Dongeng Insomnia IV (Ratu Wasthi) oleh Sulaiman Djaya (2015-2016)



Kisah pun berlanjut, sebelum memang akhirnya harus dihentikan, seperti ketika kau membaca lembar-lembar buku fiksi dan dongeng kesukaanmu. Dan meskipun kisah dan cerita ini hanya dongeng rekaan semata alias hanya hasil angan-angan pikiran dan imajinasi benak jiwa, tidak menutup kemungkinan bagian-bagian tertentu dari riwayat yang diceritakannya memiliki kemiripan dengan kehidupan nyata, atau kau pernah membacanya dari dongeng yang lain dengan versi yang berbeda, tapi punya kepedihan dan kegembiraan yang tak jauh berbeda. 

Pagi baru saja terbangun. Saat itu Ratu Washti tampak asik memandang dan mengamati cahaya matahari yang pelan-pelan mulai menyeruak dari balik lembah, pegunungan, dan dedaunan, sembari menyimak nyanyian dan cericit burung-burung yang telah membantunya memecah keheningan yang merasuk di dalam hatinya.

Tidak seperti sebelum-sebelumnya, di mana hari-harinya ia jalani bersama Hagar dan Sophia demi melatih mereka, saat ini ia ingin menyempatkan diri untuk merenungi dirinya sendiri, sesekali ia memikirkan Ilias yang ia kenal saat Ilias dan Jenderal Roshtam mengunjungi rumahnya, ketika Ilias ingin bertemu dengan dua adik kesayangannya, Hagar dan Sophia.

Saat pertemuan itulah, Ratu Washti sadar Ilias memiliki pesona yang sangat kuat, meski Ilias terlahir dan besar sebagai setengah peri dan setengah manusia. Meski tubuh Ilias lebih pendek dibanding tubuh dirinya, Ratu Washti tak menganggap hal itu sebagai sebuah persoalan yang mengurangi pesona yang dimiliki Ilias yang kini telah menjadi seorang Jenderal yang tangguh dan cerdas berkat didikan Jenderal Roshtam.

Entah kenapa, di pagi yang hening itu, ingatan tentang Ilias jadi hadir begitu saja di benak Ratu Washti. Meski demikian, ia bertekad bahwa ia harus berusaha sekuat mungkin agar hal itu tidak diketahui oleh Hagar dan Sophia.

Demi menghilangkan lamunannya itu, ia pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya menyusuri setapak yang bermula dari halaman rumahnya yang indah dan penuh bunga-bunga itu. Ia mencoba menyimak dan merenungi nyanyian dan cericit burung-burung yang terdengar saling bersahutan dan bergantian dari arah pohon-pohon yang tumbuh di jalan setapak dan di sekitar rumahnya tersebut.

Namun entah kenapa, saat itu ia memutuskan untuk menggunakan kesaktiannya dan melesat begitu saja, dan tahu-tahu ia sudah berada di sebuah telaga yang berada di ceruk lereng yang memisahkan dua gunung.

Sekarang kita tinggalkan Ratu Washti dan apa yang tengah merundung benak, hati, perasaannya yang tiba-tiab sunyi, dan apa yang kemudian ia lakukan itu, dan menuju ke tempat Jenderal Roshtam yang saat itu tengah berbicara, tepatnya memberi instruksi, kepada sepuluh prajurit tangguh yang telah dipilihnya untuk dikirim ke negeri Suryan dan membantu Ilias di negeri itu.

Mereka adalah para prajurit berkuda yang mengendarai kuda-kuda ajaib, yang juga dipilih langsung oleh Jenderal Roshtam, dan setelah mereka menyimak nasehat dan arahan Jenderal Roshtam itu, mereka pun melesat bersamaan dengan mengendarai kuda mereka masing-masing yang memiliki ketangguhan dan kecepatan yang sama, memiliki keajaiban yang sama.

Sesampainya mereka di Gerbang Farsana di Negeri Farisa yang dilindungi benteng raksasa itu, para prajurit penjaga gerbang tersebut segera membuka pintu yang harus didorong oleh dua puluh orang tersebut, persis ketika para prajurit penjaga gerbang tersebut melihat kuda-kuda ajaib yang dikendarai para prajurit pilihan Jenderal Roshtam itu melesat cepat ke arah mereka. Mereka pun memberi hormat ketika sepuluh prajurit berkuda pilihan itu melintasi mereka, sementara para prajurit pilihan itu tampak melesat begitu saja tanpa harus disibukkan dengan membalas penghormatan para prajurit penjaga Gerbang Farsana itu.

Setelah keluar dari kawasan ibukota negeri Farsana, para prajurit berkuda pilihan itu memilih jalur jalan yang akan melewati Gunung Damawand yang dihuni oleh segala makhluk aneh, semisal sejumlah raksasa dan makhluk-makhluk mengerikan lainnya. Keberadaan makhluk-makhluk aneh di kawasan pengunungan tersebut tak membuat mereka khawatir, sebab Jenderal Roshtam telah memberikan masing-masing satu jubah khusus kepada mereka yang akan membuat mereka tidak terlihat oleh makhluk-makhluk mengerikan di gunung tersebut jika sewaktu-waktu mereka menyerang.

Jalur Gunung Damawand dipilih oleh prajurit-prajurit berkuda pilihan tersebut tak lain karena jalur yang melintasi gunung itu merupakan jalur yang paling cepat yang dapat ditempuh oleh mereka menuju Negeri Suryan, sebelum mereka juga harus menempuh sejumlah tempat dan kawasan di Negeri Kira yang beberapa kawasan hutan dan lembah-lembah serta sejumlah sungainya masih dihuni para raksasa yang acapkali menjadikan manusia sebagai makanan mereka. Para raksasa itu mirip beruang dan monyet pada saat bersamaan dengan ukuran tubuh yang lima puluh kali lebih besar ukuran tubuh manusia.

Anehnya, para raksasa itu seringkali memanggang jasad-jasad manusia yang mereka bunuh dengan menggunakan batang-batang pohon di sekitar kawasan hutan. Sesekali mereka juga harus membunuh manusia dengan mendatangi langsung beberapa perkampungan, sehingga sejumlah perkampungan di Negeri Kira memiliki benteng-benteng raksasa yang kokoh yang mengelilingi perkampungan mereka demi melindungi diri mereka dari kedatangan para raksasa tersebut yang setahun sekali suka menculik para remaja dan pemuda serta para pemudi.

Setiap yang terjadi di Negeri Kira itu pun telah diketahui para prajurit berkuda pilihan yang mengendarai kuda-kuda ajaib tersebut dari mulut dan cerita Jenderal Roshtam langsung, tak lain karena Jenderal Roshtam sendiri pernah membantu orang-orang kampung Tigar di negeri Rika itu untuk berperang dengan salah-satu raksasa, dan berhasil mengalahkan salah-satu raksasa tersebut, meski sejumlah pemuda harus terbunuh dalam perjuangan yang heroik, mengerikan, dan mendebarkan hati itu. 


Sementara itu, di Negeri Suryan, terutama di Kota Damas, bahaya mulai mendekat…..


Di kota Damas itu, sementara pasukan Siis tengah dalam perjalanan mereka menuju Negeri Suryan, Ilias dan Jenderal Reham mendapatkan informasi yang sangat berharga dari salah-seorang intelijen Negeri Suryan bahwa pasukan Siis pimpinan Rakab itu juga disokong oleh Dagoner dari Negeri Turik.

Berdasarkan laporan intelijen yang memberikan informasi kepada Ilias dan Jenderal Reham itu, Dagoner dari Negeri Turik mendukung pasukan Siis karena ‘disuap’ oleh Negeri Amarik dengan bayaran yang cukup besar dan menggiurkan, juga mendapatkan kompensasi dari Negeri Najdan dan Negeri Asrail, sehingga markas pelatihan pasukan Siis cadangan telah disiapkan di Negeri Turik. 

Selain itu, Dagoner juga memiliki kepentingan untuk memerangi Bangsa Rudik ketika ia mendukung pasukan Siis pimpinan Rakab yang bengis dan keji itu. Sebab, Bangsa Rudik memang dikenal ‘bermusuhan’ secara politik dengan Bangsa Turik untuk waktu yang terbilang lama hingga saat ini.

Ketika mengetahui hal tersebut, Ilias pun mengirimkan utusan khusus untuk menyampaikan informasi penting itu ke Negeri Farisa, ke Jenderal Roshtam agar dikirim pasukan khusus tambahan sebagai tindakan preventif alias jaga-jaga demi kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa terduga, setelah Ilias mendapatkan persetujuan dari semua yang hadir dalam rapat rahasia di kota Damas di Negeri Suryan itu.

Rapat rahasia dan terbatas di kota Damas itu pun berhasil memutuskan untuk mencegat dan memberi kejutan demi menyambut kedatangan pasukan Siis pimpinan Rakab, yang setiap pasukannya langsung dipimpin Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri. Sementara divisi-divisi yang lain, yang bukan merupakan dua pasukan utama yang mereka bentuk berdasarkan strategi yang mereka godok dalam rapat rahasia itu, dipimpin masing-masing oleh empat orang kepercayaan Jenderal Reham dan dua orang kepercayaan Jenderal Ilias.

Tanpa sepengetahuan Ilias, informasi yang ia kirim melalui seorang utusan ke Negeri Farisa itu disampaikan juga kepada dua adiknya, Hagar dan Sophia, ketika informasi itu telah sampai kepada Jenderal Roshtam. Tentu saja, setelah mengetahui informasi dari Jenderal Roshtam tersebut, mereka memutuskan untuk memberitahu Misyaila dengan kembali mengirim Burung Hudan kesayangan mereka agar menyampaikan pesan dari mereka.

Di kota Damas di Negeri Suryan itu, Jenderal Ilias dan Jenderal Reham menyepakati bahwa mereka terlebih dahulu mengirim empat battalion pasukan untuk mencegat secara tak terduga alias memberi kejutan yang akan menyakitkan pasukan Siis pimpinan Rakab. 

Empat battalion itu masing-masing dikirim di perbatasan kota Alepp dan Kota Hama, satu battalion yang lebih besar di kirim ke kota Ramad, satu battalion menengah di kirim ke kota Palma, dan satu battalion lagi di kirim ke kota Daraa, sebelum pada akhirnya serangan yang jauh lebih keras dan mematikan akan dilakukan oleh Ilias dan Jenderal Reham sendiri.

Salah-satu strategi pengiriman battalion itu dengan cara diam-diam, dan mereka telah dibekali untuk membuat sekian jebakan dan perangkap untuk menyambuat kedatangan pasukan Siis pimpinan Rakab yang kini mendapat dukungan juga dari Dagoner, seorang penguasa Negeri Turik yang terkenal bermusuhan dengan Bangsa Rudik, Bangsa Asyur, dan Bangsa Armania itu. 

Sementara itu, Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri masing-masing mengirim pasukan khusus rahasia untuk membuat kekacauan di kota Nakara di Negeri Turik dan di kota Rajna di Negeri Najdan. Mereka juga telah menyiapkan diri dengan pasukan khusus masing-masing dalam rangka menggempur pasukan Siis dari udara bila pasukan Siis itu telah sampai di beberapa kota di Negeri Suryan.

Seementara itu, di tempat lain, di Negeri Farisa di kota Naheret, Hagar dan Sophia telah mengirim si Burung Hudan untuk kembali memberikan atau menyampaikan kabar kepada Misyaila tentang situasi dunia yang akan terjadi. 

Dengan patuh dan tanpa ragu, si Burung Hudan itu segera melesat cepat menuju ke sebuah negeri di mana Misyaila tinggal dan berada, ke negeri yang jalur dan arahnya kini telah ia hapal dengan sangat baik melalui perjalanan intuitif dan telepatik sebelumnya.

Di sisi lain, pasukan Siis yang kini jumlahnya lebih besar dan lebih banyak telah berhasil mendarat di Negeri Suryan tanpa perlawanan yang berarti sama-sekali, yang tentu saja hal itu di luar dugaan mereka yang sebelumnya menduga akan mendapatkan perlawanan dalam pendaratan mereka, yang memang hal itu ‘disengaja’ oleh Jenderal Ilias dan Jenderal Reham sendiri untuk melawan dan menghajar mereka di darat, karena mereka jauh lebih paham dan lebih mengenal negeri mereka sendiri ketimbang pasukan Siis, dan karena itu, melancarkan serangan di darat jauh lebih baik bagi mereka dan pasukan-pasukan mereka ketimbang melakukannya di laut, di mana peperangan di laut akan membutuhkan banyak kendaraan amfibi dan atau kapal-kapal laut, sementara Negeri Suryan sendiri dapat dibilang tidak memiliki peralatan lengkap yang dibutuhkan untuk melancarkan serangan di laut –terlebih para anggota senat Negeri Rumantium yang diminta bantuannya oleh Raja Rashab belum meberikan dukungan kepada Kaisar Nitup Rimaldiv.

Dengan semangat yang gegap-gempita, menggebu, dan persenjataan lengkap, pasukan Siis itu turun dari kapal raksasa yang mengangkut mereka. Barisan pasukan Siis pimpinan Rakab itu tampak besar dan begitu banyak dengan pakaian khas mereka dan rambut mereka yang seperti mirip rambut gimbal, sebuah pasukan yang tak ragu lagi, akan dapat menguasai Negeri Suryan dengan mudah dengan jumlah dan kekuatan mereka serta lengkapnya persenjataan mereka, bila tak ada perlawanan yang gigih dan sebanding dari pihak lawan-lawan mereka. 

Tidak ada komentar: