Mengkaji Imamah




“Laa quwwata illa bil jama’ah, wa laa jama’ah illa bil imamah” (Tak ada kekuatan dan kekokohan kecuali dalam jama’ah, dan tak ada jama’ah tanpa imamah)

“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap ummat dengan imamnya,  dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (al Qur’an Surah al Israa: 71). “Dan Kami jadikan mereka para imam yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)” (al Qur’an Surah  al Qashash: 41—42). “Dan Kami JADIKAN di antara mereka itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (al Qur’an Surah as Sajdah: 24).

Dalam Islam dan risalah kenabian Muhammad Saw, imamah merupakan tasyri’, bukan berdasarkan pemilihan yang dilakukan manusia. Dalam hal ini, imamah merupakan perpanjangan dari risalah dan kenabian. Karena itu, imamah dan kenabian tak dapat dipisahkan dalam persoalan keagamaan. Di sini seorang imam, selain memiliki kewajiban untuk mengatasi persoalan sosial-kemasyarakatan, juga sebagai pemelihara ke-asli-an dan kehanifan agama dan risalah, yang tentu saja sebagai penjelas masalah-masalah keagamaan dan risalah. Dalam artian ini, imamah mencakup politik dan keagamaan.

Imamah dalam al Qur’an

Imamah dalam al Qur’an terdapat dalam Surah al Baqarah Ayat 124:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Surah al Baqarah Ayat 30:

قال الله تعالى :وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلُُ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُون

“Ingatlah ketika Rabb-mu berfirman kepada para Malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Rabb berfirman:’Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’ “

Surah al Maidah Ayat 12:

“Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.”

Secara umum, dalam al Quran, kata imam (bentuk tunggal) dipergunakan sebanyak 7 kali, dan kata a‘immah (bentuk plural) 5 kali dengan arti dan maksud yang bervariasi sesuai dengan penggunaannya. Bisa bermakna jalan umum (al Qur’an Suarah Yasin: 12), pedoman (al Qur’an Surah Hud: 7), ikut (al Qur’an Surah  al Furqan: 74), dan petunjuk (al Qur’an Surah al Ahqaf: 12).

Begitu pula dalam makna pemimpin, kata ini merujuk pada banyak konteks, seperti pemimpin yang akan dipanggil Tuhan bersama umatnya untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka (al Qur’an Surah al Isra: 71), pemimpin orang-orang kafir (al Qur’an Surah at Taubah: 12), pemimpin spiritual atau para rasul yang dibekali wahyu untuk mengajak manusia mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, yaitu Nabi Ibrahim, Ishaq dan Ya‘qub (al Qur’an Surah al Anbiya: 73), pemimpin dalam arti luas dan bersifat umum ataupun dalam arti negatif (al Qur’an Surah al Qasas: 5 dan 41), dan pemimpin yang memberi petunjuk berdasarkan perintah Allah Swt (al Qur’an Surah as Sajadah: 24).

Kajian Teologis dan Bahasa

Imamah atau ke-imaman dari segi bahasa adalah kepemimpinan dan setiap orang yang memiliki kedudukan sebagai seorang pemimpin disebut dengan imam (yang mana kata jamaknya adalah aimmah), baik memimpin di jalan yang benar maupun di jalan yang batil. Allah Swt berfirman: Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (al Qur’an Surah al Qashash: 41).

Secara linguistik, kata imamah merupakan kata bahasa Arab yang berakar dari kata imam. Kata imam sendiri berasal dari kata “amma” yang berarti “menjadi ikutan”. Di sini, kata imam berarti “pemimpin atau contoh yang harus diikuti, atau yang mendahului”. Orang yang menjadi pemimpin harus selalu di depan untuk diteladani sebagai contoh dan ikutan. Kedudukan imam sama dengan penanggung jawab urusan umat.

Adapun dalam istilah ilmu Kalam, imamah adalah kepemimpinan umum atas seluruh masyarakat Muslim di seluruh perkara baik perkara agama maupun dunia yang mana dari sudut pandang Muslim Syi’ah keabsahan kepemimpinan atau imamah yang menyangkut kepemimpinan politik dan keagamaan secara integrative tersebut berdasarkan penobatan Tuhan dan nabi-Nya. Oleh karena itu, penentuan imam setelah kenabian, dalam kepercayaan Muslim Syiah, adalah hal yang dituntut oleh hikmah Ilahi atau tasyri’, bukan didasarkan pada pilihan manusia.



Tidak ada komentar: