Prinsip Ekologi Islam Mulla Shadra –Bagian Pertama


Oleh Seyyed Mohsen Miri

Krisis Lingkungan: Penyebab dan Solusi

Keprihatinan terhadap krisis lingkungan saya mulai dengan dua proposisi berikut. Pertama, saat ini kita sedang menghadapi dan berjuang atas isu penting mengenai krisis lingkungan hidup yang semakin meluas dan menyebar. Kedua, kita harus mencari jalan untuk mengatasi krisis tersebut dengan menimbang dan mengevaluasi berbagai solusi yang telah dikemukakan oleh para pemikir dan kaum intelektual.

Secara garis besar, terdapat dua pendekatan yang digunakan sebagai solusi untuk mengatasi krisis lingkungan baik secara individual maupun sosial. Pertama, pemecahan krisis melalui pertimbangan atas segala sesuatu yang langsung terlihat, situasi yang sedang berlangsung, membuat perubahan jangka pendek dan membuat suatu perencanaan ulang. Kedua, pemecahan krisis melalui penjabaran sebab dan faktor yang mendorong munculnya krisis (aspek ontologis), melalui dasar keilmuan (aspek epistemologis), kerangka rohani, dan intelektual, serta paradigma budaya yang menyebabkan krisis tersebut terjadi dengan tetap mengacu kepada pendekatan pertama.

Nampaknya pendekatan kedua merupakan solusi yang memberikan pengaruh lebih nyata. Jika kita hanya berpegang pada pendekatan pertama, maka masalah akan muncul kembali dan menjadi lebih serius karena krisis sebelumnya masih aktif. Meskipun beberapa percobaan penting telah dilakukan semisal proyek penggantian kelengkapan transportasi, membuat bahan bakar non-fosil, merancang teknologi ramah lingkungan, pendekatan pertama tidaklah dapat menghapus krisis lingkungan dan tidak dapat menjadi solusi yang memadai bagi masalah tersebut.

Penyebab munculnya krisis lingkungan (penyebab eksistensi dan kognisi) harus diketahui sebelum kita dapat mengatasi masalah tersebut. Dugaan penyebab kerusakan, kehancuran, dan krisis dalam lingkungan adalah perspektif mengenai manusia dan alam semesta pada era modern, sebuah pandangan-dunia yang merupakan imitasi mutlak saintisme. Perspektif tersebut mengabaikan semua unsur filosofi, budaya, dan kerangka spiritual; mengurangi tingkat kebenaran dan membatasi ruang lingkup kognisi (pengenalan) manusia dan tingkat eksistensi hanya kepada sains sensasional dan segala sesuatu yang bersifat material. Perspektif tersebut secara perlahan menghilangkan kehidupan jiwa, tujuan, harapan, kebahagiaan, dan kesucian dengan cara pemutusan materi alamiah dari jiwa, dari dunia gaib, dan dari kemurnian mutlak dan kebenaran konstan pembentuk filosofi keagungan.

Pengosongan dimensi kesucian menyebabkan indisposisi dan kesalahan pada seseorang, dan dia mencoba untuk menggapai kembali jiwa yang hilang melalui percobaan baru, kedaulatan terhadap alam yang lebih besar, dan mendapatkan produk modern; aksinya seperti seseorang yang meminum air laut yang asin untuk memuaskan dahaga tanpa menghasilkan apapun selain dahaga yang berkepanjangan dan efek samping yang menghancurkan bagi orang tersebut. Manusia modern yang menyenangi sains, melalui penempatan manusia sebagai poros alam raya (humanisme) dan mengabaikan Tuhan dan memutuskan hubungan dengan-Nya, memaksa alam untuk mengupas misterinya (melalui pengaruh sains modern) dengan tujuan untuk memperkaya seseorang, lebih berkuasa, dan memenuhi keinginan dari ketamakan dan jiwa yang tak pernah puas.

Dalam pendangan modern, manusia menganggap alam raya sebagai partikel yang tidak suci, dia menganggap dirinya sebagai dewa yang memiliki segala kekeistimewaan, memerintah, dan menguasai alam raya, tidak memiliki kewajiban terhadap Tuhan dan alam, dan tidak bertanggung jawab terhadap semua orang. Dalam perspektif modern, manusia melalui pencarian kekuasaan dan kedaulatan intelektual akan memisahkankan etika dan spriritualitas dari sains dan alam raya dan berusaha mempopulerkan kapitalisme; pada proses yang merusak ini, semua nilai kemanusiaan dan ekonomi merupakan ikatan materiil.

Selama perspektif ini tidak berubah dan kita tidak memberikan upaya pada dimensi spiritual lingkungan, tidak akan banyak harapan untuk mengembangkan lingkungan hidup. Manusia harus kembali kepada akar spritualnya; dia harus kembali kepada kesucian dirinya, Tuhan dan alam; hanya dengan pendekatann ini dia akan berhenti merusak rangkaian alam, dan disinilah nilai penting untuk kembali kepada agama dan spritulitas menjadi nyata.

Prinsip-prinsip Pemikiran Mulla Shadra untuk Lingkungan

Mazhab filsafat Mulla Shadra yang mendalam dan menarik dapat berperan dalam mendesain filsafat lingkungan hidup serta menguatkan dasar-dasar filosofisnya. Filosof muslim ini telah melahirkan sebuah mazhab filsafat paripurna. Ia berkembang dengan menggunakan ayat-ayat al-Quran, sunnah Nabi Muhammad SAW dan Ahlulbayt. Disamping itu ia juga terilhami oleh filsafat yang diajarkan oleh Al-Farabi, Ibnu Sina, Suhrawardi, pemikiran Yunani, Persia kuno, dan Irfan yang mendalam dari Muhyiddin Ibn Arabi. Filsafat Mulla Shadra membawa berita gembira keserasian teori-teori filsafat dengan obyek-obyek syuhud para arif, dengan Kitab takwini Allah yaitu keindahan alam semesta dan apa yang di baliknya dan dengan Kitab Tadwini Allah yaitu Al-Quran. Mulla Shadra meyakini bahwa Akal, Kalbu dan Al-Quran adalah tiga jalur yang identik untuk mengenali rahasia alam. Ia berusaha keras untuk mendirikan sebuah mazhab filsafat yang dapat menjelaskan syuhud para urafa secara rasional juga berdasarkan ajaran agama, dan dapat mendukung dakwaan-dakwaan akal dengan syuhud para urafa.

Dengan kata lain, akal dan kalbu berjalan seiring dengan kandungan ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat yang shohih. Untuk itu ia berdalil bahwa Tuhan yang merupakan awal dari alam semesta adalah juga yang mengirim Al-Quran, memberi manusia kemampuan berpikir dan juga kalbu yang berkemampuan untuk syuhud hakikat alam. Oleh sebab itu wajar jika ketiganya saling mendukung dan seiring. Di sini kita hendak menjelaskan secara ringkas sejumlah prinsip filsafat Mulla Shadra yang menunjukkan potensi besarnya sebagai basis filsafat lingkungan hidup. Prinsip pertama adalah bahwa semua yang ada, termasuk di dalamnya Tuhan maupun ciptaan Tuhan yang dengan sendirinya memiliki hirarki dan strata keberadaan yang beragam, memiliki persamaan yang penting dan mendasar serta kesatuan erat yang tak dapat dipisahkan.  Walaupun Mulla Shadra tidak meyakini adanya wujud individual, meyakini ada banyak maujud di alam ini yang memiliki keragaman dan derajat yang berbeda, namun dalam keragaman dan keterbilangan itu, terdapat kesatuan dan ikatan yang mendalam antara semua maujud; dari Tuhan yang menduduki posisi tertinggi dan termulia dalam hirarki keberadaan, maujud-maujud di bawahnya sampai maujud yang terendah di alam benda. Mereka semua sama-sama ada.

Untuk memperjelas masalah ini, Mulla Shadra menggunakan perumpamaan yang berawal dari filsafat Persia kuno. Cahaya memiliki misdaq (ekstensi, denotasi) yang banyak. Misdaq-misdaq ini berbeda dari sisi kekuatan, kelemahan dan keragaman. Silsilah ini berawal dari cahaya lilin yang lemah, cahaya lampu kecil, cahaya lampu besar hingga berakhir ke cahaya matahari atau bahkan lebih kuat dari itu. Walaupun cahaya menjelma dalam beragam bentuk dan persona yang tak terhingga; dari segi ini cahaya sangat banyak jumlahnya, namun segenap bentuk dan corak memiliki kesatuan dari sisi ke-cahaya-an mereka. Jika kita menempatkan kegelapan di hadapan cahaya, semua persona cahaya akan serentak dan sepakat sebagai sesuatu yang mematahkan kegelapan. Ia berpendapat bahwa semua ‘yang ada’ sejalan dan laksana rantai yang terkait satu dengan yang lain dalam rangka menentang dan melawan ketiadaan. ‘Yang ada’ mencakup Tuhan, malaikat, manusia, langit, bumi, galaksi, binatang, pohon, tumbuh-tumbuhan, air dan benda-benda padat dan lain sebagainya. Tidak satupun keluar dari lingkaran kebersamaan dan kesatuan ini.

Prinsip kedua Mulla Shadra menyatakan bahwa hubungan antara sebab dan akibat merupakan hubungan yang eksis secara khas dan semacam hubungan matematis. Dalam silsilah angka, misalnya, kita tidak dapat mencabut angka 4 antara 3 dan 5 lalu menempatkannya di tempat lain. Tempat angka 4 hanya antara 3 dan 5. Begitupula hubungan antara sebab ‘A’ dan akibatnya ‘B’. Hubungan tersebut tidak dapat diubah dikarenakan sinkronisitas keberadaan di antara keduanya. Hubungan itu tidak dapat diubah. Tuhan adalah sebab dari ‘keberadaan’ semua maujud. Oleh sebab itu, hubungan keberadaanNya dengan maujud lain seperti langit, alam, bumi, manusia dan yang lain adalah sebuah hubungan keniscayaan. Begitu pula hubungan antara masing-masing akibatNya. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa hubungan antara satu maujud dengan yang lain di alam ini bersifat keniscayaan.

Karena Allah SWT, Maha Bijak dan Maha Mengetahui, Dia telah menciptakan alam dengan tatanan terbaik yang mungkin terjadi. Mustahil dibayangkan sebuah tatanan yang lebih baik dari yang ada. Jika mungkin maka pastilah telah diciptakannya. Dalam tatanan terbaik ini, posisi manusia sangat istimewa. Karena memiliki kehendak, ia berbeda dengan maujud yang tidak berkehendak atau berkehendak namun berlandaskan insting. Manusia memiliki kehendak yang bebas dan selalu berada antara dua jalur kebenaran dan kesalahan. Al-Quran menyatakan, Telah Kami tunjukkan kepadanya jalan, terkadang ia bersyukur dan terkadang mengingkari”. Karena merupakan maujud yang berkehendak bebas, manusia bisa menjadi salah satu kategori berikut di bawah ini:

(a) Hanya memikirkan dorongan syahwat kebinatangan dan mengatur hidupnya berdasarkan itu. Dengan demikian ia telah merubah dirinya menjadi binatang seperti yang tidak memikirkan kecuali perut dan libido.  (b) Melakukan penghancuran, aniaya dan kezaliman terhadap diri, masyarakat dan Tuhan. Dengan demikian ia berubah menjadi serigala yang tidak memikirkan selain kebuasan dan kekejaman. (c) Selalu berpikir untuk menipu orang lain dan mendasari tindakannya dengan itu. Dengan demikian ia menjadi manusia jelmaan setan. (d) Hanya mencari kesempurnaan, kejernihan dan kebersihan. Menghiasi jiwa dengan nilai-nilai kesempurnaan dengan menambah pengetahuan dan beramal salih. Ia adalah manusia yang menjadi malaikat.

Oleh sebab itu dalam tatanan terbaik alam semesta ini, hanya manusia yang memiliki peranan yang menentukan. Hanya kepada manusia, Tuhan menyerahkan pembentukan alam ciptaan sesuai dengan kehendaknya. Hanya manusia yang dapat menyampaikan tatanan terbaik ini ke posisi semestinya. Hanya ia pula yang dapat mendatangkan kerusakan di dalamnya. Hanya manusia yang dapat sampai ke tahapan tertinggi kesempurnaan dan melewati malaikat. Itulah harmoni yang sesungguhnya di dalam tatanan keberadaan. Dengan demikian ia menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dan cermin seutuhnya Tuhan. Atau sebaliknya, dengan menginjak nilai-nilai moral dan spiritual, ia jatuh ke lembah terdalam kehinaan. Dalam pada itu, Tuhan, pencipta alam semesta termasuk manusia, telah mengirim buku panduan melalui utusan-utusanNya untuk membimbing kehendak bebas manusia. Agar ia dapat mengenali jalur yang benar dari yang salah. Karena alam ciptaan dan kitab bersumber dari Tuhan, keduanya tidak hanya tidak bertentangan, malah terdapat harmoni dan sinkronisitas yang sempurna di antara keduanya. Masing-masing bertanggung jawab terhadap sebagian dari proyek tatanan terbaik ini.

Prinsip ketiga filsafat Mulla Shadra menyatakan bahwa segenap maujud di alam semesta, baik yang material maupun yang metafisikal, kesemuanya adalah tampilan dan jelmaan Tuhan. Semua laksana cermin menampakkan Tuhan di dalamnya. Oleh sebab itu semua maujud adalah tanda Tuhan. Poin lain adalah bahwa sebenarnya jelmaan dan pemunculan Tuhan tidak berbilang dan beragam. Dengan ungkapan lain, Tuhan tidak memiliki lebih dari satu jelmaan dalam tahapan kreasi dan aksi. Sebagai contoh jika kita memancarkan cahaya dari atas ke sejumlah kaca dengan warna yang beragam, cahaya yang terpentul ke benda-benda lain melewati kaca-kaca tersebut akan menjadi beragam sebanyak warna yang ada pada kaca-kaca tadi. Padahal hanya ada satu cahaya yang dipancarkan. Mulla Shadra berpandangan bahwa jelmaan dan emanasi Tuhan ke alam semesta hanya satu. Namun karena terkena pada banyak hal, menjadi beragam dan banyak.

Contoh lain Mulla Shadra mengenai hal ini dinukil dari Ibnu Arabi. Manusia memproduksi suara dengan cara melewatkan nafas yang keluar dari paru-paru melalui banyak titik yang berbeda; lidah, gigi dan bibir. Susunan suara menjadi ribuan kata, susunan kata menjadi kalimat, susunan kalimat menjadi media komunikasi yang dapat memindahkan ide, pandangan dan informasi yang tertutup di hati. Akan tetapi kesemuanya itu tidak lain hanya nafas yang keluar dari paru-paru manusia. Perbedaan hanya disebabkan karena nafas tersebut dalm perjelanannya telah membentur dinding dan permukaan yang berbeda-beda di mulut manusia. Makhluk Allah SWT juga seperti ucapan. Mereka semua adalah emanasi dan Nafas Ilahi (Nafas Ar-Rahman) yang berbenturan dengan quiditas-quiditas yang berbilang dan muncul dengan bentuk-bentuk makhluk yang beragam. Kesemuanya menunjukkan Tuhan sesuai dengan kadar dan kesiapan masing-masing.

Kesatuan di antara keragaman ini sangat mendasar dan penting. Hal tersebut menunjukkan bahwa jika manusia bergerak melawan bio-sistem dan makhluk lainnya, maka ia sendirilah yang sebenarnya merugi. Implikasi prinsip di muka adalah kenyataan bahwa seluruh bagian dan makhluk yang ada di dunia seluruhnya merupakan perwujudan serta bentuk nyata dari kebenaran Tuhan di alam raya. Semua makhluk merupakan nama dan kata Tuhan; “nama” di sini adalah sesuatu yang menunjukkan kebenaran yang spesifik. Seluruh hal merupakan tanda-tanda Tuhan; alam raya seperti sebuah cermin di mana Tuhan hadir dan nyata, dan semua makhluk ini dengan ukurannya masing-masing mewujudkan Tuhan; yang berarti, mereka semua mengindikasikan kehadiran Tuhan.

Berdasarkan atas deskripsi alam raya tersebut, seorang penyair Persia, Bab Taher mengatakan:

Aku melihat laut, dan aku melihat Engkau
Aku melihat padang pasir, dan aku melihat Engkau
Memandang laut, gunung, dan padang pasir,
Aku melihat semuanya sebagai wujud Engkau yang indah

Kenyataan bahwa semua makhluk, dengan keterbatasan yang ada padanya, merupakan tanda Tuhan akan kesucian, keindahan, kilauan, ilmu pengetahuan, hidup, dan kesempurnaan lainnya dari Tuhan. Seluruh makhluk tanpa terkecuali, diharuskan untuk memuji dan mengagungkan Tuhan, dan berdasarkan hal tersebut, Shadr-ul-Muta’allihin Shirazi percaya bahwa semua atribut kesempurnaan seperti hidup, intelektual, sinar mengalir dan beredar pada semua makhluk di seluruh alam raya.

Prinsip keempat Mulla Shadra adalah bahwa setiap maujud alam ini, yang berada di martabat dan level keberadaan manapun, memiliki semua sifat kesempurnaan. Setiap ‘yang ada’ memiliki kehidupan, pengetahuan, kekuatan, kasih sayang, cinta… sesuai dengan kadar keberadaannya. Sifat-sifat kesempurnaan mengalir di segenap maujud alam ini baik yang material maupun yang tidak. Itu karena semua sifat kesempurnaan adalah eksisten (bersifat ada). Maka, setiap ‘yang ada’ pasti memiliki sifat kesempurnaan. Di dunia, semua mendengar, melihat, sadar dan mencintai.  Semua mencintai Tuhan sebagai pelopor cahaya, kebaikan dan sebagai kekasih yang mereka semua menujuNya. Mereka tidak kunjung tenang sebelum mencapai cahaya, kesenangan dan kesempurnaan absolut, yaitu Allah SWT. Kesemua makhluk itu bertutur kata dengan mengingatNya, bertasbih, dan bersujud kepadaNya; sebagaimana Al-Quran menjelaskan: “Tidak satupun makhluk kecuali bertasbih dengan memujiNya akan tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka” (Al-Israa’: 44). “Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang di bumi…” (An-Nahl: 49).

Karena cinta mereka kepada Tuhan, mereka mencintai diri sendiri dan makhluk lain yang merupakan tanda dan aksi Tuhan. Argumen lain yang mendukung bahwa segenap maujud alam semesta mencintai diri sendiri dan makhluk lain adalah bahwa semua maujud itu baik dan secara alamiah semua mencintai kebaikan dalam ukuran apapun dan di manapun.

Jika kita hendak menyimak lapisan lebih dalam dari filsafat Mulla Shadra, kita akan menemukan bahwa ia meyakini bahwa kekasih dan ‘yang dicintai’ itu tidak lebih dari satu dan dia adalah Tuhan Yang merupakan kemolekan dan cahaya absolut. Namun dikarenakan maujud lain adalah akibat dariNya maka keindahan itu terdapat pada semua namun secara terbatas sesuai dengan level keberadaan masing-masing. Oleh sebab itu kita menemukan para pecinta Tuhan saat menyaksikan jelmaan dan refleksi cahaya dan keindahan Sang Kekasih di segala hal niscaya mencintai jelmaan-jelmaan itu karena Tuhan. Mengingat lingkungan hidup adalah salah satu jelmaan keindahan Tuhan, maka tentu kita akan memelihara keindahan lingkungan.

Peran dan posisi manusia dalam konteks prinsip ini adalah unik. Sebagai bentuk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia adalah perwakilan Tuhan dan wujud nyata Tuhan yang paling sempurna di muka bumi. Dia adalah pengemban kepercayaan yang berat dan tanggung jawab yang besar yang tidak dapat diterima makhluk lain. Manusia adalah perantara antara Pencipta dan makhluk lain mulai dari yang teratas (Tuhan) ke yang terbawah (pergerakan ke bawah) dari seluruh ciptaanNya dan sifat ketuhananNya (kita milik Tuhan)

Melalui manusialah kesempurnaan dan rahmat turun ke bumi; dalam perjalanan menuju Tuhan, melalui manusialah seluruh alam raya dapat menggapai Tuhan; dengan kata lain, manusia adalah penjaga alam, pemelihara, dan penyebab kehidupan di dalamnya. Bagaimanapun juga, sangat menarik bahwa manusia yang sama juga mencari bantuan dari alam dalam pendakiannya dan pergerakan ke atas menuju Tuhan; kesempurnaanya tidak mungkin tanpa alam dan isinya. Imam Ali bin Abi Thalib (AS) menjelaskan hal ini kepada salah seorang Muslim, yang mencoba mengingkari kehidupan dunia alami: “Adalah melalui dunia fana di mana para malaikat mencapai kesempurnaan. Adalah di dunia ini di mana wahyu Tuhan diturunkan ke bumi melalui Nabi dan orang-orang yang dibimbing kearah cahaya dan kesempurnaaan.”

Karena manusia memiliki atribut perwakilan ketuhanan dan kesempurnaan manusia dan mengharuskan keingkaran terhadap poros diri sendiri dan pemujaan diri sendiri, maka ketamakan, sifat materialistis, dan menggapai kesempatan dengan seluruh pengorbanan bukanlah merupakan pertimbangannya. Yang merupakan kepentingannya adalah untuk mengamati batasan dirinya sendiri dan hak makhluk lain (tanpa menghamburkan atau menghancurkan). Di alam dia melihat cahaya Tuhan, dan dia mendengar melalui telinga jiwanya suara makhluk alam yang diwajibkan untuk memuja Tuhan.

Tidak ada komentar: