Apa Puisi dan Siapa Penyair?


(Disampaikan di House of Salbai 21 Oktober 2017 dalam Rangka Peluncuran Buku Puisi karya Rois Rinaldi)

Ketika saya diminta untuk menyampaikan orasi budaya, yang dalam hal ini materinya adalah sastra, wabil khusus puisi, bukan berarti saya sanggup memilih tema apa yang ingin saya bicarakan, termasuk dalam soal puisi dan penyair. Sehingga tema yang ingin saya bahas ini, yaitu apa puisi dan siapa penyair, sesungguhnya upaya saya sendiri untuk bertanya dan kalau bisa menemukan jawaban sementara.

Bagi saya pribadi, sekedar contoh, kepenulisan puisi dan kepenyairan adalah masalah keterlibatan saya dengan kehidupan sehari-hari yang saya jalani. Saya tidak tahu bagi para penyair lain. Bahwa menulis puisi adalah juga menyangkut kerja mengolah bahasa menjadi ‘buah seni’ adalah benar adanya, namun tentu saja, saya menggali bahan-bahan perenungannya dari pengalaman dan perasaan bathin, di mana bahasa itu berusaha saya beri konteks hidup dan kehidupannya.

Rois Rinaldi adalah mitra dalam kiprah kepenulisan saya dalam artian intersubjektivitas kreatif dunia kepenulisan, ia kawan sekaligus lawan, bukan musuh. Ia orang yang jujur dan apa adanya sebagai penulis puisi. Karya-karya puisinya acapkali menyodorkan kritik sosial, tak jarang juga sindiran estetik tentang dunia kepenulisan puisi itu sendiri. Namun tentu saja, upaya untuk mengangkat polemik mestilah didasarkan pada dasar dan argumen yang kuat.

Saat saya membaca puisi-puisi dalam draft kumpulan puisi bertajuk Nada-nada Minor-nya, saya dihadapkan pada puisi-puisi panjang, yang mohon maaf, mengingatkan saya pada buku puisinya Agus R. Sardjono, Sebuah Cerita dari Negeri Angin. Itu berbeda dengan puisi-puisinya di buku kumpulan puisinya yang perdana.

Perubahan gaya dan bentuk itu barangkali saja sejalan dan seiring dengan perubahan minat untuk mengangkat konsen isu-isu yang dipilihnya dalam sejumlah puisi-nya yang cenderung naratif dan prosais itu. Mungkin saja akan ada beberapa pembaca yang merasa lelah ketika membaca sejumlah puisinya tersebut, apalagi jika beberapa pembaca belum terbiasa ‘membaca’ puisi.

Dalam konteks resepsi dan pembacaan, ada beberapa resiko membaca puisi naratif yang panjang jika puisi bersangkutan kurang merayu dan menarik para pembacanya untuk ikut terlibat dalam peristiwa dan isu yang diangkat puisi bersangkutan. Misalnya para pembaca akan jenuh dan merasa lelah, dan lalu menghentikan pembacaan sebelum mereka membaca keseluruhan sebuah puisi atau malah mereka akan enggan meneruskan pembacaan bila baris-baris pertamanya dirasa tidak menarik bagi mereka.

Kita, para penulis, tak mungkin mengingkari bahwa kita ingin berdialog dengan para pembaca karya-karya kita. Mereka adalah para penerima pesan kita ketika kita hendak mengutarakan pendapat dan pandangan kita sejauh menyangkut hidup dan soal-soal lainnya. Tetapi tentu juga, puisi adalah substansi estetik yang berbeda dengan bahasa komunikasi biasa. Puisi adalah seni, dan karena ia seni, disampaikan dengan unsur keindahan.

Acapkali puisi-puisi singkat yang padat makna lebih memukau dan mempesona bagi para pembaca, meski tak menutup kemungkinan bahwa puisi naratif yang panjang sanggup mengajak para pembaca untuk terlibat mengiyakan atau bahkan menolak isu dan pandangan yang ada dalam sebuah puisi, tergantung pada kepiawaian penyair mengolah bahasa, membangun retorika dan stilistika narasi dan daya ungkap.

Sebenarnya, saya sendiri ragu, apakah prosentasi pembaca puisi di jaman ini meningkat atau malah menurun. Jaman ketika orang-orang lebih sibuk memainkan jari-jemari tangan mereka dan memfokuskan mata serta menghabiskan waktu mereka pada android: berselancar di dunia maya dan jejaring sosial semisal fesbuk, instagram, twitter dan yang sejenisnya. Namun keraguan saya itu sedikit terobati ketika ternyata masih ada anak-anak muda yang menulis puisi dan bahkan menerbitkan buku puisi. Yah Rois Rinaldi ini contohnya.

Saya mengajukan pertanyaan tersebut karena menurut saya puisi lahir bersama jamannya. Puisi lahir dan ditulis oleh penyair dari kehidupan, dalam arti puisi tidaklah lahir dari ruang hampa yang tercerabut dari kondisi manusiawi yang berjalan bersama sejarah, bersama kondisi-kondisi sosial-kultural-politis, bahkan eksistensial. Singkat kata, puisi lahir dari rahim sejarah dan kondisi kemanusiaan sebagai sebuah refleksi dan sikap seorang penyair menjalani dan memandang hidup. Karena itu tak jarang puisi juga mencerminkan ideologi dan pandangan-pandangan tertentu penyairnya.

Dalam kadar yang demikian, sudah merupakan sesuatu yang lazim bahwa puisi adalah cerminan geliat dan ruh hidup. Acapkali puisi merupakan modus mengada dan metode seorang penyair untuk mengajukan dan menawarkan pandangan dan sikap hidup itu sendiri. Puisi digali dan ditulis dari relung jiwa kehidupan dan keseharian manusiawi bersama sejarah, dari pertarungan dan perjalanan manusia sebagai ‘Sang Pengada’ dalam lautan banalitas dan kedalaman sejarah. Karena itulah puisi acapkali mengandung kearifan.

Akhirnya, saya ingin menutup orasi singkat ini dengan membacakan cuplikan puisi yang ditulis M. Rois Rinaldi yang bertajuk ‘Abah’ berikut ini:

“Setiap hari kepalaku dikunyah
iklan dan sinetron.
Para imam dunia
membentur-benturkan kepalaku pada slogan,

bendera, mars, dan warna pakaian.
Aku menutup mata, tapi suara tukang khotbah
khianat kepada kalimatnya sendiri....”

Wassalam dan terimakasih!
Sulaiman Djaya
(Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Banten)

Membaca Domba Kata Padang Makna



(Disampaikan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 10 Oktober 2017 pukul 13.30 di Auditorium Gedung B)

“Di meja tak bernomor ini
kita duduk berhadapan
kita tulis pesan, dengan amat hati-hati
seperti rahasia.....”

(Herwan FR dalam Domba Kata Padang Makna, halaman 50)

“Usai puisi tak ada di halaman belakang koran itu,
sebuah kata menyandar di halte, suatu Sabtu
ia seperti kehilangan medan, ia seperti memimpikan
ruang, seperti memimpikan taman”

(Herwan FR dalam Domba Kata Padang Makna, halaman 39)


Saya merasa takjub bila saat ini puisi masih ditulis, meski seringkali saya ragu apakah prosentasi pembaca puisi cukup banyak di era digital dan jaman android sekarang ini, ketika orang-orang lebih sibuk dan lebih senang menghabiskan waktu keseharian mereka untuk berselancar di media sosial: fesbuk, instagram, twitter dan yang sejenisnya. Tak jarang orang-orang begitu mudahnya menganggap yang hoax sebagai fakta dan kebenaran, jadi korban hasutan, ketika akal dan analisis dibunuh oleh tekhnologi internet, yang justru diciptakan manusia, bahkan tak sedikit yang kemudian menjadi mesin perang yang berubah menjadi zombi-zombi yang akalnya mati sebelum tubuh mereka sendiri menjadi jenazah atau mayat. 



Karena itulah, tak diragukan lagi, di jaman ketika mesin telah membunuh akal dan intelegensia, yaitu era android dan internet kita saat ini, para penyair mestilah menjalankan tugas profetik sebagai para pencerah, penginterupsi, penanya, dan tentu saja para penyingkap yang senantiasa memberi lentera dan pelita bagi hidupnya akal manusia melalui puisi-puisi yang mereka tuliskan. Sebab jika tidak, intelek dan bahkan jiwa manusia akan remuk ditelan tekhnologi internet yang diciptakannya sendiri, yang belakangan menjadi medan penyebaran hoax, hasutan, ujaran kebencian, propaganda politik dan perang. 


Di dunia maya dan jejaring sosial itu, bahasa pun dibunuh dan hancur, tak ada lagi tata bahasa, tak ada lagi balaghah, kata dan kalimat ‘disingkat’ agar memenuhi ruang terbatas kolom status twitter, sebagai contoh, hingga maraknya bahasa-bahasa yang menjelma menjadi laku kebencian, bully, meme, hinaan, permusuhan, dan lain sebagainya, singkat kata: bahasa pun berubah menjadi mesin dan senjata yang destruktif, dan orang-orang tak lagi mampu membaca dan mencerna narasi panjang yang mengajak mereka untuk menelaah, berpikir, dan menganalisis. Medsos dan internet, ternyata, sanggup membunuh kecerdasan manusia, terlebih bagi mereka yang tak membaca. 

Tapi jangan terburu-buru untuk mengatakan bahwa puisi-puisi Herwan FR telah menjalankan laku profetik, sebab barangkali baru berada di maqam mendekati atau hampir profetik saja. Lagipula, perkenalan pertama saya bukan dengan puisi-puisinya, tetapi dengan penyairnya: orang yang jarang mentraktir teman-temannya dan kurang suka menerima kritikan, meski acapkali kritikan itu sesuai dengan fakta dan kenyataan sejauh menyangkut dirinya. Meski demikian, sebelum saya mengomentari sejumlah puisinya, percayalah bahwa Herwan FR adalah orang baik. 

Sekarang marilah kita mulai membaca sejumlah puisinya, terutama sekali saya ingin mengemukakan terlebih dulu pembacaan atas beberapa puisi lamanya, yang contohnya adalah puisi berikut: 

“Demi pengakuan yang kelak kekal dan menyakitkan
aku setia membidikmu. Matamu menjadi kelereng
di atas lantai jiwa yang oleng oleh rindu yang dungu.
Sungsumku berhenti membeku. Aku kini lapar kembali
mencari kekasih. Tanganku menggenggam bukit,
menyentuh lahar yang ngalir di tiap kepundan gunung,
jari-jari merembah liar hutan-hutan tubuhmu.
Aku ingin menggambar lagi peta : daerah-daerah tak bertuan
Dan menjadi petualang pertama, menjelajah dengan perkasa.
Kulukis anak-anak di rahimmu dengan hidung panjang
seperti Pinokio, lalu kuhidupkan dengan bayangan” 

Puisi “Aku Setia Membidikmu” itu adalah gambaran seorang lelaki yang gagal menjadi Don Juan atau Cassanova, namun tak sadar kalau dirinya telah gagal menjadi Don Juan dan Cassanova, hingga masih saja mengharapkan cinta dari seorang perempuan yang tak lagi mungkin untuk dimenangkan hati dan tubuhnya, sebuah puisi tentang keputus-asa-an, yang anehnya malah dirayakan, barangkali sebagai upaya untuk menertawakan diri sendiri. Saya tak tahu nama perempuan yang dihasrati seorang penyair dalam puisi tersebut, dan ini tentulah harus ditanyakan kepada penyairnya. 

Sejujurnya, untuk memahami puisi-puisi yang ditulis Herwan FR, kita juga perlu mengenal ‘sisi biografis’ penyairnya, dan kebetulan saya cukup mengenal, meski perjumpaan saya dengan Herwan FR baru terjadi secara singkat, beberapa tahun saja hingga saat ini, bahwa ia yang berkawan baik sekaligus seringkali bersitegang dengan almarhum Wan Anwar, terkadang saling ‘mencuri’ bunyi dan suara puisi mereka masing-masing, dan karena itu kita tak perlu heran bila beberapa puisi Herwan FR dan Wan Anwar memiliki kemiripan bunyi dan gaya penulisan yang tak jauh berbeda.

Baik Herwan FR maupun Wan Anwar sama-sama memiliki kemampuan mengkonversi ‘penderitaan’ lahir-bathin mereka dalam soal ‘eros’, tentu dengan kadar dan kapasitas mereka masing-masing, menjadi kidung-kidung permenungan, yang pada tingkat tertentu jadi gubahan lagu-lagu sembahyang kegembiraan, dalam arti mereka sanggup merayakan kepedihan eksistensial ke dalam nada-nada yang mengalir dan enak dibaca, yang pada saat bersamaan, puisi-puisi mereka adalah juga refleksi bathin dan intelektual, yang sekali lagi saya katakan, hampir mendekati maqam profetik. 

Dalam banyak suara dan bunyi, sejumlah puisi-puisi Herwan FR, sebagaimana juga sejumlah puisi-puisi Wan Anwar adalah amarah yang disamarkan menjadi nyanyian dan lagu-lagu ziarah dan pengembaraan: 

“aku tak pernah lagi mengirimkan kata-kataku pada siapapun, seperti janjiku padamu: seratus tahun lalu. aku menyimpan seluruh erangan rasa sakit, air mata yang bertahun mengajariku berbicara dengan perasaan lurus, telah lama kusimpan dalam laci bisu. aku di sini sendiri, melata seperti lintah, menuju jalan setapak yang sulit untuk kusebut ujungnya. jangan pernah tanyakan kemana aku akan menuju, sebab tak satu puisiku pun bisa kau baca. makna dalam darah dan hati lintah yang melata, yang kerap hanya menemukan pembunuhan. mudah kau duga, aku akan sekadar menemukan taburan garam, pada tubuhku, menambah kesempurnaan pedih. sekali lagi akan kusimpan dalam kepundan sunyi seluruh kata-kata, paling secuma ini yang bisa kau eja. sehanya samar bayang rambat-latanya ini. ya, kata-kata serambat ini. sedang berjuta bahasa lain, sudah kusimpan pula di luar galaksi, antara rasi-rasi, bergesekan dengan para meteor, di luar dugaanmu”.


Sesekali juga, secara naratif dan stilistik, beberapa puisi Herwan FR memiliki kemiripan bunyi dan tuturan dengan sejumlah puisi-puisinya Acep Zamzam Noor. Tentu puisi juga tak semata lahir dari rahim bahasa atau permainan serta kepengranjinan menyusun dan menenun kata-kata, melainkan lebih dari itu, puisi adalah ‘buah perih’ dan ‘sembahyang kegembiraan’ seorang penyair dari dan dalam hidup, keseharian dan pengelaman eksistensial dan intelektual penyairnya yang senantiasa berada dalam ziarah lahir-bathin. Puisi lahir dari kehidupan yang mengarungi jaman dan sejarah, dalam lautan banalitas dan kedalamannya. Puisi juga menyangkut sikap dan komitmen seorang penyair kepada kehidupan:

“aku giring domba kata
ke padang-padang makna terbuka
serupa tegal maksud, lahan tuju...”

(Herwan FR dalam Domba Kata Padang Makna, halaman 39)

Rupa-rupanya, buku puisi Domba Kata Padang Makna yang menghimpun sejumlah puisi penyair Herwan FR yang diterbitkan Berjaya Buku (2017) itu memang sejumlah puisi yang menyengajakan diri berdialog, bertukar-pikir secara akrab dengan puisi-puisi yang ditulis sejumlah penyair sekaligus merupakan perbincangan dengan para penyair: Wan Anwar, Acep Zamzam Noor, Sitor Situmorang, Goenawan Mohamad, Soni Farid Maulana, Chairil Anwar, dan yang lainnya, dengan tendensi dan maksud untuk ‘mengkoreksi’ atau ‘memunculkan pandangan alternatif’ menyangkut sejumlah isu dalam satu lokus bersama: apa itu puisi dan siapakah penyair?

SULAIMAN DJAYA 

BSB 12 DKB, Musik dan Teologi


Berbicara tentang musik adalah juga berbicara tentang upaya manusia menerjemahkan keberadaan mereka. Secara historis dan kultural, musik dan agama ada bersama dengan kehadiran manusia itu sendiri dalam kehidupan. Manusia, dalam kehidupan dan keseharian mereka, senantiasa melakukan tafsir artistik dan estetik dalam rangka mengafirmasi dan melegitimasi kebutuhan badani dan rohani mereka.

Musik, yang bila kita meminjam telisik dan tafsir filologisnya Friedrich Wilhelm Nietzsche dalam bukunya yang bertajuk The Birth of Tragedy itu, adalah saudara kembarnya puisi, diciptakan dan dikonstruksi atas dasar nada yang melahirkan keindahan dan penghiburan bagi para penyimak dan penikmatnya, selain sebagai tafsir ‘Sang Ada’ dan modus mengada manusia itu sendiri dalam kehidupan dan keseharian.

Sebagaimana seni itu sendiri secara umum, yang bila kita menggunakan pandangan filosofisnya Aristoteles yang berfungsi sebagai katarsis sekaligus sebagai kerja intelektual, seperti halnya teater, musik memiliki fungsi profanik dan teofanik, sekular dan sakral. Ia bisa diciptakan hanya untuk memenuhi kebutuhan penghiburan semata, namun juga bisa menjadi tafsir dan media yang sifatnya religius, sebagaimana musik-musik meditatif religius kaum sufi.

Dulu kala, musik tak terpisahkan dengan praktik-praktik dan ritus-ritus keagamaan, dipraktikkan dan dipentaskan dalam upacara-upacara dan ritual-ritual keagamaan. Secara historis dan kultural, Islam sendiri memberikan ‘makna’ dan ‘tafsir’ baru bagi musik, diabdikan untuk tujuan-tujuan sakral dan maksud-maksud yang sifatnya religius, seperti tembang-tembang yang menyenandungkan sholawat dan pujian, dengan iringan instrumen-instrumen musik tertentu. Hingga, seperti kita kenal sekarang, Islam datang dan Bangsa Persia membuatnya sebagai gerakan intelektual dan artistik, dan melahirkan Qiroah Shab’ah.

Memang, haruslah diakui pula, dalam dunia dan sejarah Islam, sikap dan pandangan terhadap musik memiliki ragam varian, dari mulai yang ekstrem hingga yang moderat. Kelompok ekstrem mengharamkan musik, sedangkan yang moderat terbagi antara membolehkan dan menganggapnya sebagai makruh. Meski senantiasa berada dalam polemik, perkembangan musik dalam sejarah Islam tidak pernah mati, malah memberikan warisan dan pengaruh bagi musik dunia, semisal kepada Eropa ketika Islam hadir di Peninsula Iberica.

Dunia Islam pun dikenal sebagai penemu sejumlah instrumen musik, semisal Gitar dan sejumlah instrumen musik petik (senar) lainnya. Tentu juga instrumen-instrumen perkusi. Bahkan Dunia Islam pula yang mempraktikkan musik sebagai terapi dan pengobatan, seperti yang dilakukan oleh Al-Kindi, Ibn Sina, dan Al-Farabi. Nama filsuf yang terakhir dikenal sebagai praktisi dan teoritikus musik dunia, yang risalah-risalahnya tentang musik menginspirasi para sarjana dan para komposer dunia, terutama sekali di Dunia Eropa.

Di Indonesia sendiri, yang ketika hadirnya Islam menjadi semacam terminal perlintasan ragam budaya dan adaptasinya dengan khazanah lokal Indonesia, telah melahirkan jenis dan gagrak tersendiri, semacam hibrida, termasuk musik-musik Religius Islam di Banten. Inilah dasar dipilihnya Musik Religius Islam di Banten untuk Tema dan Materi Bengkel Seni Budaya #12 Dewan Kesenian Banten 30 September 2017 pukul 15.30-Selesai, yang diisi dengan kajian dan pentas Musik Religius Islam di Banten.

SULAIMAN DJAYA
Ketua Program Dewan Kesenian Banten 
Fotografer: Ade Wahyu.




























Kudeta Bayangan M16 Ingris dan CIA Amerika di Indonesia


Pada musim gugur 1965, Norman Reddaway (George Frank Norman Reddaway) seorang yang terpelajar dengan karir yang bagus di Kantor Luar Negeri Inggris, mendapat brifing untuk suatu misi khusus. Duta Besar Inggris untuk Indonesia saat itu, Sir Andrew Gilchrist, baru saja mengunjungi London untuk berdiskusi dengan Kepala Dinas Luar Negeri, Joe Garner. Diskusi itu mengenai Operasi Rahasia (Covert Operations) untuk melemahkan Sukarno, Presiden Indonesia yang merepotkan dan berpikiran mandiri, ternyata tidak berjalan dengan baik. Lalu, Garner dibujuk untuk mengirim Reddaway, pakar propaganda FO, untuk Indonesia. Tugasnya untuk mengambil hati anti-Sukarno dalam "Operasi Propaganda" yang dijalankan oleh Kementerian Luar Negeri Inggris dan Dinas Rahasia M16. Garner memberikan Reddaway £100.000 poundsterling tunai untuk melakukan apapun yang bisa dilakukan untuk menyingkirkan Sukarno.

Kemudian Reddaway bergabung dengan sebuah tim yang terdiri dari kelompok campuran dari Kementerian Luar Negeri Inggris, M16, Departemen Luar Negeri dan CIA di Timur Jauh (Asia Timur), semua berjuang untuk menggulingkan Sukarno dalam difus dan cara-cara licik. Selama enam bulan ke depan, ia dan rekan-rekannya akan menjalankan misi menjauhkan dan meretakkan teman dan kerabat yang bersekutu di rezim Sukarno, merusak reputasinya dan membantu musuh-musuhnya di militer.

Pada bulan Maret 1966 basis kekuatan Sukarno mulai compang-camping dan ia dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepresidenan kepada Jenderal Suharto, sebagai panglima militer, yang sudah menjalankan kampanye dengan pembunuhan massal terhadap dugaan komunisme. Menurut Reddaway, penggulingan Sukarno adalah salah satu kudeta dan misi paling sukses yang dilakukan oleh Kantor Luar Negeri Inggris yang telah mereka rahasiakan sampai sekarang. Intervensi Inggris di Indonesia, disamping operasi CIA yang "gratis", menunjukkan seberapa jauh Kementerian Luar Negeri siap untuk melakukan operasi rahasianya dalam mencampuri urusan negara lain selama Perang Dingin.

Indonesia sangat penting baik secara ekonomi dan strategis. Pada tahun 1952, AS mencatat bahwa jika Indonesia jauh dari pengaruh Barat, maka negara tetangganya seperti Malaya mungkin akan mengikuti, dan mengakibatkan hilangnya sumber utama dunia karet alam, timah dan produsen minyak serta komoditas lainnya yang sangat strategis dan penting. Ketika terjadi penjajahan oleh Jepang saat Perang Dunia Kedua di Indonesia, yang bagi orang Indonesia bahwa ini adalah sebuah periode lain yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial, telah direvitalisasi gerakan nasionalis yang setelah perang, menyatakan kemerdekaan dan berkuasanya Republik Indonesia.

Ahmad Sukarno menjadi presiden pertama Indonesia. Kekhawatiran Barat tentang rezim Sukarno tumbuh karena kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada puncaknya beranggotakan lebih dari 10 juta, ini adalah partai komunis terbesar di luar negara komunis (non-komunis) di dunia. Kekhawatiran dunia barat tidak dapat disembuhkan oleh kebijakan internal dan eksternal Sukarno, termasuk nasionalisasi aset Dunia Barat dan peran pemerintah untuk PKI. Pada era awal Sukarno di tahun 60-an, masa ini telah menjadi duri besar bagi Inggris dan Amerika. Mereka percaya ada bahaya nyata bahwa Indonesia akan jatuh ke komunis. Untuk menyeimbangkan kekuatan ketentaraan yang tumbuh, Sukarno menyelaraskan dirinya lebih dekat dengan PKI.

Indikasi pertama dari ketertarikan Inggris dalam menghilangkan Sukarno muncul dalam sebuah memorandum CIA dari tahun 1962. Perdana Menteri Macmillan dan Presiden Kennedy setuju untuk melikuidasi Presiden Sukarno, tergantung pada situasi dan kesempatan yang tersedia. Permusuhan terhadap Sukarno diintensifkan oleh keberatan Indonesia atas keberadaan "Federasi Malaysia". Sukarno mengeluhkan proyek ini sebagai plot neo-kolonial yang menunjukkan bahwa Federasi adalah proyek Barat untuk mengekspansi tanah raja-raja Malon dengan cara mencomot wilayah pulau Kalimantan dan penerusan pengaruh Inggris di wilayah tersebut.

Tercatat dalam sejarah sebelum terjadi penjajahan di wilayah Asia Tenggara oleh Inggris, Belanda, Portugis dan negara imperialis lainnya, Nusantara jauh lebih besar. Kini terkotak-kotak dan terpisah sesuai dengan 'bagi-bagi kue' diantara negara imperialis tersebut.  Niat Sukarno ingin menyatukan kembali raja-raja yang dulunya bersatu padu kembali berjaya dalam Republik Indonesia Raya (Greater Indonesia) atau Melayu Raya. Pada tahun 1963 keberatan Sukarno mengkristal dalam kebijakan tentang "Konfrontasi Indonesia-Malon", yaitu sebuah kebijaksanaan untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan pihak Malon yang dianggap pro-imperialis, dan segera ditambah dengan intervensi militer tingkat rendah oleh Indonesia.

Sebuah perang perbatasan yang berlarut-larut dimulai sepanjang 700 mil di perbatasan antara Indonesia dan Malon di pulau Kalimantan dan pihak Malon sempat kewalahan, lalu pihak mereka akhirnya dibantu oleh Inggris dan juga dibantu Australia. Sukarno tak rela, saudara-saudara mereka (suku Dayak dan suku lainnya di Kalimantan) yang tinggal di satu pulau, ternyata dibagi menjadi dua bagian, mereka sejatinya adalah satu, satu saudara, dan tak boleh dipisahkan. Dan sebenarnya memang begitulah yang terbaik bagi mereka untuk menjadi satu, namun karena ada campur tangan Inggris di sana pada saat menjajah, maka pulau yang terdiri dari para raja-raja Kalimantan tersebut justru dibagi menjadi dua bagian.

Kalimantan dibagi-bagi, dan pembagian daerah jajahan ini dilakukan oleh negara imperialis setelah menguasai Kalimantan. Dua bagian itu adalah utara dan selatan, yang bagian utara menjadi Kalimantan Utara (bekas jajahan Inggris dan menjadi negara caplokan boneka Malon, karena di dukung Inggris) dan wilayah Kalimantan Selatan (bekas jajahan Belanda dan tetap menjadi Indonesia). Jadi secara otomatis mental para raja-raja Malon adalah memang bukan pejuang dan merupakan kaki-tangan Imperialis Inggris sejak dulu hingga kini. Menurut sumber-sumber Kementerian Luar Negeri Inggris, keputusan untuk menyingkirkan Sukarno telah diambil oleh pemerintah Konservatif Macmillan dan dilakukan selama pemerintahan partai buruh oleh Wilson pada tahun 1964.

Kementerian Luar Negeri Inggris telah bekerja sama dengan rekan-rekan Amerika mereka pada sebuah rencana untuk menggulingkan Sukarno yang masih bergolak.

Maka dibuatlah sebuah operasi rahasia dan strategi perang psikologis yang menghasut, berbasis di Phoenix Park, Singapura, markas Inggris di kawasan itu. Tim intelijen M16 Inggris melakukan hubungan dekat secara terus-menerus dengan elemen kunci dalam ketentaraan Indonesia melalui Kedutaan Besar Inggris. Salah satunya adalah Ali Murtopo, kemudian kepala intelijen Jenderal Suharto, dan petugas M16 juga secara terus-menerus melakukan perjalanan bolak-balik antara Singapura dan Jakarta.

Informasi Departemen Riset Kantor Luar Negeri Inggris (The Foreign Office’s Information Research Department atau IRD) juga bekerja dari Phoenix Park, Singapura guna memperkuat kerja intelijen M16 dan ahli perang psikologis militer. IRD didirikan oleh pemerintah Partai Buruh di Inggris pada tahun 1948 untuk melakukan perang propaganda anti-komunis melawan Soviet. Tetapi dengan cepat justru IRD menjadi andalan dalam berbagai operasi gerakan anti-kemerdekaan dalam usaha penurunan kolonial dan imperialisme oleh Kerajaan Inggris (British Empire) oleh negara-negara yang sedang dijajah, termasuk di utara pulau Kalimantan yang masih dipertahankan oleh Inggris melalui Malaysia, hingga kini.

Pada tahun 60-an, IRD memiliki staf di London sekitar 400 orang dan staf informasi yang berada di seluruh dunia guna mempengaruhi liputan media yang menguntungkan pihak Inggris. Menurut Roland Challis, koresponden BBC pada saat di Singapura, wartawan terbuka bagi manipulasi IRD, karena ironisnya kebijakan Sukarno sendiri. Dengan cara yang aneh dan tetap menjaga keberadaan media dari luar negeri di Indonesia, Sukarno justru membuat mereka manjadi korban dari media resmi luar negeri tersebut karena hampir satu-satunya informasi penyadapan dan mata-mata yang bisa didapatkan adalah dari Duta Besar Inggris di Jakarta. 

Kesempatan untuk mengisolasi Sukarno dan PKI datang pada bulan Oktober 1965 ketika dugaan percobaan kudeta oleh PKI adalah 'dalih dari tentara' untuk menggulingkan Sukarno dan membasmi PKI. Siapa sebenarnya yang menghasut kudeta, dan untuk tujuan apa, tetap menjadi spekulasi. Namun, dalam beberapa hari kudeta itu telah dilakukan lalu terjadi kehancuran, dan pihak tentara dengan tegas telah mengendalikan situasi. Kemudian Suharto menuduh Partai Komunis Indonesia atau PKI berada di balik kudeta, dan mulai menekan mereka.

Setelah kudeta yang dirancang oleh Inggris dengan memanfaatkan situasi telah berhasil, pada tanggal 5 Oktober 1966, Alec Adams, penasihat politik untuk Commander-in-Chief, Wilayah Timur Jauh, menyarankan Departemen Luar Negeri: "Kita harus tak ragu-ragu untuk melakukan apa yang kami bisa lakukan secara diam-diam untuk menghitamkan PKI di mata tentara dan orang-orang Indonesia." Kementerian Luar Negeri Inggris setuju dan menyarankan tema propaganda yang cocok seperti kekejaman PKI dan intervensi Cina.

Salah satu tujuan utama yang dikejar oleh IRD adalah membuat opini tentang ancaman yang ditimbulkan oleh PKI dan komunis Cina. Laporan surat kabar Inggris terus menekankan bahaya yang akan dilakukan PKI.  Tapi keterlibatan Sukarno dengan PKI pada bulan-bulan setelah kudeta berdarah justru yang akhirnya menjadi kartu truf untuk Inggris.

Menurut Reddaway, "Pemimpin komunis, Aidit, melarikan diri alias buron dan Sukarno menjadi politikus, pergi ke depan istana dan mengatakan bahwa pemimpin komunis Aidit harus diburu dan diadili. Dari pintu samping istana, Sukarno selalu berurusan dengan Aidit setiap hari oleh seorang kurir."  Informasi ini diungkapkan oleh intelijen sinyal GCHQ Inggris (the signal intelligence of Britain’s, GCHO). Orang-orang Indonesia tidak memiliki teknologi tentang rahasia mata-mata stasiun radio dengan bermuka dua dipantau dan didengar oleh GCHQ, sedangkan Inggris memiliki basis penyadapan utama di Hong Kong untuk menyiarkan peristiwa di Indonesia.

Mendiskreditkan Sukarno adalah penting bagi Inggris. Sukarno tetap menjadi pemimpin yang dihormati dan populer selama Suharto yang tidak bisa bergerak secara terbuka, sampai kondisi benar-bener memungkinkan untuk melakukan kudeta. Rentetan konstan dengan cakupan internasional yang buruk dan posisi politik jungkir balik Sukarno, secara fatal telah merusak dirinya. 

Pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno dipaksa untuk menandatangani surat atas pengambil-alih kekuasaan kepada Jenderal Suharto yang dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) tahun 1966. Sekarang, hal ini dianggap terkait erat dengan usaha kudeta dan masalah PKI, Sukarno telah didiskreditkan ke titik dimana tentara merasa mampu bertindak. PKI telah dieliminasi sebagai kekuatan yang signifikan dan kediktatoran militer pro-Barat yang mapan. Hal itu dilakukan tidak lama sebelum Suharto dengan diam-diam mengakhiri kebijakan yang akhirnya tidak aktif dalam Konfrontasi Indonesia dengan Malon yang mengakibatkan peningkatan sangat cepat dalam hubungan Anglo-Indonesia yang terus menghangat hingga hari ini.  

Disadur dari Britain’s Secret Propaganda War 1948-77 by Paul Lashmar and James Oliver.