Tampilkan postingan dengan label Otobiografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Otobiografi. Tampilkan semua postingan

Catatan Harian Ahmad Hasan Bagian Kedua oleh Sulaiman Djaya (2002)



Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku mendatangi orang-orang di kawasan yang bisa dibilang kumuh, rumah-rumah di kawasan Jakarta Utara yang dipenuhi bau-bau tak sedap. Aku sedikit heran bagaimana orang-orang itu bisa kerasan untuk menetap dan tinggal di kawasan tersebut. Kebanyakan dari mereka bekerja dan mendapatkan pendapatan keseharian mereka dari ikan-ikan yang mereka tangkap dan yang mereka jual, sebagian dari mereka mengeringkan ikan-ikan itu dengan alat-alat yang terbuat dari bambu. Kawasan itu mengingatkanku pada lingkungan dua temanku ketika aku masih bersekolah di sekolah menengah atas. Dua temanku itu tinggal di Kampung Gusti di kawasan Teluk Gong, yang kebanyakan orang-orangnya melakukan pekerjaan yang tak jauh berbeda dengan orang-orang di kawasan Kamal di mana aku menghabiskan pagi hingga soreku untuk mewawancarai mereka.

Bau tak sedap di kawasan-kawasan itu semakin menjadi-jadi di musim-musim hujan, sesuatu yang sangat jauh berbeda dengan tempat di mana aku dilahirkan, di mana hujan dengan riang dan bebas mencandai pepohonan dan jalan-jalan tanpa mesti melahirkan bau-bau tak sedap yang membuat kepala terasa pusing dan pening di saat badanku penuh dengan keringat.

Memang, ada rasa puas melakukan pekerjaan yang membuatku bisa bertatap muka dan berbincang dengan orang-orang dari beragam latar belakang dan keadaan. Tapi haruslah kuakui, ada juga rasa bosannya ketika aku harus berjuang dengan kemacetan atau karena keringat yang membasahi bajuku akibat cuaca yang menyengat. Belum lagi kalau aku harus menunggu dan bengong sendirian untuk menunggu angkutan yang akan mengantarkanku ke tempat di mana aku harus melakukan wawancara. Seperti ketika aku duduk di halte, yang meski aku tidak sendirian, orang-orang di halte takkan memberikan obrolan karena mereka memang orang-orang yang tak mengenalku. Di saat-saat seperti itu, rasa asing dan jenuh acapkali menyerangku tiba-tiba.

Halte bagiku sebuah tempat yang begitu akrab sekaligus acapkali membuatku merasa asing dan kesepian. Aku tak suka menghabiskan waktu hanya untuk menunggu. Terlebih bila itu kulakukan di waktu-waktu malam di saat lalulang dan laju lalu-lintas seringkali membuatku was-was, bosan, dan membuat kepalaku terserang berat. Meskipun demikian, aku selalu berusaha untuk menenangkan hati dan pikiranku. Contohnya dengan cara berusaha mengakrabi lampu-lampu dan sesekali memandangi langit malam sebelum bus yang kutunggu melintas dan berhenti menawarkan jasa tumpangannya.

Sementara itu, sebuah kota dalam pengalaman hidupku adalah sebuah keresahan bagi seorang lelaki yang sensitif dan mudah berubah suasana hatinya. Tapi bukan berarti ia tak memberiku kebahagiaan. Sebab banyak sekali pelajaran yang diberikannya kepadaku tentang orang-orang yang tabah dan begitu pandainya menyembunyikan kegundahan dan keresahan mereka dengan wajah dan penampilan mereka, yang setidak-tidaknya telah mengajarkanku sesuatu yang lain lagi, bahwa apa yang kurasakan tak mesti diketahui oleh orang lain. Tentang bagaimana orang-orang memperjuangkan hidup mereka dalam kemacetan dan keriuhan di saat cuaca mudah memancing keringat mengucur deras.

Ketika hendak mengunjungi rumah orang-orang yang akan kuwawancarai, aku lebih suka berjalan kaki saja sambil sesekali menanyakan alamat orang-orang yang akan kuwawancarai pada orang-orang yang kupikir tahu dan akan menjawabnya dengan jujur seperti kepada para pemilik warung yang berada di kawasan tempat tinggal orang-orang yang akan kuwawancarai. Ada banyak sekali yang kudapatkan ketika aku mewawancarai orang-orang. Sedikit-banyaknya rasa empatiku terasah pelan-pelan bahwa ada sisi lain kehidupan yang tetap bisa memberikan kehangatan ketika kita mendekati dan mengakrabinya dengan perbincangan. Karena itu, aku tak sepenuhnya taat pada pertanyaan-pertanyaan yang telah disediakan oleh lembar-lembar kuesioner yang memang agak tebal.

Sesekali aku menghentikan wawancaraku dengan menyelinginya dengan pura-pura bertanya sesuatu yang tak berkaitan dengan survey, melainkan sesuatu yang ada kaitannya dengan hal-hal remeh yang kupikir diminati atau dialami orang yang tengah kuwawancarai. Sesekali dengan sedikit canda agar tercipta sedikit keakraban dan mengenyahkan kekakuan atau ketegangan dari sikap-sikap yang terlalu formal.

Dari pengalaman dan pekerjaanku itu, aku mendapatkan banyak sekali perbandingan tentang apa dan bagaimana orang-orang memilih dan menjalani hidupnya. Tentang cara mereka menyikapinya dan menerimanya sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman yang mereka dapatkan. Sebagiannya hanya melakukan yang sudah dilakukannya tanpa pernah berpikir untuk beralih pada pekerjaan atau kemungkinan lain yang mungkin saja bisa mereka lakukan. Menjumpai dan menghadapi orang-orang seperti itu, aku selalu berusaha sebisa mungkin untuk sanggup menjelmakan diriku sebagai orang yang ramah dan pura-pura peduli pada mereka. Aku mesti menjadi seseorang yang seakan-akan sanggup bersikap akrab dalam situasi apa pun dan kapan pun. Sesuatu yang tentu saja sangat berbeda ketika aku tengah menikmati kesendirianku di dalam kamar atau di ruang belajar sambil mendengarkan musik-musik yang kusukai.

Demikianlah, di halte di mana aku sendiri duduk dan menunggu bus yang akan kunaiki dan kumasuki, lalu duduk kembali, aku selalu saja heran sekaligus kagum bila melihat orang-orang yang menunggu bus atau pun angkutan yang akan mereka tumpangi setiap hari di waktu pagi, siang, dan sore. Tidakkah rutinitas yang mereka lakukan itu membutuhkan ketabahan tersendiri untuk senantiasa mengenyahkan rasa was-was dan gundah yang menurutku selalu mereka rasakan dan mereka pendam dengan kecakapan dan keterampilan yang telah mereka latih setiap hari.

Di halte atau pun di trotoar, di mana orang-orang duduk menunggu, yang sebagiannya berdiri, aku dapat melihat bagaimana hanya orang-orang yang berpasangan saja yang sesekali berbicara satu sama lain seperti sepasang remaja atau sepasang suami istri yang tengah bepergian bersama. Selebihnya hanya orang-orang yang diam, tak menyapa satu sama lain. Ada yang setia berdiri mengarahkan pandangannya ke arah jalan. Ada yang sesekali tertunduk. Ada juga yang berbicara pada handphone-nya. Bahkan keasikan mereka dengan keadaan mereka masing-masing yang membuat mereka tak menganggap keberadaan si gelandangan telanjang yang tak jauh dari halte di mana aku dan mereka duduk. Si gelandangan yang kadang tertawa dan tersenyum sendiri, yang juga bergerak-gerak dan bertingkah dalam keasikannya sendiri.

Aku tak tahu dunia apa yang ada di benak dan yang tengah dialami si gelandangan, yang sebenarnya membuatku cemburu dengan kebebasan dan keasikannya itu. Keasikan yang seakan-akan hanya dirinya saja yang ia anggap ada. Sebentuk keacuhan dan ketakpedulian yang membuatku merasa aneh sekaligus merasa kagum. Tiba-tiba aku tertarik dengan perempuan gelandangan yang mengapit gayung dengan ketiaknya dan memegang piring dan gelas plastik kosong dengan tangan kanannya.

Si perempuan gelandangan itu berdiri dan bergerak-gerak tak jauh dari halte di mana aku duduk menunggu bus. Kadang-kadang ia berusaha menyapa orang-orang yang lewat di depannya, lalulalang yang tentu saja tak menghiraukannya. Aku terus berusaha menerka-nerka apa gerangan yang ada dalam benak dan pikirannya. Apa makna gayung, piring, dan gelas plastik dalam kehidupannya. Meski aku tak sanggup mengetahui jawabannya dan mungkin hanya ia sendiri yang mengerti dan mengalaminya. Sementara itu, decit ban dan roda-roda yang berputar cepat seolah terus terlempar ke arahku yang tengah duduk memandangi dan merenungi dirinya yang membuatku heran dan penasaran kenapa ia seakan-akan tak mempedulikan dirinya dan terus menggoda orang-orang yang berjalan dan melintas di depannya. Sesekali ia bergeser dan berpindah beberapa meter dari tempat ia berdiri semula.

Tanpa kusadari, aku merasa ingin mengetahui lebih dekat sekaligus merasa terhibur dengan apa yang dilakukannya itu ketika bus yang kutunggu belum juga datang, malah terjadi kemacetan yang cukup panjang di depanku. Diam-diam aku selalu merenung di mana pun aku berada, seperti ketika aku duduk di halte demi menunggu bus yang akan kutumpangi. Mungkin itu semua sudah merupakan pembawaan bathinku yang tiba-tiba tertarik dengan keadaan dan apa yang dapat dijangkau oleh pandangan kedua mataku demi mencari sekian pengalih perhatian dari rasa was-was dan kegundahanku sendiri. Bahwa apa yang kulakukan untuk bersikap intim dan akrab pada sesuatu yang lain pun tak lepas dari motif dan kepentinganku sendiri untuk menghindari rasa tak nyaman dan penderitaan-penderitaan kecil yang kualami setiap kali aku melakukan aktivitas di kota yang setiap hari selalu menyuguhkan kemacetan. 

Kunang-Kunang



Kunang-Kunang adalah sebuah pertanda tentang kesunyian yang bahagia di kala malam, cahaya-cahaya mungil yang memecah keheningan dan kegelapan, meski tak semua Kunang-Kunang memiliki cahaya di tubuh mereka. Sahabat-sahabat masa kanak dan masa remajaku itu kini tak lagi kujumpai ketika aku telah menjadi lelaki dewasa, sejak deru dan bising mesin menjadi bagian dari kehidupan keseharian, dan cerobong-cerobong asap industri telah mengotori udara, dan mereka pun kini hanya tinggal ingatan dan kenangan saja.

Namun ada masa-masa ketika aku setia menanti kedatangan dan kehadiran mereka di kala magrib dan isya menjelma menjadi keheningan yang kental. Aku berdiri di depan pintu dan mengarahkan kedua mataku ke arah jalan yang berdempetan dengan sungai, yang seakan saling menenggelamkan diri dalam kesunyian, dalam kebisuan yang senyap yang memanen keakraban yang tak kupahami dalam kebisuan mereka –di masa-masa ketika belum ada lampu-lampu bohlam dan neon seperti sekarang.

Kadang aku memandangi mereka dari pintu dapur, dan mereka kulihat berkerumun di atas pematang-pematang sawah, di antara lalang dan pohon-pohon yang berselimutkan kegelapan.

Aku selalu  menyukai cara mereka berpindah-pindah tempat di setiap malam, seakan ingin mempermainkanku yang memang selalu bahagia dengan kehadiran mereka di saat malam, di saat aku merasa kesepian sebagai bocah dan lelaki remaja yang tak memiliki penghiburan di pedesaan.

Barangkali, pada saat itu, mereka sedang mengajariku secara langsung untuk bersikap intim kepada apa yang ada dan hadir di sekitar keberadaanku. Katakanlah sebuah tamsil untuk direnungkan –tapi itu kesadaran yang baru kumengerti saat ini, bukan saat itu, sebuah kesadaran post factum yang terpikirkan kemudian, setelah kenyataan dan peristiwa hanya sekedar menjadi ingatan dan kenangan yang berusaha direkonstruksi ulang menjadi fiksi dan diari.

Adakalanya mereka hadir selepas hujan senja pergi ke balik malam, dan seolah-olah mereka ingin menerangi hamparan kegelapan yang dingin dengan cahaya-cahaya foton di tubuh mereka, yang bagiku tampak berkelap-kelip seperti tebaran-tebaran bintang di angkasa nun jauh di atas kepalaku yang gaib bila selepas hujan mengguyur rumah, halaman, dan pematang-pematang sawah, juga pohon-pohon dan lalang-lalang liar.

Mereka memberiku sensasi dan pencerapan keindahan bagi kedua mataku dan bagi sepi juga sunyi hatiku yang acapkali dilanda rasa jenuh dan bosan yang hadir dan datang tanpa kuduga, bagi seorang bocah dan remaja yang hidup di pedesaan yang tak memiliki banyak aktivitas di waktu malam selain mengerjakan PR yang diberikan oleh guru-guruku di sekolah. Aku jenuh dan bosan bila hanya bertemankan selampu minyak di meja belajarku, dan karena itulah aku akan membuka pintu dan menanti kedatangan mereka.

Kupikir di masa-masa itu ibuku paham, dan karenanya ibuku hanya bisa membiarkanku berdiri cukup lama di depan pintu untuk memandang dan merenungi mereka. Kadangkala aku berjalan keluar ke dekat kebun, di dekat tanaman Rosella yang ditanam dan dirawat ibuku di belakang dan di samping rumah atau ke halaman di depan rumah, tergantung di mana ketika itu mereka berada dengan cahaya-cahaya di tubuh mereka yang mungil, lembut dan terang itu, agar aku dapat melihat mereka dari dekat.

Dan pernah suatu kali seekor kunang-kunang mendekatiku, hinggap di pundakku, yang tak ayal lagi membuatku menjadi bahagia dan merasa akrab dan intim karenanya. Kebahagiaan dan kegembiraan yang hanya kumengerti ketika itu.

Aku kira keintiman dan keakrabanku secara bathin dengan mereka memang tak lain sebuah ikhtiar untuk memerangi kesepian dan kesunyianku sendiri sebagai seorang bocah dan lelaki remaja di masa-masa itu. Aku intim dan akrab dengan mereka sebelum perangkat tekhnologi informasi dan internet atau perangkat-perangkat gadget merebut keintimanku pada alam dan kesekitaran keseharian yang polos dan bersahaja. Aku tak hendak memberikan penilaian atau tuduhan, hanya saja memang, relung-relung bathinku terasa bebal, seperti kehilangan kepekaan dan keakraban yang tulus dan jujur sejak tak lagi bercengkerama dan mengintimi mereka.

Mungkin kau akan menganggapku berlebihan dan mengada-ada ketika aku mengatakan hal ini, tetapi tidak, karena aku bicara apa adanya, sebagai seseorang yang bertahun-tahun hidup di pedesaan yang sepi dan tak mengenal hingar-bingar kehidupan kota. Di masa-masa ketika deru dan bising mesin belum menjadi keseharian kehidupan seperti sekarang ini.

Memang, aku tak hanya merasa akrab dengan Kunang-Kunang, sebab di waktu pagi, siang, dan di kala senja, aku juga acapkali mendapatkan rasa nyaman ketika memandangi kerumunan para Capung yang menggetarkan sayap-sayap mereka dengan samar, namun keindahan Kunang-Kunang karena mereka memiliki cahaya mungil yang terang di tubuh-tubuh mereka, cahaya yang bagiku terlihat lembut dan puitik, yang seperti telah kukatakan, mirip tebaran bintang-bintang di angkasa malam yang jauh, dan karena itulah Kunang-Kunang adalah bintang-bintang yang hadir di Bumi –setidak-tidaknya bagiku.

Ingatan dan kenanganku tentang mereka hadir kepadaku saat hujan bulan Juni kali ini mericik sedari senja hingga malam –hingga ketika aku menulis diariku ini. Ingatan dan kenangan yang datang dan hadir secara tiba-tiba begitu saja –barangkali ingatan dan kenangan yang lahir dari rahim kesepian dan kesunyian yang beranak-pinak di hatiku ini [Sulaiman Djaya


Kesunyian yang Bergembira


Bagi banyak orang, Januari tentu saja adalah bulan keriangan, terutama bagi mereka yang menyambut dan merayakannya. Tapi itu tidak sama dengan kami. Sejujurnya kami tak pernah tahu bila ada orang-orang yang menyalakan kembang api di tengah malam di ujung bulan Desember. Saya hanya tahu bahwa di saat saya terbangun pagi-pagi sekali di awal bulan itu, saya hanya keluar sejenak. Mungkin ketika itu saya terpesona, meski masih seorang kanak-kanak, saat tangan-tangan fajar menyentuh rumput dan daun-daun yang masih basah karena embun. Menyentuh hidup.

Itulah saat-saat saya sungguh-sungguh terjaga, entah saya duduk atau berdiri kala itu. Mengelanakan kedua mata ke arah cuaca. Sementara, ketika saya telah menjadi seorang lelaki remaja, di pagi-pagi seperti itu saya akan menyeduh segelas kopi dari bubuk kopi buatan Ibu, agar sedikit merasa nyaman saat duduk di gubuk, menunggu burung-burung Januari yang kami khawatirkan akan datang menyerbu.

Pada saat-saat seperti itulah, saya sadar bahwa ada yang tengah termenung, ada yang begitu riang berlarian seperti kanak-kanak yang bahagia. Juga, ada yang tengah merapihkan diri dan ada yang bermain-main saja. Tetapi itu semua saya namakan sebagai tangan-tangan fajar yang riang bermain dan bercanda dengan burung-burung awal bulan Januari yang basah dan lembab saat saya tengah terduduk di sebuah gubuk tempat saya termenung dan menunggu.

Itulah keriangan Januari yang kami pahami dan kami alami. Keriangan yang juga datang ketika kami meninggalkan tahun sebelumnya, meski saya kira, ketika itu segala sesuatunya masih tetap sama dan tidak berubah. Kami masih menjalani hidup dengan menginjakkan kaki-kaki kami di lumpur dan meremas batang-batang padi ketika memukul-mukulkan ujung-ujung pohonnya yang bergelantungan bijian-bijian berwarna kuning pada sebuah alat yang kami sebut gelebotan. Setelahnya, seperti biasa, ada keheningan senjakala.

Burung-burung Januari saat itu, seperti sebuah karnaval yang melintasi bentangan kanvas-kanvas langit dan cakrawala yang berwarna kuning dan merah. Di hari-hari yang lain, bila kami telah selesai membantu orang tua-orang tua kami itu, kami akan bermain layang-layang hingga adzan magrib berkumandang. Dan pada malam harinya, selepas sembahyang magrib itu, kami akan membawa lampu minyak milik kami masing-masing menuju sebuah langgar tempat kami belajar Al-Qur’an kepada ustadz kami yang terbilang galak.

Seperti itulah rutinitas kami sebagai kanak-kanak sebelum akhirnya saya belajar dan mengerjakan tugas sekolah di rumah, juga bertemankan semungil nyala lampu minyak yang telah dinyalakan Ibu. Tidak seperti sekarang ini, musik-musik malam saya ketika itu adalah desau angin yang datang dari ranting-ranting dan sela-sela dedaunan sepanjang sungai, juga para katak dan serangga yang tak bosan-bosan memainkan orkhestra mereka.

Saya tak sepenuhnya mengerti apa yang saya sebut sebagai ingatan. Tetapi, dengan keterserakannya, dengan potongan-potongan dan serpihan-serpihannya, mereka justru memberikan kesempatan dan kebebasan pada seseorang untuk mengumpulkannya dan merangkainya menjadi sebuah narasi yang tidak mesti sama dengan peristiwa-peristiwa sesungguhnya. Saya tergoda untuk menyebutnya sebagai historiografi angan-angan. Karena mereka semua tak lebih sejumlah jejak yang samar. Ketika sebuah tulisan yang ingin menceritakannya tak ubahnya warna-warna pada sebuah kanvas.

Historiografi angan-angan dituliskan dan digambar dari keakraban kita dengan cuaca, angin, cahaya, tanah, dan sudut-sudut langit yang pernah kita tinggali dan kita akrabi dengan bathin kita. Seperti ketika Giovanni Segantini menggambar dan melukis Saint Moritz. Di mana ia menumpahkan kerinduan dan kesepian bathinnya sebagai seorang lelaki. Atau, katakanlah, ingatan itu seperti ketika seseorang memandangi warna-warna dan figur-figur yang tercerai-berai di sudut-sudut kanvas, sobekan-sobekan cahaya yang justru memberi kesempatan pada kita untuk menyusun dan menambalnya dengan angan-angan kita sendiri.

Tetapi saya, kadang akan memahaminya seperti seorang perempuan belia yang merendam separuh tubuhnya di sebuah sungai di kala senja.

Entah ini tercela ataukah tidak, kadang-kadang saya mengumpamakan salah-satu pengalaman di masa kanak-kanak seperti salah-satu figur dalam lukisan impresionistik, di mana ketika saya menuliskannya tidak berarti saya menulis tentang diri saya sendiri, melainkan tentang ingatan itu sendiri. Atau biarlah saya umpamakan ingatan itu seperti sebuah samar figur di antara desir angin dan gemerisik lembut dedaunan. Atau seperti seorang bocah yang berjalan telanjang kaki sendirian di bawah barisan rindang pepohononan senjahari. Seorang bocah yang menyusuri setapak jalan sepanjang aliran sungai.

Tetapi yang pasti, di waktu-waktu sorehari di 20 tahunan silam, saya suka sekali memandangi capung-capung selepas hujan. Getaran-getaran sayap mereka yang hampir tak terlihat seakan-akan mengajarkan saya tentang kegembiraan. Mereka membentuk gerakan-gerakan yang mirip gelombang-gelombang kecil, gelombang-gelombang yang meliuk di atas semak belukar, rumput-rumput, dan ilalang, di saat buih-buih masih berjatuhan dan beterbangan.

Pada saat-saat seperti itu, mereka seakan-akan asik bercanda dengan hembus angin dan lembab cuaca. Sementara itu, di barisan pohon-pohon, masih terdengar kicau burung-burung yang merasa kedinginan. Dingin yang tentu saja meresap pada bulu-bulu mereka. Dan saya sendiri, ketika itu, duduk di bawah rimbun pepohonan bambu pinggir sungai kecil yang airnya mengaliri sawah-sawah.

Anggaplah ketika itu, saya memang sudah jatuh cinta pada kebisuan dan kesenduan alam, yang pada akhirnya menggambar dan melukis kesenduan hidup itu sendiri. Kebisuan dan kesenduan yang memberi kedamaian yang aneh. Kedamaian yang merupakan keheningan musim yang basah dengan gerak-gerak yang samar dalam pandangan kedua mata saya sendiri sebagai seorang bocah yang hendak beranjak menjadi lelaki remaja.

Tentulah di saat-saat seperti itu, matahari sudah merasa terlambat untuk menampakkan diri. Di saat malam datang lebih awal. Kesunyian-kesunyian seperti itu pada akhirnya sangat berpengaruh pada keadaan bathin. Keadaan bathin yang mudah tersulut oleh kondisi-kondisi yang mendorong saya untuk mencipta dunia-dunia khayalan.

Di saat-saat seperti itu, sudut-sudut langit dan pematang-pematang sawah lebih mirip figur-figur bisu. Dan saya sendiri, bila dilihat dari sudut pandang orang lain lagi, merupakan salah-satu figurnya. Katakanlah saya telah bersatu, atau paling tidak, telah menjadi bagian dari mereka. Sebagai seseorang yang turut mengambil bagian dalam keheningan itu sendiri.

Konon, kecendrungan-kecendrungan seperti itu sebenarnya merupakan salah-satu bentuk keterasingan dan pelarian karena kecewa dan rasa tak puas. Atau karena amarah yang terpendam. Amarah yang menyamarkan dirinya untuk menggandrungi keindahan. Semacam kegilaan yang lembut. Dan kalau pun ya, saya takkan menganggapnya sebagai persoalan atau pun masalah yang perlu disikapi dengan serius. Sebab jika pun itu semua benar, saya akan mengakuinya. Saya akan menerimanya sebagai sesuatu yang mungkin saja malah akan memberikan kebaikan-kebaikan tak terduga.

Dalam cuaca seperti itu, saya pun sebenarnya tak hanya memandangi capung-capung yang saya umpamakan sebagai para peri mungil yang tengah bergembira. Sesekali saya pun melihat juga kupu-kupu atau belalang-belalang yang meloncat-loncat dan yang terbang. Sementara itu, di malam hari, bila saya keluar dari rumah untuk memandangi bintang-bintang di langit, saya akan bertemu dengan kunang-kunang. Saya sangat mengagumi tubuh-tubuh mereka yang seperti lampu-lampu kecil yang bergerak dan beterbangan.

Namun sekarang, di saat saya telah menjadi seorang lelaki dewasa, saya hampir tak pernah melihat kunang-kunang masa kanak dan masa remaja saya itu. Kadang-kadang, ada kerinduan dalam hati yang terasa sangat kuat sekali untuk bisa kembali melihat mereka, binatang-binatang ciptaan Tuhan yang menurut saya sendiri termasuk dalam golongan binatang-binatang kecil paling indah. Makhluk-makhluk yang sampai saat ini saya golongkan sebagai makhluk-makhluk keluarga para peri mungil bersama dengan kupu-kupu dan para capung itu.

Di masa-masa ketika angin ujung senja tak pernah sekalipun tidak datang ke pintu-pintu rumah kami, adzan berkumandang dalam cuaca basah. Pada saat itu, burung-burung telah bersembunyi di dahan-dahan, ranting-ranting atau di sarang-sarang mereka. Sedemikian akrabnya kami dengan adzan yang seakan memecahkan keheningan itu, kami juga jadi terbiasa berdoa dengan hasrat di hati kami masing-masing, yang kami tak pernah akan saling mengetahuinya satu sama lain. Namun yang pasti, kami sulit membedakan antara pasrah, berdoa atau berusaha bersikap sebagaimana layaknya orang-orang yang telah demikian akrab dengan kepolosan.

Dan kini, ternyata, saya akan menyebutnya sebagai kecerdasan jiwa kami yang tidak diajarkan di perguruan-perguruan tinggi di kota-kota besar saat ini.

Bersamaan adzan yang berkumandang dari sebuah speaker yang menggunakan tenaga accu di ujung senja itulah sebenarnya kami tengah belajar berkali-kali merenungi dan memahami waktu, meski saya belum menyadarinya ketika itu.

Mungkin saja ketika itu bukan hanya kami yang berdoa, tetapi burung-burung yang sama-sama menahan dingin selepas hujan seperti kami. Tapi itu hanya rekaan saya sebagai seorang kanak-kanak yang terjebak antara rasa bosan dan keheningan yang tak kami mengerti. Itulah sebenarnya saat-saat kami tengah mengakrabi musik yang samar-samar, dengan sejumlah komposisi yang tengah dimainkan angin, daun-daun basah, burung-burung dan yang lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Sebab di sana, para katak dan para serangga turut serta menjadi para penyanyi yang meramaikan dan menjelma pentas orkestra keheningan ketika itu. Kumandang adzan di ujung senja hanyalah overture-nya.

Saya akan menamai mereka semua sebagai keriangan yang tengah bertasbih dan memuji lembab. Juga, saya akan menamai mereka sebagai konsierto menjelang tidur, sebab mereka terus saja memainkan musik dan bernyanyi hingga menjelang tengah malam. Sementara itu, sesekali angin mempermainkan daun-daun hingga menjelma desau yang mengirimkan hembusan lembut ke arah jendela dan pintu-pintu rumah kami. Saya juga akan menamainya sebagai moment of compassion. Dengan musik-musik itulah jiwa kami menjadi cerdas dan jujur pada hidup, bukan dari khotbah-khotbah seperti sekarang ini. Tentu saja, ada banyak nama untuk itu semua, tapi saya akan lebih suka menyebutnya praying in solitude.

Dalam keheningan seperti itulah, kami sebenarnya tengah belajar bagaimana berdoa dengan tulus. Itu, tentu saja, jauh berbeda dengan khotbah-khotbah modern dan politis sekarang ini, yang telah mengaburkan batas individual jiwa, bahwa hati kami masing-masing ketika itu sebenarnya tetap tak terselami sebagai manusia yang mempercayai sesuatu yang kudus dan adikodrati. Namun, kepercayaan itulah yang membuat kami, orang-orang desa, menjadi manusia-manusia yang memiliki kesabaran dan tidak pernah berputus asa meski dalam kesahajaan kami yang serba terbatas. Saya akan menamainya sebagai kekuatan dan kecerdasan jiwa. Dan pada saat itulah, ada yang berubah dan ada yang tetap dan tidak berubah. (Sulaiman Djaya 2006)

Lampu Minyak Hujan Malam




oleh Sulaiman Djaya (2010)

Di tahun 80-an, di mana ketika itu saya masih kanak-kanak, kami biasa menggunakan penerangan untuk rumah-rumah kami dengan menggunakan lampu-lampu minyak. Di keluarga saya sendiri, yang setiap hari melakukan tugas menyediakan lampu-lampu minyak untuk kami itu adalah ibu kami.

Setiap menjelang malam, kira-kira beberapa menit sebelum adzan magrib berkumandang, ibu kami mulai mengisi tabung lampu-lampu minyak kami dengan minyak tanah atau minyak kelapa buatan ibu kami sendiri. Antara dua minggu atau satu bulan, karena saya tak lagi ingat dengan tepat, ibu kami juga akan mengganti sumbu lampu-lampu minyak yang terbuat dari kain-kain bekas itu.

Lampu-lampu minyak itu, bila kami sedang menjalani malam-malam kami di musim hujan, harus bertarung dengan hembusan angin ketika hujan turun di waktu malam. Biasanya, ibu kami akan melindungi nyala-nyala apinya dengan menggunakan pelindung dari plastik yang dibuat oleh ibu kami sendiri.

Pada saat itu, saya yang tengah belajar di meja belajar saya, diberi anugerah untuk mendengarkan pecahan-pecahan hujan di halaman dan di genting-genting rumah. Mungkin, saat itu, saya membayangkan pecahan-pecahan hujan itu sebagai para peri yang tengah riang menari dan bernyanyi di hening malam.

Kadang-kadang, sebagaimana angan-angan saya merekonstruksinya saat ini, saya berhenti sejenak untuk sekedar menyimak suara-suara riuh angin dan gerak dedaunan yang diombang-ambing angin dan hujan. Sesekali saya juga membiarkan saja tetes air hujan yang menitik di ruangan saya, hingga ibu saya kecewa dengan sikap diam saya itu.

Di masa-masa itu, saya sendiri hanya boleh bermain dengan teman-teman saya sampai jam delapan malam saja. Berbeda dengan sekarang ini, ketika itu jam delapan malam sudah terasa sangat sunyi dan hening sekali. Apalagi dengan keberadaan pepohonan rindang sepanjang jalan dan sungai.

Sebagai seorang perempuan yang dihidupi oleh tradisi dan kepercayaan tradisional masyarakat kami, ibu kami yang mendekati puritan, terbilang seorang perempuan yang saleh dan sabar. Maklum, sebelum berhenti, ibu kami dikenal sebagai seorang guru ngaji bagi para perempuan dan ibu-ibu di kampung kami, bahkan di kampung tetangga. Tugas itu dilakukannya setelah selama beberapa tahun menjalani pendidikan keagamaan di pesantren tradisional di Cilegon, tepatnya di Cibeber.

Sementara itu, untuk saya sendiri, masa-masa itu adalah masa-masa ketika saya sedemikian akrabnya dengan kesunyian dan keheningan malam. Terlebih di bulan-bulan selama musim hujan, ketika hujan adakalanya turun di waktu subuh atau tengah malam. Sedemikian akrabnya dengan selampu minyak yang asap hitamnya menghitamkan bilahan-bilahan bambu penyangga genting-genting rumah kami.

Dan, bila hujan malam itu usai, kini giliran binatang-binatang malam, semisal para serangga dan katak, mengambil alih keheningan yang dingin itu dengan suara-suara riuh mereka. Namun anehnya, suara-suara mereka itu malah semakin menambah keheningan itu sendiri sedemikian nyata dan akrab.

Adakalanya saya membayangkan suara-suara mereka tak ubahnya sebuah orkestrasi yang tengah digelar di sebuah tempat yang jauh, meski mereka hanya beberapa meter jaraknya dari belakang rumah. Suara-suara konser yang datang dari pematang-pematang kegelapan malam itu sendiri.

Tanpa sadar, saya dan nyala mungil selampu minyak di meja belajar ternyata sama-sama tengah saling merenungi diamnya waktu kala itu. Waktu, yang saat ini, saya pahami sebagai keabadian itu sendiri.