Tampilkan postingan dengan label Literary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Literary. Tampilkan semua postingan

Tiga dari Lima Puisi

Qasim di Karbala 

“Akulah Qasim putra Hasan, cucu nabi terpilih
dan terpercaya”

Pemuda belia itu berada pada barisan tiga ribu tentara, 
berhari-hari kehausan, terkepung sendirian. 

Lalu Ahmad bin Hasan bin Ali menyeruak 
ke dalam barisan:

"Paman, adakah seteguk air bagiku?"

“Anakku, bersabarlah sejenak,
sebentar lagi engkau akan bertemu 

dengan kakekmu
pelepas dahagamu”

Pemuda itu kembali memacu diri, seraya berkata :
“Akulah cucu Al-Mukhtar, putra Haidar” 

Namun ia segera jatuh 
Ribuan panah menghantam tubuh. 

(2017)

Kanak Kanak Matahari

Di masa kecil, di sela-sela udara yang bermain 
Di batang-batang lalang dan rumput-rumput liar, 
Kegembiraan begitu riang berlarian tanpa henti
Dengan kaki-kaki gaib mereka. 

Ibuku, ibuku, memanen kesunyian seorang lelaki 
Dengan kesabaran dua tangannya yang raib. 
Aku seorang bocah, yang belum memahami 
Bahasa puisi, hanya tahu memburu para belalang 

Di keriuhan butir-butir hujan. Kulafal 
Ceracau burung-burung kedinginan 
Di ranting-ranting pohon dan lembab rembang 
Kalbuku. Ibuku, ibuku, mendongeng hikayat 

Rambut merah kemarahan seorang bapak 
Yang suka terlambat pulang bila magrib 
diwartakan. Di masa kecil, bila senja meruncing, 
Kupahami lalang pematang sebagai kematian. 

(2017) 

Akhir Januari

Butir-butir gerimis adalah kanak-kanak sepi:
Usia yang hilang bersama sorehari.
Betapa dekat aku kepada mautku
Bila umurku nanti adalah sunyi
Yang bertamu
Di beranda dua matamu.

Dingin adalah matahati
Pikiran yang letih. Jauh sekali
Mataku menerka rapih
Gerak lembut gugusan rambutmu.
Daun-daun bergetar seperti kekal abadi
Teka-teki takdir

Yang selalu luput kutulis
Dan tak pernah dapat kupahami.
Burung-burung terbang dalam basah
Cakrawala padam
Ketakmengertianku menyelami bahasa.
Dan misalkan hidup tak lebih

Mesin hitung yang rusak
Adakah aku akan jadi mengetahui
Nama-nama Tuhan 
Yang tak termaktub di kitab-kitab suci?
Adakah sujudku
kepada kematianku sendiri

Adalah penebusan ketakpahamanku
Pada kuasa Tuhan?
Butir-butir gerimis adalah rimbun mautku
Menandur umur di kekal waktu
Yang tak dapat kau hitung
Seperti rinduku pada kegembiraanmu.  

(2018) 


Sulaiman Djaya. Sumber: Majalah Sastra Horison Edisi Juli-Agustus-September 2018 halaman 33-37

Ladang Bahasa


Kanak Kanak Matahari

Di masa kecil, di sela-sela udara yang bermain
Di batang-batang lalang dan rumput-rumput liar,
Kegembiraan begitu riang berlarian tanpa henti
Dengan kaki-kaki gaib mereka.

Ibuku, ibuku, memanen kesunyian seorang lelaki
Dengan kesabaran dua tangannya yang raib.
Aku seorang bocah, yang belum memahami
Bahasa puisi, hanya tahu memburu para belalang

Di keriuhan butir-butir hujan. Kulafal
Ceracau burung-burung kedinginan
Di ranting-ranting pohon dan lembab rembang
Kalbuku. Ibuku, ibuku, mendongeng hikayat

Rambut merah kemarahan seorang bapak
Yang suka terlambat pulang bila magrib
diwartakan. Di masa kecil, bila senja meruncing,
Kupahami lalang pematang sebagai kematian.

(2017)

Ladang Bahasa

Tak ada apa-apa di luar kata, suatu ketika
Sepasang mataku yang basah pun membaca
Takdir yang jadi kematian
Dalam gerak lalang.

Puisi ada karena kau percaya
Hidup tak sekadar menghitung
Dan menjumlah
Angka-angka dan jadwal harian.

Aku bayangkan tidurmu dan terjagamu
Tak ubahnya lembar-lembar buku
Yang dibuka tangan-tangan kegembiraan
Meski acapkali kita pun senantiasa

Menerka dan menduga-duga
Di mana gerangan Tuhan
Yang diwartakan para pengkhutbah
Dan pendusta agama.

Acapkali pula, kesepian kita
Ada agar kita selalu bertanya
Kenapa kalimat dan bahasa tak selamanya
Jadi gambar dan dunia.

(2017)

Jadikan Rinduku Sebagai Pisau

Di malam tak berjendela
Di jalanan sepi pelarian yang kalah
Di dukacita mereka yang ditinggalkan
Di kegembiraan kanak-kanak
Di kesepian mereka yang putus-asa
Jadikan rinduku sebagai pisau
Yang membunuh amarah.

Aku cinta kau
Justru ketika hidup tak dapat diukur.
Pagiku tak berbantal
Mencari dan mencari
Apa saja yang jadi puisi.

Di bawah lampu-lampu taman
Dan trotoar basah
Selepas hujan
Aku adalah para serangga
Yang kedinginan.
Aku adalah bahasa
Berkelana di dalam pikiran.

Aku tak bisa membaca wahyu
Dari para pengkhutbah agama
Yang menjelma badut
Di mimbar-mimbar
Di layar-layar televisi.

Di lontaran mesiu-mesiu perang
Di ratapan para pengungsi
Di sudut-sudut tempat
Mereka yang diasingkan
Jadikan rinduku sebagai peluru
Untuk menggempur
Kesedihanku yang ragu.

Di rambutmu, di matamu,
Di hembusan nafasmu saat tidur
Maut tak pernah bergegas
Untuk mencuri waktu
Di dalam sajakku.

(2018)

Misal Mautku Seramping Tanganmu

Dik, misalkan kau buatkan untukku
Segelas teh manis
Ketika gerimis Januari menenun waktu,
Pastilah aku takkan bergegas
Menulis puisi cinta
Yang akan kau baca berkali-kali.

Kegembiraan dua matamu yang heran
Memandangiku
Adalah bahasa paling jujur
Yang takkan pernah habis kutafsir.
Misalkan mautku
Seramping sepasang tanganmu

Dan hidup adalah kata lain
Dari kebetulan-kebetulan,
Tentu keingintahuan kita pada takdir
Sama seperti ketika kau dan aku
Menonton adegan-adegan drama
Yang ceritanya sederhana.

(2018)

Sumber: Sepasang Camar, Perahu Litera 2018, halaman 95-99  


Penari Izu


oleh Yasunari Kawabata (diterjemahkan dari Bahasa Jepang oleh Ajip Rosidi)

1
Ketika kukira jalan berliku-liku mendaki yang kutempuh itu mendekati puncak Amagi, hujan pun turun renyai, membuat hutan sugi nampak putih meruap naik dari kaki gunung mengejarku dari belakang.

Usiaku dua puluh. Aku mengenakan topi murid Sekolah Menengah Atas dan memakai hakama di bawah kimono berwarna dasar biru tua dengan corak putih sambil menyandang tas sekolah pada bahu. Hari itu adalah hari yang keempat aku berjalan seorang diri di daerah Izu. Malam pertama aku menginap di pemandian air panas Shuzenji, dua malam berikutnya di pemandian air panas Yugashima dan sekarang menempuh jalan naik menuju ke Amagi dengan memakai geta yang tinggi. Sambil menikmati pemandangan musim gugur di pegunungan dan lembah serta jurang yang dalam, aku berjalan bergegas, dengan hati berdebar karena adanya semacam harapan. Sementara itu butir-butir hujan yang besar-besar mulai berjatuhan menimpa tubuhku. Aku berlari-lari mendaki jalan yang curam dan berliku-liku. Dengan susah payah akhirnya aku tiba di sebuah warung teh yang terletak di sebelah utara puncak Amagi. Aku merasa lega. Namun seketika itu juga aku tertegun di depan pintu masuk warung itu, karena harapanku ternyata terwujud. Betul-betul terwujud. Di sana kudapati serombongan anak wayang yang sedang beristirahat.

Seorang penari wanita yang melihatku tertegun segera bangkit dan menarik zabuton yang dipakainya, kemudian membalikkannya dan menaruhnya di sampingku.

“Oooo,” kataku dan aku duduk di atas zabuton itu. Setelah berlari-lari menempuh jalan yang mendaki aku masih terengah-engah dan begitu terperanjat sehingga ucapan terima kasihku tersekat di kerongkongan.

Karena tepat benar berhadapan dengan penari itu, aku gugup mengambil rokok dari tamoto kimonoku. Penari itu segera mengambil tempat abu rokok dari depan seorang wanita kawannya, lalu meletakkannya di dekatku. Aku diam saja.

Penari itu kukira berumur tujuh belas tahun. Rambutnya diandam besar-besar secara model lama yang aneh bentuknya, sehingga aku pun tidak mengenal nama andaman itu. Andaman rambut itu membuat wajahnya yang berbentuk telur yang anggun itu nampak kecil tetapi menimbulkan keseimbangan yang indah. Ia nampak bagaikan lukisan gadis dalam roman sejarah yang rambutnya dengan sengaja digambar lebih besar. Kawan-kawan anggota rombongannya terdiri atas seorang perempuan yang berumur empat puluhan, dua orang perempuan muda, dan seorang laki-laki yang kira-kira berusia dua puluh lima atau dua puluh enam yang memakai hanten yang bertuliskan nama rumah penginapan di tempat pemandian air panas Nagaoka.

Sebelumnya aku pernah melihat rombongan penari ini dua kali. Yang pertama di dekat jembatan Yugawa, ketika aku sedang menuju ke Yugashima dan rombongan itu sedang menuju ke Shuzenji. Waktu itu dalam rombongan tersebut ada tiga orang wanita muda, dan penari itu menjinjing taiko. Aku berulang kali menoleh untuk memandang mereka dan pada waktu itu aku merasa sayu, perasaan yang biasa dialami oleh orang yang sedang dalam perjalanan jauh. Pada malam kedua aku di penginapan Yugashima, mereka datang di sana dan menyelenggarakan pertunjukan. Sambil duduk di atas tangga, aku asyik menontonnya menari di atas lantai papan dekat pintu masuk depan. Pada hari sebelumnya mereka menginap di Shuzenji dan malam itu mereka menginap di Yugashima, kukira keesokan harinya mereka pasti menuju ke arah Selatan ke tempat pemandian air panas Yugano dengan melalui puncak Amagi. Aku akan bisa mengejar mereka di tengah jalan gunung yang berliku-liku di sekitar Amagi. Dengan harapan seperti itu aku berjalan bergegas, tapi ternyata aku bertemu dengan mereka di warung teh, ketika berteduh dari hujan. Karena itulah aku gugup.

Tak lama kemudian wanita tua pelayan warung itu memimpinku ke bilik yang lain. Rupanya bilik itu jarang dipakai, serta terbuka ke berbagai arah. Ketika aku melihat ke arah bawah, maka nampaklah jurang indah yang dalam sekali, sehingga dasarnya tak dapat kucapai oleh pandanganku. Bulu romaku berdiri dan aku merasa gamang sedang gigiku gemeletuk. Kepada pelayan tua yang tadi datang membawa teh, aku berkata, dingin.

“Oh ya, Tuan basah kuyup. Silakan ke mari dan berdiang sebentar, keringkan pakaian tuan,” sambil berkata begitu perempuan itu mengajakku ke bilik duduknya, hampir menuntunku.

Di kamar itu ada perapian dan ketika kubuka shoji, menyergaplah udara panas dari api. Aku agak ragu-ragu berdiri di ambang. Di dekat perapian itu duduk bersila seorang tua yang badannya agak tembam seperti orang mati tenggelam. Dan dia mengarahkan matanya yang busuk menguning sampai pada hitam matanya dengan malas kepadaku. Di sekitarnya bertumpuk-tumpuk surat-surat tua dan kantung kertas dan di tengah-tengah tumpukan kertas itu ia nampak duduk terbenam. Aku tertegun melihat makhluk gunung ganjil yang duduk seperti tak bernyawa itu.

“Saya agak malu Tuan melihat tubuhnya yang memalukan, tapi saya harap Tuan jangan cemas karena ia adalah suami saya yang sudah tua. Mungkin tubuhnya menjijikan orang, tapi karena ia tak bisa bergerak sama sekali saya harap Tuan bisa memaafkannya.”

Begitulah dia minta maaf, lalu dia berbicara tentang suaminya itu, bahwa ia sudah lama lumpuh sehingga seluruh tubuhnya sudah kaku. Tumpukan kertas itu adalah surat-surat dari seluruh negeri yang memberi keterangan tentang penyakit lumpuh tersebut dan kantung-kantung kertas itu adalah bekas wadah obat. Si kakek tua itu kalau mendengar dari pelancong yang lewat di sana, atau melihat iklan dalam surat kabar tentang obat penyakitnya, selalu ia meminta keterangan tentang cara pengobatannya dan selalu membeli obat itu. Dan segala surat dan kantung obat itu tak satu pun dibuang, melainkan ditaruhnya di sekitarnya dan ia terus memandang tumpukan kertas tersebut. Dalam waktu yang sekian lama, akhirnya tumpukan kertas itu membentuk sebuah gunung.

Aku tidak tahu bagaimana menjawab si perempuan tua, melainkan hanya menunduk saja di dekat perapian. Terasa warung teh itu bergegar karena ada mobil yang lewat di jalan. Sekarang musim rontok, tapi udara sudah dingin dan mungkin tak lama lagi puncak ini akan ditutupi salju, tapi aku agak heran mengapa si kakek tidak turun dari sini. Dari pakaianku membubung uap dan nyala api itu kuat sekali sehingga kepalaku terasa pusing. Perempuan itu pergi ke depan dan berbicara dengan perempuan dalam rombongan anak wayang itu.

“Oh, begitu ya. Jadi sudah sebesar ini anak kecil yang dahulu kaubawa ya. Dia nampak baik dan kau beruntung sekali. Dia menjadi secantik ini. Anak gadis memang cepat menjadi besar.”

Kira-kira satu jam kemudian, terdengarlah suara-suara yang menandakan bahwa rombongan itu akan berangkat. Aku pun sebenarnya tak dapat berleha-leha tetapi merasa kikuk dan cemas sehingga tidak berani berdiri untuk pergi. Walaupun mereka sudah biasa berjalan, tapi mereka perempuan. Kalaupun aku ketinggalan satu atau setengah mil, aku akan dapat mengejar mereka dengan lari satu lintasan. Sambil berpikir begitu aku duduk di depan perapian dengan perasaan gelisah. Tetapi setelah rombongan itu berangkat lamunanku melonjak lebih bebas. Aku bertanya kepada pelayan tua yang melepas rombongan itu,

“Mereka menginap di mana malam ini?”

“Makhluk seperti itu tak pernah diketahui dimana akan menginap. Kalau ada peminat dimana saja mereka mau bermalam. Saya kira mereka tak punya rencana akan menginap dimana malam ini.”

Perkataan pelayan tua yang sangat menghina mereka itu, menyinggung perasaanku, sehingga aku sampai berpikir untuk mengundang mereka menginap di kamarku saja.

Hujan mulai tipis mereda, dan puncak-puncak gunung menjadi jelas kelihatan. Walaupun berulang-ulang ditahan oleh pelayan tua itu agar menunggu barang sepuluh menit lagi, kerena sepuluh menit lagi alam akan terang kembali, namun aku tak bisa duduk tenteram.

“Kakek tua, jagalah kesehatan karena udara mulai dingin!” sambil berkata demikian dari dalam hati yang tulus aku pun berdiri. Kakek itu mengangguk sedikit sambil mengejapkan matanya yang kuning seakan-akan pelupuk matanya itu berat sekali.

“Tuan! Tuan!” sambil berteriak demikian pelayan tua itu mengejarku. “Ini terlalu banyak. Maaf…”

Dia mengambil tasku, dan memeluknya seakan tak mau melepaskannya. Dan walau berkali-kali kutolak, ia tetap mau mengantarkan aku beberapa jauhnya. Maka sejauh kurang lebih seratus meter ia terus berlari-lari anjing mengikutiku sambil mengulangi kalimat-kalimatnya yang tadi.

“Ini terlalu banyak. Maaf…Tak saya layani Tuan secara layak. Saya akan selalu mengingat wajah Tuan. Kalau lain kali Tuan singgah, saya akan membalas kebaikan Tuan. Jangan lupa singgah kalau lain kali Tuan lewat di daerah ini. Saya tidak akan melupakan Tuan.”

Karena aku hanya memberinya sekeping logam lima puluh sen, aku merasa terharu sehingga terasa air mataku tergenang. Tetapi aku ingin mengejar rombongan penari itu, maka wanita tua yang terhuyung-huyung mengikutiku itu, terasa agak mengganggu. Ia terus mengikutiku sampai terowongan di puncak.

“Terima kasih, silahkan segera kembali, karena si kakek sendiri saja menunggu!” kataku kepada pelayan tua itu. Dan akhirnya dia menyerahkan tas itu kepadaku.

Begitu masuk terowongan yang gelap, tetesan-tetesan air yang dingin jatuh. Dan di depan, agak jauh, nampak terang mulut terowongan yang menuju ke arah Izu Selatan.

2
Dari tempat keluar terowongan itu terjulurlah jalan yang sebelah sisinya berpagar yang dicat putih, menurun bagaikan ular. Agak jauh di bawah, bagaikan dalam sebuah pemandangan buatan, nampaklah rombongan penari itu. Sebelum aku berjalan kira-kira enam ratus meter, mereka sudah terkejar. Tapi karena aku tak dapat begitu saja memperlambat jalanku, maka aku mendahului mereka seakan-akan tidak mempedulikannya. Laki-laki yang berjalan sekitar lima puluh langkah di depanku segera setelah melihatku, berhenti.

“Sungguh cepat Tuan berjalan. Untung juga cuaca sudah cerah kembali.”

Aku merasa lega dan mulai berjalan bersama dengan laki-laki itu. Ia tak henti-hentinya bertanya kepadaku tentang berbagai macam hal. Melihat kami bercakap-cakap, perempuan-perempuan dari rombongan itu berderap berlari mengejar kami.

Laki-laki itu menggendong sebuah yanagigori yang besar.

Perempuan yang berumur empat puluhan itu mendekap seekor anak anjing dan gadis yang paling tua menjinjing bungkusan dari kain dan gadis yang tengah membawa yanagigori juga. Mereka masing-masing membawa barang bawaan yang cukup besar. Gadis penari itu menggendong taiko dan penyangganya. Perempuan yang berumur empat puluhan itu juga mengajakku bicara sekali-sekali.

“Dia siswa SMA,” bisik anak gadis yang paling tua itu kepada si penari. Ketika aku menoleh kepadanya, ia berkata sambil tersenyum.

“Betul, ‘kan? Saya tahu hal itu. Ada juga siswa SMA yang datang ke pulau kami.”

Rombongan itu orang Habu, pelabuhan di pulau Oshima. Mereka berkata bahwa sejak meninggalkan pulau itu pada musim semi mereka terus mengembara, tapi sekarang udara sudah mulai dingin dan mereka tidak siap untuk menghadapi musim dingin, jadi setelah tinggal kira-kira sepuluh hari di Shimoda, mereka akan pulang ke kampungnya dari tempat pemandian air panas Ito. Ketika mendengar nama pulau Oshima, perasaanku menjadi tergerak. Aku memandangi lagi ambut penari itu yang indah. Aku menanyakan bermacam-macam hal tentang pulau Oshima.

“Banyak mahasiswa yang datang untuk berenang di Oshima, bukan?” kata penari itu kepada kawannya.

“Mungkin pada musim panas, ya,” kataku sambil menoleh kepada si penari. Si penari nampak gugup dan rupanya ia menyahut dalam suara kecil,

“Pada musim dingin juga….”

“Musim dingin juga?”

Si penari tersenyum memandang kepada kawannya.

“Bisa berenang di musim dingin juga?” tanyaku sekali lagi. Si penari mukanya merah padam dan mengangguk sedikit dengan wajah sungguh-sungguh.

“Tolol anak ini!” kata perempuan empat puluhan itu sambil tertawa.

Kami menempuh perjalanan kira-kira dua belas kilometer di jalan menurun sampai di Yugano sepanjang lembah sungai Kawazu. Setelah melewati puncak, warna gunung dan langit pun nampak seperti di daerah Selatan. Aku dan si laki-laki terus berbicara sehingga kami menjadi akrab. Melalui dusun-dusun yang kecil seperti Onigori dan Nashimoto, kami tiba di tempat dari mana nampak atap-atap jerami rumah Yugano di kaki gunung, lalu aku memberanikan diri berkata kepada si laki-laki bahwa aku akan menyertai mereka sampai Shimoda. Ia sangat gembira.

Ketika sampai di rumah penginapan yang sederhana di Yugano, perempuan empat puluhan itu berwajah mau berkata bahwa kami berpisah, tapi si laki-laki berbaik hati berkata,

“Tuan ini mau menyertai kita.”

“Ooo begitu. Dalam perjalanan lebih baik berkawan. Begitu juga dalam hidup, saling tolong-menolong. Mungkin Tuan akan dapat menghilangkan rasa jemu kalau bersama kami, walaupun kami hina. Silahkan naik dan beristirahat sebentar,” sahutnya dengan acuh tak acuh. Gadis-gadis itu serentak melihat kepadaku dan membisu dengan wajah tak peduli, tapi kemudian mereka jadi agak kemalu-maluan memandangku.

Kami sama-sama naik ke bilik tingkat dua dan meletakkan barang-barang. Tatami dan fusuma sudah usang dan kotor. Si penari membawa teh dari bawah. Ketika duduk di depanku wajahnya merah padam dan tangannya gemetar sehingga cangkir teh hampir jatuh dari alasnya, supaya jangan jatuh dia mau meletakkannya di atas tatami, tetapi tertumpah juga. Ia begitu kemalu-maluan sehingga aku sendiri merasa heran.

“Oh, sungguh menjengkelkan! Anak kecil ini rupanya sudah mulai tahu cinta. Bagaimana ini…?” demikian kata perempuan empat puluhan itu takjub sambil mengernyitkan kening, lalu dilemparkannya sehelai handuk. Handuk itu dipungut oleh si penari dan dipelnya tatami dengan perasaan kikuk.

Mendengar perkataannya yang sama sekali di luar dugaan aku jadi merenungi diriku sendiri. Harapanku untuk mengundang mereka dalam bilikku, seperti pernah timbul dalam hatiku ketika mendengar mereka diejek oleh pelayan tua itu, menjadi lenyap.

Sementara itu tiba-tiba perempuan empat puluhan berkata, “Bagus betul pakaian Tuan,” dan ia menatap padaku. “Corak kimono Tuan ini sama benar dengan pakaian anakku Tamizi. Betul ya, coraknya sama, ya?” demikian ia berkali-kali mendesak gadis di sampingnya supaya menyetujui perkataannya, lalu berkata kepadaku pula:

“Di kampung saya ada anakku yang masih bersekolah. Sekarang saya ingat kepadanya, karena corak kimono Tuan kebetulan sama dengan corak kimononya. Sekarang ini mahal sekali corak tenunan begitu. Jadi sangat susah, ya.”

“Sekolahnya di mana?”

“Sekarang dia duduk di kelas lima SD.”

“Oh, di kelas lima…”

“Ia bersekolah di Kofu. Walaupun sudah lama tinggal di Oshima, sebetulnya kami berasal dari Kofu di Kai.”

Sesudah beristirahat kira-kira satu jam, si laki-laki membawaku ke rumah penginapan yang lain. Tadinya aku mengira aku pun akan menginap di rumah penginapan yang sederhana itu bersama dengan mereka. Dari jalan besar kami menyimpang ke lorong berkerikil dan melalui tangga batu lalu berjalan menurun kira-kira seratus meter dan menyeberangi jembatan di samping tempat pemandian umum yang terletak di sebelah anak sungai. Di seberang jembatan itulah halaman penginapan.

Waktu aku mandi berendam dalam pemandian di dalam penginapan itu, datanglah si laki-laki. Dia bercerita bahwa umurnya dua puluh empat dan isterinya mengalami dua kali kematian anak karena keguguran dan karena lahir terlalu dini. Tadinya aku mengira ia orang tempat pemandian air panas Nagaoka, karena dia mengenakan pakaian yang memakai cap tempat itu. Dan karena wajahnya dan caranya bicara cukup terpelajar maka kukira ia suka tertarik kepada apa saja atau jatuh cinta kepada salah seorang gadis anggota rombongan itu, sehingga ia menggabungkan diri sambil membawakan barang-barangnya.

Segera sesudah mandi, aku makan siang. Aku berangkat dari Yugashima pukul delapan pagi, sedangkan waktu itu hampir pukul tiga.

Ketika mau pulang si laki-laki mengucapkan salam sambil menengadah dari halaman.

“Belilah kesemak, ini, maafkan saya melemparkannya dari tingkat atas,” kataku sambil melemparkan bungkusan uang. Dia menolak dan mau berjalan terus, tapi karena dilihatnya uang itu tergeletak di halaman, dia kembali lagi dan memungutnya dan melemparkannya kembali kepadaku sambil berkata,

“Tuan jangan begitu!”

Bungkusan itu jatuh di atas atap jerami. Kulemparkan sekali lagi, kali ini diterimanya dan dibawanya pulang.

Menjelang senja turun hujan lebat. Gunung-gunung yang jauh maupun yang dekat tak kelihatan bedanya, menjadi putih belaka. Air yang mengalir di anak sungai depan penginapan warnanya cepat saja menjadi kuning dan keruh, alirannya menjadi deras. Aku kira dalam hujan selebat itu rombongan penari itu takkan datang mengadakan pertunjukan, tapi aku tak bisa sabar hanya duduk-duduk saja sehingga sampai dua-tiga kali aku pergi mandi. Bilikku taram temaram. Sebuah lampu listrik tergantung pada kamoi menerangi dua buah bilik melalui fusuma penyekat yang dilubangi empat persegi.

Tung-tung-tung-tung…samar-samar kudengar bunyi taiko melalui suara hujan lebat. Aku menggeser pintu seolah-olah mencabiknya saja, lalu melongokan kepala. Bunyi taiko itu terdengar seolah-olah mendekat. Hujan dan angin menerpa kepala. Sambil memejamkan mata dan memasang telinga, aku ingin tahu mereka yang membawa taiko bagaimana bisa sampai ke sini melalui jalan mana. Tak lama kemudian terdengar bunyi shamisen. Juga teriakan perempuan yang panjang-panjang. Juga suara tawa beramai-ramai. Ternyata anak-anak wayang itu diminta mengadakan pertunjukan di ruangan tamu sebuah ryoriya yang terletak berhadapan dengan penginapan mereka. Sekarang dapat kubedakan suara wanita dua-tiga orang dengan suara laki-laki tiga-empat orang. Aku menunggu dengan harapan bila mereka sudah selesai mengadakan pertunjukan di sana, akan datang ke tempatku. Tapi rupanya minum-minum sake itu terlalu ramai sehingga boleh dikatakan ribut saja. Kadang-kadang terdengar pekik wanita membelah kegelapan malam seperti halilintar. Aku menajamkan sarafku dan tetap duduk dengan pintu terbuka. Setiap mendengar bunyi taiko itu, dadaku menjadi lega sedikit.

“Penari itu masih duduk di tempat minum-minum sake, sambil memukul taiko.”

Kalau bunyi taiko itu berhenti, aku merasa tak tahan. Seolah tenggelam ke dasar gemercik hujan.

Beberapa lama kemudian terdengar derap langkah, entah karena mereka berkejar-kejaran entah karena menari berputar-putar, lalu tiba-tiba berhenti dan suasana hening. Aku menajamkan mata. Aku mencoba melihat mengapa sebabnya maka suasana menjadi hening. Aku ingin melihat menembus gelap malam. Aku risau jangan-jangan si penari dinodai orang malam ini.


Bahkan setelah aku membaringkan diri di atas futon sesudah menutup pintu geser itu, dadaku tetap risau. Aku pergi mandi lagi. Dengan ganas aku mengaduk air panas. Hujan berhenti dan bulan terbit. Malam musim gugur yang dicuci oleh hujan menjadi terang sejernih-jernihnya. Aku kira aku takkan bisa berbuat apa-apa walaupun aku lari ke luar dari tempat mandi dengan kaki telanjang. Waktu sudah lewat jam dua.

Gadis Penjual Korek Api


oleh Hans Christian Andersen (penulis Denmark)

Hari itu amat sangat dingin, salju turun, dan hampir cukup gelap, dan malam – malam terakhir tahun ini. Dalam suasana dingin dan gelap ini, seorang gadis kecil yang malang sedang melangkah di sepanjang jalan, tanpa penutup kepala, dan dengan kaki telanjang. Ketika ia meninggalkan rumah ia masih mengenakan sandal, itu benar, tapi apa bagusnya itu? Itu adalah sepasang sandal yang sangat besar, milik ibunya dan sudah terlihat usang, sandal itu sangat besar, dan gadis kecil yang malang itu telah kehilangannya saat dia berusaha keras menyeberang jalan, karena ada dua kereta kuda yang meluncur dengan sangat cepat.

Satu sandal itu tidak bisa ditemukan, yang satunya lagi telah dibiarkan lepas untuk diambil oleh seekor landak, maka berlarilah landak itu dengan sandalnya, dia pikir sandal itu bisa menjadi tempat buaian yang sangat bagus sekali saat dia sudah memutuskan untuk mempunyai anak sendiri. Jadi gadis kecil itu berjalan dengan kaki mungilnya yang telanjang, yang telah terlihat cukup merah dan biru karena kedinginan. Dia membawa banyak sekali korek api yang dibungkus dengan celemek tuanya, dan dia memegang seikat di tangannya. Selama hidupnya tidak ada orang yang mau membeli satupun korek api darinya; tidak ada orang yang mau memberinya bahkan satu sen sekalipun.

Dia melangkah dengan gemetaran karena kedinginan dan kelaparan – suatu gambaran yang amat sangat menyedihkan, gadis kecil yang malang!

Serpihan-serpihan salju menutupi rambutnya yang cukup panjang, yang berderai mengikal dengan indahnya di sekitar lehernya, tetapi tentu saja, dia tidak pernah berpikir tentang itu sebelumnya dan baru sekaranglah dia menyadarinya. Dari semua jendela, lilin-lilin berkilauan, dan tercium aroma angsa panggang yang sangat lezat, agar kalian tahu saja, malam itu adalah Malam Tahun Baru, ya, barulah dia terpikir tentang itu.

Di sebuah sudut yang terbentuk oleh dua rumah, yang mana satu rumah terletak lebih maju dari yang satunya, dia duduk dan langsung meringkuk. Kaki kecilnya ia tarik agar dapat dekat padanya, tapi dia merasa semakin kedinginan dan kedinginan, dan dia tidak berani untuk pulang ke rumah, karena dia belum berhasil menjual satupun korek api dan tidak bisa membawa uang: dia pasti akan dipukuli oleh ayahnya, lagipula di rumah juga dingin, di atas rumahnya hanya ada atap dimana angin dapat berhembus masuk, walaupun celah terbesar di atapnya ditutup dengan jerami dan kain.

Tangan kecilnya hampir mati rasa karena dingin. Oh! Satu batang korek api mungkin dapat memberikannya sejuta kenyamanan, jika saja dia berani mengambil satu korek api dari bundelannya, menggosoknya ke dinding, dan menghangatkan jari-jarinya dengan itu. Dia menarik satu korek api. “Rischt!” berkobarlah apinya, sangat menyala! Itu adalah api yang hangat dan cerah, seperti lilin, sambil mendekatkan tangannya di atasnya: itu adalah cahaya yang indah. Apinya terasa sangat nyata bagi sang gadis kecil seolah-olah dia sedang duduk di depan tungku besi yang besar, dengan kaki yang terbuat dari kuningan mengkilap dan hiasan kuningan di atasnya. Api itu membakar dengan penuh berkah; terasa begitu hangat dan menyenangkan. Gadis kecil itu telah mengulurkan kedua kakinya untuk menghangatkannya juga, tetapi – api kecil itu padam, tungkunya lenyap: hanya ada sisa korek api yang telah terbakar habis di tangannya.

Dia mengusap satu korek lagi di dinding: korek itu menyala dengan terang, dan di mana cahaya itu dekat ke dinding, di sanalah dindingnya menjadi transparan seperti kerudung, sehingga ia bisa melihat ke dalam ruangan. Di atas meja itu terhampar taplak meja yang seputih salju, di atasnya terdapat hiasan porselen yang indah, dan angsa panggang yang mengepul dengan isian apel dan plum kering. Dan hal yang lebih bagus untuk dilihat adalah angsa panggang itu jatuh dari piring, terhuyung-huyung di sekitar lantai dengan pisau dan garpu masih menancap di dadanya, sampai itu berguling ke dekat gadis kecil yang malang, ketika korek apinya padam dan tidak ada lagi yang tersisa kecuali dinding yang tebal, dingin, dan lembab. Dia menyalakan korek yang lain. Sekarang dia sedang duduk di bawah pohon Natal yang paling indah: pohon itu masih lebih besar, dan lebih terhias daripada pohon yang dia lihat melalui pintu kaca di rumah pedagang kaya itu.

Ribuan cahaya menyala di cabang-cabang pohon yang hijau itu, dan gambar-gambar berwarna yang terlihat menyenangkan, seperti yang telah dia lihat di jendela-jendela toko, memandang rendah padanya. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya ke arah pohon itu ketika korek apinya padam. Cahaya dari pohon Natal naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, dia sekarang melihatnya seolah-olah seperti bintang di surga, satu per satu jatuh ke bawah dan membentuk jejak api yang panjang.

“Seseorang baru saja meninggal!” teriak gadis kecil itu, karena neneknya, satu-satunya orang yang mencintainya, dan sekarang sudah tidak ada lagi, telah mengatakan kepadanya bahwa ketika sebuah bintang jatuh, sebuah jiwa akan naik untuk menghadap Tuhan.

Dia menggosok korek yang lain ke dinding: sekali lagi itu bercahaya, dan dari kilauannya berdirilah neneknya, begitu cerah dan bercahaya, sangat berkilau, dan dengan perasaan penuh cinta.

“Nenek!” teriak gadis kecil itu. “Oh, bawa aku pergi bersamamu selama korek apinya masih menyala! Kau akan lenyap seperti kompor yang hangat, seperti angsa panggang yang lezat, dan seperti pohon Natal yang megah!” Dan dia segera mengusap seluruh korek apinya dengan cepat ke dinding, karena dia ingin memastikan untuk menjaga neneknya agar tetap di dekatnya. Dan korek-korek api itu memberikannya cahaya yang sangat cemerlang yang bahkan lebih terang daripada cahaya di siang hari: tidak pernah sebelumnya nenek itu terlihat begitu cantik dan tinggi. Dia mengambil gadis kecil itu di lengannya, dan keduanya terbang dalam kecerahan dan sukacita yang begitu tinggi, sangat tinggi, dan kemudian di atas mereka tidak merasa kedinginan, atau kelaparan, ataupun kecemasan – mereka sekarang sudah bersama Tuhan.


Tapi di sudut, pada saat fajar yang dingin, duduklah gadis yang malang, dengan pipi kemerahan dan dengan bibir yang tersenyum, bersandar di dinding – membeku sampai mati pada malam terakhir di tahun yang lama. Terbujur kaku bersama dengan korek apinya, yang mana satu bundelan telah dibakar. “Dia ingin menghangatkan diri,” kata orang-orang. Tidak ada yang memiliki kecurigaan sedikit pun mengenai hal indah apa yang telah dilihatnya, tak seorang pun pernah bermimpi tentang kemegahan di dalamnya, dimana dengan neneknya dia telah memasuki sukacita tahun baru.

Catatan Harian Ahmad Hasan


oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Radar Banten, 09 Mei 2010)

Sesekali saya tertawa sendiri bila kembali mengingat apa yang telah saya lakukan, betapa seorang lelaki yang hari-hari dan malam-malamnya akrab dengan buku-buku yang dibacanya tiba-tiba menjadi kikuk dan bodoh ketika hidup dalam dunia yang sebenarnya. Saya hanya bisa tersenyum dalam kesendirian bila mengingat kembali setiap detil tindakan yang saya lakukan. Sempat juga saya ragu apakah saya mesti menuliskannya ataukah tidak? Memang, selama beberapa hari sejak pertanyaan dan keinginan saya muncul, saya sempat merasa tak perlu menuliskannya.

Tapi akhirnya saya menuliskannya juga, entah karena motivasi dan alasan apa? Yang pasti, dan mungkin ini yang paling bisa dijadikan alasan, bahwa saya pernah juga memiliki pengalaman menjadi seorang lelaki bodoh dan gagal dalam hidup keseharian, hingga saya menuliskan cerita ini mungkin saja sebagai sebuah usaha untuk memaafkan diri saya sendiri.

Tentu saja saya tak lagi hapal semua detil pengalaman dan tindakan yang telah saya lakukan ketika berusaha untuk mendekatinya ketika itu. Semuanya saya lakukan begitu saja tanpa strategi dan pertimbangan yang matang, tak lebih tindakan kekanakkan yang tak sabaran, mengikuti begitu saja hasrat yang memerintahkan saya dengan spontan.

Ketika itu saya adalah seorang mahasiswa semester tiga di sebuah perguruan tinggi di Jakarta Selatan. Tentu seperti semua lelaki sebelum akhirnya jatuh cinta, saya mengenalnya tanpa perasaan apa pun. Ia seperti kebanyakan mahasiswi yang saya kenal pada umumnya, seorang perempuan sebagaimana perempuan lainnya yang saya pikir tak memiliki keistimewaan dan keunikan tersendiri. Salah seorang teman saya, sebutlah Z, yang pertama kali memperkenalkannya kepada saya. Ketika itu saya dingin saja memperkenalkan diri kepadanya, menyebutkan nama dan menjabat tangannya.

Seminggu setelah saya mengenalnya dalam situasi yang singkat dan tanpa sengaja itu, tanpa diduga saya pun bertemu kembali dengannya di sebuah acara diskusi para mahasiswa yang diselenggarakan di auditorium kampus. Kebetulan ketika itu saya duduk di barisan kursi yang bersebelahan dengannya, meski agak jauh. Entah alasan apa yang mendorong saya untuk sesekali mencuri pandang dan memperhatikan dirinya.

Pertama-tama saya perhatikan rambutnya yang terurai lurus hingga melewati pundaknya dan terlihat rapih di punggungnya. Saya amati bentuk tubuhnya yang padat dan tampak sedikit ramping, meski ia tak terlalu tinggi alias sedang-sedang saja. Dan setelah diskusi usai, saya segera beranjak dari kursi tempat saya duduk dan berpindah ke barisan sofa yang telah disediakan panitia diskusi di sudut auditorium itu, demi mengamati dirinya saat ia berjalan keluar.

Saya memperhatikan caranya berjalan, dan tentu saja gugusan rambutnya yang terurai di punggungnya yang sesekali bergerak-gerak karena hembusan angin di mendung dan teduh cuaca siang yang membuat saya tertarik. Tak lama kemudian ia telah menghilang setelah melewati pintu auditorium. Saya pun bangkit dari sofa tempat saya duduk dan berjalan menuju pintu auditorium demi mengetahui ke mana ia berjalan dan melangkah. Saya agak kaget ketika saya lihat seorang mahasiswa telah menggandeng tangan kirinya sembari saya dengar samar tawanya.

“Siapakah mahasiswa yang menggandengnya itu?”, gumam saya dalam hati. “Apakah mahasiswa itu pacarnya?”, tanpa sengaja saya telah terobsesi untuk mengetahui dirinya lebih jauh.

Waktu terus berjalan di saat saya hampir melupakan obsesi saya untuk mengetahuinya lebih jauh ketika saya melihatnya untuk yang kedua kalinya di auditorium itu. Tanpa saya ketahui tiga minggu kemudian ketika saya menjadi pemateri diskusi atas permintaan teman-teman mahasiswa kajian, ia hadir di ujung ruangan tempat saya berbicara menjadi pemateri. Saya baru tahu kehadiran dirinya setelah saya selesai berbicara dan menjelajahkan sepasang mata untuk memperhatikan audiens yang hadir.

Saat itu ia mengenakan baju kemeja berwarna hijau. Aneh juga saat itu, ia terlihat lebih cantik dari sebelum-sebelumnya. Saya ingat ketika itu, menurut perasaan saya, saya melihatnya tersenyum satu kali ke arah saya, dengan refleks saya pun membalas senyumannya.

“Saya mesti mendekati dan menyapanya setelah tugas menjadi pembicara ini usai”, bathin saya. “Saya mesti mengajaknya ngobrol barang sebentar saja”. Saat saya tahu ia hadir di diskusi yang salah seorang pembicaranya adalah saya itu, saya berusaha tampil maksimal dan menjawab pertanyaan-pertanyaan audiens yang hadir dengan sekuat pikiran dan pengetahuan yang saya miliki, demi mendapatkan perhatian dan simpatinya.

Demikianlah, pertanyaan demi pertanyaan berhasil saya jawab dan setiap orang yang bertanya saya pikir merasa puas, hingga akhirnya moderator menyatakan acara diskusi telah usai mengingat jam telah menunjukkan pukul 21.35. Betapa gembiranya perasaan saya ketika mendengar pernyataan moderator itu, karena saya ingin menyempatkan waktu untuk mendekati dan menyapanya. Saya pun segera berjalan ke arahnya dan tak mempedulikan mahasiswa-mahasiswi baru yang ingin berkenalan dan bersalaman dengan saya.

“Hai, apa kabarmu?”, tanya saya ketika saya berada persis di depannya. “Yah, seperti yang kamu lihat”, balasnya, “saya baik-baik saja”. “Saya tak menyangka kamu akan hadir di acara ini”, sambung saya, “Sekedar ingin tahu saja”, jawabnya, “siapa tahu saya mendapatkan masukan dan wawasan untuk tugas makalah kuliah” “Memangnya tugas apa?”, tanya saya. “Tugas mata kuliah Metodologi Studi Islam”, ujarnya. “Ehm, mungkin saya bisa membantumu”, kata saya padanya menawarkan diri, “jika kamu mau”. “Boleh, dan terimakasih”, balasnya.

Perkenalan dan obrolan yang tak begitu lama itu membuat perasaan saya bahagia. Ternyata ia seorang perempuan yang sopan, lembut, dan memiliki suara yang terdengar menenangkan dan berwibawa. Di akhir perbincangan singkat itulah saya berhasil meminta nomor telepon cellular-nya.

Sejak saat itu, saya semakin sering menghubunginya lewat telepon cellular sekedar menanyakan kabar dan mengajaknya ngobrol sebentar. Menanyakan apakah ia sudah mendapatkan buku-buku yang dibutuhkannya untuk mengerjakan paper tugas kuliahnya. Dengan terus-terang ia berkata bahwa jika saya memiliki buku-buku yang dibutuhkannya dan mau meminjamkannya, tentu ia tak perlu membelinya. Dengan tanpa ragu, segera saja saya jawab bahwa saya memiliki buku-buku yang diinginkannya itu, meski saya sebenarnya tak memiliki beberapa buku yang dibutuhkannya ketika itu. “Saya akan mengantarkannya ke tempatmu besok malam”, kata saya. “Saya tunggu yah”, balasnya.

Dalam gerimis itu saya tetap memaksakan diri untuk mendatangi tempat kosnya yang lumayan jauh saat saya tempuh dengan jalan kaki. Malangnya saya, sesampainya di kosnya, ia ternyata sedang tak ada. Saya pun menunggu selama setengah jam sebelum akhirnya ia datang bersama seorang mahasiswa yang segera berpamitan ketika ia melihat dan memandang saya sejenak.

Saya memang tak memiliki keinginan untuk berkenalan dengan mahasiswa yang mengantarkannya itu. Saya ingat-ingat ternyata mahasiswa itu adalah juga lelaki yang menggandeng tangannya selepas diskusi di auditorium kampus yang telah saya ceritakan sebelumnya. Saya kembali didera penasaran dan rasa ingin tahu meski tak berani saya tanyakan kepadanya, khawatir membuatnya tak nyaman.

Ia mempersilahkan saya duduk di kursi depan kosnya selama ia membersihkan badan dan berganti pakaian. Jam di tangan saya telah menunjukkan pukul 20.15, yang berarti saya telah duduk dan menunggunya selama 15 menit selama ia belum keluar. Saya merasa terpesona saat ia keluar dengan rambut yang masih basah dan kuyup malam itu. Ia terlihat sangat cantik dengan senyumnya yang tipis. Apalagi saat itu ia hanya mengenakan t-shirt dan celana pendek hingga memperlihatkan terang sebagian dadanya dan kelembutan bulu-bulu kakinya yang ramping.

“Gimana, saya cantik kan?”, tanyanya yang bagi saya terasa lebih mirip sedang menggoda. “Yah”, jawab saya yang sedikit malu-malu. Mendengar jawaban saya itu ia pun kembali tersenyum.

Sejak kunjungan saya yang pertama kali ke tempatnya itu, pelan-pelan saya sadar bahwa menjadi seorang mahasiswa tak sekedar membaca buku-buku yang saya sukai, tapi juga memperjuangkan apa yang diinginkan perasaan saya untuk bisa lebih dekat pada seseorang yang membuat saya bahagia dan merasakan kesenangan hidup. “Ini bukan semata masalah seberapa banyak uang yang saya miliki”, dalih saya, “tapi lebih dari itu, ini soal bagaimana saya harus jujur pada apa yang saya rasakan sebagai seorang lelaki”. Maklumlah, dalih itu menjadi alasan dan motivasi saya untuk meyakinkan diri sebagai seorang lelaki yang koceknya pas-pasan dibandingkan teman-teman saya.

Saya pun semakin sering datang ke kosnya, meski kadangkala ia tak ada. Awalnya satu dua kali saya menganggap itu hal biasa, karena menurut prasangka saya mungkin saja ia menjalani kesibukan di luar jadwal kuliah, hingga saya berusaha untuk tak memikirkannya. Saya tidak menyerah, dan kembali mendatangi kosnya di hari Minggu berikutnya, ia kembali tak ada. Perasaan saya mulai bimbang dan merasa curiga ketika ketakhadirannya di setiap hari Minggu semakin sering.

“Apakah ia sengaja menghindari saya?”, tanya saya membathin. Meski saya terus berusaha menenangkan diri, sebenarnya saya mulai berpikir macam-macam dan kehilangan kepercayaan diri seorang lelaki yang sedang jatuh cinta pada seorang perempuan yang mulanya dianggap biasa.

Saya memang hanya bisa tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat semua yang saya lakukan demi mendekatinya ketika itu tanpa pernah menyerah, meski selama tiga tahun saya hanya bermain-main dengan kebodohan dan ketidakdewasaan saya yang melawan kenyataan. Mungkin juga saya terlalu percaya diri hingga lupa untuk mengetahui setiap lelaki yang juga berusaha mendekatinya.

“Semuanya telah siap”, gumam saya ketika itu, “saya akan berkata terus terang kepadanya”. Sebenarnya saya hanya menipu diri untuk berusaha menjadi seorang lelaki yang sangat percaya diri demi menutupi kegugupan saya sendiri yang baru kali itu memberanikan diri untuk mengungkapkan unek-unek yang sudah terlalu lama saya pendam dalam hati. Tentu saja itu juga lebih merupakan kekonyolan seorang lelaki yang hanya mendengarkan suara-suara monolog yang membujuknya hingga menganggap remeh pertimbangan dan cara-cara yang tepat dan wajar seperti yang dilakukan kebanyakan teman-teman mahasiswa saya.

Benar saja. Ia malah menertawakan ketololan saya yang awalnya saya anggap sebagai keberanian seorang lelaki untuk mengungkapkan perasaannya kepada seorang perempuan yang diinginkannya.

“Gimana yah, begini saja”, ucapnya ketika itu, “saya terlanjur menganggapmu hanya sebagai teman dan saya tak mesti menjawab semua yang kamu katakan kepada saya”, lanjutnya. Tentu saja apa yang dikatakannya itu semakin membuat saya terlihat bodoh, kikuk, dan tak lagi sanggup mengucapkan satu kata pun.

“Kamu kan tahu”, sambungnya, “bahwa saya sudah punya pacar”. Saat itu saya hanya membayangkan seorang lelaki yang ia maksud adalah mahasiswa yang saya lihat menggandeng tangannya selepas diskusi itu dan yang mengantarkannya ketika saya berkunjung ke kosnya dua tahun sebelumnya. Dalam keadaan gundah itu saya pun berpamitan dan meninggalkannya yang masih duduk di kursi depan kosnya. “Ah, mungkin saja ia belum siap menjawabnya”, kata saya dalam hati berusaha menghibur diri. “Di waktu yang akan datang, saya akan mencoba mendekatinya dengan cara yang lebih baik lagi”.

Tapi tanpa saya niatkan, ternyata yang terjadi kemudian adalah sebaliknya, saya tak mendekatinya selama dua bulan lebih sejak saya menyatakan perasaan saya kepadanya. Saya malah berusaha melakukan pelarian-pelarian dengan jalan kembali mengurung diri dalam kamar saya dan membaca lagi buku-buku yang saya sukai sembari mendengarkan musik-musik jazz dan klasik yang saya gemari.

Kadang bila saya bosan, keinginan untuk kembali mengunjunginya muncul begitu saja meski dengan sekuat pikiran dan perasaan selalu saya lawan. Sekali dua kali saya memang berhasil untuk menahan diri, hingga dua bulan kemudian keinginan-keinginan tersebut tak lagi sanggup saya lawan dan saya tahan. Malam itu pun saya mengenakan pakaian terbaik saya, menutup pintu dan berjalan keluar menuju kosnya. Hasilnya tidak seperti yang saya harapkan dan yang saya inginkan, ia tak ada di kosnya.

“Mungkin saja ia tengah makan malam”, bathin saya menghibur diri, “karena itu ada baiknya saya menunggu dan duduk di kursi ini”.

Selama satu jam lebih saya menunggu di depan kosnya, tapi ia tak juga datang. “Apakah ia sedang malam mingguan dengan pacarnya?”, tanya saya dalam hati. Saya pun bangkit dari kursi itu dan berjalan meninggalkan kosnya. Ketika itu saya memutuskan untuk mengunjungi kosan teman saya. Alangkah kagetnya saya, sesampainya di kosan teman saya yang saya tuju, ternyata ia ada di kamar teman saya.

Bodohnya saya yang tak mengetuk pintu kamar kosan teman saya dan langsung membukanya, hingga dengan kedua mata saya sendiri melihatnya tengah bermesraan dengan teman saya itu. Saat itu saya hanya terkesima sebentar sebelum saya langsung berjalan dengan tergesa meninggalkan mereka berdua yang saya pikir belum sempat melihat dan mengetahui bahwa yang datang dan membuka pintu kamar barang sekilas itu adalah saya.

Ilustrasi: Keira Knightley sebagai Anna Karenina.