Nyanyian Waktu
---
Aku derita dan juga penawar
Kesederhanaan dan juga kemegahan.
Aku pedang yang menghancurkan
Aku mata air kekekalan
Aku api yang membinasakan
Aku taman kekekalan
Pertentanganku nyata
(Anggaplah itu tipu-muslihat):
Berubah selalu, diam senantiasa
Tak berubah dalam dada yang berubah.
Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan-
Aku tak terikat pada masa dan keluasan
Pada pergantian dan tahun kabisat
Kau adalah rahasia terpendam dalam dirimu
Aku adalah rahasia dari wujudmu.
Aku hidup karena kau memiliki jiwa
Dan tempat tinggalku adalah kesendirian jiwamu.
---
Riwayat Sayidina Ali
---
Ali seorang muslim termashur
Di depan mata Sang Pencinta, Ali adalah gugusan iman
Bakti pada keluarganya mengilhami aku hidup kekal
Hingga aku jadi mutiara kemilau
Bagai bunga nargis aku semata keindahan untuk dipandang
Bagai aroma wangi aku ngembara di tamannya
Dialah yang menumbuhkan anggur
Aku debu, tapi matahari membuat aku seperti kaca
Lagu mendendang dalam dadaku.
Dari wajah Ali
Muhammad melihat tanda-tanda baik
Oleh karena sifatnya yang luhur
Agama sejati ditegakkan
Perintahnya mengandung kekuatan Islami
Semua hormat padanya.
Abu Turab, demikian Muhammad memberi gelar padanya
Dalam al-Qur’an Allah menyebutnya “Tangan Allah”
Siapapun yang mengetahui rahasia kehidupan
Pasti mengetahui makna sejati dari nama-nama Ali.
Lempung hitam yang dinamakan jasad
Penuh kegelapan dan dosa
Sebab itu
Angan kita yang melambung tinggi
Kembali membajak bumi;
Dibuatnya telinga tuli dan mata kita buta
Digenggamnya pedang nafsu bermata dua
Dan banyak musafir kalah olehnya.
Tapi, Ali, singa Allah, menundukkan nafsu badani
Dan diubahnya bumi hitam ini jadi emas permata
Wahai kau yang diridhoi Allah, pedang siapa
yang memancarkan Cahaya kebenaran
Dialah Abu Turab yang kuasa menaklukkan nafsu badaniah itu
Namun, permatanya yang terindah adalah menguasai diri
Siapa pun akan jadi Abu Turab
Menerbitkan matahari dari ufuk barat
Siapa pun yang sanggup memperteguh dirinya
Tegak duduknya di singgasana kedaulatan
Di sinilah benteng Khaibar dihancurkan
Dan setelah itu tangannya menebarkan air Telaga Kautsar
Karena tinggi ilmunya dia bertindak selaku tangan Ilahi
Dan karenanya dia kuasai semua ini
Pribadinya adalah gerbang kota pengetahuan
Arabia, Tiongkok dan Yunani takluk padanya
Jikalau kau teguk anggur dari buahmu sendiri
Maka berkuasalah engkau atas bumimu sendiri
Menjadi tanah adalah keyakinan sang Agas
Jadilah penguasa bumi
Hanya itu yang layak bagi manusia
Jangan rapuh sebagai mawar
Keraslah seperti batu
Agar kau jadi dinding dasar tamansari!
Pahat patungmu jadi manusia!
Bangun umatmu jadi dunia!
Jika kau tak layak jadi dinding atau pintu
Maka orang lain akan menjadikan tanahmu batu batas semata
Wahai kau yang berkeluh kesah tentang kekejaman langit
Cermin dirimu berteriak pada ketidakadilan batu
Berapa lama akan kau tenggelamkan dirimu
dalam keluh-kesah-derita
Akan berapa waktu lagi kau pukul dadamu sendiri
Ingatlah! Daya hidup menyatu dalam amal perbuatan
Gairah penciptaan adalah hukum kehidupan.
Bangkitlah, bangun dunia baru!
Seperti Ibrahim yang tak hangus dalam api!
---
Satukan dirimu dengan dunia gelap ini
Berarti telah engkau campakkan perisaimu di tengah peperangan
Orang yang dapat melindungi diri sendiri
Yang sanggup menguasai diri sendiri
Yang pasrah menjalani nasib baik dan nasib buruk
Jika dunia ini tak sejalan dengan inginnya
Maka dia berusaha menggempur langit dengan amal-doanya
Dia akan menggali sari-pati alam semesta
Dan dirangkainya atom demi atom membentuk dunia baru
Akan dia putar balik jarum waktu
Dan oleh kuasanya sendiri dia wujudkan dunia baru
Yang akan menggembirakan hatinya
Akan dikorbankan jiwanya bagi kesenangan orang lain.
Dia yang hidup akal budinya
Akan mati-matian membuktikan kekuatannya
Alangkah nikmat Sang Pencinta dalam kerja kerasnya
Seperti Ibrahim yang memetik mawar dari kobaran api
Kekuatan manusia beramal jadi nyata
Jika dia menjalani kesukarannya dengan penuh senyum
Tidak seperti jiwa yang hina dina
Yang sarat keluh kesah dan sesal semata
Begitulah jalan hidup mereka
Hidup dengan kekuasaan asalnya adalah keinginan untuk menang
Berdamai dengan keadaan akan mendinginkan darah kehidupan
Rahimnya penuh ketakutan dan dusta
Jiwanya hampa dari kebajikan
Air susunya penuh dosa.
Wahai, insan yang selalu menilai, waspadalah!
Perusak itu selalu mengintai manusia
Jangan sampai kau jadi korban jika kau bijaksana
Dia seperti bunglon selalu menyerupa
Bahkan seorang yang paling awaspun
Tak dapat melihat bentuknya
---
Karena tabir menyelubung mukanya
Kadang tampaknya dia sebagai alim ulama yang lemah lembut
Kadang dikenakannya jubah ketaatan
Kadangkala dia seperti seorang yang penuh duka derita
Dia pun dapat berperan sangat penurut
Tapi, diam-diam dirampasnya keberaniaan manusia perkasa.
Tenaga adalah saudara yang tepat;
Kalau kau kenal akan diri sendiri
Maka lewat kekuatan tenaga akan kau kenal Tuhan
Kehidupan adalah benih dan kekuasaan adalah buahnya
Kodrat-iradat menyingkap rahasia yang benar dan yang bathil
Pandawa palsu merebut kekuasaan dari yang sah
Dan dengan memalsukan yang hakekat
Diramunya racun jadi minuman lezat
Yang baik dikatakannya buruk
Yang buruk dikatakannya baik
Wahai kau si pengingkar amarah
Tempalah dirimu lebih agung di antara dua dunia itu
Rebutlah ilmu rahasia kehidupan ini
Jadilah sang zalim yang menyingkirkan segalanya
KecualiTuhan!
Hai kau manusia berilmu, buka mata, telinga dan mulutmu.
Jika tak juga kau lihat jalan kebenaran
Tertawailah aku.
---
Suriah dan Palestina
---
Rahmat bagi logam buatan Barat yang berkilauan!
Gelas Aleppo yang jarang kini telah penuh anggur merah.
Jika orang Yahudi mengaku Palestina sebagai tanahnya
Mengapa orang Arab tidak menuntut Andalusia?
Rencana busuk telah disusun oleh majikan Inggris
Ini bukan kisah jeruk, madu ataupun kurma.
---
Rubayyat
---
Kau matahari, aku planet berputar
Mengitarimu, diterangi penglihatan-Mu
Tercerai dari-Mu aku menderita
Kau Kitab, aku cuma hurufnya
---
Bayang-bayang-Nya lebih karib di mata hati
Rindu melihat Dia lebih nikmat lagi
Pedih jiwaku. Lalu seorang Sufi berkata:
“Jalan berliku lebih baik daripada tujuan perjalanan.
Belajarlah menghargai dirimu, O Anak!
Adakah kau ini Muslim? Enyahkan kebanggaan
Keturunan. Jika orang Arab memandang kulit
Dan darahnya, katakan selamat tinggal kepadanya
---
Disebut Cina, Melayu, Turki, atau Afghan
Kita ini milik sebuah taman besar, pohon besar
Lahir di musim semi itulah keluhuran
Membedakan warna kulit adalah dosa bagi kita
---
Iskandar dan bendera dan pedangnya telah lenyap
Lenyap segala gelar, tambang emas dan kapal lautnya
Sejarah Ummat jauh lebih kekal raja-raja
Jamshid lenyap, namun Persia masih ada.
---
Kau masih terikat pada warna kulit dan ras
Maka kau menyebutku Afghan atau Turkoman
Namun pertama kali aku manusia, tak lebih
Baru setelah itu seorang India atau Sudan.
---
Sir Allamah Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab, India, 9 November 1877 – meninggal di Lahore, 21 April 1938 pada umur 60 tahun), dikenal juga sebagai adalah seorang penyair, politisi, dan filsuf besar abad ke-20.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar