Sastra Malam di Udara

 

Program siaran Sastra Malam di Udara Radio Serang Gawe 102.8 FM bersama Sulaiman Djaya tahun 2021.





Politik Agenda Setting Media Massa

 




Gagasan pemikiran agenda setting sesungguhnya sudah mulai muncul pada tahun 1920an melalui pemikiran Walter Lippmann (1922) dalam tulisannya yang berjudul "The world outside and the picture in our heads". Dalam pembuka bab yang berjudul Public Opinion, Lippmann sudah menyiratkan ide agenda setting meski ia tidak menyebutkan dengan istilah yang sama.

Pemikiran Lippman tersebut kemudian mendapat dukungan dari McCombs & Shaw (1972) yang menyatakan bahwa informasi yang diberikan oleh media berita memainkan peranan yang penting dalam mengkontruksi gambaran seseorang tentang realitas. Hipotesis sentralnya adalah bahwa media massa telah menyusun agenda (umumnya berkaitan dengan isu kampanye politik) dengan memberikan penonjolan pada isu-isu tertentu. Isu-isu tersebut kemudian diberi penekanan oleh media sehingga dianggap sebagai sesuatu yang penting oleh anggota publik. Dengan kata lain, isu yang dianggap penting oleh media juga akan dianggap penting oleh publik. Inilah yang disebut sebagai pengaruh agenda setting.

McCombs & Shaw (1976) menyatakan bahwa, khalayak tidak hanya mempelajari isu publik dan berbagai hal lainnya yang diberikan media, namun juga mempelajari sebarapa penting sebuah topik berdasarkan penekanan yang diberikan media terhadap topik-topik tersebut. Dalam perkembangannya, ada beberapa masalah yang muncul. Pertama, teori ini tidak selalu mampu memecahkan suatu masalah. Misalnya, ketika kita ingin mengetahui efek langsung media terhadap agenda pribadi individu anggota khalayak. Kedua, terkait dengan adanya berbagai agenda yang terlibat. Misalnya, agenda individu, kelompok, institusi, partai politik dan pemerintah. Ketiga, terkait dengan derajat kesenjangan atau tujuan yang diarahkan ke media.

Pada tahun 1987, Rogers & Dearing memberikan sebuah pernyataan yang menjelaskan proses penyusunan agenda yang berbeda-beda itu dan memberikan kesimpulan yang lebih definitif tentang jumlah dan bentuk efek yang mungkin muncul. Rogers & Dearing (1987) membedakannya menjadi tiga bentuk agenda:

1.      Agenda media, yang merujuk pada prioritas perhatian dalam isi media terhadap isu dan peristiwa;

2.      Agenda publik, merujuk pada berbagai penonjolan isu dalam opini publik dan pengetahuan;

3.      Agenda kebijakan, menjelaskan isu dan proposal kebijakan dari pada politisi.

Sebagai gatekeeper informasi, pers memilih dengan selektif berita-berita yang akan dilaporkan, menentukan apa yang harus dilaporkan dan bagaimana melaporkannya. Orang akan cenderung terpengaruh oleh berita-berita dari media massa yang dibaca atau rumusannya merupakan tiga serangkai yaitu agenda media, agenda publik, dan agenda kebijaksanaan. Pertama, isu-isu yang akan dibahas dan diset dalam media disebut agenda media. Kedua, agenda media dalam beberapa hal memengaruhi atau berinteraksi dengan apa yang dipikirkan publik disebut agenda publik. Ketiga, agenda publik dalam beberapa hal memengaruhi atau berinteraksi dengan mengambil kebijakan penting disebut agenda kebijakan (policy agenda).

Rogers & Dearing (1987) juga memberikan sumber tambahan bagi munculnya ketidakpastian dari efek agenda setting. Pertama media memiliki kredibilitas yang berbeda-beda sehingga tidak semua media memiliki efek yang sama pada khalayak. Kedua, pesan media tidak selalu sama dengan pengalaman pribadi yang diperoleh dari lingkungannya. Ketiga, sejumlah orang mungkin memiliki nilai-nilai yang berbeda berkaitan berita peristiwa yang disebarkan media massa. Terkait dengan kelemahan teori agenda setting, Rogers & Dearing menyarankan agar masa depan indikator "dunia nyata" harus disusun dengan tegas. Mereka juga menyatakan bahwa agenda setting harus dihubungkan dengan bidang-bidang lain dalam teori dan penelitian media. Sejak penelitian di Chapel Hill (McCombs& Shaw,1972), lebih dari 350 studi empiris tentang pengaruh agenda setting dalam media berita telah dilakukan (Rogers& Dearing, 1996). Bukti yang berhasil dikumpulkan adalah bahwa pengaruh agenda setting dari media berita pada publik berbeda-beda di berbagai wilayah geografis dan latar belakang sejarah. Penelitian-penelitian ini juga mengungkap sejumlah tipe media berita dan berbagai variasi isu publik juga memberikan uraian tentang urutan waktu dan hubungan sebab akibat agenda media dengan agenda publik.

Dengan mengamati efek agenda setting di seluruh dunia, maka fenomena komunikasi massa dapat dilihat dari berbagai perspektif. Perspektif itu sendiri dapat dikategorisasi menjadi empat tipologi Acapulco (McCombs). Tipologi Acapulco ini memiliki dua dimensi dikotomis. Dimensi pertama membedakan dua cara melihat agenda. Dimana fokus perhatian bisa diarahkan pada keseluruhan susunan item agenda atau fokus perhatian dapat dipersempit pada satu item tunggal dari agenda. Dimensi kedua, membedakan dua cara mengukur penonjolan item-item dalam agenda, apakah mengukur keseluruhan kelompok populasi atau hanya sekedar respon secara individual.

Competition, Automation, Natural History dan Cognitive Portrait adalah berbagai perspektif yang biasa digunakan dalam penelitian agenda setting. Perspektif competition melihat serangkaian isu yang bersaing untuk mendapatkan posisi dalam media. Perspektif Automation sama dengan kajian awal agenda setting yang berfokus pada keseluruhan item agenda, tapi perhatiannya lebih diarahkan pada agenda masing-masing individu. Agar efek agenda setting terjadi, harus ada individu yang 'peka' untuk diprogramkan di media. Perspektif natural history berfokus pada derajat hubungan antara agenda media dengan agenda publik dalam hal naik turunnya sebuah item tunggal dari waktu kewaktu.

Perspektif keempat yaitu Cognitive Portrait mirip dengan perspektif automation yang berfokus pada individu, hanya saja observasinya dipersempit pada penonjolan sebuah item agenda saja. Sebagai sumber informasi, berbagai isu dapat disusun sepanjang bidang kontinum dari isu yang dialami secara pribadi (obstrusive) sampai isu yang hanya diketahui lewat media (unobstrusive). Perspektif agenda setting tidak hanya bisa digunakan untuk menganalisis isu-isu publik yang berupa objek. Di luar agenda objek, ada level agenda setting lain (McCombs& Reynolds, 2002) yaitu: sejumlah atribut berupa karakteristik dan property yang dimiliki masing-masing objek.

Cara agenda atribut ini dalam mempengaruhi individulah yang disebut sebagai second-level of agenda setting. Lebih jauh, second-level ofagenda setting menyatakan bahwa media tidak hanya memberi tahu apa yang harus dipikirkan, namun juga memberitahu bagaimana memikirkan berbagai objek. Teori agenda setting sangat berkaitan dengan konsep framing. Keduanya sama-sama memfokuskan perhatiannya pada perspektit yang digunakan oleh komunikator dan khalayak untuk menggambarkan berbagai topik dalam berita sehari-hari. Cara media membingkai sebuah isu - memilih atribut apa yang akan dihadirkan kepada khalayak, baik sebagai ide sentral ataupun aspek dari topik - merupakan peran agenda setting yang sangat kuat.