Dongeng Negeri Telaga Kahana (Bab Keempat)




Hak cipta ©Sulaiman Djaya

Pagi baru saja terbangun. Saat itu Ratu Washti tampak asik memandang dan mengamati cahaya matahari yang pelan-pelan mulai menyeruak dari balik lembah, pegunungan, dan dedaunan, sembari menyimak nyanyian dan cericit burung-burung yang telah membantunya memecah keheningan yang merasuk di dalam hatinya.

Tidak seperti sebelum-sebelumnya, di mana hari-harinya ia jalani bersama Hagar dan Sophia demi melatih mereka, saat ini ia ingin menyempatkan diri untuk merenungi dirinya sendiri, sesekali ia memikirkan Ilias yang ia kenal saat Ilias dan Jenderal Roshtam mengunjungi rumahnya, ketika Ilias ingin bertemu dengan dua adik kesayangannya, Hagar dan Sophia.

Saat pertemuan itulah, Ratu Washti sadar Ilias memiliki pesona yang sangat kuat, meski Ilias terlahir dan besar sebagai setengah peri dan setengah manusia. Meski tubuh Ilias lebih pendek dibanding tubuh dirinya, Ratu Washti tak menganggap hal itu sebagai sebuah persoalan yang mengurangi pesona yang dimiliki Ilias yang kini telah menjadi seorang Jenderal yang tangguh dan cerdas berkat didikan Jenderal Roshtam.

Entah kenapa, di pagi yang hening itu, ingatan tentang Ilias jadi hadir begitu saja di benak Ratu Washti. Meski demikian, ia bertekad bahwa ia harus berusaha sekuat mungkin agar hal itu tidak diketahui oleh Hagar dan Sophia.

Demi menghilangkan lamunannya itu, ia pun memutuskan untuk melangkahkan kakinya menyusuri setapak yang bermula dari halaman rumahnya yang indah dan penuh bunga-bunga itu. Ia mencoba menyimak dan merenungi nyanyian dan cericit burung-burung yang terdengar saling bersahutan dan bergantian dari arah pohon-pohon yang tumbuh di jalan setapak dan di sekitar rumahnya tersebut.

Namun entah kenapa, saat itu ia memutuskan untuk menggunakan kesaktiannya dan melesat begitu saja, dan tahu-tahu ia sudah berada di sebuah telaga yang berada di ceruk lereng yang memisahkan dua gunung. 

Sekarang kita tinggalkan Ratu Washti dan apa yang tengah merundung benak, hati, perasaannya yang tiba-tiba sunyi, dan apa yang kemudian ia lakukan itu, dan menuju ke tempat Jenderal Roshtam yang saat itu tengah berbicara, tepatnya memberi instruksi, kepada sepuluh prajurit tangguh yang telah dipilihnya untuk dikirim ke negeri Suryan dan membantu Ilias di negeri itu.

Mereka adalah para prajurit berkuda yang mengendarai kuda-kuda ajaib, yang juga dipilih langsung oleh Jenderal Roshtam, dan setelah mereka menyimak nasehat dan arahan Jenderal Roshtam itu, mereka pun melesat bersamaan dengan mengendarai kuda mereka masing-masing yang memiliki ketangguhan dan kecepatan yang sama, memiliki keajaiban yang sama.

Sesampainya mereka di Gerbang Farsana di negeri Farsa yang dilindungi benteng raksasa itu, para prajurit penjaga gerbang tersebut segera membuka pintu yang harus didorong oleh dua puluh orang tersebut, persis ketika para prajurit penjaga gerbang tersebut melihat kuda-kuda ajaib yang dikendarai para prajurit pilihan Jenderal Roshtam itu melesat cepat ke arah mereka. Mereka pun memberi hormat ketika sepuluh prajurit berkuda pilihan itu melintasi mereka, sementara para prajurit pilihan itu tampak melesat begitu saja tanpa harus disibukkan dengan membalas penghormatan para prajurit penjaga Gerbang Farsana itu.

Setelah keluar dari kawasan ibukota negeri Farsana, para prajurit berkuda pilihan itu memilih jalur jalan yang akan melewati Gunung Damawand yang dihuni oleh segala makhluk aneh, semisal sejumlah raksasa dan makhluk-makhluk mengerikan lainnya. Keberadaan makhluk-makhluk aneh di kawasan pengunungan tersebut tak membuat mereka khawatir, sebab Jenderal Roshtam telah memberikan masing-masing satu jubah khusus kepada mereka yang akan membuat mereka tidak terlihat oleh makhluk-makhluk mengerikan di gunung tersebut jika sewaktu-waktu mereka menyerang.

Jalur Gunung Damawand dipilih oleh prajurit-prajurit berkuda pilihan tersebut tak lain karena jalur yang melintasi gunung itu merupakan jalur yang paling cepat yang dapat ditempuh oleh mereka menuju negeri Suryan, sebelum mereka juga harus menempuh sejumlah tempat dan kawasan di negeri Kira yang beberapa kawasan hutan dan lembah-lembah serta sejumlah sungainya masih dihuni para raksasa yang acapkali menjadikan manusia sebagai makanan mereka. Para raksasa itu mirip beruang dan monyet pada saat bersamaan dengan ukuran tubuh yang lima puluh kali lebih besar ukuran tubuh manusia.

Anehnya, para raksasa itu seringkali memanggang jasad-jasad manusia yang mereka bunuh dengan menggunakan batang-batang pohon di sekitar kawasan hutan. Sesekali mereka juga harus membunuh manusia dengan mendatangi langsung beberapa perkampungan, sehingga sejumlah perkampungan di negeri Rika memiliki benteng-benteng raksasa yang kokoh yang mengelilingi perkampungan mereka demi melindungi diri mereka dari kedatangan para raksasa tersebut yang setahun sekali suka menculik para remaja dan pemuda serta para pemudi. 

Setiap yang terjadi di negeri Rika itu pun telah diketahui para prajurit berkuda pilihan yang mengendarai kuda-kuda ajaib tersebut dari mulut dan cerita Jenderal Roshtam langsung, tak lain karena Jenderal Roshtam sendiri pernah membantu orang-orang kampung Tigar di negeri Rika itu untuk berperang dengan salah-satu raksasa, dan berhasil mengalahkan salah-satu raksasa tersebut, meski sejumlah pemuda harus terbunuh dalam perjuangan yang heroik, mengerikan, dan mendebarkan hati itu.

Sementara pasukan khusus berkuda yang dilatihnya tengah menempuh perjalanan panjang mereka menuju negeri Suryan dengan harus melewati Gunung Damawand, negeri Rika dan kawasan-kawasan lainnya, Jenderal Roshtam mempersipkan diri untuk berangkat ke negeri Suryan, dan ia sengaja tidak mengatakan rencananya tersebut kepada para prajurit pilihannya demi pendidikan dan ujian tentang loyalitas.

Sebagai seorang Jenderal dan ahli strategi perang yang jenius dan berdedikasi, Jenderal Roshtam adalah tipikal seorang Jenderal yang senantiasa turun di medan peperangan, entah secara rahasia atau diketahui para prajurit dan kolega-koleganya. Selain memiliki wibawa yang besar dan kharismatik, Jenderal Roshtam juga dikenal sebagai lelaki yang berani sekaligus sabar, rendah-hati, dan sederhana. Kualitas-kualitas dirinya itulah yang membuat Raja Najad di negeri Farsa mempercayai masalah-masalah ketahanan negeri dan hubungan negeri Farsa dengan negeri-negeri lain kepadanya.

Sejak datangnya utusan khusus Ilias kepadanya itu, Jenderal Roshtam maphum bahwa anak didik kesayangannya itu tengah menghadapi bahaya yang cukup besar, di saat Ilias baru pertama-kali terjun dalam medan pertempuran yang sesungguhnya, dan karena itu ia memutuskan untuk memantau langsung medan pertempuran di negeri Suryan tersebut, meski tak mesti menyatakan niatnya tersebut kepada Ilias yang didapuknya menjadi seorang Jenderal.

Saat itu, setelah mengenakan pakaian khusus terbaiknya, ia pun menuju ke tempat rahasia yang hanya ia ketahui sendiri, ke tempat burung besar Dagaru kesayangannya berada, yaitu di lembah Wantan yang cukup jauh dari ibukota negeri Farsa, dengan mengendarai kuda. Ia lesatkan kuda kesayangannya demi mendatangi lembah Wantan di mana burung tunggangannya itu berada, dan tak butuh waktu lama, ia pun telah sampai di lembah Wantan, dan segera ia menuju sebuah gua rahasia tempat burung Dagaru, yang kebetulan tengah beristirahat di saat kedatangannya itu.

Menyadari kedatangan sahabatnya itu, si burung Dagaru pun segera bangun dan menggerak-gerakkan sepasang sayapnya yang sangat lebar dan besar, hingga menghempaskan gerakan angin yang terasa menghantam ke tubuh Jenderal Roshtam. Ia telah paham bahwa kedatangan Jenderal Roshtam itu menandakan sebuah situasi khusus yang membutuhkan bantuan dan keterlibatan dirinya sebagai seorang sahabat.

Tanpa harus menunggu perintah Jenderal Roshtam, ia pun segera merebahkan dan merendahkan diri agar Jenderal Roshtam dapat segera naik dan duduk di lehernya, dan setelah Jenderal Roshtam naik serta duduk di lehernya sembari berpegangan erat itu, ia pun segera mengepakkan sepasang sayapnya dan melesat cepat menuju arah langit yang tampak tidak terlalu panas saat itu.

Mirip sebuah pesawat tempur modern saat ini, si burung besar Dagaru itu pun tampak lebih mirip meluncur ketimbang terbang, karena kecepatan gerakan sepasang sayapnya. Bahkan sesekali ia tetap melesat, meski ia tak mengepakkan sepasang sayapnya yang perkasa dan seakan tak kenal letih itu.

Mereka terbang melintasi hutan-hutan, samudra, gunung-gunung, dan lembah-lembah di bawah mereka yang tampak seperti lukisan di mata mereka yang berada di atas, di antara gugusan awan dan mega itu. Dan tentu saja, perjalanan mereka itu lebih cepat daripada perjalanan sepuluh pasukan khusus berkuda yang diutus Jenderal Roshtam.

Dengan mengendarai si burung Dagaru itu, Jenderal Roshtam tentu juga dapat menghemat 100 kali lipat rute yang harus ditempuh sepuluh pasukan khusus berkuda yang dikirimnya ke negeri Suryan itu. Namun entah kenapa, mereka memutuskan untuk singgah ke negeri Rimela dalam perjalanan mereka tersebut, sebuah negeri di mana ibunda Jenderal Roshtam berasal meski ayahnya adalah orang Farsa.

Ternyata memang maksud singgahnya mereka ke negeri Rimela, tepatnya di desa Mazan itu, Jenderal Roshtam memang berniat mengunjungi ibundanya yang masih hidup meski usianya telah mencapai 90 tahun lebih, dan usia dirinya 50 tahun lebih, sementara ayahnya telah tiada beberapa tahun lalu.

Di sebuah tepi sungai Lina itu, si burung Dagaru pun mendarat, dan tak jauh dari tepi sungai Lina itu terdapat sebuah rumah yang tampak bersahaja meski tak buruk, yang agak sedikit menjauh dari sejumlah rumah dan hunian yang berkerumun dan berbaris di desa itu. Tanpa ditemani si burung Dagaru yang dimintanya untuk menunggu di dekat sebuah pohon besar di tepi sungai Lina itu, Jenderal Roshtam pun berjalan menuju rumah ibundanya tersebut.

Itulah sebuah rumah di mana dulu Jenderal Roshtam dilahirkan dan menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya, sebelum keluarganya pindah ke negeri Farsa atas keinginan ayahnya setelah seorang penguasa negeri Farsa kala itu, yaitu Radim Khan, meminta ayahnya menjadi seorang perdana menteri di negeri Farsa. Hanya saja, setelah ayahnya meninggal, ibunda Jenderal Roshtam memutuskan untuk kembali ke negeri Rimela karena terluka dengan kewafatan suaminya yang baginya terlalu cepat, meninggal dalam sebuah pertempuran kolosal melawan bangsa Loghom yang bengis dan kejam, yang kala itu menyerang negeri Farsa tanpa diduga sebelumnya. (Bersambung



Tidak ada komentar: