duduk dalam kesunyian yang tak bernoda dan dalam keserasian yang sempurna. Ia tak bergerak, ia terpisah, ia berada dalam lautan ketenangan. Tetapi ada suatu yang bergerak murni, ada sesuatu yang terlibat secara dinamis, ada sesuatu yang setiap saat siap melancarkan peperangan. Ia mengecilkan semua orang yang pernah saya temui di Iran. Ia menguasai panggung itu walaupun ada mullah lain yang tengah bicara. Semua mata terpaku pada Khomeini dan ia tidak menunjukkan sedikit pun kepongahan atau sadar diri atau aku berani mengatakan tidak sedikit pun kelihatan melamun atau berpikir ke sana kemari.

Seluruh wajahnya secara terus menerus dan secara spontan diarahkan kepada konsentrasi yang secara estetik dan spiritual serasi dengan pemandangan yang kami saksikan. Di sinilah ratusan pejuang dan kaum Muslimin meneriakkan kebesarannya, menyatakan kecintaan, dan penghormatan mereka kepadanya. Tetapi ketika ia menerima semuanya itu, ia tenang dalam dirinya, ia tidak bergerak. Ia tetap besar dalam keadaan batin yang tidak tergoncangkan keadaan yang sebab musababnya di luar jangkauan pengetahuanku.

Mungkin pembaca mengernyitkan dahi mendengar gambaranku yang berlebihan tentang orang ini. Tetapi ia harus sadar bahwa walaupun aku sudah mendengar apapun tentang dia, walaupun banyak bukti yang kontradiktif telah saya terima sebelumnya, kesan langsung dan sebenarnya tentang pribadi Imam Khomeini tidak lagi dapat dilukiskan dengan ide atau konsep.

Pengalaman itu terlalu perkasa untuk dilukiskan seperti itu. Saya melakukan transendensi dari pengalaman biasa yang menentukan sensasi, pikiran, dan perasaan yang berpusat pada kesadaran diriku. Khomeini begitu perkasa. Khomeini begitu kuat dan tak terkalahkan. Waktu itu juga aku melihat semua dorongan revolusi, semua sejarah penggulingan Syah, irama kesyahidan, dan masa lalu peradaban Islam yang membayangi Barat untuk waktu tertentu. Semua itu terkandung dalam kehadiran orang ini.

Dia adalah sumber kebangkitan Islam. Dia adalah sumber revolusi. Dia adalah sumber segala kekuatan yang ditampilkan oleh revolusi ini dan oleh Islam ke hadapan dunia. Aku yakin tanpa dia, monarki masih bercokol dan Islam secara efektif akan disingkirkan sebagai faktor dalam nasib politik Timur Tengah. Siapa saja yang memiliki kesadaran atau perasaan untuk mengetahui apa yang diwakili Imam Khomeini (yaitu kehidupan utuh yang memihak Islam) tidak bisa tidak akan dipenuhi dengan semangat Islam, keyakinan syahid yang diberkahi, dan tekad untuk menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Ia mengangkat. Ia mentransformasikan. Khomeini adalah pusat ledakan Islam. Khomeini adalah mata air kekuatan ruhaniah yang mengalir ke dalam hati kaum Muslimin di Timur Tengah—atau paling tidak pada semua kaum Muslim yang secara naluriah dekat dengan jantung Islam.

Ia tidak tertawa. Wajahnya telah terpatri pada keteguhan niatnya. Tuhan telah meminta segalanya dari dia, dan dia pun telah memberikan hidupnya untuk mengabdi kepada Tuhan. Tak ada lagi yang patut ditertawakan, yang patut dijadikan hiburan, atau yang patut dilamunkan. Jalan hidupnya telah ditentukan dan ia siap menerima akibat dari jalan hidup yang telah ditentukannya itu: untuk menegakkan Islam yang berasal dari Tuhan. Ia hidup untuk Islam. Ia telah menjadi instrumen Islam. Ia tidak mempunyai tujuan apapun kecuali untuk menjalankan Islam. Individualitasnya telah tenggelam dalam universalitas tujuannya yang luhur.

Aku harus berkata lebih jauh lagi: Imam Khomeini menembus hati dan otakku dengan arus emosi yang hanya dapat aku gambarkan sebagai positivitas ekstrem, sesuatu yang lebih baik aku sebut “cinta”. Betapa pun tegasnya dalam menjalankan ajaran Islam, betapapun tak tergoyahkan sikapnya, betapapun kebalnya terhadap perasaan individu, ia dipenuhi cinta yang membersihkan hatiku, memenuhinya dengan kebahagiaan yang tidak pernah aku kenal sebelumnya.

Ketika aku duduk di sana, pandanganku terpusat kepada wajahnya (dan sinar yang mengitarinya) dan pada saat yang sama dipenuhi dengan energi yang dapat aku hubungkan dengan sejenis kreativitas dan daya yang paling hayati. Dia adalah generator energi dan perasaan yang memenuhi hati dan membersihkan katakanlah ruh. Aku ingin mempertahankan sikap netral, sikap tidak terlibat yang kritis dalam menghadapi Imam. Akan tetapi, di sini aku kehilangan batas-batas individualitasku.

Di sini aku menemukan perasaan dan sensasi halus yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Aku dipenuhi oleh manusia Muslim yang suci, manusia yang dianggap—barangkali oleh seluruh dunia—paling tidak sanggup mengisi wartawan Barat dengan rasa bahagia yang Ilahiyah, kejernihan kesadaran yang Ilahiyah. Tetapi, memang inilah pengalamanku. Imam Khomeini telah aku alami sebagai satu-satunya realitas yang memperluas kesadaranku, memurnikan hatiku, menjernihkan otakku. Ketika ia pergi meninggalkan berkat yang tidak pernah berkurang, berkat yang masih terus berada dalam diriku, walaupun tertutup oleh kesibukan hari ini. 


Roma Finita



Suatu ketika, Alain Badiou duduk diantara peserta di dalam sebuah ruangan dimana saya sedang memberikan ceramah, ketika ponsel-nya (yang membuat saya semakin malu, ponsel itu adalah punya saya yang saya pinjamkan ke dia) tiba-tiba berbunyi dengan nyaring. Bukannya mematikan ponsel itu, dia dengan sopan meminta saya untuk bicara lebih pelan, supaya dia bisa mendengar suara penelepon itu dengan lebih jelas...Kalau ini bukan bentuk pertemanan sejati, berarti saya tidak tahu apa itu pertemanan. Maka, buku ini saya dedikasikan untuk Alain Badiou.

Pengantar:  Causa Locuta, Roma Finita

Roma locuta, causa finite – kata akhir dari pihak yang berwenang yang seharusnya mengakhiri perselisihan, dalam bentuk apapun, dari mulai “Dewan Gereja telah memutuskan’ sampai ‘Komite Pusat telah menyetujui sebuah resolusi’ atau bahkan, kenapa enggak, ‘rakyat sudah memutuskan pilihan di bilik suara’…Namun, bukankah pelajaran dari psikoanalisa adalah justru kebalikannya: biarkan Cita-cita [Causes] bicara sendiri (atau, seperti dikatakan Lacan, “Saya, kebenaran, yang bicara”), dan Imperium (Romawi, atau kapitalisme global hari ini) akan berantakan? Ablata causa tolluntur effectua: Ketika tidak ada cita-cita, dampak-nya akan erkembang (Les effets ru se portent bien qu'en absence de la cause). Bagaimana kalau kita balik pepatah ini? Ketika cita-citanya ikut campur, maka akibatnya akan dipatahkan…[1]

Namun, Cita-cita yang mana yang harus bicara? Hari ini, situasi tampaknya tidak terlalu bagus bagi Cita-cita besar, ketika di masa ‘pascamodern’, meskipun lanskap ideologis sudah terfragmentasi menjadi banyak posisi yang saling bertarung memperebutkan hegemoni, tapi ada konsensus yang melandasinya: masa untuk narasi besar sudah berakhir, kita hanya perlu ‘pemikiran sederhana’ berlawanan dengan semua jenis fondasionalisme, pemikiran yang peduli dengan tekstur rhizomatis realitas; juga di bidang politik, kita tidak lagi perlu menyusun sistem yang bisa menjelaskan semuanya dan melakukan proyek emansipatoris global; pemaksaan oleh solusi besar selama ini harus digantikan oleh intervensi yang spesifik. Kalau sampai sejauh ini pembaca hanya merasa sedikit prihatin dengan kerangka diatas, sebaiknya berhenti membaca dan buang saja buku ini.

Bahkan mereka yang cenderung untuk menolak teori pasca-modern ‘Prancis’ yang terkenal dengan ‘jargonnya’ sebagai bentuk ‘omong-kosong’ cenderung untuk juga ikut merasa emoh dengan ‘pemikiran dan paparan besar’. Memang ada banyak omong-kosong hari ini. Tidak heran jika bahkan mereka yang mempopulerkan istilah ‘omong kosong,’ seperti Harry Frankfurt, tidak terbebas dari hal ini. Di dalam kerumitan yang tiada akhir di dunia hari ini, dimana segala hal seringkali tampak sebagai kebalikannya – intoleransi sebagai toleransi, agama sebagai akal rasional, dan seterusnya – ada godaan besar untuk memotong dengan sikap keras “Tidak pakai omong-kosong!’ – sikap yang tidak jarang hanya sekedar passage à l'acte yang tidak bermakna-apa. Keinginan untuk menarik garis demarkasi yang jelas antara omongan yang jujur dan waras dengan ‘omong-kosong’ mau tidak mau berujung pada omongan yang jujur dari ideologi dominan itu sendiri. Tidak heran, bagi Frankfurt sendiri, contoh dari politisi yang ‘tidak pakai omong-kosong’ adalah Harry Truman, Dwight Eisenhower dan hari ini, John McCain [2] – seolah pose tubuh dan gaya bicara yang lugas adalah jaminan dari kejujuran.

Ukuran yang masuk akal pada saat ini mengatur kita – terkait dengan pembedaan lama antara doxa (opini empiris, kebajikan [Wisdom]) dan Kebenaran, atau lebih radikal lagi, pengetahuan positif empiris dan keimanan mutlak – untuk membuat batas yang jelas antara apa yang bisa dipikirkan dan dilakukan hari ini. Pada level akal sehat, yang paling jauh bisa kita jangkau adalah liberalisme pencerahan konservatif: jelas saja, tidak ada alternatif yang memadai bagi kapitalisme; pada saat yang sama, kalau dibiarkan berjalan sendiri, dinamika kapitalisme justru akan mengancam untuk menggerogoti fondasinya sendiri. Ini tidak hanya berlaku dalam hal ekonomi (perlunya aparat negara yang kuat untuk menjaga persaingan pasar itu sendiri, dsb), tapi terlebih lagi, dinamika ideologico-dinamis. Demokrat konservatif yang terdidik, mulai Daniel Bell sampai Francis Fukuyama, menyadari bahwa kapitalisme global hari ini cederung menafikan penopang ideologisnya sendiri (apa yang dulu pernah disebut oleh Bell sebagai ‘kontradiksi kultural kapitalisme): kapitalisme hanya bisa berkembang dengan prasyarat stabilitas sosial dasar dan kepercayaan simbolik yang masih utuh, dimana individu tidak hanya menerima tanggungjawab mereka terkait dengan nasibnya, tapi juga menggantungkan diri pada ‘keadilan’ dasar dari sistem – latar ideologis yang harus dijaga lewat aparatus pendidikan dan kultural yang kuat. Di dalam kerangka seperti ini, jawabannya bukan pada bentuk liberalisme radikal à la Hayek, ataupun konservatisme lugas yang masih bepegang pada cita-cita lama negara-kesejahteraan; melainkan masyarakat campuran antara liberalisme ekonomis dengan semangat otoritarian yang minimal (penekanannya ada pada stabilitass sosial, ‘nilai, dsb) yang bisa menangkal ekses dari sistem – dengan kata lain, apa yang coba dikembangkan oleh Jalan-Ketiga dari Sosial-Demokrat seperti Blair.

Dan inilah batasan dari akal sehat. Apa yang ada dibaliknya memerlukan ‘Lompatan Keyakinan’, keyakinan terhadap Cita-cita yang hilang, Cita-cita yang, dari dalam ruang kebajikan yang skeptis, mau tidak mau akan tampak sebagai hal yang gila. Dan buku ini bicara dalam kondisi Lompatan Keyakinan ini – tapi kenapa? Masalahnya tentu saja adalah bahwa di saat krisis dan gejolak, kebajikan empiris yang skeptis itu sendiri, dibatasi oleh lingkup bentuk akal sehat yang dominan, tidak bisa menyediakan jawaban, sehingga kita harus mengambil resiko Lompatan Keyakinan.

Pergeseran ini adalah pergeseran dari ’Saya bicara kebenaran’ menjadi ’kebenaran bicara sendiri (dalam/melalui saya)’ (Sebagaimana di dalam matheme Lacan tentang diskursus analis, dimana agen bicara dari posisi kebenaran), sampai satu titik dimana saya bisa bilang, seperti Meister Eckhart, ’memang benar, dan kebenaran mengatakannya sendiri.’[3] Pada level pengetahuan positif, tentu saja ini tidak akan pernah mungkin untuk (yakin bahwa kita sudah) mencapai kebenaran – kita hanya bisa terus-menerus mendekatinya, karena bahasa pada akhirnya selalu merujuk-diri sendiri [self-referential], tidak mungkin untuk menarik garis pemisah yang tegas antara sophism, upaya yang rumit, dan Kebenaran itu sendiri (problema ini juga dihadapi Plato). Disini, pertaruhan Lacan adalah juga pertaruhan Pascalean: pertaruhan akan Kebenaran. Tapi bagaimana? Tidak dengan mengejar kebenaran ’obyektif’, tapi dengan berpegang pada kebenaran dari posisi dari mana kita bicara.[4]

Masih ada dua teori yang menerapkan konsepsi kebenaran yang terlibat semacam ini: Marxisme dan Psikoanalisis. Keduanya adalah teori yang melawan, bukan hanya teori tentang perlawanan, tapi teori dimana mereka sendiri terlibat di dalam perlawanan: sejarah mereka tidak terdapat pada akumulasi dari pengetahuan netral, karena mereka ditandai dengan pengucilan, tudingan bidah dan pengusiran. Inilah kenapa, di dalam keduanya, hubungan antara teori dan praktis berbentuk dialektis, dengan kata lain, berupa tarik-menarik yang tak-tereduksi: teori bukan hanya landasan konseptual bagi praktek, tapi pada saat yang sama dia juga menjelaskan mengapa praktek pada akhirnya bisa gagal – atau, sebagaimana dikatakan Freud dengan tegas, psikoanalisis hanya akan sepenuhnya mungkin di dalam masyarakat yang tidak lagi memerlukannya (psikoanalisa). Dalam bentuknya yang paling radikal, teori adalah teori dari praktek yang gagal: ”inilah kenapa sesuatu bisa bermasalah...” Kita biasanya lupa bahwa lima laporan klinik terbesar Freud pada dasarnya didasarkan pada keberhasilan parsial dan kegagalan yang mutlak; dengan cara yang sama, pandangan historis Marxist terhebat tentang event revolusioner adalah hasil dari kegagalan besar (dari Perang Petani Jerman, Jacobins di dalam Revolusi Prancis, Commune Paris, Revolusi Oktober, Revolusi Kebudayaan China...). Penilaian terhadap kegagalan semacam ini menghadapkan kita dengan masalah keteguhan/kesetiaan [fidelity]: bagaimana menebus potensi emansipatoris dari kegagalan ini dengan cara menghindari jebakan ganda dari keterikatan nostalgia dengan masa lalu dan akomodasi yang terlalu mudah terhadap ’kondisi baru’.

Masa dari kedua teori ini kelihatannya sudah lewat. Seperti baru-baru ini dikatakan Todd Dufresne, tidak ada sosok di dalam sejarah pemikiran manusia yang keliru tentang dasar dari teorinya lebih dari Freud [5] – dengan pengecualian Marx, beberapa orang mungkin menambahkan. Dan, memang, dalam kesadaran liberal, keduanya sekarang muncul sebagai ’pasangan penjahat’ terbesar dari abad 20: bisa diduga, pada 2005, buku terkenal The Black Book of Communism, berisi daftar kejahatan Komunis, [6] diikuti oleh The Black Book of Psychoanalysis, berisi daftar semua kekeliruan teoritis dan penipuan klinis dari psikoanalisis. [7] Dengan cara yang negatif seperti ini, paling tidak, solidaritas yang kuat antara Marxisme dan psikoanalisis sekarang bisa dilihat semua orang.

Tapi tetap saja ada tanda-tanda yang mengganggu kepongahan pasca-modern ini. Mengomentari semakin luasnya gaung dari pemikiran Alain Badiou, Alain Finkelkraut baru-baru ini menyebutnya sebagai ’filsafat yang paling brutal, sebagai gejala negatif [symptom] dari kembalinya radikalitas dan penolakan terhadap anti-totalitarianisme’ [8] – sebuah pengakuan yang jujur dan mengejutkan bagi kegagalan dari upaya yang panjang dan gigih yang dilakukan oleh semua jenis kalangan ‘anti-totalitarian’, pembela hak asasi manusia, pejuang melawan paradigma Kiri jadul, dari nouveaux philosophes Prancis sampai pembela ‘modernitas kedua’. Apa yang seharusnya sudah mati, dikubur, sepenuhnya di-diskreditkan, kini kembali dengan pembalasan dendam kesumat [return with vengeance]. Kita bisa memahami keterkejutan mereka: bagaimana bisa, setelah beberapa dekade mencoba menjelaskan tidak hanya melalui karya ilmiah, tapi juga di media massa, kepada semua orang yang mau mendengar (dan yang tidak mau) bahaya dari ‘Pemikir-Besar’ totalitarian, filsafat semacam ini bisa kembali dalam bentuknya yang paling brutal? Apakah orang tidak menyadari bahwa utopia yang sedemikian berbahaya itu sudah berakhir? Ataukah kita disini sedang menghadapi semacam kebutaan yang tidak bisa dihilangkan dan aneh, atau sebuah rumus antropologis ngawur, kecenderungan untuk terjerembab kepada godaan totalitarian? Usulan saya adalah seharusnya perspektifnya kita balik: sebagaimana Badiou sendiri mungkin akan katakan di dalam caranya yang Platonis dan unik: idea yang sejati adalah abadi, dia tidak bisa dihancurkan, selalu kembali setiap kali dia dinyatakan sudah mati. Cukup bagi Badiou hanya menyampaikan lagi berbagai ide ini dengan jelas, dan pemikiran anti-totalitarian akan terbuka semua kondisinya yang mengenaskan, bentuk upaya yang rumit namun tidak ada harganya, teorisasi-semu dari ketakutan dan insting para survivalis oportunis rendahan, cara berpikir yang tidak hanya reaksioner, tapi juga sangat reaktif dalam konteks istilah Nietzschean.

Terkait dengan hal ini adalah pertarungan yang menarik yang sudah berlangsung baru-baru ini (tidak hanya) antara Lacanian (dan tidak hanya) di Prancis. Pertarungan ini terkait dengan status dari yang ‘Satu’ [the one] sebagai nama dari subyektivitas politis, pertarungan yang menyebabkan perpecahan banyak hubungan pertemanan pribadi (misalnya, antara Badiou dengan Jean-Claude Milner). Ironinya adalah bahwa pertarungan ini terjadi diantara para intelektual eks-Maois (Basiou, Milner, Levy, Miller, Regnault, Finkelkraut), dan antara ‘Yahudi’ dan ‘non-Yahudi’. Pertanyaannya adalah: apakah nama yang Satu adalah hasil dari pertarungan politis yang kontinjen [sementara], ataukah ternyata ini berakar di dalam identitas tertentu yang lebih fundamental? Pendapat dari kalangan ‘Maois Yahudi’ adalah bahwa ‘Yahudi’ merupakan nama yang mewakili dari apa yang menolak tren global hari ini untuk mengatasi semua batasan, termasuk keterbatasan dari kondisi manusia itu sendiri, di dalam keterpecahan wilayah [deterritorialization] dan pencair-an [fluidization] dari kapitalis radikal (tren yang mencapai puncak-nya di dalam mimpi gnostik-digital untuk mentransformasi manusia itu sendiri kedalam software virtual yang bisa me-reload dirinya dari satu hardware ke hardware yang lain). Sehingga, nama ‘Yahudi’ mewakili keteguhan dasar terhadap dirinya. Sejalan dengan pemikiran ini, Francois Regnault mengklaim bahwa kaum-Kiri kontemporer menuntut Yahudi (jauh melebihi dari kelompok etnis lain) bahwa mereka ‘tunduk dengan namanya’[9] – rujukan terhadap maxim etis Lacan ‘jangan tunduk terkait dengan hasrat-mu’… Kita disini perlu mengingat bahwa pergeseran yang sama dari politik emansipatoris radikal kepada keteguhan terhadap nama Yahudi, sudah terlihat didalam nasib dari Mahzab Frankfurt, khususnya teks terakhir dari Horkheimer. Yahudi disini adalah pengecualian: di dalam perspektif multikulturalis liberal, semua kelompok bisa menerima identitas mereka – kecuali Yahudi, yang penerimaan diri-nya sendiri [self-assertion] sama dengan rasisme Zionis… Berlawanan dengan pendekatan ini, Badiou dan yang lain meyakini keteguhan dari yang Satu yang muncul dan terbentuk melalui perjuangan politik untuk penamaan itu sendiri dan, dengan demikian, tidak bisa didasarkan pada konten baku tertentu (misalnya akar etnis atau agama). Dari sudut pandang ini, keteguhan terhadap nama ‘Yahudi’ adalah kebalikan (pengakuan diam-diam) dari kekalahan perjuangan emansipatoris otentik. Tidak heran bahwa mereka yang menuntut kesetiaan nama ‘Yahudi’ adalah juga mereka yang mengingatkan kita akan bahaya ‘totalitarian’ dari gerakan emansipatoris radikal apapun. Politik mereka meliputi menerima kefanaan dan batasan fundamental dari situasi kita, dan Hukum Yahudi adalah bukti mutlak dari kefanaan ini, yang karena itulah bagi mereka, semua upaya untuk mengatasi Hukum dan kecenderungan terhadap Cinta yang merangkul-semua (dari Kristianitas sampai Jacobin Prancis atau Stalinisme) pasti akan berujung pada teror totalitarian. Dengan kata lain, solusi satu-satunya yang benar dari ‘pertanyaan Yahudi’ adalah ‘solusi final’ (musnahkan mereka), karena qua objet a Yahudi adalah batasan terbesar dari ‘solusi final’ dari Sejarah itu sendiri, untuk mengatasi semua perbedaan di dalam Kesatuan dan fleksibilitas yang meliputi-semua.

Tapi bukankah ini lebih pada kasus bahwa, di dalam sejarah Eropa modern, mereka yang membela dan mendambakan universalitas justru para Yahudi Atheis dari mulai Spinoza sampai Marx dan Freud? Ironinya adalah bahwa di dalam sejarah anti-semitisme, Yahudi mewakili kedua kutub ini: kadang-kadang mereka mewakili keterikatan erat terhadap bentuk-kehidupan tertentu yang mencegah mereka untuk menjadi warga negara penuh dari negara yang mereka tinggali, kadang mereka juga mewakili kosmopolitanisme universal yang tanpa-rumah dan tanpa-akar yang cuek terhadap semua bentuk identitas etnis tertentu. Hal pertama yang perlu kita ingat kembali adalah bahwa pertarungan ini (juga) inheren didalam identitas Yahudi. Dan mungkin, perjuangan Yahudi ini adalah pertarungan sentral kita hari ini: pertarungan antara keteguhan terhadap dorongan Messianis dan ‘politik ketakutan’ yang reaktif (persis dalam konteks arti Nietzschean) yang berfokus untuk menjaga identitas tertentu kita.

Peran istimewa dari Yahudi dalam pembentukan ruang ‘penalaran publik’ melekat terhadap substraksi mereka dari setiap bentuk kekuasaan negara – posisi ini adalah ‘bagian dari bukan-bagian) dari setiap komunitas negara-bangsa yang organik, bukan sifat abstrak-universal dari monoteisme mereka, yang membuat mereka sebagai perwujudan langsung dari universalitas. Karena itu tidak heran bahwa, dengan pembentukan negara-bangsa Yahudi, muncullah sosok Yahudi baru: Yahudi yang menolak identifikasi dengan Negara Israel, menolak untuk menganggap Negara Israel sebagai rumah mereka yang sebenarnya, Yahudi yang ‘menjaga jarak dirinya sendiri dari negara ini, dan yang melihat Negara Israel sebagai bagian dari negara yang mereka mengambil jarak, hidup di dalam rajutan-nya – dan Yahudi yang aneh inilah yang menjadi obyek dari apa yang mau tidak mau kita harus sebut sebagai ‘anti-Semitisme Zionis’, ekses asing yang mengganggu komunitas negara-bangsa. Yahudi ini, “Yahudi dari para Yahudi itu sendiri’ penerus penting dari Spinoza, hari ini adalah satu-satunya Yahudi yang etrus berkeras terhadap ’Penalaran Publik,’ menolak untuk menyerahkan penalaran mereka kepada domain ‘privat’ dari negara-bangsa.

Buku ini tidak malu untuk mengambil sudut pandang ‘Messianis’ dari perjuangan akan emansipasi universal. Sehingga tidak heran, bahwa bagi pendukung doxa ‘pasca-modern’, daftar dari Cita-cita yang kalah yang dibela di sini pasti tampak sebagai perwujudan dari pertunjukan horor dari mimpi-buruk mereka yang paling mengerikan, wujud dari hantu masa lalu yang mereka sudah habis-habisan coba untuk di sembuhkan dari kesurupannya; politik Heidegger sebagai contoh ekstrim dari filosof yang tergoda oleh politik totalitarian; teror revolusioner dari Robespierre sampai Mao; Stalinisme; kediktatoran proletariat… Dalam tiap kasus, ideologi dominan tidak hanya menolak Cita-cita itu, tapi memberi pengganti, versinya yang ‘lebih lunak’: bukan keterlibatan intelektual totalitarian, tapi intelektual yang meneliti masalah dari globalisasi dan berjuang di ruang publik bagi hak asasi manusia dan toleransi, melawan rasisme dan sexisme; bukan teror negara revolusioner, tapi multitude yang ter-desentralisasi dan swa-kelola [self-organized]; bukan kediktatoran proletariat, tapi kolaborasi diantara berbagai agen (inisiatif masyarakat-sipil, uang swasta, regulasi negara…). Tujuan sebenarnya dari ‘pembelaan Cita-cita yang kalah’ bukan untuk membela teror Stalinis, atau semacamnya, tapi mempermasalahkan alternatif ‘demoratik-liberal-yang- terlalu-mudah [all-too-easy-liberal-democratic]. Komitmen politik Foucault dan, terutama, Heidegger, meskipun motivasi dasarnya bisa diterima, jelas merupakan ‘langkah yang tepat menuju arah yang salah’; kesialan dari nasib teror revolusioner menghadapkan kita dengan perlunya – bukan untuk menolak teror in toto, tapi – untuk merevisi; krisis ekologis yang mengancam tampaknya menawarkan kesempatan yang langka untuk menerima versi revisi dari kediktatoran proletariat. Karena itu, argumennya disini adalah, meskipun fenomena ini, dengan caranya masing-masing, adalah kegagalan dan kebengisan [monstrosity] sejarah (Stalinisme adalah mimpi-buruk yang mungkin menyebabkan lebih banyak penderitaan manusia dibanding fasisme; upaya untuk menegakkan ‘kediktatoran proletariat’ menghasilkan penjelmaan yang menggelikan dari rejim dimana justru proletariat direduksi untuk dibungkam, dsb), ini tidak sepenuhnya benar; di masing-masing tetap ada momen penebusan yang hilang dalam penolakan demokratik-liberal – dan penting untuk memperjelas momen ini. Kita harus hati-hati untuk tidak melempar bayi ke dalam air yang kotor – meskipun kita tergoda untuk membalik metafora ini, dan menganggap bahwa kritik demokratik-liberal yang ingin melakukan ini (misalnya, melempar air kotor teror, sementara menjaga kemurnian si bayi dari sosialis demokrasi yang otentik), melupakan bahwa airnya sebelumnya adalah jernih, bahwa semua kotoran di situ adalah justru dari bayinya. Apa yang harus kita lakukan justru adalah, untuk melempar keluar bayi itu sebelum mengotori kejernihan air dengan kotorannya, sehingga, untuk mem-parafrase Mallarme, rien que l’eau n’aura eu lieu dans le bain de l’histoire.

Pembelaan kita terhadap Cita-cita yang kalah karena itu tidak terlibat di dalam bentuk permainan dekonstruktif apapun dengan gaya ‘setiap Cita-cita pertama harus kalah agar menegaskan efisiensinya sebagai sebuah Cita-cita’. Sebaliknya, tujuannya adalah berupaya sekuatnya untuk meninggalkan, apa yang secara berseloroh disebut Lacan dengan ‘narsisisme dari Cita-cita yang kalah,’ dan dengan berani menerima aktualisasi sepenuhnya dari Cita-cita ini, termasuk resiko yang tek-terhindar dari bencana yang dahsyat. Badiou tepat ketika merujuk pada disintegrasi rejim Komunis, dia mengusulkan maxim: mieux vent un desastre qu’un desetre. Lebih baik bencana keteguhan terhadap Event daripada tidak-acuh terhadap Event. Untuk mem-parafrase kalimat Beckett yang terkenal, dimana aku nanti akan kembali lagi berkali-kali, setelah kita gagal, kita bisa melanjutkan dan gagal dengan lebih baik, sementara keacuhan menenggelamkan kita semakin lama semakin dalam di dalam ceruk dari Makluk yang tolol.

Beberapa tahun yang lalu, majalah Premiere melaporkan sebuah liputan yang menarik tentang bagaimana sejumlah ending film Hollywood yang paling terkenal diterjemahkan ke sejumlah bahasa non-Inggris utama. Di Jepang, kalimat Clark Gable kepada Vivien Liegh dalam Gone With the Wind, ‘Terus terang, sayangku, aku tidak peduli!’ diganti menjadi ‘Aku takut, sayangku, ada sedikit kesalahpahaman diantara kita berdua’ – bukti atas pepatah dari etiqet dan kesantunan orang Jepang. Sebaliknya, di China kalimat, ‘Ini adalah awal dari pertemanan yang Indah!’ dari Casablanca dirubah menjadi, ‘Kita berdua akan membentuk sel baru perjuangan anti-fasis!’ – perjuangan melawan musuh tetap menjadi prioritas utama, melebihi hubungan pribadi.

Meskipun buku ini mungkin tampak dipenuhi pernyataan konfrontatif dan ’provokatif’ yang eksesif (apa yang hari ini bisa lebih ‘provokatif’ daripada menunjukkan bahkan hanya sekedar simpati yang minimal untuk memahami teror revolusioner?), tapi sebenarnya lebih pada upaya untuk menerapkan penggantian sesuai dengan contoh yang dikutip di Premiere: dimana sebenarnya saya tidak peduli dengan lawan saya, saya katakan bahwa ada sedikit kesalahpahaman dimana apa yang dipertaruhkan adalah berbagi medan pertarungan politis-ideologis yang baru, mungkin akan tampak bahwa saya sedang bicara tentang pertemanan dan aliansi akademik…Sehingga, terserah pembaca untuk membongkar petunjuk yang ada didepannya.


[1] Pembalikan ini mengikuti logika yang sama dengan tanggapan yang tepat dari kelompok Kiri-Tercerahkan terhadap diktum terkenal Joseph Goebbel, “Kalau dengar kata budaya, saya langsung ambil senjata”: “Ketika dengar suara senjata, saya langsung ambil budaya saya.”
[2] Lihat wawancaranya, “Demokratie befordert Bullshit,” Cicero, March 2007, pp.38-41
[3] Dari khotbah “Jesus Entered,” diterjemahkan dalam Reiner Schuermann, Wandering Joy, Great Barrington, MA: Lindisfarne Books 2001, p.7
[4] Lantas, apa makna Lompatan Keyakinan ini terkait dengan berpihak pada isu politik tertentu? Apakah kita tidak lantas tereduksi mendukung sikap standar Liberal-Kiri, dengan ungkapan bahwa ‘ini masih belum Yang Sebenarnya,’ bahwa Langkah Besarnya masih ada di depan? Disinilah letak poin kuncinya: tidak, bukan seperti itu. Bahkan kalau tampaknya tidak ada ruang, dalam konstelasi yang ada sekarang, bagi aksi emansipatoris radikal, Lompatan Keyakinan ini membebaskan kita bagi sebuah perilaku yang sepenuhnya terbuka dan tegas terhadap semua kemungkinan aliansi strategis: ini memungkinkan kita untuk memutus lingkaran setan dan pemerasan Kiri-Liberal (‘kalau kalian tidak memilih kita, pihak Kanan akan membatasi aborsi, menerapkan legislasi rasis…’), dan mengambil untung dari wawasan jadul Marx tentang bagaimana kaum konservatif yang cerdas kerap melihat lebih jauh (dan lebih sadar akan antagonisme dari tatanan yang ada) daripada kalangan progresif liberal.
[5] Lihat Todd Dufresne, Killing Freud: 20th Century Culture & the Death of Psychoanalysis, London: Continuum 2004
[6] Le Livre noir du communisme, Paris: Robert Laffont 2000
[7] Le Livre noir dela psychoanalyse; vivre, penser et aller mienze sans Freud, Paris: Editions Les Arenes 2005
[8] Dikutip dari Eric Aeschimann, “Mao en chair,” Liberatisa, January 10, 2007.
[9] Francois Regnault, Notre objet a, Paris: Verdier 2003, p.1 



Teka-teki Kosmik

Inkarnasi baru konstanta kosmologis Einstein mungkin menunjukkan jalan melampaui relativitas umum.



[Alam semesta lengang mungkin menjadi nasib akhir kita jika perluasan kosmik terus mencepat—sebuah fonemena yang dipercaya disebabkan oleh konstanta kosmologis. Bola oranye merepresentasikan alam semesta teramati, yang tumbuh dengan kecepatan cahaya; bola biru merepresentasikan petak ruang yang mengembang. Seraya perluasan mencepat, semakin sedikit gugus galaksi yang dapat diamati].

Pada 1917, Albert Einstein menghadapi persoalan membingungkan saat dia mencoba merekonsiliasikan teori gravitasi barunya, teori relativitas umum, dengan pemahaman terbatas di masa itu tentang alam semesta. Seperti kebanyakan rekan sezamannya, Einstein yakin bahwa alam semesta pasti statis—tidak mengembang ataupun menyusut—tapi kondisi yang diharapkan ini tidak cocok dengan persamaan gravitasinya. Dalam keputus-asaan, Einstein menambahkan suku kosmologis khusus pada persamaannya untuk mengimbangi gravitasi dan memperkenankan solusi statis.

Tapi dua belas tahun kemudian, astronom Amerika, Edwin Hubble, menemukan bahwa alam semesta itu jauh dari statis. Dia menemukan bahwa galaksi-galaksi jauh sedang mundur cepat dari galaksi kita dengan laju yang proporsional dengan jarak mereka. Suku kosmologis tidak diperlukan untuk menjelaskan alam semesta mengembang, jadi Einstein membuang konsep tersebut. Fisikawan Rusia-Amerika, George Gamow, menyatakan dalam otobiografinya bahwa “saat saya mendiskusikan persoalan-persoalan kosmologi dengan Einstein, dia menyatakan bahwa pengenalan suku kosmologis adalah blunder terbesar yang dia buat dalam hidupnya.”

Overview

Mekanika quantum dan relativitas, bergabung dengan bukti mutakhir alam semesta berakselerasi, telah menuntun fisikawan untuk menghidupkan kembali suku kosmologis yang diperkenalkan dan kemudian ditanggalkan oleh Einstein. Tapi suku ini kini merepresentasikan sebuah bentuk energi misterius yang merembesi ruang hampa dan mendorong percepatan perluasan kosmik.

Upaya-upaya untuk menjelaskan asal-usul energi ini dapat membantu ilmuwan melampaui teori Einstein sedemikian rupa sehingga kemungkinan besar mengubah pemahaman fundamental kita tentang alam semesta.

Namun, dalam tujuh tahun belakangan, suku kosmologis—kini dikenal sebagai konstanta kosmologis—telah muncul kembali untuk memainkan peran sentral dalam fisika abad 21. Tapi  pendorong kebangkitan ini sungguh-sungguh sangat berbeda dari pemikiran asli Einstein; versi baru suku tersebut timbul dari observasi mutakhir terhadap alam semesta yang berakselerasi dan, ironisnya, dari prinsip-prinsip mekanika quantum, cabang fisika yang begitu dibenci oleh Einstein. Banyak fisikawan kini menduga suku kosmologis menyediakan kunci untuk melampaui teori Einstein menuju pemahaman lebih dalam akan ruang, waktu, dan gravitasi dan barangkali menuju sebuah teori quantum yang menyatukan gravitasi dengan gaya-gaya fundamental lainnya di alam. Terlalu dini untuk mengatakan apa resolusi final tersebut kelak, tapi kemungkinan besar akan mengubah gambaran kita tentang alam semesta.

Kelahiran Sebuah Konstanta

Relativitas umum tumbuh dari perjuangan Einstein selama satu dekade untuk melanjutkan observasi pentingnya bahwa gravitasi dan gerak percepatan adalah ekuivalen. Sebagaimana diungkapkan dalam eksperimen pikiran Einstein yang terkenal, fisika di dalam elevator yang diam di medan gravitasi seragam berkekuatan g adalah persis sama dengan fisika di dalam elevator yang meluncur menerobos ruang hampa dengan percepatan seragam g.

Einstein juga terpengaruh kuat oleh gagasan filosofis fisikawan Austria, Ernst Mach, yang menolak ide kerangka acuan absolut untuk ruangwaktu. Dalam fisika Newtonian, kelembaman merujuk pada kecenderungan sebuah objek untuk bergerak dengan kecepatan tetap kecuali jika dipengaruhi oleh sebuah gaya. Gagasan kecepatan konstan membutuhkan kerangka acuan lembam (yakni, tidak berakselerasi). Tapi tidak berakselerasi terhadap apa? Newton mempostulatkan eksistensi ruang absolut, kerangka acuan yang tak dapat digerakkan yang menetapkan semua kerangka lembam lokal. Tapi Mach mengajukan bahwa distribusi materi di alam semesta menetapkan kerangka lembam, dan teori relativitas umum Einstein memasukkan gagasan ini sampai taraf luas.

Teori Einstein merupakan konsep gravitasi pertama yang menawarkan harapan untuk menyediakan gambaran konsisten tentang keseluruhan alam semesta. Ia tak hanya memperkenankan deskripsi tentang bagaimana objek bergerak di ruang dan waktu tapi juga bagaimana ruang dan waktu itu sendiri berkembang secara dinamis. Dalam memakai teori barunya untuk mencoba menggambarkan alam semesta, Einstein mencari solusi yang terhingga, statis, dan mematuhi prinsip-prinsip Mach (contoh, distribusi materi terhingga yang perlahan menipis menuju kehampaan [angkasa] tidak memuaskan gagasan materi Mach yang diperlukan untuk menetapkan ruang). Tiga praanggapan ini menuntun Einstein memasukkan suku kosmologis untuk mengkonstruksi solusi statis yang terhingga dan tak mempunyai perbatasan—alam semesta Einstein melengkung kembali ke dirinya sendiri seperti permukaan balon [lihat boks Teori-teori yang Berkembang]. Secara fisik, suku kosmologis belum dapat diamati pada skala tata surya kita, tapi menghasilkan tolakan kosmik pada skala lebih besar yang akan mengimbangi tarikan gravitasi objek-objek jauh.

Namun, antusiasme Einstein akan suku kosmologis mulai menurun cepat. Pada 1917, kosmolog Belanda, Willem de Sitter, mendemonstrasikan bahwa dirinya dapat menghasilkan solusi ruangwaktu bersuku kosmologis bahkan dalam ketiadaan materi—hasil yang amat non-Machian. Model ini kemudian ditunjukkan bersifat non-statis. Pada 1922, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, mengkonstruksi model alam semesta mengembang dan menyusut yang tidak membutuhkan suku kosmologis. Dan pada 1930, astrofisikawan Inggris, Arthur Eddington, menunjukkan bahwa alam semesta Einstein betul-betul tidak statis: karena gravitasi dan suku kosmologis begitu seimbang, perturbasi kecil akan menimbulkan penyusutan atau perluasan tak terkendali. Pada 1931, dengan perluasan alam semesta yang dibuktikan kuat oleh Hubble, Einstein resmi membuang suku kosmologis sebagai “bagaimanapun tidak memuaskan secara teoritis”.

Penemuan Hubble meniadakan kebutuhan akan suku kosmologis untuk mengimbangi gravitasi; di sebuah alam semesta mengembang, gravitasi memperlambat perluasan. Pertanyaannya kemudian menjadi, apakah gravitasi cukup kuat untuk akhirnya menghentikan perluasan dan menyebabkan alam semesta kolaps, atau akankah kosmos mengembang selamanya? Dalam model Friedmann, jawabannya terikat pada densitas rata-rata materi: alam semesta berdensitas tinggi akan kolaps, sedangkan alam semesta berdensitas rendah akan mengembang abadi. Titik pemisahnya adalah alam semesta berdensitas kritis, yang mengembang selamanya meski dengan laju yang terus berkurang. Karena menurut teori Einstein lengkungan rata-rata alam semesta terikat pada densitas rata-ratanya, geometri dan takdir terhubung. Alam semesta berdensitas tinggi adalah melengkung positif seperti permukaan balon, alam semesta berdensitas rendah adalah melengkung negatif seperti permukaan pelana, dan alam semesta berdensitas kritis adalah flat secara ruang. Sehingga, para kosmolog percaya bahwa penetapan geometri alam semesta akan mengungkap nasib akhirnya.

Energi Nihil

Suku kosmologis dibuang dari kosmologi selama enam dekade berikutnya (kecuali dalam kemunculan kembali sebagai bagian dari alam semesta steady-state, teori yang dikemukakan pada akhir 1940-an tapi dikesampingkan secara meyakinkan pada 1960-an). Tapi barangkali hal paling mengejutkan mengenai suku tersebut adalah bahwa sekalipun Einstein belum memperkenalkannya akibat desakan kebingungan menyusul perkembangan relativitas umumnya, kita sekarang menyadari bahwa kehadirannya rasanya tak terelakkan. Dalam inkarnasi mutakhirnya, suku kosmologis bukan timbul dari relativitas, yang mengatur alam pada skala terbesar, tapi dari mekanika quantum, fisika skala terkecil.

Konsep baru suku kosmologis ini sungguh berbeda dari yang diperkenalkan Einstein. Persamaan medan asli Einstein, Gμν = 8πGTμν, mempertalikan lengkungan ruang, Gμν, dengan distribusi materi dan energi, Tμν, di mana G adalah konstanta Newton yang mencirikan kekuatan gravitasi. Ketika Einstein menambahkan suku kosmologis, dia menaruhnya di sisi kiri persamaan tersebut, mengindikasikan bahwa ia merupakan atribut ruang itu sendiri [lihat boks Suku Kosmologis]. Tapi jika seseorang memindahkan suku kosmologis ke sisi kanan, ia memuat makna yang sama sekali baru, makna yang dimilikinya hari ini. Ia kini merepresentasikan sebuah bentuk densitas energi baru yang ganjil yang tetap konstan bahkan saat alam semesta mengembang dan yang gravitasinya bersifat menolak bukan menarik.

SUKU KOSMOLOGIS
Perubahan Makna

Jantung teori relativitas umum Einstein adalah persamaan medan, yang menyatakan bahwa geometri ruangwaktu (Gμν, tensor kelengkungan Einstein) ditentukan oleh distribusi materi dan energi (Tμν, tensor tegangan-energi), di mana G adalah konstanta Newton yang mencirikan kekuatan gravitasi. (Tensor adalah kuantitas geometris atau fisikal yang bisa direpresentasikan dengan sederetan bilangan.) Dengan kata lain, materi dan energi memberitahu ruang bagaimana caranya melengkung. Gμν = 8πGTμν

Untuk menciptakan model alam semesta statis, Einstein memperkenalkan suku kosmologis guna mengimbangi tarikan gravitasi pada skala kosmik. Dia menambahkan suku tersebut (dikalikan dengan gμν, tensor metrik ruangwaktu, yang menetapkan jarak) pada sisi kiri persamaan medan, mengindikasikan bahwa ia merupakan atribut ruang itu sendiri. Tapi dia membuang suku tersebut setelah jelas bahwa alam semesta sedang mengembang. Gμν + Λgμν = 8πGTμν

Suku kosmologis baru yang kini sedang dipelajari oleh fisikawan diwajibkan oleh teori quantum, yang berpandangan bahwa ruang hampa mungkin memiliki densitas energi kecil. Suku ini—ρVAC    (densitas energi vakum) dikalikan dengan gμν—harus berada di sisi kanan persamaan medan bersama bentuk energi lainnya. Gμν = 8πG (Tμν + ρVAC gμν)

Walaupun suku kosmologis Einstein dan energi vakum quantum adalah ekuivalen secara matematis, secara konseptual mereka tidak bisa lebih berbeda: suku kosmologis Einstein adalah atribut ruang, energi vakum quantum adalah bentuk energi yang timbul dari pasangan partikel-antipartikel virtual. Teori quantum berpandangan bahwa partikel-partikel virtual ini terus-menerus muncul dari kevakuman, eksis selama waktu yang singkat dan kemudian lenyap [bawah]. 


Invariansi Lorentz, kesimetrian fundamental yang diasosiasikan dengan teori relativitas khusus maupun umum, mengimplikasikan bahwa hanya ruang hampa yang bisa memiliki densitas energi jenis ini. Dalam perspektif ini, suku kosmologis terasa lebih ganjil lagi. Jika ditanya berapa energi ruang hampa, kebanyakan orang akan menjawab “nihil”. Bagaimanapun juga, itu adalah satu-satunya harga yang pantas dan intuitif.

Mekanika quantum sama sekali tidak intuitif. Pada skala amat kecil di mana efek-efek quantum menjadi penting, ruang hampa pun tidak betul-betul hampa. Malah pasangan partikel-antipartikel muncul dari kevakuman, menempuh jarak pendek dan kemudian lenyap lagi tepat pada skalawaktunya begitu cepat sehingga seseorang tidak dapat mengamatinya secara langsung. Tapi efek tak langsung mereka sangat penting dan bisa diukur. Contoh, partikel-partikel virtual mempengaruhi spektrum hidrogen dengan cara yang dapat dikalkulasi yang telah terkonfirmasi melalui pengukuran.

Sekali kita menerima premis ini, kita mesti siap merenungkan kemungkinan bahwa partikel-partikel virtual ini mungkin menganugerahi ruang hampa dengan suatu energi non-nol. Karenanya mekanika quantum mempertimbangkan suku kosmologis Einstein bersifat wajib daripada opsional. Ia tidak bisa ditolak sebagai “tak memuaskan secara teoritis”. Namun, persoalannya adalah bahwa semua kalkulasi dan estimasi magnitudo energi ruang hampa membawa pada harga yang amat besar—berkisar dari 55 sampai 120 orde magnitudo lebih besar daripada energi semua materi dan radiasi di alam semesta teramati. Jika densitas energi vakum betul-betul setinggi itu, semua materi di alam semesta akan serta-merta terbang berpisahan.

TEORI-TEORI YANG BERKEMBANG
Model Kosmos: Dulu dan kini

Model kosmologis Einstein [kiri] adalah alam semesta yang terhingga dalam hal ruang tapi tak terhingga dalam hal waktu, menghasilkan ukuran tetap yang sama selamanya. Alam semesta ini tidak memiliki batas ruang; ia melengkung kembali ke dirinya sendiri seperti lingkaran. Setelah penemuan perluasan kosmik, para kosmolog mengkonstruksi sebuah model alam semesta tak terhingga di mana laju perluasan terus-menerus melambat akibat gravitasi [tengah], mungkin membawa pada kekolapsan. Pada 1980-an, para teoris menambahkan fase awal pertumbuhan pesat yang disebut inflasi, yang buktinya kini sudah ada. Dalam enam tahun belakangan, observasi telah menunjukkan bahwa perluasan kosmik mulai mencepat sekitar lima miliar tahun silam [kanan]. Nasib akhir alam semesta—perluasan terus-menerus, kolaps, atau percepatan hiper yang disebut big rip—tergantung pada sifat dark energy misterius yang mendorong percepatan perluasan. 


Persoalan ini telah menjadi duri bagi teoris selama sekurangnya 30 tahun. Pada prinsipnya, semestinya ini telah dikenali seawalnya sejak 1930-an, ketika kalkulasi efek-efek partikel virtual pertama kali dilakukan. Tapi di semua bidang fisika selain yang terkait dengan gravitasi, energi absolut sebuah sistem tidaklah relevan; yang menjadi soal adalah selisih energi di antara status-status (misalnya, selisih energi antara status dasar atom dan status terstimulasinya.) Jika sebuah konstanta ditambahkan pada semua harga energi, ia keluar dari kalkulasi semacam itu, menjadikannya mudah diabaikan. Lagipula, pada waktu itu segelintir fisikawan cukup serius mencemaskan penerapan teori quantum pada kosmologi.

Tapi relativitas umum mengimplikasikan bahwa semua bentuk energi, bahkan energi nihil, beraksi sebagai sumber gravitasi. Fisikawan Rusia, Yakov Borisovich Zel’dovich menyadari signifikansi persoalan ini pada akhir 1960-an, ketika dia membuat estimasi pertama densitas energi vakum. Sejak saat itu, para teoris sudah mencoba memikirkan mengapa kalkulasi mereka menghasilkan harga sedemikian tinggi. Suatu mekanisme yang belum ditemukan, mereka beralasan, pasti menghapuskan sebagian besar energi vakum, jika tidak semuanya. Mereka berasumsi bahwa harga paling masuk akal untuk densitas energi tersebut adalah nol—kenihilan quantum pun mesti berbobot nihil.

Selama para teoris meyakini dalam pikiran mereka bahwa mekanisme penerowongan semacam itu mungkin eksis, mereka dapat menaruh perhatian kecil saja pada persoalan suku kosmologis. Walaupun mempesona, ia dapat diabaikan. Bagaimanapun, alam telah campur tangan.

Kembali Dengan Sekuat Tenaga

Bukti definitif pertama bahwa ada yang keliru datang dari pengukuran perlambatan laju perluasan alam semesta. Ingat, Hubble menemukan bahwa kecepatan relatif galaksi-galaksi jauh proporsional dengan jarak mereka dari galaksi kita. Dari sudut pandang relativitas umum, hubungan ini timbul dari perluasan angkasa itu sendiri, yang semestinya melambat seiring waktu akibat tarikan gravitasi. Dan karena galaksi-galaksi amat jauh terlihat sebagaimana keadaan mereka miliaran tahun silam, perlambatan perluasan semestinya menghasilkan lengkungan hubungan Hubble linier—galaksi-galaksi jauh semestinya mundur lebih cepat daripada prediksi hukum Hubble. Triknya adalah menentukan secara akurat jarak dan kecepatan galaksi-galaksi amat jauh.

Pengukuran demikian bersandar pada penemuan lilin standar—objek dengan keberkilauan intrinsik yang cukup cerlang untuk terlihat dari seberang alam semesta. Sebuah terobosan muncul pada 1990-an dengan kalibrasi supernova tipe Ia, yang dipercaya merupakan ledakan termonuklir bintang white dwarf bermassa sekitar 1,4 kali massa matahari. Dua tim—Supernova Cosmology Project, dipimpin oleh Saul Perlmutter dari Lawrence Berkeley National Laboratory, dan High-z Supernova Search Team, dipimpin oleh Brian Schmidt dari Mount Stromlo dan Siding Spring Observatories—bermaksud mengukur perlambatan perluasan alam semesta memakai supernova tipe ini. Pada awal 1998, kedua kelompok membuat penemuan mengejutkan yang sama: pada lima miliar tahun lalu, perluasan mencepat, bukan melambat [lihat “Antigravitasi Kosmologis”, tulisan Lawrence M. Krauss]. Sejak saat itu, bukti percepatan kosmik semakin menguat dan tak hanya mengungkap fase percepatan sekarang tapi juga masa perlambatan dahulu [lihat “From Slowdown to Speedup”, tulisan Adam G. Riess dan Michael S. Turner, Scientific American, Februari 2004].

Namun, data supernova bukan satu-satunya bukti yang menunjukkan eksistensi suatu bentuk energi baru yang mendorong perluasan kosmik. Gambaran terbaik tentang alam semesta awal datang dari observasi gelombang mikro kosmik latar (CMB), residu radiasi dari big bang yang mengungkap fitur-fitur alam semesta pada umur sekitar 400.000 tahun. Pada 2000, pengukuran ukuran sudut variasi CMB di langit cukup bagus bagi para periset untuk menetapkan bahwa geometri alam semesta adalah flat. Temuan ini dikonfirmasi oleh pesawat antariksa pengobservasi CMB yang disebut Wilkinson Microwave Anisotropy Probe dan eksperimen lainnya.

Geometri ruang flat mensyaratkan bahwa densitas rata-rata alam semesta harus setara dengan densitas kritis. Tapi berbagai pengukuran semua bentuk materi—termasuk dark matter dingin, lautan partikel-partikel bergerak lambat yang tidak memancarkan cahaya tapi mengerahkan gravitasi menarik—menunjukkan bahwa materi berkontribusi sekitar 30 persen saja dari densitas kritis. Alam semesta flat, karenanya, mensyaratkan suatu bentuk energi yang terdistribusi merata lain yang tidak memiliki pengaruh teramati terhadap gugusan lokal dan dapat menyusun 70 persen densitas kritis. Energi vakum, atau sesuatu semacamnya, akan menghasilkan efek yang persis diharapkan.

Di samping itu, garis argumentasi ketiga mengindikasikan bahwa percepatan kosmik adalah potongan puzzle kosmologis yang hilang. Selama dua dekade, paradigma inflasi plus dark matter dingin telah menjadi penjelasan utama atas struktur alam semesta. Teori inflasi berpandangan bahwa pada momen pertamanya, alam semesta mengalami ledakan perluasan hebat, yang melancarkan dan memflatkan geometrinya dan memompa fluktuasi quantum densitas energi dari ukuran subatom menjadi ukuran kosmik. Peristiwa ini menghasilkan distribusi materi secara agak tak homogen yang menimbulkan variasi CMB dan struktur-struktur yang teramati di alam semesta hari ini. Gravitasi dark matter dingin, yang jauh melebihi bobot materi biasa, mengatur pembentukan struktur-struktur ini.

Namun pada pertengahan 1990-an, paradigma ini ditantang serius oleh data observasi. Prediksi level gugusan materi berbeda dari yang diukur. Yang lebih buruk, prediksi umur alam semesta terlihat lebih muda daripada umur bintang-bintang tertua. Pada 1995, kami berdua menunjukkan kontradiksi ini akan hilang jika energi vakum menyusun sekitar 2/3 densitas kritis. (Model ini sangat berbeda dari alam semesta tertutup Einstein, di mana densitas suku kosmologis adalah separuh densitas materi.) Berdasarkan sejarah energi vakum yang berubah-ubah, proposal kami setidaknya provokatif.

Satu dekade kemudian segalanya cocok. Di samping menjelaskan percepatan kosmik sekarang dan periode perlambatan dahulu, suku kosmologis yang dihidupkan kembali ini mendorong umur alam semesta sampai hampir 14 miliar tahun (di atas umur bintang-bintang tertua) dan menambah energi yang cukup untuk membawa alam semesta menuju densitas kritis. Tapi fisikawan masih tidak tahu apakah energi ini betul-betul berasal dari vakum quantum. Signifikansi penemuan penyebab percepatan kosmik telah membawa urgensi baru pada upaya pengukuran energi vakum. Persoalan penentuan bobot nihil tak bisa lagi dikesampingkan selama bergenerasi-generasi mendatang. Dan puzzle itu kini kelihatannya lebih kacau lagi daripada sebelumnya ketika dahulu fisikawan mencoba menemukan teori yang menghapuskan energi vakum. Kini para teoris harus menjelaskan mengapa energi vakum kemungkinan tidak nol melainkan begitu kecil sehingga efeknya terhadap kosmos menjadi relevan baru beberapa miliar tahun silam.

Tentu saja, tak ada yang bisa lebih menggairahkan ilmuwan daripada puzzle sebesar, sekaya, dan sepenting ini. Sebagaimana Einstein tertuntun menuju relativitas umum dengan mempertimbangkan ketidakcocokan relativitas umum dan teori gravitasi Newton, fisikawan hari ini percaya bahwa teori Einstein tidak lengkap sebab tidak bisa memasukkan hukum mekanika quantum secara konsisten. Tapi observasi kosmologis mungkin menerangkan hubungan antara gravitasi dan mekanika quantum pada level fundamental. Ekuivalensi kerangka percepatan dan gravitasilah yang menunjukkan jalan bagi Einstein; barangkali jenis percepatan lain, percepatan kosmik, akan menunjukkan jalan hari ini. Dan para teoris sudah menguraikan beberapa ide tentang bagaimana kita beranjak maju. 

Superdunia

Teori string, yang kini sering disebut teori-M, dipandang oleh banyak fisikawan sebagai pendekatan menjanjikan untuk mengawinkan mekanika quantum dengan gravitasi. Salah satu ide pokok yang mendasari teori ini disebut supersimetri, atau SUSY. SUSY adalah kesimetrian antara partikel-partikel berpusingan setengah-bulat (fermion seperti quark dan lepton) dan partikel-partikel berpusingan bulat (boson seperti photon, gluon, dan pengangkut gaya lainnya). Di sebuah dunia di mana SUSY mewujud penuh, partikel dan superpartnernya akan memiliki massa sama; contoh, elektron supersimetris (disebut selektron) akan seringan elektron, dan seterusnya. Lebih jauh, di superdunia ini, bisa jadi terbukti bahwa kenihilan quantum berbobot nihil dan bahwa vakum memiliki energi nol.

Namun, di dunia riil, kita tahu tak ada selektron seringan elektron yang eksis sebab fisikawan akan telah mendeteksinya dalam akselerator partikel. (Para teoris berspekulasi bahwa partikel superpartner adalah jutaan kali lebih berat daripada elektron dan karenanya tidak bisa ditemukan tanpa bantuan akselerator lebih canggih.) Karenanya, SUSY pasti merupakan kesimetrian yang rusak, yang mengindikasikan bahwa kenihilan quantum mungkin berbobot.

Fisikawan telah membuat model-model supersimetri rusak yang menghasilkan densitas energi vakum yang berorde-orde magnitudo lebih kecil daripada estimasi tinggi sebelumnya. Tapi densitas ini pun jauh lebih besar daripada yang diindikasikan oleh observasi kosmologis. Namun belakangan, para periset telah mengakui bahwa teori-M kelihatannya memperkenankan solusi berlainan dalam jumlah hampir tak terhingga. Walaupun hampir semua solusi potensial ini akan menghasilkan energi vakum yang terlampau tinggi, beberapa solusi mungkin menghasilkan energi vakum serendah harga yang telah diobservasi oleh kosmolog [lihat “Pemandangan Teori String”, tulisan Raphael Bousso dan Joseph Polchinski].

Tanda lain teori string adalah postulat dimensi tambahan. Teori mutakhir menambahkan enam atau tujuh dimensi ruang, semuanya tersembunyi dari pandangan, pada tiga dimensi ruang biasa. Konsepsi ini menawarkan pendekatan lain untuk menjelaskan percepatan kosmik. Georgi Dvali dari Universitas New York dan rekan-rekannya telah menyatakan bahwa efek dimensi tambahan dapat muncul sebagai suku tambahan dalam persamaan medan milik Einstein yang membawa pada percepatan perluasan alam semesta [lihat “Out of the Darkness”, tulisan Georgi Dvali, Scientific American, Februari 2004]. Pendekatan ini mengajukan tandingan terhadap ekspektasi lama: selama berdekade-dekade, dianggap bahwa tempat untuk mencari perbedaan antara relativitas umum dan teori suksesornya ada pada jarak pendek, bukan jarak kosmik. Rencana Dvali bertentangan dengan kebijaksanaan ini—jika dia benar, pertanda pertama pemahaman kosmik baru ada pada jarak terbesar, bukan jarak terkecil.

Mungkin penjelasan percepatan kosmik tidak ada kaitannya dengan pemecahan misteri tentang mengapa suku kosmologis begitu kecil atau bagaimana teori Einstein bisa diperluas untuk mencakup mekanika quantum. Relativitas umum menetapkan bahwa gravitasi sebuah objek adalah proporsional dengan densitas energinya plus tiga kali tekanan internalnya. Suatu bentuk energi bertekanan negatif dan besar—yang menarik masuk seperti tilam karet bukan mendorong keluar seperti bola gas—karenanya akan memiliki gravitasi menolak. Jadi percepatan kosmik mungkin sederhananya telah mengungkap eksistensi sebuah bentuk energi tak biasa, dijuluki dark energy, yang tidak diprediksikan oleh mekanika quantum ataupun teori string.

Geometri vs Takdir

Bagaimanapun juga, penemuan percepatan kosmik telah selamanya mengubah pemikiran kita tentang masa depan. Takdir tak lagi terikat pada geometri. Sekali kita memperkenankan eksistensi energi vakum atau sesuatu semacamnya, segalanya mungkin terjadi. Alam semesta flat yang didominasi oleh energi vakum positif akan mengembang selamanya dengan laju yang terus bertambah [lihat ilustrasi paling awal], sedangkan yang didominasi oleh energi vakum negatif akan kolaps. Dan jika dark energy bukanlah energi vakum sama sekali, maka dampak mendatangnya terhadap perluasan kosmik tidak pasti.

Mungkin, tak seperti konstanta kosmologis, densitas dark energy dapat naik atau jatuh seiring waktu. Jika densitasnya naik, percepatan kosmik akan meningkat, mengoyak galaksi, tata surya, planet, dan atom, secara berurutan, setelah sejumlah waktu terhingga. Tapi jika densitasnya jatuh, percepatan dapat berhenti. Kami berdua telah mendemonstrasikan bahwa tanpa mengetahui detail asal-usul energi yang saat ini mendorong perluasan, tak ada observasi kosmologis yang dapat merinci nasib akhir alam semesta.

Untuk memecahkan teka-teki ini, kita mungkin memerlukan teori fundamental yang memperkenankan kita memprediksi dan mengkategorikan dampak gravitasi setiap kontribusi potensial terhadap energi ruang hampa. Dengan kata lain, fisika kenihilan akan menentukan nasib alam semesta kita! Penemuan solusi tersebut mungkin mensyaratkan pengukuran baru terhadap perluasan kosmik dan struktur-struktur yang terbentuk di dalamnya untuk menyediakan petunjuk langsung bagi para teoris. Untungnya, banyak eksperimen sedang direncanakan, termasuk teleskop antariksa yang didedikasikan untuk mengobservasi supernova-supernova jauh dan teleskop baru di bumi dan di angkasa untuk menyelidiki dark energy lewat efeknya terhadap perkembangan struktur-struktur skala besar.

Pengetahuan kita tentang dunia fisik biasanya berkembang dalam atmosfir kebingungan kreatif. Kabut hal tak dikenal menuntun Einstein mempertimbangkan suku kosmologis sebagai solusi putus asa untuk mengkonstruksi alam semesta statis Machian. Hari ini kebingungan kita mengenai percepatan kosmik mendorong fisikawan mengerahkan segala upaya untuk memahami sifat energi yang mendorong percepatan. Kabar baiknya adalah bahwa walaupun banyak jalan mungkin menuntun ke jalan buntu, resolusi misteri mendalam dan membingungkan ini barangkali akhirnya membantu kita menyatukan gravitasi dengan gaya-gaya lain di alam, harapan yang sangat diidam-idamkan Einstein.

(Lawrence M. Krauss dan Michael S. Turner adalah di antara kosmolog pertama yang berargumen bahwa alam semesta didominasi oleh suku kosmologis yang berbeda sama sekali dari yang diperkenalkan dan kemudian ditanggalkan oleh Einstein. Prediksi mereka pada 1995 tentang percepatan kosmik dikonfirmasikan oleh observasi astronomis tiga tahun kemudian. Krauss, direktur Center for Education and Research in Cosmology and Astrophysics di Case Western Reserve University, juga telah menulis tujuh buku populer, termasuk Hiding in the Mirror: The Mysterious Allure of Extra Dimensions, diterbitkan pada Oktober 2005. Turner, yang merupakan Rauner Distinguished Service Professor di Universitas Chicago, kini menjabat sebagai asisten direktur untuk ilmu matematika dan fisika di National Science Foundation)