Tarikh Haji Wada’ 18 Dzulhijjah 10 Hijriah


Di akhir masa kenabiannya, Muhammad Saw saat menunaikan Haji Wada dan ketika berada di Ghadir Khum menunjuk penggantinya setelah mendapat perintah dari Allah Swt. Pengganti Nabi ini terkenal keberaniannya, ikhlas, pertama memeluk Islam, dan berulang kali telah menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang layak menggantikan sang Nabi. Disebutkan bahwa Nabi menyadari kekuatan kaum munafik dan kebencian mereka terhadap Imam Ali bin Abi Talib as. Nabi sesaat khawatir untuk mengumumkan penggantinya, namun kemudian ayat al-Quran turun yang mensyaratkan kesempurnaan risalahnya dengan mengumumkan penggantinya serta Allah Swt akan menjaga Nabi-Nya dari kejahatan musuh.

Dengan demikian ketika rombongan haji telah tiba di Ghadir Khum yang merupakan persimpangan bagi para jamaah haji untuk kembali ke rumah masing-masing, Rasulullah Saw memerintahkan rombongan-nya untuk berhenti dan mendirikan kemah. Ketika jamaah haji lainnya tiba di Ghadir Khum, yang saat itu jumlahnya mencapai sekitar 120 ribu orang, Rasulullah naik ke mimbar dan menyampaikan pidatonya.

Setelah menyampaikan pidatonya, Nabi meminta Imam Ali naik ke mimbar dan mengangkat tangan Imam Ali serta mengenalkan kepada umat Islam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah penggantinya. Nabi bersabda bahwa ketaatan kepada Ali bin Abi Thalib sama dengan ketaatan kepada beliau. Selanjutnya Nabi memberitahukan kepada umat Islam bahwa keluarganya (Ahlul Bait) posisinya setara dengan al-Qur’an. Nabi mengingatkan bahwa Ahlul Bait dan al-Qur’an tidak akan terpisah hingga Hari Kiamat kelak. Keduanya menurut Nabi merupakan harapan kebahagiaan umat Islam.

Tak lama setelah itu, Rasulullah Saw akhirnya menemui Tuhannya. Sang penyebar ajaran Ilahi ini setelah berjuang selama 23 tahun kemudian meninggalkan dunia yang fana ini. Adapun Allah Swt berjanji akan menjaga Kitab Suci al-Qur’an dari tangan-tangan jahil yang berusaha mengubahnya.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Q.S.15:9).

Kini Ali bin Abi Thalib, yang dilahirkan di dalam Ka’bah dan besar di pangkuan Nabi, orang pertama yang memeluk Islam yang mengikuti setiap detik turunnya wahyu karena berada di sisi Rasul mulai mengkhawatirkan masa depan umat Islam.

Kini kami akan mengetengahkan khutbah Rasul dan menjadikannya peta jalan risalah beliau guna membuka kembali perjalanan umat Islam. Kami berharap dengan upaya ini umat tidak akan terjebak ke jalan menyimpang dan menjadikan mereka sebagai penyeru pesan Rasul ke dunia. Tak hanya itu, kami juga berharap pembaca menjadi rasul-rasul di tengah keluarga dan kerabatnya yang meneruskan misi Rasulullah Saw dan ajaran Ilahi.

Harapan ini selaras dengan sabda Rasul yang menyebutkan, “Wahai kalian yang hadir dan mendengar pesan ini! Wajib bagi kalian ketika pulang ke rumah masing-masing memberitahukan pesan ini kepada mereka yang tidak hadir.”

KHUTBAH RASUL di GHADIR KHUM
“Puji-pujian hanya milik Allah. Kami memohon pertolongan, dan keyakinan, serta kepada-Nyalah kami beriman. Kami mohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa-jiwa kita dan dosa-dosa perbuatan kita. Sesungguhnya tiada petunjuk bagi seseorang yang telah Allah sesatkan, dan tiada seorang pun yang sesat setelah Allah beri petunjuk baginya.”

“Hai, kaum Muslimin! ketahuilah bahwa Jibril sering datang padaku membawa perintah dari Allah, yang Maha Pemurah, bahwa aku harus berhenti di tempat ini dan memberitahukan kepada kalian suatu hal. Lihatlah! Seakan-akan waktu semakin dekat saat aku akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan menyambut panggilannya.”

“Hai, Kaum Muslimin! Apakah kalian bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Surga adalah benar, neraka adalah benar, kematian adalah benar, kebangkitan pun benar, dan ‘hari itu pasti akan tiba, dan Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya?” Mereka menjawab: “Ya, kami meyakininya.”

Nabi melanjutkan: “Hai, kaum Muslimin! Apakah kalian mendengar jelas suaraku?” Mereka menjawab: “Ya.” Rasul berkata: “Dengarlah! Aku tinggalkan bagi kalian dua hal paling berharga dan simbol penting yang jika kalian setia pada keduanya, kalian tidak akan pernah tersesat sepeninggalku. Salah satunya memiliki nilai yang lebih tinggi dari yang lain.”

Orang-orang bertanya: “Ya, Rasulullah, apakah dua hal yang amat berharga itu?”

Rasulullah menjawab: “Salah satunya adalah kitab Allah dan lainnya adalah Itrah Ahlulbaitku (keluargaku). 

Berhati-hatilah kalian dalam memperlakukan mereka ketika aku sudah tidak berada di antara kalian, karena, Allah, Yang Maha Pengasih, telah memberitahukanku bahwa dua hal ini (Al-Qur’an dan Ahlulbaitku) tidak akan berpisah satu sama lain hingga mereka bertemu denganku di telaga (al-Kautsar). 

Aku peringatkan kalian, atas nama Allah mengenai Ahlulbaitku. Aku peringatkan kalian atas nama Allah, mengenai Ahlulbaitku. Sekali lagi! Aku peringatkan kalian, atas nama Allah tentang Ahlulbaitku!”

“Dengarlah! Aku adalah penghulu surga dan aku akan menjadi saksi atas kalian maka barhati-hatilah kalian memperlakukan dua hal yang sangat berharga itu sepeninggalku. Janganlah kalian mendahului mereka karena kalian akan binasa, dan jangan pula engkau jauh dari mereka karena kalian akan binasa!”

“Hai, kaum Muslimin! Tahukah kalian bahwa aku memiliki hak atas kalian lebih dari pada diri kalian sendiri?” Orang-orang berseru: “Ya, Rasulullah.” Lalu Rasul mengulangi: “Hai, kaum Muslimin? Bukankah aku memiliki hak atas kaum beriman lebih dari ada diri mereka sendiri?” Mereka berkata lagi: “Ya, Rasulullah.”

Kemudian Rasul berkata: “Hai Kaum Muslim! Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan aku adalah Maula semua orang-orang beriman,” Lalu ia merengkuh tangan Ali dan mengangkatnya ke atas. la berseru: “Barang siapa mengangkatku sebagai Maula, maka Ali adalah Maulanya pula (Nabi mengulang sampai tiga kali) 

Ya, Allah! Cintailah orang yang mencintainya dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya. Bantulah orang-orang yang membantunya. Selamatkanlah orang-orang yang menyelamatkannya, dan jagalah kebenaran dalam dirinya ke mana pun ia berpaling! (artinya, jadikan ia pusat kebenaran).

Ali adalah putra Abu Thalib, saudaraku, Washi-ku, dan penggantiku (khalifah) dan pemimpin sesudahku. Kedudukannya bagiku bagaikan kedudukan Harun bagi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. la adalah pemimpin kalian setelah Allah dan Utusan-Nya.”

“Hai, kaum Muslimin! Sesungguhnya Allah telah menunjuk dia menjadi pemimpin kalian. Ketaatan padanya wajib bagi seluruh kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan dan penduduk kota dan kaum pengembara, orang-orang Arab dari orang-orang bukan Arab, para majikan dan budak, orang-orang tua dan muda, besar dan kecil, putih dan hitam.”

“Perintahnya harus kalian taati, dan kata-katanya mengikat serta perintahnya menjadi kewajiban bagi setiap orang yang meyakini Tuhan yang satu. Terkutuklah orang-orang yang tidak mematuhinya, dan terpujilah orang-orang yang mengikutinya, dan orang-orang yang percaya kepadanya adalah sebenar-benarnya orang beriman. Wilayahnya (keyakinan kepada kepemimpinannya) telah Allah, Yang Maha kuasa dan Maha tinggi, wajibkan.”

“Hai kaum Muslimin, pelajarilah Al-Qur’an! Terapkanlah ayat-ayat yang jelas maknanya bagi kalian dan janganlah kalian mengira-ngira ayat-ayat yang bermakna ganda! Karena, Demi Allah, tiada seorang pun yang dapat menjelaskan ayat-ayat secara benar akan makna serta peringatannya kecuali aku dan lelaki ini (Ali), yang telah aku angkat tangannya ini di hadapan diriku sendiri.”

“Hai kaum Muslimin, inilah terakhir kalinya aku berdiri di mimbar ini. Oleh karenanya, dengarkan aku dan taatilah dan serahkan diri kalian kepada kehendak Allah. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan kalian. Setelah Allah, Rasulnya, Muhammad yang sedang berbicara kepada kalian, adalah pemimpin kalian. Selanjutnya sepeninggalku, Ali adalah pemimpin kalian dan Imam kalian atas perintah Allah. Kemudian setelahnya kepemimpinan akan dilanjutkan oleh orang-orang yang terpilih dalam keluargaku hingga kalian bertemu Allah dan Rasulnya.”

“Lihatlah, sesungguhnya, kalian akan menemui Tuhanmu dan ia akan bertanya tentang perbuatan kalian. Hati-hatilah! Janganlah kalian berpaling sepeninggalku, saling menikam dari belakang! Perhatikanlah! Adalah wajib bagi orang-orang yang hadir saat ini untuk menyampaikan apa yang aku katakan kepada mereka yang tak hadir karena orang-orang yang terpelajar akan lebih memahami hal ini daripada beberapa orang yang hadir dari saat ini. Dengarlah! Sudahkah aku sampaikan ayat Allah kepada kalian? Sudahkah aku sampaikan pesan Allah kepada kalian?” Semua orang menjawab, “Ya.” Kemudian Nabi Muhammad berkata, “Ya, Allah, saksikanlah.”

Belum lagi pertemuan akbar ini bubar, Jibril turun membawa wahyu dari Allah swt kepada Nabi-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
 ۚفَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙفَإِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 3: 3)

Kemudian Rasul bertakbir, Allah Akbar! Selamat atas disempurnakannya agama dan disempurnakannya nikmat dan keridhaan Allah terhadap risalahku dan kepemimpinan Ali sepeninggalku.

Setelah takbir Nabi tersebut, umat Islam berduyun-duyun memberikan selamat kepada Imam Ali as. Orang paling pertama yang mengucapkan selamat kepada Imam Ali adalah Abu Bakar dan Umar. Keduanya berkata, selamat kepadamu wahai Abu Turab! Kini Kamu menjadi pemimpin kami dan maula setiap laki-laki serta wanita mukmin.

Ibnu Abbas berkata: “Saya bersumpah bahwa wilayah terhadap Ali diwajibkan bagi seluruh umat.” Hasan bin Tsabit berkata, “Wahai Rasulullah! Izinkan Aku mengumandangkan syair tentang Ali.” Nabi pun kemudian mengijinkan Hasan bin Tsabit membacakan syair tentang peristiwa Ghadir Khum dan pengangkatan Imam Ali as.

ینادیهم یوم الغدیر نبیهم بخم فاسمع بالرسول منادیا

أنا مدينة العلم وعلی بابها

فمن أراد المدينة فليأتها من بابها


Ana madînatul ilmi wa ‘Aliyyun bâbuhâFaman arôdal madînah, fal ya’tihâ min bâbihâ.. Akulah kota ilmu dan Ali adalah pintunya..Siapa yang ingin mendapatkan ilmuku, maka datanglah dari pintunya

هذا حديث قاله محمد

جاء به وهو حديث مسند


Hadzâ hadîtsun qôlahu Muhammadujâ-a bihi wa huwa hadîtsun musnadu..Itulah hadis yang disabdakan Muhammad Rasulullah saw dengan sanad yang kuat

في حق من بذکره نردد

فهو علي بالعلا مؤيد


Fî haqqi man bidzikrihi nuroddidu..Fa-huwa ‘Aliyyun bil’ulâ mu-ayyadu..Adalah kebenaran bagi kita untuk selalu mengingatnya. Itulah Ali yang mulia dan dimuliakan Allah

للمرتضی گرامات  والعلا جبابها

ومن يروم المعالی، فليأتها من بابها


Lilmurtadlô karômât wal ‘ulâ jibâbuhâwa man yarûmul ma’âlî…fal ya'tihâ min bâbihâ..Bagi Ali Al-Murtadha terhimpun berbagai keutamaan, keagungan senantiasa meliputinya. Siapa yang mendambakan kemuliaan, segera datang kepada Rasulullah dari pintunya

کونوا معی ياباب علم المصطفی

أنت العلي فی المعالی وگفی


Kûnû ma’î yâ bâba ‘ilmil MushthofâAntal ‘aliyyu fil ma’âlî wa kafâ..Sudilah bersama kami wahai “Pintu ilmu Rasul”. Engkaulah Ali yang sejati dalam ketinggian dan keagungan

ياکعبة المتقين، شرفت أثوابها

ومن يروم المعالی، فليأتها من بابها


Yâ ka’batal muttaqîn syurrifat atswâbuhâWa man yarûmul ma’âlî..fal ya'tihâ min bâbihâ..Wahai penunjuk arah para muttaqin, yang mensucikan semua yang melekat pada dirinya. Siapa yang mendambakan kemuliaan, segera datang kepada Rasulullah dari pintunya

يالبة التوحيد ياعين الهدی

وحجة لمن أناب واهتدا


Yâ labbatat tawhîdi yâ ‘aynal hudâWa hujjatan liman anâba wahtadâ..Wahai pemegang tauhid sejati, wahai penunjuk jalan yang nyata, engkaulah tempat kembali para perindu kebenaran

بك اقتديت والحبيب المقتدی

لولاك غصن العدل مابقی الندی


Bikaqtadaytu wal habîbul muqtadâLawlâka ghushnul ‘adli mâbaqôn nadâ..Aku menteladanimu sebagaimana engkau dengan teguh menteladani Rasulullah saw. Sekiranya bukan karena engkau, suara keadilan takkan kekal terdengar

ياباب علم الرسول، أسست أعتابها

ومن يروم المعالی، فليأتها من بابها


Yâ bâba ‘ilmir-Rosûl ussisat a’tâbuhâWa man yarûmul ma’âlî.. fal ya'tihâ min bâbihâ..Wahai Pintu ilmu Rasul, semakin kokohlah pintu itu. Siapa yang mendambakan kemuliaan, segera datang kepada Rasulullah dari pintunya

خيرابن عم أنت ياأخا النبی

ياغاية تبدی بأمی و أبی


Khoiru-bnu ‘ammin anta yâ akhon-nabiYâ ghôyatan tubdâ bi-ummî wa abî..Wahai Ali, sungguh telah ditetapkan engkau saudara Rasul, putera paman Nabi, yang dilahirkan dari ayah dan ibu yang mulia

ياحجة الله وياخير ولی

وردت من کهف لنا و موئل


Yâ hujjatallâhi wa yâ khoiro walîWuridta min kahfin lana wa mau-ili..Wahai Hujjatullah, engkau sebaik-baik wali, kehadirannmu telah melindungi kami

ياموئلا بك الکروب تنجل

وفيك جاءت لا فتی إلا علی


Yâ mau-ilan bikal kurûbu tanjaliWa fîka jâ-at Lâ fatâ illâ ‘Alî..Wahai Sang Penyelamat, bersamamu sirnahlah segala bencana..Atasmulah Rasulullah bersabda “La fatâ illa Ali” (tiada pemuda kecuali Ali

ياسابق السابقين، شهدت أصحابها

ومن يروم المعالی، فليأتها من بابها


Yâ sâbiqas sâbiqîn syahidat ash-hâbuhâWa man yarûmul ma’âlî.. fal ya'tihâ min bâbihâ..Wahai Ali, penghulu sejati begitulah para sahabatnya yang setia telah bersaksi. Siapa yang mendambakan kemuliaan, segera datang kepada Rasulullah dari pintunya.

Tidak ada komentar: