Tragedi Cucunya Muhammad al Mustafa



“Saat itu, Khawali bin Yazid al Ashbahi meloncat untuk membunuh Imam Husain dengan ganas. Namun ketika matanya beradu dengan mata Imam Husain, dia melihat sorot mata Muhammad Saw, sehingga tangannya pun gemetar”

Imam Husain mengumpulkan darah yang mengucur dari kepalanya, kemudian mengusapkan darah itu ke seluruh wajah dan janggutnya, sambil berkata: “Seperti inilah aku akan menemui kakekku Rasulullah, dengan wajah penuh darah inilah aku akan menemui ibuku Fathimah, ayahku Ali dan kakakku al-Hasan.” Khawali bin Yazid al Ashbahi meloncat untuk membunuh Imam Husain. Tetapi ketika matanya beradu dengan mata Imam Husain dia melihat sorot mata Rasulullah, sehingga tangannya pun gemetar dan dia pun mundur kembali.

Beberapa orang lainnya juga mengalami hal yang sama. Tiba-tiba Syimir datang dan dengan congkaknya berkata: “Semoga ibu kalian menangisi sifat pengecut kalian”. Dia mengatakan itu sambil menendang dengan keras perut Imam Husain. Kemudian manusia paling keji ini duduk di atas dada Imam Husain. Dada Imam Husain terasa sesak dan darah berkumpul di mulutnya.

Sambil tertawa keras Syimir berkata: “Apa yang akan engkau katakan sekarang wahai putra Abu Turab?” Imam Husain berkata: “Maukah engkau perlihatkan wajahmu sebelum membunuhku?" Syimir berkata: “Kenapa? Apakah engkau akan merindukan aku setelah kematianmu?” Imam Husain berkata: “Tidak! Aku ingin memastikan apa yang telah digambarkan oleh kakekku tentang wajah buruk pembunuhku.” Syimir melepas sandalnya dan menampar mulut Imam Husain seraya berkata: “Celakalah engkau dan celakalah kakekmu!”

Dengan segera Syimir membalikkan tubuh Imam Husain hingga tertelungkup. Dan mulailah pembunuhan paling sadis terjadi. Manusia terkutuk itu menarik kepala Imam Husain ke belakang, meletakkan pedangnya ke leher Imam Husain, lalu menggerakkan kepala Imam Husain ke kanan dan ke kiri. Imam Husain berteriak: “Duhai Muhammad, duhai Ali, duhai Fathimah, duhai Hamzah.” Kemudian Syimir berdiri, menginjak punggung Imam Husain, menarik kepala suci Imam Husain dan menggerakkan pedangnya, maka terpenggallah kepala putra Rasulullah.

Syimir si manusia neraka itu pun mengangkat kepala suci Imam Husain tinggi-tinggi dan mempertontonkannya kepada keluarga Rasulullah dan pasukan Umar bin Sa'ad. Zainab menjerit, “Duhai Husain,” dan kemudian pingsan. Adapun pasukan Umar bin Sa'ad bersorak-sorak memperebutkan kepala Imam Husain yang dilemparkan oleh Syimir ke arah mereka. Kemudian mereka berhamburan ke arah tubuh Imam Husain yang tergeletak tanpa kepala. Menginjak-injak tubuh itu, dan memperebutkan segala yang dikenakan oleh Imam Husain.

Bahar bin Ka'ab mengambil celana Imam Husain. Nashl bin Darim merampas pedangnya, al Aswad mengambil sandalnya, sementara seorang dari kabilah yang lain sedang menarik-narik cincin yang dikenakan oleh Imam Husain. Tetapi cincin itu tidak mau terlepas, maka dia mencabut pisaunya dan memotong jari manis Imam Husain as.

Innâ lillâhi wa innâ ilayhi râji’ûn. La’anallah kullu man qatala al Husain!

Malam itu di negeri Mesir, Habib Ali al Jufri menuturkan kisah Tragedi Karbala. Peristiwa yang menjadi noda hitam dalam sejarah Islam. Peristiwa yang mengakibatkan cucu Rasulullah SAW Imam Husain As, dan hampir seluruh anggota keluarganya, dibunuh secara keji.

“Demi Tuhan, yang mengumpulkan kita semua di malam ini, apa yang terjadi pada Imam Husain adalah konsekuensi dari cobaan dan ujian baginya. Al-Husain pergi meninggalkan Madinah menuju Makkah. Sebelumnya ia beristikharah, meminta petunjuk Allah SWT, perihal dukungan 17.000 orang yang membai’atnya. Lalu ia memutuskan akan pergi bersama sekelompok pemuda Bani Hasyim, berikut para pengikut dan (keluarga) pendukung mereka dari kalangan wanita dan anak-anak.

Kemudian, Abdullah bin Abbas menjumpai Al-Husain, ia berkata, “Wahai anak putri Rasulullah SAW, benarkah berita yang sampai kepadaku bahwa engkau telah memutuskan akan pergi ke medan jihad itu?” “Ya,” jawab Al-Husain.

“Bukankah mereka telah mengkhianati ayah dan saudaramu? Tidaklah aku lihat mereka kecuali pasti mengkhianatimu pula,” ujar Ibnu Abbas. Al-Husain berkata, “Sungguh aku mengetahui bahwa mereka pasti mengkhianatiku.” Ibnu Abbas bertanya lagi, “Lalu untuk apa engkau keluar, wahai putra Rasulullah?” Al-Husain berkata, “Sungguh mereka pasti akan membunuhku. Mereka tak mungkin membiarkanku. Dan aku takut bila aku terbunuh di Tanah Haram ini, hal itu akan merusak kehormatan Tanah Haram….”

Akhirnya sampailah Al-Husain dan rombongan di sebuah padang yang luas. Karbala namanya. Dan, di sanalah pembantaian itu terjadi.  Tragedi Karbala terjadi tak terlepas dari rakusnya penguasa zhalim pada kedudukan khalifah secara politis. Namun, apakah pencapaian posisi khalifah secara politis itu adalah segala-galanya? Inilah antara lain pandangan Habib Umar Bin Hafidz.

Dalam kitab Al-Mustadrak ada riwayat yang dinyatakan shahih oleh Adz-Dzahabi, “Setelah Al-Hasan mundur sebagai khalifah, ada orang bilang kepadanya, ‘Orang-orang mengatakan, Tuan menginginkan khilafah.’  Al-Hasan berkata, ‘Aku meninggalkan jabatan khilafah di saat orang-orang kuat berada di tanganku. Mereka mengikuti perintahku, siap memerangi orang yang aku perangi, dan berdamai dengan orang yang berdamai denganku. (Aku meninggalkan khilafah itu) karena untuk mencari ridha Tuhanku dan menghindarkan pertumpahan darah sesama muslimin….’.”

Dalam konteks ini, mundur dari khilafah saat terjadinya perpecahan adalah khilafah sejati. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh anakku (cucuku) ini adalah seorang pemimpin. Dengan perantaraannya, Allah akan mendamaikan permusuhan di antara dua kubu besar kaum muslimin.” (HR Al-Bukhari). Intinya, sikap Al-Hasan dan Al-Husain benar sesuai konteks masalah yang mereka hadapi.” 

Tidak ada komentar: