Imam Ja’far & Sang Atheis (Bagian Kedua)

(Foto: Nama-nama 12 Imam Ahlulbait di Madinah)

IMAM JA’FAR as pun melanjutkan jawabannya: “Abu Shakir. Anda sudah menuduh saya bahwa saya telah merekayasa cerita dan meminta orang-orang untuk menyembah Allah yang tidak bisa dilihat mata. Anda menolak untuk mengakui keberadaan Allah karena DIA tidak bisa dilihat. Sekarang saya ingin bertanya kepada Anda, apakah Anda bisa melihat apa-apa saja yang ada di dalam tubuh anda?”

ABU SHAKIR menjawab: “Tidak. Aku tidak bisa melihatnya.”

IMAM JA’FAR (as): “Kalau Anda tidak bisa melihat apa-apa yang ada di dalam tubuh Anda, maka sebaiknya Anda tidak mengatakan bahwa Anda tidak percaya kepada keberadaan Allah hanya karena Anda tidak pernah melihatnya.”

ABU SHAKIR: “Apa hubungannya antara melihat kedalam tubuh seseorang dengan percaya kepada Tuhan yang tidak bisa kita lihat?”

IMAM JA’FAR (as): “Engkau sendiri yang mengatakan bahwa kalau sesuatu itu tidak bisa dilihat, disentuh, dirasakan, didengar, maka sesuatu itu tidak ada.”

ABU SHAKIR: “Betul. Memang betul begitu. Aku sendiri yang mengatakan itu dan aku sendiri percaya bahwa itu benar adanya”

IMAM JA’FAR (as): “Apakah Anda bisa mendengar gerakan aliran darah yang ada di dalam tubuh Anda?”

ABU SHAKIR: “Tidak. Aku tidak bisa melihatnya. Akan tetapi apakah darah itu bergerak di dalam tubuh kita?” 

IMAM JA’FAR (as): “Betul. Darah itu bergerak ke seluruh tubuh kita. Apabila peredaran darah itu berhenti selama beberapa menit saja, maka Anda akan mati.”

ABU SHAKIR: “Aku tidak percaya bahwa darah itu beredar di dalam tubuh manusia.”

IMAM JA’FAR (as): “Kebodohan Anda-lah yang membuat Anda tidak percaya bahwa darah itu beredar di dalam tubuh kita, dan kebodohan yang sama Anda tunjukkan ketika Anda berkata bahwa Anda tidak percaya kepada Allah, yang tidak bisa dilihat mata.”

Kemudian IMAM JA’FAR (as) bertanya kepada Abu Shakir apakah ia pernah melihat makhluk hidup yang kecil-kecil yang diciptakan oleh Allah di dalam tubuh kita.  Imam Ja’far melanjutkan:  “Karena makhluk-makhluk kecil inilah yang bekerja secara ajaib di dalam tubuh Anda sehingga Anda masih bisa hidup sekarang ini. Makhluk-makhluk kecil ini begitu kecilnya sehingga Anda tidak akan bisa melihatnya. Karena Anda itu sudah diperbudak oleh panca indera Anda, maka Anda tidak bisa tahu tentang keberadaannya. Apabila Anda menambah pengetahuan Anda dan mengurangi kebodohan Anda, maka Anda akan mengetahui bahwa makhluk-makhluk kecil di dalam tubuh Anda itu sama banyaknya jumlahnya dengan butiran pasir di padang pasir.

Makhluk-makhluk kecil ini lahir dan besar di dalam tubuh Anda. Mereka berkembang biak di dalam tubuh Anda, dan mereka bekerja di dalam tubuh Anda dan kemudian mati juga di dalam tubuh Anda. Akan tetapi Anda tidak akan pernah melihat mereka; tidak akan pernah bisa menyentuh mereka; merasakan mereka atau mendengar mereka seumur hidup Anda.”

Orang yang mengenali dirinya akan mengenali Tuhan-nya. Apabila Anda mengetahui diri Anda dengan baik dan memiliki pengetahuan tentang apa yang terjadi di dalam tubuh Anda, maka Anda tidak akan pernah berkata bahwa Anda tidak percaya kepada Allah, walaupun Anda tidak pernah melihat-Nya.

Kemudian IMAM JA’FAR (as) menunjuk kepada sebuah batu yang besar sambil berkata kepada ABU SHAKIR: “Apakah Anda lihat batu itu, yang ada di kaki serambi? Untuk Anda mungkin itu kelihatan tidak bernyawa, tidak hidup. Karena Anda tidak melihat pergerakan cepat yang ada di dalam batu itu. Sekali lagi. Ini adalah karena kebodohan Anda maka Anda tidak akan bisa percaya bahwa ada pergerakan di dalam batu itu. Nanti akan datang suatu masa dimana orang-orang pintar akan dapat melihat dan memahami pergerakan yang ada di dalam batu itu.”

IMAM JA’FAR (as) melanjutkan: “Abu Shakir, Anda sudah mengatakan bahwa segala sesuatu itu di alam semesta ini tercipta dengan sendirinya dan tidak ada yang namanya Sang Pencipta. Apakah Anda mengira bahwa rumput di padang rumput itu tumbuh dan menjadi hijau dengan sendirinya? Anda harus tahu bahwa rumput itu tidak bisa tumbuh tanpa adanya benih-benih rumput dan benih-benih rumput itu tidak akan berkecambah tanpa adanya kelembaban di dalam tanah dan kelembaban di dalam tanah itu tidak akan pernah ada tanpa adanya air hujan yang turun. Air hujan itu juga tidak akan turun dengan sendirinya. Pertama, uap air itu naik ke udara dan kemudian berkumpul di atas dan membentuk awan.  Kemudian angin membawa awan-awan itu. Setelah itu uap air yang ada di awan itu mengental dan menjadi titik-titkk air, kemudian jatuhlah ke bumi menjadi hujan. Hujan itupun harus jatuh pada saat yang tepat, karena kalau tidak maka rumput itu tidak akan tumbuh dan tidak akan menjadi hijau. Ambil-lah biji-bijian atau benih-benih dari sepuluh macam tumbuhan dan tempatkanlah di dalam sebuah toples yang tertutup. Berilah air yang cukup; akan tetapi tutuplah dan jangan beri udara. Apakah benih-benih itu akan tumbuh menjadi kecambah? Tidak. Tidak mungkin. Karena selain air, tumbuhan juga memerlukan udara.

 Kita juga bisa menumbuhkan rumput, tanaman lainnya dan juga buah-buahan di dalam rumah yang panas apabila di luar sangat dingin, asal di dalamnya ada cukup udara. Tanpa adanya udara, tidak mungkin ada rumput yang tumbuh di padang rumput dan tidak mungkin rumput berwarna hijau. Apabila tidak ada udara, maka semua tumbuhan; semua hewan dan juga termasuk manusia semuanya akan mati.

Abu Shakir, apakah Anda pernah melihat udara yang sangat diperlukan untuk keberadaan Anda? Anda hanya merasakannya ketika ia bergerak. Apakah Anda akan menolak keberadaan udara hanya karena Anda tidak bisa melihatnya? Apakah Anda bisa menyangkal bahwa untuk tumbuh dan untuk menjadi hijau, rumput itu memerlukan banyak unsur seperti benih-benih rumput, tanah yang subur, air, udara, dan iklim yang cocok dan di atas itu semua ada kekuatan dasyhat yang mengendalikan semua unsur itu sehingga bisa bekerja sama untuk menumbuhkan rumput dan menjadikannya menjadi hijau. Kekuatan yang dasyhat yang mengatur semua unsur itu ialah Allah.

Anda mengatakan bahwa segala sesuatu itu terjadi atau tercipta dengan sendirinya karena anda bukan seorang ilmuwan. Seorang ilmuwan tidak akan berkata seperti itu. Setiap ilmuwan dan para cerdik cendikia percaya kepada satu sosok Maha Pencipta walaupun mereka menyebutnya dengan nama-nama yang berlainan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Allah sekalipun masih percaya akan adanya sebuah kekuatan yang Maha Pencipta.

Abu Shakir, sebenarnya manusia itu tidak percaya kepada Allah bukan karena ia memiliki ilmu yang tinggi, malah melainkan karena ia itu memiliki kebodohan yang amat sangat. Ketika seorang bijak berpikir tentang dirinya, maka segera ia mengetahui bahwa tubuhnya itu memiliki sesosok Maha Pengatur yang membuat semua organ tubuh dan sistem tubuhnya bisa berfungsi dengan baik dan lancar.

Anda tadi mengatakan bahwa kita berdua telah menciptakan Tuhan kita masing-masing. Anda menciptakan Tuhan dengan kedua tangan Anda; sedangkan saya Anda tuduh telah menciptakan Tuhan dengan khayalan saya. Akan tetapi meskipun begitu, ada perbedaan besar antara Tuhan yang Anda sembah itu dengan Allah, Tuhan saya. Tuhan Anda itu tidak pernah ada sebelum Anda menciptakannya dari kayu atau batu; sedangkan Tuhan saya dari dulu sudah ada sebelum saya berpikir tentang diri-Nya. Saya tidak menciptakan Allah dengan kedua tangan saya atau dengan otak saya. Apa yang saya lakukan ialah hanya berusaha untuk mengetahui-Nya lebih baik lagi dan berpikir tentang ke-Maha-Besaran-Nya. Ketika anda melihat sebuah gunung, maka Anda berusaha untuk mengetahui gunung itu lebih jauh. Itu artinya Anda tidak menciptakan gunung itu dengan khayalan Anda. Gunung itu sudah ada di sana sebelum Anda melihatnya dan gunung itu masih akan tetap berada di sana setelah anda mati.

Anda tidak bisa mengenal atau mengetahui gunung itu lebih jauh karena Anda memiliki pengetahuan yang terbatas tentang gunung itu.  Seiring dengan pengetahuan Anda yang berkembang tentang gunung itu, maka semakin banyak yang Anda bisa pelajari dari gunung itu. Anda tidak mungkin mengetahui dengan pasti kapan dan bagaimana gunung itu muncul dan kapan serta bagaimana gunung itu nanti hilang. Anda tidak bisa mengetahui mineral apa saja yang terkandung di dalam gunung itu dan apa saja manfaatnya untuk manusia.

Apakah Anda tahu bahwa batu-batu yang Anda jadikan berhala-berhala itu sudah terbentuk menjadi batu selama ribuan tahun yang lalu dan batu-batu itu akan tetap ada selama ribuan tahun lagi lamanya? Batu-batu ini tiba di sini dari tempat yang sangat jauh. Batu-batu ini bisa berjalan jauh sekali karena bagian-bagian bumi itu senantiasa bergerak; akan tetapi pergerakannya itu sangat lambat sehingga Anda tidak bisa merasakannya sama sekali.

Tidak ada di alam semesta ini yang tidak bergerak. Beristirahat atau diam di tempat itu tidak memiliki arti sama sekali dan tidak berguna sama sekali. Kita tidak pernah beristirahat walaupun kita sedang dalam keadaan tidur. Kita ini bergerak karena bumi yang kita pijak ini pun bergerak. Selain itu, kita juga punya pergerakan di dalam tubuh kita sendiri.

Abu Shakir, seandainya saja Anda memiliki pengetahuan yang cukup tentang sebuah batu yang darinya Anda telah membuat sebuah berhala, maka Anda tidak akan pernah menyangkal sedikitpun tentang keberadaan Allah dan Anda tidak akan mengatakan bahwa saya telah menciptakan Allah itu dengan khayalan saya sendiri.

Anda tidak tahu apa sebenarnya batu itu dan bagaimana batu itu menjadi batu seperti sekarang ini. Sekarang Anda bisa dengan mudah memperlakukan batu itu. Anda bisa memotongnya dan membentuknya menjadi apapun yang Anda mau. Akan tetapi dulu sekali batu itu masih berbentuk cairan. Secara perlahan menjadi dingin dan kemudian Allah menjadikannya keras. Pada mulanya batu itu masih sangat rapuh dan mudah sekali pecah di tangan Anda menjadi kepingan-kepingan yang sama rapuhnya seperti kaca.”


ABU SHAKIR bertanya: “Apakah batu itu dulunya dalam keadaan cair?” (Bersambug ke Bagian Ketiga)

Tidak ada komentar: