Puisi Mohammad Iqbal

 

Nyanyian Waktu

---

Aku derita dan juga penawar

Kesederhanaan dan juga kemegahan.

Aku pedang yang menghancurkan

Aku mata air kekekalan

Aku api yang membinasakan

Aku taman kekekalan

Pertentanganku nyata

(Anggaplah itu tipu-muslihat):

Berubah selalu, diam senantiasa

Tak berubah dalam dada yang berubah.

Seperti jiwa manusia aku tak terikat

Pada lambang-lambang bilangan-

Aku tak terikat pada masa dan keluasan

Pada pergantian dan tahun kabisat

Kau adalah rahasia terpendam dalam dirimu

Aku adalah rahasia dari wujudmu.

Aku hidup karena kau memiliki jiwa

Dan tempat tinggalku adalah kesendirian jiwamu.

---

Riwayat Sayidina Ali

---

Ali seorang muslim termashur

Di depan mata Sang Pencinta, Ali adalah gugusan iman

Bakti pada keluarganya mengilhami aku hidup kekal

Hingga aku jadi mutiara kemilau

Bagai bunga nargis aku semata keindahan untuk dipandang

Bagai aroma wangi aku ngembara di tamannya

Dialah yang menumbuhkan anggur

Aku debu, tapi matahari membuat aku seperti kaca

Lagu mendendang dalam dadaku.

Dari wajah Ali

Muhammad melihat tanda-tanda baik

Oleh karena sifatnya yang luhur

Agama sejati ditegakkan

Perintahnya mengandung kekuatan Islami

Semua hormat padanya.

Abu Turab, demikian Muhammad memberi gelar padanya

Dalam al-Qur’an Allah menyebutnya “Tangan Allah”

Siapapun yang mengetahui rahasia kehidupan

Pasti mengetahui makna sejati dari nama-nama Ali.

Lempung hitam yang dinamakan jasad

Penuh kegelapan dan dosa

Sebab itu

Angan kita yang melambung tinggi

Kembali membajak bumi;

Dibuatnya telinga tuli dan mata kita buta

Digenggamnya pedang nafsu bermata dua

Dan banyak musafir kalah olehnya.

Tapi, Ali, singa Allah, menundukkan nafsu badani

Dan diubahnya bumi hitam ini jadi emas permata

Wahai kau yang diridhoi Allah, pedang siapa

yang memancarkan Cahaya kebenaran

Dialah Abu Turab yang kuasa menaklukkan nafsu badaniah itu

Namun, permatanya yang terindah adalah menguasai diri

Siapa pun akan jadi Abu Turab

Menerbitkan matahari dari ufuk barat

Siapa pun yang sanggup memperteguh dirinya

Tegak duduknya di singgasana kedaulatan

Di sinilah benteng Khaibar dihancurkan

Dan setelah itu tangannya menebarkan air Telaga Kautsar

Karena tinggi ilmunya dia bertindak selaku tangan Ilahi

Dan karenanya dia kuasai semua ini

Pribadinya adalah gerbang kota pengetahuan

Arabia, Tiongkok dan Yunani takluk padanya

Jikalau kau teguk anggur dari buahmu sendiri

Maka berkuasalah engkau atas bumimu sendiri

Menjadi tanah adalah keyakinan sang Agas

Jadilah penguasa bumi

Hanya itu yang layak bagi manusia

Jangan rapuh sebagai mawar

Keraslah seperti batu

Agar kau jadi dinding dasar tamansari!

Pahat patungmu jadi manusia!

Bangun umatmu jadi dunia!

Jika kau tak layak jadi dinding atau pintu

Maka orang lain akan menjadikan tanahmu batu batas semata

Wahai kau yang berkeluh kesah tentang kekejaman langit

Cermin dirimu berteriak pada ketidakadilan batu

Berapa lama akan kau tenggelamkan dirimu

dalam keluh-kesah-derita

Akan berapa waktu lagi kau pukul dadamu sendiri

Ingatlah! Daya hidup menyatu dalam amal perbuatan

Gairah penciptaan adalah hukum kehidupan.

Bangkitlah, bangun dunia baru!

Seperti Ibrahim yang tak hangus dalam api!

---

Satukan dirimu dengan dunia gelap ini

Berarti telah engkau campakkan perisaimu di tengah peperangan

Orang yang dapat melindungi diri sendiri

Yang sanggup menguasai diri sendiri

Yang pasrah menjalani nasib baik dan nasib buruk

Jika dunia ini tak sejalan dengan inginnya

Maka dia berusaha menggempur langit dengan amal-doanya

Dia akan menggali sari-pati alam semesta

Dan dirangkainya atom demi atom membentuk dunia baru

Akan dia putar balik jarum waktu

Dan oleh kuasanya sendiri dia wujudkan dunia baru

Yang akan menggembirakan hatinya

Akan dikorbankan jiwanya bagi kesenangan orang lain.

Dia yang hidup akal budinya

Akan mati-matian membuktikan kekuatannya

Alangkah nikmat Sang Pencinta dalam kerja kerasnya

Seperti Ibrahim yang memetik mawar dari kobaran api

Kekuatan manusia beramal jadi nyata

Jika dia menjalani kesukarannya dengan penuh senyum

Tidak seperti jiwa yang hina dina

Yang sarat keluh kesah dan sesal semata

Begitulah jalan hidup mereka

Hidup dengan kekuasaan asalnya adalah keinginan untuk menang

Berdamai dengan keadaan akan mendinginkan darah kehidupan

Rahimnya penuh ketakutan dan dusta

Jiwanya hampa dari kebajikan

Air susunya penuh dosa.

Wahai, insan yang selalu menilai, waspadalah!

Perusak itu selalu mengintai manusia

Jangan sampai kau jadi korban jika kau bijaksana

Dia seperti bunglon selalu menyerupa

Bahkan seorang yang paling awaspun

Tak dapat melihat bentuknya

---

Karena tabir menyelubung mukanya

Kadang tampaknya dia sebagai alim ulama yang lemah lembut

Kadang dikenakannya jubah ketaatan

Kadangkala dia seperti seorang yang penuh duka derita

Dia pun dapat berperan sangat penurut

Tapi, diam-diam dirampasnya keberaniaan manusia perkasa.

Tenaga adalah saudara yang tepat;

Kalau kau kenal akan diri sendiri

Maka lewat kekuatan tenaga akan kau kenal Tuhan

Kehidupan adalah benih dan kekuasaan adalah buahnya

Kodrat-iradat menyingkap rahasia yang benar dan yang bathil

Pandawa palsu merebut kekuasaan dari yang sah

Dan dengan memalsukan yang hakekat

Diramunya racun jadi minuman lezat

Yang baik dikatakannya buruk

Yang buruk dikatakannya baik

Wahai kau si pengingkar amarah

Tempalah dirimu lebih agung di antara dua dunia itu

Rebutlah ilmu rahasia kehidupan ini

Jadilah sang zalim yang menyingkirkan segalanya

KecualiTuhan!

Hai kau manusia berilmu, buka mata, telinga dan mulutmu.

Jika tak juga kau lihat jalan kebenaran

Tertawailah aku.

---

Suriah dan Palestina

---

Rahmat bagi logam buatan Barat yang berkilauan!

Gelas Aleppo yang jarang kini telah penuh anggur merah.

Jika orang Yahudi mengaku Palestina sebagai tanahnya

Mengapa orang Arab tidak menuntut Andalusia?

Rencana busuk telah disusun oleh majikan Inggris

Ini bukan kisah jeruk, madu ataupun kurma.

---

Rubayyat

---

Kau matahari, aku planet berputar

Mengitarimu, diterangi penglihatan-Mu

Tercerai dari-Mu aku menderita

Kau Kitab, aku cuma hurufnya

---

Bayang-bayang-Nya lebih karib di mata hati

Rindu melihat Dia lebih nikmat lagi

Pedih jiwaku. Lalu seorang Sufi berkata:

“Jalan berliku lebih baik daripada tujuan perjalanan.

Belajarlah menghargai dirimu, O Anak!

Adakah kau ini Muslim? Enyahkan kebanggaan

Keturunan. Jika orang Arab memandang kulit

Dan darahnya, katakan selamat tinggal kepadanya

---

Disebut Cina, Melayu, Turki, atau Afghan

Kita ini milik sebuah taman besar, pohon besar

Lahir di musim semi itulah keluhuran

Membedakan warna kulit adalah dosa bagi kita

---

Iskandar dan bendera dan pedangnya telah lenyap

Lenyap segala gelar, tambang emas dan kapal lautnya

Sejarah Ummat jauh lebih kekal raja-raja

Jamshid lenyap, namun Persia masih ada.

---

Kau masih terikat pada warna kulit dan ras

Maka kau menyebutku Afghan atau Turkoman

Namun pertama kali aku manusia, tak lebih

Baru setelah itu seorang India atau Sudan.

---

Sir Allamah Muhammad Iqbal lahir di Sialkot, Punjab, India, 9 November 1877 – meninggal di Lahore, 21 April 1938 pada umur 60 tahun), dikenal juga sebagai adalah seorang penyair, politisi, dan filsuf besar abad ke-20.


Tidak ada komentar: