Menimbang Puisi-puisi Warih Wisatsana



oleh Sulaiman Djaya (Sumber: Majalah Sastra Kandaga Kantor Bahasa Banten Edisi Desember 2017 hal. 42-51)

Beberapa tahun belakangan ini, karya-karya puisi dalam kerja kepenulisan dan ikhtiar intelektual kesusastraan Indonesia semakin tampak ‘tergiring’ pada kecendrungan menjadi prosa yang ‘mirip’ puisi, yang acapkali bahkan mirip cerita sangat pendek ‘yang dianggap sebagai puisi’. Apakah ini merupakan suatu perkembangan yang inovatif ataukah sebaliknya, jawabnya tergantung pada pilihan perspektif untuk membaca dan melihatnya, meski saya sendiri akan memandangnya dalam perspektif yang sebaliknya. Barangkali meruaknya kecendrungan prosa sangat pendek yang didaku sebagai puisi tersebut dilatari oleh ‘kebosanan’ pada bentuk liris yang ‘konvensional’ dalam kerja kepenulisan sastra puisi Indonesia dari sejak Amir Hamzah hingga saat ini.

Belakangan ini, baik yang dapat dibaca di publikasi cetak seperti buku, jurnal, koran, dan majalah atau di media-media online, banyak sekali puisi yang lebih mirip celoteh dan gumam prosaik berkarakter gelap yang ditulis dalam keadaan mabuk dan spontanitas, bukannya oleh kepiawaian craftmanship menggubah komposisi. Meski demikian, tak jarang puisi-puisi liris konvensional beberapa tahun belakangan dalam jagat kepenulisan puisi dan kepenyairan di Indonesia masih tetap sanggup menghadirkan diri mereka dengan narasi dan suara yang segar sesuai dengan perkembangan praktik kebahasaan dan adaptasi atau kompromi jaman dalam praktik menulis dan dalam percakapan komunikatif keseharian.

Puisi-puisi Warih Wisatsana, yang dalam hal ini adalah puisi-puisinya yang terkumpul dalam buku antologi tunggal Ikan Terbang Tak Berkawan (Penerbit Kompas, Jakarta November 2003), merupakan contoh karya-karya puisi liris konvensional yang berusaha menghadirkan diri mereka dalam suara yang baru dan berbeda, dengan suasana reflektif dan meditatifnya yang acapkali keras dan kental ketika dibaca oleh kita. Setidak-tidaknya berbeda dari segi isu atau tema dan strategi penulisan lirisnya meski ada sedikit kemiripan dengan bentuk dan strategi liris puisi-puisinya Goenawan Mohamad, Umbu Landu Paranggi, dan puisi-puisinya Frans Nadjira.

Mungkin karena perjumpaan lahiriah dan batiniah, karena interaksi pribadi dan tekstual, Warih Wisatsana sebagai penyair dengan para penyair tersebut, terasa ada pertukaran dan penitipan, ada jejak perjumpaan dan penulisan, baik secara sengaja atau tidak, dalam sejumlah puisi Warih Wisatsana, yang terasa dalam suasana dan suara-suara lirisnya. Hal demikian, karena memang, dunia intelektualisme, termasuk kepenyairan secara khusus dan kesusastraan secara umum, tak dapat mengelakkan diri dari intersubjektivitas, dari perjumpaan literer dan intelektual dengan karya-karya puisi para penyair lainnya yang dibaca oleh seorang penyair. Buku puisinya yang berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan itu diawali dengan narasi Tragedi Mei 1998, melalui puisinya yang berjudul Api Bulan Mei:

“Setelah padam inti api
Jadi nyata kini;
            Itu desis kayu hangus
atau bunyi tulang meletus

            Kepada seorang ibu yang tersedu
Kubisikkan dengan sedih kata-kata hiburan;

Angkasa ini menyala dengan pesta kembang api.” 

            Api adalah perlambang amarah yang melahap dan membakar, yang acapkali tak terkendali dan meluas melampaui batas perkiraan kita ketika memakan dengan lidah dan mulutnya apa yang disulut dan dibakarnya, apa yang dimakan oleh dirinya yang semuanya memang mulut yang melahap. Api dalam puisi itu dipinjam sebagai amarah tiba-tiba yang tak terduga dan amuk massa yang memakan korban. Tak ragu lagi, puisi itu berkisah dan bercerita tentang Tragedi Mei 1998 di Jakarta ketika terjadi demonstrasi dan kerusuhan massa yang berubah menjadi amuk dan berujung pada laku dan tindak kekerasan yang memakan korban, termasuk pemerkosaan atas sejumlah perempuan Tionghoa serta pembakaran sejumlah toko dan pusat perbelanjaan yang diidentifikasi milik orang-orang Tionghoa.

Puisi Api Bulan Mei memancarkan dan mendadarkan suasana perkabungan dan menarasikan suara-suara kesedihan, nestapa yang pedih, ditulis dan disuarakan dengan nada dan suasana elegis dan sungkawa oleh penyairnya:

            “Kucium abu dingin, bau amis daging terbakar
            Kudengar gaung bunyi tembakan
                        sayup derap sepatu dini hari…
            ……………………………………………….
Suatu malam, setelah inti api padam
Sisa bara menyala lagi penuh tanya
Tak paham napas siapa yang kini menyulutnya.”

(Api Bulan Mei)

            Jelas terbaca oleh kita, Api Bulan Mei bercerita dan berkisah ihwal ketika massa menjadi kerumunan yang menjelma api dan amarah yang tak terkendali dan meluas, massa yang tiba-tiba membakar dan mempraktikkan laku aniaya terhadap sesama: “Kucium abu dingin, bau amis daging terbakar” (Api Bulan Mei). Dan lalu kemudian, tragedi tersebut menghantui penyair, katakanlah menjadi mimpi buruk yang melahirkan sejumlah tanya dan rasa heran yang memancing keibaaan sekaligus ketakmengertian, melahirkan intensi untuk melakukan refleksi dan perenungan: “Suatu malam, setelah inti api padam // Sisa bara menyala lagi penuh tanya // Tak paham napas siapa yang kini menyulutnya” (Api Bulan Mei), yang mengingatkan kita pada renungan filosofisnya Elias Canetti tentang irrasionalitas dan kodrat alami-hewani manusia yang berubah menjadi massa dan merasa mendapatkan identitas survivalnya dengan melakukan praktik kekerasan, semisal membunuh sesama (lihat Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXIX Nomor 1/2007). Dengan demikian, puisi Api Bulan Mei pada dasarnya adalah refleksi dan renungan filosofis penyairnya ketika berjumpa dengan peristiwa keseharian manusiawi, yang dalam hal ini Tragedi Mei 1998 di Jakarta.

Tak hanya puisi Api Bulan Mei, beberapa puisi Warih Wisatsana yang terkumpul dalam buku Ikan Terbang Tak Berkawan memang merupakan sejumlah refleksi dan pertanyaan filosofis seorang penyairnya bersamaan dengan perjumpaannya dengan kehidupan, dengan peristiwa-peristiwa sosial dan politis yang dihayati dan direnungkan secara personal yang sifatnya eksistensial dan dengan peristiwa-peristiwa yang menurut penyairnya layak direnungkan dan kemudian dituliskan melalui media puisi, menjadi sebuah renungan dan refleksi puitis yang sifatnya meditatif dan menguar sejumlah tanya, meski acapkali pertanyaan-pertanyaan itu tak menemukan muara dan jawab secara memuaskan, bahkan tak mendapatkan jawaban sama sekali, hingga tetap menjadi tanya yang tak berkesudahan, menjadi ironi semata.

            Barangkali, karena intensionalitasnya untuk menjadi puisi-puisi reflektif dan meditatif yang merenung dan bertanya itulah, puisi-puisi Warih Wisatsana tampak keras dan kurang lentur dalam bernyanyi, terasa menanggung beban berat ketika dibaca oleh kita, menjadi Ikan Terbang yang Tak Berkawan. Selain itu, untuk memahami beberapa puisi Warih Wisatsana dalam bukunya yang berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan itu, pembaca dituntut untuk tahu dan mengenali tradisi, budaya, dan ritus keagamaan masyarakat Bali, semisal puisinya yang berjudul Pura Gambur Anglayang yang bernada refleksi teologis-filosofis sejauh menyangkut pertanyaan dan gugatan tentang nasib dan takdir manusia, orang-orang yang meyakini eksistensi entitas adikodrati, yang acapkali penuh misteri dan teka-teki, seperti sekian ironi hidup yang senantiasa dijumpai oleh kita, yang kemudian menjelma menjadi bahan estetik dan reflektif bagi penyair ke dalam puisi dan bagi perupa di kanvas:

            Empat abad lewat
siapa yang ingat
            semak merimbunkan onak
            kau dan aku dibimbing
                        diasingkan malam
            bertemu dalam ragu
                        piatu oleh waktu
                        berulang mengalami kematian;
                                    sudra
                                                paria
                                                            sesekali ksatria buta
            atau terpenjara
                        dalam raga lelaki tua
                        dan perempuan muda
            dengan garis dan warna
ingin lepas
            putus dari samsara
di kanvas
            yang penuh gores cemas

Titah raja agung manakah
yang menyatukan
                        kembali mereka
dalam diri kita yang terlunta?
……………………………….
dikutuk
            dibujuk
terbungkuk menjalani nasib….

(Pura Gambur Anglayang)

Puisi itu pertama-tama memang terinspirasi oleh sebuah goresan-goresan warna, figur, dan gambar di bentangan kanvas, oleh sebuah lukisan, yang kemudian mengingatkan penyair kepada ironi kehidupan dan pertanyaan seputar relevansi agama dan entitas yang adikodrati dalam keseharian kita yang acapkali dilanda ketakmengertian dan ketakpahaman untuk menangkap makna dan misteri semesta dan telos kehidupan, apa gerangan kehendak dan laku yang adikodrati yang tak terjangkau oleh kita:

entah kemana
entah di mana
            tergenang dalam bayang
……………………………..
seperti kau dan aku
sekali terlahir lalu terusir
dari firdaus yang terhapus
di ranah kudus
tanah janjian yang terlupakan….

(Pura Gambur Anglayang)

Renungan dan refleksi puitis-filosofis puisi-puisi Warih Wisatsana acapkali bernada gugatan dan menyuarakan laku intelektual skeptisisme itu justru dalam rangka menemukan makna keseharian kehidupan kita, mencari perspektif dan lanskap wawasan alternatif untuk tidak jatuh pada praktik yang menghakimi yang akan berujung dan bermuara pada laku dan tindak kekerasan serta eksclusi, yang membuatnya merasa prihatin dan bertanya, yang acapkali kita lakukan tanpa sadar. Gugatan dan pertanyaan-pertanyaan skeptisisme puisi-puisinya itu bahkan sejauh menyangkut isu-isu dan doktrin teologis keagamaan:

apa artinya
sepasang naga batu
            penunggu waktu
            gerbang suci yang bisu?
           
(Pura Gambur Anglayang)

Dibanding puisi-puisi yang lain, Pura Gambur Anglayang adalah puisi yang padat makna sekaligus menguar ragam tafsir dan pembacaan, bersifat polisemik, sebuah karya terbuka yang dapat ditakwil dengan ragam tafsir dan pemaknaan, bila meminjam istilahnya Umberto Eco. Pembacaan puitik Warih Wisatsana atas lanskap ritus dan kultural keagamaan masyarakat Bali tampak berusaha membenturkan ironi dan paradoks yang profan dan yang sakral dalam realitas kehidupan keseharian, sembari mendedahkan bahwa pada akhirnya takdir manusia tak pernah jauh berbeda, meski manusia memiliki ragam warna kulit, rambut, dan mata:  

seperti kau dan aku
sekali terlahir lalu terusir
dari firdaus yang terhapus
di ranah kudus
tanah janjian yang terlupakan

Tanah buangan dini hari
yang dilupakan
lalu kita pun lena
letih terjaga
            semalaman menunggu
para leluhur bangkit dari akar
dari genangan air yang hening

Di ambang fajar
kau dan aku tertidur
            sedetik dengkur
            kemudian terbangun
            tertegun menemukan kenyataan
rambutmu pirang
kulitku sawo matang
dunia riang pagi hari
sempurna sebagaimana adanya

Walau dibedakan biru mata
            dan warna suara
bahasa pertama kita sama
kenapa terlahir jadi manusia

(Pura Gambur Anglayang

Puisi Pura Gambur Anglayang itu berbicara tentang moksa dan samsara dalam ritus dan lanskap keagamaan masyarakat Bali yang lalu diterjemahkan dan ditafsirkan kembali secara reflektif dan ironis dalam rangka menguar dan mempertanyakan ulang makna kehidupan dan keseharian manusiawi yang kita jalani dalam hidup ini. Seakan-akan puisi tersebut hendak mengumandangkan kembali adagium filsafat Yunani Kuno di era Sokrates dan Plato bahwa hidup yang tak direfleksikan adalah hidup yang tak layak dijalani.

Puisi dan Filsafat
           
Adalah bukan hal yang aneh dan asing bila para penyair cenderung meditatif, reflektif, dan filosofis ketika mengangkat sejumlah isu dan materi yang sifatnya intelektual dan sastrawi dalam tulisan, entah ke dalam puisi atau esai. Tak jarang para penyair adalah juga filsuf sebagaimana banyak para filsuf adalah penyair. Nietzsche adalah salah-satu contohnya. Hal itu karena, sebagaimana dipaparkan dan diargumentasikan Martin Heidegger, kerja intelektual kepenyairan sangat mirip, yang bahkan sama, dengan kerja kepemikiran, refleksi, dan permenungan, selain kesusastraan itu sendiri merupakan saudara kembarnya filsafat dan pemikiran. Begitulah, dalam sejarah akademik dan intelektual dunia, banyak para filsuf yang meraih Anugrah Nobel dalam Bidang Sastra, seperti Elias Canetti dan Sir Bertrand Russell, selain banyak juga sastrawan yang sekaligus filsuf, seperti Johan Wolfgang von Goethe, Rabindranath Tagore, Albert Camus, Jean Paul Sartre, dan yang lainnya.

            Masalahnya adalah apakah sebuah puisi kemudian berhasil menjadi ‘filsafat’ dan refleksi meditatif filosofis yang berhasil tanpa bertendensi menjadi filosofis pada mulanya, dalam arti bahwa sebuah puisi yang ditulis kemudian menjadi sebuah karya filsafat yang berhasil meski tak diniatkan untuk menjadi sebuah kerja filsafat, ataukah hanya sekedar penafsiran filosofis, yang justru terkesan ‘dipaksakan’ karena bertendensi untuk menjadi filosofis? Beberapa puisi Warih Wisatsana dalam buku Ikan Terbang Tak Berkawan mencerminkan keduanya dalam satu puisi pada saat bersamaan, dan ada puisinya yang tak  memiliki tendensi filosofis dan meditatif tapi berhasil menjadi sebuah puisi yang penuh makna renungan filsafat, dan ada puisi yang sebaliknya, dalam artian bertendensi menjadi filosofis tetapi terkesan keras dan kurang lentur sebagai sebuah puisi yang reflektif, yang seyogyanya bernyanyi sembari berpikir dan merenung.

Selain puisi Pura Gambur Anglayang yang terinspirasi lukisan dan pelukisnya, puisi lainnya yang juga terinspirasi perjumpaan penyairnya dengan pelukis, yang dalam hal ini seniman urban asal Indonesia di Perancis, yaitu pelukis Salim, adalah puisinya yang berjudul Avenue Charles de Gaulle yang suasananya sama-sama eksistensial dan muram sebagaimana puisi Pura Gambur Anglayang, yang mana narasi eksistensialis dan muram itu merupakan ciri puisi-puisinya Warih Wisatsana dalam bukunya yang berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan. Puisi ini pun, sebagaimana Api Bulan Mei dan Pura Gambur Anglayang, memiliki tendensi meditatif-filosofis, yang karenanya akan mengingatkan kita pada puisi-puisinya Goenawan Mohamad dan Frans Nadjira.

Dalam hal ini, kedekatan, bahkan kesamaan antara penyair dan filsuf secara khusus dan antara sastra dan filsafat secara umum, tak lain karena kerja kepenyairan memang dekat dan akrab sekali dengan kerja peremenungan yang sifatnya meditatif dan reflektif. Begitulah filsuf Martin Heidegger sampai menyebut puisi sebagai bentuk dan modus berpikir non-konseptual dalam artian bukan kerja intelektual yang sistematis sebagaimana rancang bangun sistem filsafat, tetapi berpikir secara puitik itu sendiri, yang dengannya, demikian menurut Martin Heidegger, justru membuat penyair malah sanggup mengakrabi dan mengintimi kehadiran ‘Sang Ada’ itu sendiri di saat para filsuf cartesian hanya sibuk memikirkannya secara abstrak dan konseptual.

Di sini tak ada salahnya jika kita bandingkan dengan salah-satu puisinya Goenawan Mohamad, sekedar untuk memberikan contoh yang lain tentang puisi yang reflektif dan meditatif, puisi yang mengajak kita untuk merenung dan berfilsafat (lihat Goenawan Mohamad, Puisi Pilihan, KataKita 2004):

Di sini
cemara pun gugur daun. Dan kembali
ombak-ombak hancur terbantun.
Di sini
kemarau pun menghembus bumi
menghembus pasir, dingin dan malam hari.
Ketika kedamaian pun datang memanggil.
Ketika angin terputus-putus di hatimu menggigil.
………………………………………….
Tidakkah siapa pun lahir kembali di detik begini
ketika bangkit bumi,
sajak bisu abadi,
dalam kristal kata
dalam pesona?

(Di Muka Jendela)

Puisi Di Muka Jendela-nya Goenawan Mohammad itu adalah contoh puisi reflektif meditatif yang dinarasikan dengan gaya memoar yang hening dan senyap, didendangkan dengan nada minor, tapi karena gaya, strategi literer, dan bentuk lirisnya yang mengajukan sebuah pertanyaan yang tampak polos dan lugu itulah, suasana dan aura refleksi filosofisnya justru tampak kuat, sekaligus memikat dan enak dibaca, merayu dan membujuk kita ketika membacanya untuk ikut berempati dan merenung bersama-sama puisi yang kita baca yang terasa mengajak untuk berdialog dan berbincang secara intim dan akrab sebagai seorang karib dan sahabat yang ingin menjadi teman dan pendengarnya yang setia.

Puisi dan Perjumpaan

Dalam kasus beberapa puisi Warih Wisatsana, refleksi meditatif itu acapkali berkisah tentang perjumpaan-perjumpaan lahir dan bathinnya dengan tempat-tempat seperti puisi Nagasaki dan Taman Trocadero, dengan para penyair (dan penulis) seperti puisi Kamar Kita dan Epitaf Penyair Terlupakan, dengan para seniman (pelukis) sekaligus karya mereka seperti puisi Pura Gambur Anglayang dan Avenue Charles de Gaulle, dengan karya seni (patung dan lukisan) seperti puisi Amsal Sebuah Patung dan Pura Gambung Anglayang, dan dengan sejumlah peristiwa seperti puisi Api Bulan Mei, di mana perjumpaan-perjumpaan itu saling silih berganti di antara yang bersifat tekstual dan yang sifatnya personal eksistensial. Dengan demikian, puisi-puisi Warih Wisatsana dalam buku kumpulan Ikan Terbang Tak Berkawan memang ditulis dari intertekstualitas sekaligus intersubjektivitas selain terinspirasi dari perjalanan hidup penyairnya ketika mengunjungi dan menjumpai sejumlah tempat yang berkesan dan kemudian memunculkan minat penyairnya untuk menuliskannya menjadi sejumlah puisi reflektif-meditatif karena tempat-tempat itu memang memiliki makna kultural, intelektual, dan historis bagi penyairnya:

Dapatkah kau bayangkan
Aku biksu
            berserah diri
tertatih mendaki tangga batu
……………………….
Peziarah akan singgah menulis pujian di buku pesan
yang lusuh. Mencatat nama kecil serdadu yang tewas
mengingat selembar seruan damai yang naas
terlambat dikirimkan ke medan perang penghabisan

(Nagasaki)

Bagi seorang penyair, perjumpaannya dengan keseharian dan pengalaman hidupnya adalah laboratorium puitik itu sendiri, materi sekaligus sumber inspirasinya untuk menulis sejumlah puisi. Akan tetapi, kemampuan dan kesanggupannya untuk menuliskan perjumpaan lahir-bathin dengan keseharian dan peristiwa serta pengalaman hidupnya menjadi sejumlah puisi yang berhasil, tentulah akan juga ditentukan oleh kapasitas intelektual dan kepekaan bathin si penyair itu sendiri ketika ia mengolah bahasa dan memilih diksi bagi puisi-puisi yang ditulisnya. Soalnya adalah apakah puisi-puisi yang ditulis berdasarkan perjumpaan keseharian seorang penyair dengan sejumlah peristiwa serta pengalaman lahir bathin dan dengan pengalaman hidupnya bersama segala hal yang pernah dijumpai dan diziarahinya itu hanya sekedar menjadi memoar verbal yang bercerita secara mentah-mentah apa adanya ataukah menjelma puisi yang tak terlampau otobiografis dan hanya berkutat pada kepahitan dan penderitaan diri? Jawabanya tentulah ada pada pilihan dan kemampuan intelektual-estetik si penyair itu sendiri. Pertanyaan ini muncul ketika membaca puisinya Warih Wisatsana dalam buku Ikan Terbang Tak Berkawan itu yang berjudul Kamar Kita:

Rayakan dengan sedih kamarku ini
Semalam kita tak bisa tidur
ranjang oleng
            seperti sekoci mabuk ombak.
Atap langit lapuk. Tembok pucat retak
celah masuk hawa busuk
            jalan rahasia tikus air.

Puisi Kamar Kita itu lebih mirip catatan harian atau tulisan diaris apa adanya yang sifatnya otobiografis. Berbeda, misalnya, dengan puisinya yang berjudul Sakramen yang amat bernas dan inspiratif ketika mengangkat isu teologis dari cerita dan kisah keagamaan di masa silam yang telah lampau selama berabad-abad, namun bagi penyair tetap relevan bagi kekinian kita yang acapkali mudah menghakimi dan mengutuk mereka yang dianggap ‘tak suci’:

Tuhan
mungkin tuhan
yang membujukmu
jadi magdalena
            yang terlena
terberkati
            oleh sekerat janji
roti suci yang tak beragi
firdaus terakhir
yang tak pernah berakhir.

Lalu di sisi altar
di atas marmer hitam
penuh mawar
            sebelum terang menghilang
            seorang peziarah dari jauh
bersimpuh
            pasrah
letih membayangkan nasibku
yang tersisih tak terpilih.

(Sakramen

Di mana nama Magdalena disebut dalam puisi tersebut sebagai kiasan sekaligus perbandingan bagi mereka yang tersisih dan dianggap nista, namun nyatanya kita akhirnya mendapatkan kesepadanan kepada mereka yang dianggap sebagai yang tersisih itu justru karena mereka adalah gambaran kenistaan kita sendiri yang acapkali tak diakui dan seringkali diingkari. Bukankah Isa Al-Masih justru bersimpuh di kaki Magdalena yang dianggap sebagai yang ‘tak suci’? justru demi menunjukkan dan membuktikkan kasih kita kepada mereka yang masih memiliki kesempatan untuk melakukan pertaubatan dan perbaikan.

Beberapa puisi Warih Wisatsana di buku Ikan Terbang Tak Berkawan itu rupa-rupanya memang sejumlah ikhtiar melakukan refleksi dan pembacaan ulang atas sejumlah isu, tema, narasi teologis, dan materi-materi serta isu-isu lainnya yang mengundang minatnya untuk melakukan perenungan puitis. Kiasan-kiasan dan perumpamaan-perumpamaan dalam beberapa puisinya meminjam isu-isu dan materi-materi yang sifatnya teologis sekaligus filosofis, ritual keagamaan dan lanskap kepercayaan masyarakat Bali, serta narasi-narasi Biblikal dan hikayat juga kisah-kisah mitologis yang sifatnya keagamaan. Sementara itu, sejauh menyangkut apa itu kiasan atau metafora, tentu ada ragam pengertian dan pemahaman tentang apa itu kiasan atau metafora. Namun di sini saya ingin mengutip beberapa pengertian tentang apa itu metafora menurut sejumlah ahli bahasa sebagaimana dikutip dan dipaparkan Jafar Subhani (lihat Jafar Subhani, Al-Amtsal fil Quran, Penerbit Al-Huda, Jakarta Januari 2007), yang salah-satunya adalah definisi yang dikemukakan oleh Ibrahim An-Nizham (wafat tahun 231 Hijriah):

“Dalam kiasan (perumpamaan) terhimpun empat hal yang tidak dimiliki oleh kalam (narasi atau pernyataan) yang lain. Pertama, keringkasan kata atau kalimat. Kedua, ketepatan makna. Ketiga, kebagusan pengkiasan dan pengumpamaan. Keempat, keindahan pengkiasan atau pengumpamaan. Dengan keempat hal itulah sebuah ungkapan (narasi) telah mencapai puncak kefasihan.”

Tak ragu lagi, definisi dan pengertian yang dikemukakan Ibrahim An-Nizham itu adalah definisi dan pengertian metafora yang dipraktikkan dalam penulisan puisi, atau metafora yang sifatnya puitik, bukan yang prosais atau qashashi. Dalam hal ini, jika kita ganti kata metafora dari definisi dan pengertian yang dinyatakan Ibrahim An-Nizham itu dengan kata puisi, maka puisi yang berhasil, sekali lagi bila kita meminjam pandangan Ibrahim An-Nizham sebagaimana yang dikutip Jafar Subhani itu, adalah puisi, yang: Pertama, yang padat makna, meski acapkali puisi itu ditulis sedemikian ringkas. Kedua, adalah puisi yang metaforanya tepat. Ketiga, adalah puisi yang indah dan enak dibaca, merayu dan membujuk para pembaca ketika dibaca, seperti puisi Di Muka Jendela-nya Goenawan Mohamad, sehingga selalu meminta dirinya untuk terus dibaca meski telah dibaca berkali-kali dan berulang-ulang. Keempat, adalah puisi yang perumpamaan dan metaforanya elegan dan elok, sehingga mewujud puisi yang padu dan kuat. Bila kita gunakan dasar definisi tersebut, puisi-puisi Warih Wisatsana secara naratif dan bila dicermati dari sisi strategi literer dan pengkiasannya, ada yang memenuhi kempat-empatnya dan ada yang memenuhi dua dan tiga dari definisi yang diajukan Ibrahim An-Nizham sebagaimana dikutip Jafar Subhani tersebut.

Catatan Penutup
           
Setelah kita membaca, menganalisa, mengakrabi, dan menimbang sejumlah puisi Warih Wisatsana dalam buku antologi tunggalnya yang berjudul Ikan Terbang Tak Berkawan itu, kita dapat mengatakan dengan jujur dan terus-terang bahwa puisi-puisi Warih Wisatsana dalam buku tersebut merupakan ikhtiar dan kerja intelektul kepenulisan puisi yang berusaha mempertahankan bentuk lirik meditatif yang sifatnya reflektif dan filosofis, meski belum beranjak jauh dari para penyair sebelum-sebelumnya yang karya-karyanya ia baca dan ia intimi secara intersubjektif-intertekstual, perjumpaannya yang bersifat personal dan tekstual, dan dari para penyair yang sejaman dengan dirinya, semisal dengan Frans Nadjira. Dan perihal intersubjektivitas-intertekstualitas tersebut diakui oleh penyairnya sendiri:

            “Setiap pertemuan, selalu membuka peluang terjadinya penciptaan. Oleh karenanya, beruntunglah bila sedari awal belajar menulis, seseorang dilimpahi kesadaran tentang arti penting sebuah ‘pertemuan’. Sesosok pribadi yang menarik, tempat-tempat memikat, karya-karya yang penuh inspirasi, atau bahkan sebuah peristiwa sehari-hari yang sederhana, adalah sumber ilham yang tak akan habis dieskplorasi.”

            Sebuah pengakuan otobiografis, yang sebenarnya, terdengar klise dan biasa saja bagi kita, mengingat setiap penyair yang menulis puisi pastilah tidak hidup dalam sebuah ‘kotak’ yang dia hidup sendiri dalam ‘kotak’ tersebut. Setiap karya sastra, wabil khusus puisi, tidaklah lahir dari ruang hampa sejarah dan peristiwa budaya dan milieu intelektual di mana seorang penyair hidup dan menuliskan puisi-puisinya. Karya-karya puisi seorang penyair merupakan buah interaksi dan perjumpaannya dengan dunia dan kehidupan keseharian yang sifatnya tekstual, personal, kultural, politis, dan sosial, sebab seorang penyair memang hidup dan mengada secara lahiriah dan batiniah di sebuah dunia yang bukan ia sendiri yang ada dan berada. Sehingga pengakuan otobiografis penulis buku kumpulan puisi Ikan Terbang Tak Berkawan itu bukanlah suatu pernyataan yang istimewa dan unik.

            Sementara itu, bila kita cermati proses dan waktu penulisan banyak puisinya di buku Ikan Terbang Tak Berkawan itu, kebanyakan proses penulisan puisinya membutuhkan waktu antara dua hingga tiga tahun, meski justru, setidak-tidaknya menurut saya, sejumlah puisinya yang ditulis dalam waktu relatif cepat dan singkat-lah yang terasa enak dibaca, mengalir tanpa beban, dan bernyanyi dengan lepas dan bebas, semisal puisinya yang berjudul Dalam Siul Anak-anak:

            Kelak bila akhir kalimatku
membentuk sungai
            Napas angin tercekik
bunga terisak
            Seekor kupu-kupu menggelepar liar !

Yang manakah gerimis
yang manakah tangis ?

Seekor kupu menggelepar liar
di taman nasib masa kanakku
Menyerap mimpi buruk
tak percaya langit terbuka.

Dan seseorang menari dalam lamunan
Memanggil nama kecilku
di taman
Tempat di mana dulu
Tangga sorga sesaat kubayangkan
berayun di awan,
Dan sebuah gubuk mungil
perlahan menjelma di langit

(Dalam Siul Anak-anak)

            Sebuah puisi yang mendendangkan ingatan dan imajinasi tentang masa kanak-kanak yang telah lampau, sebuah kenangan yang sifatnya romantik dan sentimentil, yang kemudian dikontekskan dan diaktualkan kembali oleh seorang penyair dengan perjumpaan kekinian penyairnya bersama anak-anak yang memunculkan minatnya untuk menuliskannya menjadi sebuah puisi liris romantis yang berdendang dan bernyanyi, sebuah ingatan dan kenangan yang kemudian dinarasikan kembali dengan upaya fantasi dan transendensi, yang menurut saya justru terasa reflektif dan mengandung makna perenungan filsafat yang akan melahirkan ragam tafsir, aneka pembacaan, dan ragam pemaknaan ketika dibaca oleh para pembacanya, meski puisi tersebut tak bertendensi atau tak meniatkan diri untuk menjadi puisi yang filosofis, dibanding sejumlah puisinya yang bertendensi untuk menjadi puisi reflektif meditatif filosofis yang justru terasa keras dan penuh beban ketika dibaca:

            Kelak bila nasib baik menjengukku
Datang menyamar serupa mawar
membisikkan jalan pulang
            dan alamat ibuku
Maka maut bersiul dalam gelap
Dalam siul anak-anakku.

(Dalam Siul Anak-anak)

Meski demikian, pada akhirnya haruslah dikatakan, bahwa puisi-puisi Warih Wisatsana adalah contoh-contoh puisi yang masih ingin setia berjalan di aras ‘thoriqoh’ puisi liris di tengah meruaknya puisi-puisi yang lebih mirip prosa sangat pendek yang dikatakan sebagai puisi prosais, jika bukan ‘prosa puisi’. Di mana puisi-puisinya yang ingin setia dengan bentuk liris, yang meski terasa berat dan penuh beban ketika dibaca itu, tampil sedikit berbeda dan memiliki keunikannya sendiri, minimal dari suara meditatif dan reflektifnya yang kental, dengan puisi-puisi para penyair sebelumnya semisal dengan puisi-puisinya Goenawan Mohamad, dan dengan puisi-puisi para penyair yang relatif sejaman dengan dirinya semisal puisi-puisinya Frans Nadjira. 

Tidak ada komentar: