BSB #10 DKB


Galeri Darurat Al-Bantani Dewan Kesenian Banten merupakan sebuah ruang pameran yang terjadi karena kondisi yang memaksa, yakni ketiadaan ruang dan fasilitas kebudayaan di Banten. Sedangkan ‘Bone Majnun’ adalah pameran tunggal karya-karya Ali Bone, perupa yang memainkan satir semantik dan semiotik dalam gagrak naif seni visual untuk mewedarkan kritik sosial-politik keseharian dan kehidupan kultural-politis Banten.

ALI BONE adalah perupa yang tak perlu direpotkan pada pilihan konvensional media, sebab baginya apa saja dapat dijadikan media, dari mulai tong hingga bekas kaleng kerupuk, dari triplek hingga kardus. Seakan ia ingin menimpali sekaligus menjawab pandangan estetiknya Walter Benjamin di era mesin dan abad komoditas.

Karya-karya yang diwedarkan (diangkat dan diwacanakan) Ali Bone acapkali lucu, konyol, dan jenaka, mengingatkan kita pada seniman-seniman majnun yang didadarkan dan diulas Michel Foucault dalam Madness and Civilization. Ia adalah manifestasi kemelimpahan imajinasi, jika kita meminjam istilahnya Michel Foucault. Ali Bone adalah wujud kemajnunan di ranah estetika visual. BONE SI MAJNUN.

Di tengah ketiadaan ruang dan fasilitas kebudayaan di Banten inilah Dewan Kesenian Banten, tanpa harus meratap dan berkeluh-kesah masih tetap bangga menghadirkan Pameran Tunggal ‘Bone Majnun’ pada Sabtu 29 Juli 2017 pukul 14.00 WIB sekaligus Peluncuran Galeri Alternatif Al-Bantani di Sekretariat Dewan Kesenian Banten.

Sulaiman Djaya (Ketua Bidang Perencanaan Program, Ketua Komite Sastra, dan Pj. Bengkel Seni Budaya Dewan Kesenian Banten) 




BENGKEL SENI BUDAYA #10 DEWAN KESENIAN BANTEN
29 Juli 2017 pukul 15.30 WIB-Selesai di Taman Budaya Banten

“PERINGATAN HARI PUISI INDONESIA: PUISI DAN SIKAP HIDUP”

Sarasehan, Pembacaan, dan Musikalisasi Bersama: Amien Kamil, Toto ST Radik, Sulaiman Djaya, Novia Fitria, Ibnu PS Megananda, Arif Sodakoh, Komunitas Seni Gesbica UIN Banten, dll.

1.      Pukul 15.30 WIB :
Pembacaan teks tema oleh Novia Fitria
Orasi singkat Ketua DKB H. Chavcay Syaifullah, S. S,
Pengantar Acara oleh PJ Program
Deklamasi Puisi oleh Siswa (Tito) dan Siswi (Selvi).

2.      Pukul 16.00 WIB: Sarasehan dan Diskusi Manuskrip 1000 Kilometer dari Hatiku karya Toto ST Radik oleh Sulaiman Djaya (Ketua Komite Sastra, Ketua Bidang Perencanaan Program, dan Penanggungjawab Program Bengkel Seni Budaya Dewan Kesenian Banten)

3.      Pukul 17.00 WIB: Pentas Musikalisasi Puisi oleh Gesbica Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten

4.      Pukul 17.20 WIB: Deklamasi Puisi oleh Toto ST Radik,  Ibnu PS Megananda, Arif Sodakoh, Rohaendi dll.

5.      Pukul 18.15 WIB: Poetry Performance oleh Amien Kamil dkk.

PUISI DAN SIKAP HIDUP oleh Novia Fitria (Host BSB DKB)

Puisi lahir dan ditulis oleh penyair dari kehidupan, dalam arti puisi tidaklah lahir dari ruang hampa yang tercerabut dari kondisi manusiawi yang berjalan bersama sejarah, bersama kondisi-kondisi sosial-kultural-politis, bahkan eksistensial. Puisi lahir dari rahim sejarah dan kondisi kemanusiaan sebagai sebuah refleksi dan sikap seorang penyair menjalani dan memandang hidup. Inilah dasar tema Bengkel Seni Budaya #10 Dewan Kesenian Banten 29 Juli 2017 dalam rangka Peringatan Hari Puisi Indonesia.

Adalah sesuatu yang lazim bahwa puisi adalah cerminan geliat dan ruh hidup. Acapkali puisi merupakan modus mengada dan metode seorang penyair untuk mengajukan dan menawarkan pandangan dan sikap hidup itu sendiri. Puisi digali dan ditulis dari relung jiwa kehidupan dan keseharian manusiawi bersama sejarah, dari pertarungan dan perjalanan manusia sebagai Sang Pengada dalam lautan banalitas dan kedalaman sejarah. Karena itulah puisi acapkali mengandung kearifan. 


Belajar Menggambar Kembali


Ada sepotong malam yang masih tingal di sisa tidurmu, neng. Kecupan langit, udara berombak yang gaib, kegundahanku menerjemahkan rindu jadi sajak, neng. Mengapa dua kelopak matamu seperti sepi batinku yang meleleh.

Ada dingin dinding selepas gerimis, neng. Kata-kataku bertengkar di selembar kertas. Tahu bahwa keindahanmu terlampau bersahaja untuk dituliskan.

Entah karena apa aku jatuh cinta padamu, neng. Lelapmu kugambar jadi sketsa, hatiku mengembara bersama cuaca. Mengapa engkau begitu sederhana, neng. Hingga tak kudapatkan perumpamaan di kamus-kamus bahasa.