Warisan Sastra Jawa Banten



Selain memiliki warisan kekayaan budaya dan intelektual Sunda, Banten juga memiliki warisan kekayaan budaya dan intelektual berbahasa Jawa. Secara historis, sebagaimana dipaparkan para sejarawan dan arkeolog yang meneliti dan menulis tentang sejarah dan budaya Banten, semisal Claude Guillot, penggunaan bahasa Jawa di Banten sebenarnya tak hanya telah ada semenjak Kesultanan Banten berdiri. Namun jauh sebelum itu, yaitu pada abad ke-10 yang bermula di Kerajaan Hindu Banten Girang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti yang bertitimangsa Prabu Sri Jayabupati yang menggunakan bahasa Jawa di Banten Girang dan di Cicatih Sukabumi yang dengan nyata menggunakan aksara dan bahasa Jawa.

Hanya saja, demikian lanjut Claude Guillot dalam bukunya yang berjudul Banten Sebelum Zaman Islam itu, penggunaan bahasa Jawa di Banten Girang itu memang sempat terputus, hingga akhirnya penggunaan bahasa Jawa di Banten mencapai periode mapannya bersamaan dengan berdirinya Kesultanan Banten hingga sekarang. Di jaman Kesultanan Banten ini, bahasa Jawa yang mulanya digunakan sebagai bahasa keraton, bahasa resmi perdagangan dan politik Kesultanan Banten, termasuk juga sebagai bahasa kesusastraan, lambat laun menjadi bahasa yang digunakan secara massif oleh masyarakat Banten, terutama masyarakat Banten di Banten Utara, semisal Cilegon, Serang, dan sebagain kecil wilayah Tangerang.

Hal itu merupakan sesuatu yang wajar, mengingat banyaknya kaum pendatang dari Cirebon, Demak, dan dari daerah lain, semisal Bali dan Jawa Timur menjadi penduduk dan masyarakat resmi Kesultanan Banten, hingga saat ini, selain masyarakat yang sudah sejak lama ada di Banten, yang di antaranya masyarakat yang bertutur bahasa Sunda. Bersamaan dengan itu pulalah, dengan sendirinya, berkembanglah bahasa dan budaya Jawa di Banten, yang kelak dikenal sebagai Jawa-Banten, tak terkecuali tumbuh dan berkembangnya folklore dan dolanan yang menggunakan tuturan bahasa Jawa di Banten tersebut, kemudian juga turut menjadi khasanah akulturasi dan penetrasi budaya dan bahasa Jawa di Banten tersebut.  

Dan seperti umumnya dolanan dan folklore, selain sebagai unsur hiburan dan permainanan, sebenarnya terkandung juga di dalamnya rekaman historis dan psikologis dalam folklore dan dolanan yang hidup di dalam masyarakat, selain juga siratan kearifan, yang khusus dalam hal ini tercermin dalam folklore dan dolanan yang menggunakan tuturan bahasa Jawa di Banten. Ambil sebagai contohnya bunyi lagu dolanan berikut: “Iris-iris timun // timun giliran santri // tambing etan ana payung // payung wong lamaran // tae em em ta em em ta em em // sapa sing dadi ratune.” (Potong-potonglah buah timun // buah timun kepunyaan santri // di sebelah timur ada payung // payung orang yang mau melamar // ta em em ta em em ta em em // siapa yang jadi rajanya?).  

Jika ditafsir secara bebas, bunyi lagu dolanan di atas sebenarnya menyiratkan suatu peristiwa historis Banten yang dikemas secara halus dalam nyanyian. Lagu dolanan tersebut seakan-akan hendak menceritakan, sekali lagi bila ini ditafsir secara bebas, terjadinya akulturasi budaya dan politik antara kaum migran dan lokal di Banten, di mana kaum migran dikiaskan sebagai seorang yang melamar. Atau bisa juga ditafsirkan bahwa lagu dolanan tersebut tengah menceritakan diangkatnya seorang raja di Banten, seperti tercermin dalam bait atau larik terakhir lagu dolanan itu sendiri: “Siapa yang jadi rajanya?”

Kesusastraan lisan masa silam, semisal lagu dolanan itu, selain hendak menceritakan kisah oral dari mulut ke mulut, sebenarnya dapat juga ditafsirkan sebagai ikhtiar sebuah masyarakat untuk merekam sejarah mereka sendiri. Sebab, seringkali folklore dan dolanan, selain tentu saja dapat mencerminkan kandungan psikologis masyarakatnya atau yang menjadi dunia rasa seperti harapan, keinginan, dan cita-cita mereka sebagai masyarakat dan manusia, tersirat juga relevansi historis tentang bagaimana kondisi sosial dan kesejarahan folklore dan lagu dolanan. Bukan hanya itu saja, dengan membaca dan menyimak folklore dan lagu dolanan, kita juga dapat mengetahui bagaimana kondisi dan suasana kehidupan masa silam masyarakat: “Kijing-kijing mati // matine ning pinggirkali // cecindil sing ngadusi, kekunang sing ngedamari // cecebong sing nangisi, baye sing ngiliri!”

Lagu dolanan di atas, meski tentu saja diciptakan sudah lama dan dalam konteks yang berlainan, mengingatkan saya ketika saya masih bocah yang mencari kijing (makhluk hidup yang hidup di sungai) ketika air sungai surut bersama banyak orang dan teman-teman saya sendiri. Jika demikian, folklore dan dolanan, salah-satunya, memang secara langsung menceritakan kehidupan sebuah masyarakat sembari dimaksudkan sebagai kiasan yang hendak mendedahkan kearifan. Dan karena sifatnya yang alegoris itulah, folklore dan dolanan juga sebenarnya dapat ditafsirkan secara bebas alias tak mesti ditafsirkan sebagai satu arti atau satu makna saja. Semisal lagu Kijing-kijing, itu sebagai contohnya, seolah hendak mendedahkan sebuah sindiran tanpa harus membuat yang disindirnya merasa tersinggung.  

Selain mengandung aspek psikologis dan historis, yang tentu juga kandungan kearifan yang umum sifatnya, ada juga folklore dan lagu dolanan yang hendak menyindir, mengejek, sekaligus memotivasi atau menyemangati siapa saja atau seseorang yang ragu-ragu dan kurang memiliki tekad untuk berbuat sesuatu, semisal dicontohkan lagu dolanan yang berjudul Sumbul Bamban berikut: “Sumbul bamban sumbul bamban // Isine bebotok doang // Subuh dandan subuh dandan // Bisane dodok doang.” Lagu dolanan ini juga sebenarnya multi-tafsir. Contohnya kita bisa saja menerjemahkannya sebagai sindirian kepada seorang perempuan yang malas dan terlampau senang berhias atau berdandan hingga sehari-harinya malas bekerja atau hanya duduk-duduk saja.

Atau kita juga bisa menafsirkan dan menerjemahkan lagu dolanan tersebut sebagai ejekan dan sindiran kepada seseorang yang meski telah rajin berdandan dan berhias, ternyata tak bisa berbuat apa-apa untuk memikat lawan jenisnya. Ragam tafsir itu sah-sah saja mengingat folklore dan lagu dolanan memang banyak yang tidak terlampau verbal alias yang secara saklek hendak mengemukakan apa yang dimaksudkan dan diceritakannya secara jelas atau rigid. Hingga kira-kira, di situ pulalah, terletak kearifan dan kekuatan literer folklore dan dolanan itu sendiri sebagai sebuah khasanah kesusastraan sekaligus historiografis dan psikologis masyarakat yang memproduksi dan menuturkan folklore dan dolanan tersebut.

Dalam folklore dan dolanan, kearifan masyarakat, sebagai contohnya, diaplikasikan dan diterjemahkan ke dalam nyanyian dan permainan. Dan selain memiliki maksud pedagogik dan memiliki kandungan yang sifatnya historis, folklore dan dolanan juga dapat menjadi cerminan rasa dan apa yang ada dalam jiwa, atau katakanlah aspek psikologis, masyarakat yang memproduksi dan menuturkannya, seperti dicontohkan lagu dolanan bahasa Jawa Banten berikut, yang pada saat bersamaan mengandung aspek pedagogik, psikologis, dan historiografis:

“Pitik tulak pitik tukung // tetulak si jabang bayi, // ngadohaken cacing racak, // sawan sarab pan sumingkir,  si tukang merkungkung arsa, // tetulak si jabang bayi. // Ngingu pitik berangbung, // tulak walik rob jaladri, // wulane amantya warna, // abang ireng putih kuning, // sing tukang majoni marga, // tulak walik aneng wuri. // Yen lara tan tambane pun, // godong pasrah ing Yang Widi, // brangbang lega ing manah, // adas lawan Pulosari, // lawan sinandingan do;a, // puraging jabang bayi. // Si Jabang bayi puniku, // kekasihing sukma jati, // rinaksa ing malaikat, // kinipasan widadari, // ginendeng para oliya, // pinayungan kanjeng nabi. // Jabang bayi agi turu, // pungpung raine becik, // ana ule lan kelabang, // ana lamuk memedeni, //lah uwis agi turuwa, // ana kokok beluk muni. // Ana kinjeng-tangis mabur, // miber ing kayangan niki, // angrungu tangis si jabang, // anulye si kinjeng balik, // ngetokaken kang memala // tumungkul sarwi cempuni.

Sebagai penutup tulisan ini, seperti diungkapkan Dr. Mufti Ali dari Bantenologi, ada satu paparan menarik yang diutarakan Mas Mangoen Dikaria tentang lagu dolanan Jawa-Banten yang berjudul Gegempalang, yang bunyinya sebagai berikut: Gegempalang wohing aren gelondong // wohing penjalin // umah-umah Banjar Kulon // kulon-kulon sekedaton // kedatone kupat kuning // kupat kuning kayu andong // andong kayu ketumpang // ketumpang lalawuh urang // dening rangde lusuh kembang. Menurut Mas Mangoen Dikaria, lagu dolanan ini menjelaskan tentang taksonomi tumbuhan, tanaman, dan sejumlah toponimi atau nama tempat. Kata gegempalang artinya adalah buah enau yang sudah tua atau wohing aren. Sementara gelondong adalah rotan atau wohing penjalin, dan kedaton artinya keraton. Sedangkan kayu andong dan ketumpang merujuk pada sejenis tanaman yang kayunya dipakai sebagai tumbak dan sejenis tanaman dengan batang kecil yang berdaun lebar dan biasanya dapat dipakai sebagai obat. Dan rangde kembang berarti janda yang masih muda.

Akan tetapi, menurut Mas Mangoen Dikaria, seperti diungkapkan kembali oleh Dr. Mufti Ali dari Bantenologi, lagu dolanan ini sebenarnya mengandung makna sindiran jika dipahami secara mendalam. Lagu dolanan ini, salah-satunya, memberikan gambaran ilustratif tentang kemaluan pria dan wanita. Gegempalang menurut Mas Mangoen Dikaria sesungguhnya bermakna “gegem palang”, di mana kata “gegem” merujuk pada kayu yang bentuknya seperti bagian belakang kura-kura, bagian pinggirnya rendah dan tengahnya cembung, yang akan mengingatkan kita kepada bentuk kemaluan perempuan. Sementara “wohing aren” atau buah enau, ketika masih muda disebut cengkaleng, yang bilang dilafalkan sukukata akhirnya saja maka akan berbunyi “leng” yang artinya lubang.

Selanjutnya, gelondong artinya jaro atau kepala desa, yang penyebutannya hampir sama dengan kata jero (dalam). Wohing penjalin atau buah rotan disebut kesur yang hampir sama bunyinya dengan susur (tembakau yang digunakan untuk membersihkan gigi) yang biasanya ditempatkan di antara dua bibir. Sedangkan umah-umah maksudnya adalah posisi atau tempat susur tersebut, dan banjar berbanjar atau berbaris. Kulon artinya kilen atau kekalen dan sekedaton artinya seperti kedaton (keraton) raja-raja dahulu yang biasanya berada di ujung kampung atau perkampungan. Lalu, kupat kuning atau ketupat kuning sering disebut juga koja berukuran segitiga, karena ada kupat jantung yang bentuknya seperti jantung. Kayu andong biasa dipakai untuk tombak. Jadi, menurut Mas Mangoen Dikaria, kupat kuning dan kayu andong dalam lagu dolanan gegempalang itu merujuk pada kemaluan laki-laki. Dan pelafalan andong hampir mirip dengan gendong, dan pelafalan ketumpang hampir mirip dengan numpang.

Jika demikian, menurut Mas Mangun Dikaria, salah-satu makna tersembunyi dari lagu dolanan gegempalang tersebut adalah bahwa lagu dolanan itu sebenarnya sedang menggambarkan adegan intim seorang pria dengan seorang janda kembang. Makna dan maksud tersembunyi tersebut, setidak-tidaknya, telah menunjukan kearifan orang-orang Banten masa lalu dalam menggubah sebuah nyanyian yang mengandung kiasan dan sindiran, yang tak ragu lagi telah mencerminkan tingginya kearifan dan kemahiran literer masyarakat Banten di masa lalu.

Sulaiman Djaya
Sumber: Harian Radar Banten 15 Februari 2013 

Banten Girang di Tahun 1920

Tidak ada komentar: