Ramai-ramai Menyukai Puisi Rumi Sambil Melepaskan Status Keislamannya




oleh Pambudi Driya (30 April 2024)

Membahas perubahan pandangan Barat terhadap spiritualitas Timur, terutama dalam konteks popularitas karya-karya seperti puisi Rumi. Terjemahan puisi Rumi oleh Coleman Barks menjadi sorotan karena menghilangkan konteks keislaman dari karya-karya Rumi, menyoroti perbedaan pandangan antara Barat dan Timur dalam memahami spiritualitas.

Dulu orang Eropa berupaya untuk lepas dari paham lama alias doktrin keagamaan dan menggantikannya dengan doktrin baru alias doktrin sains. Tapi waktu berjalan layaknya roda; sekarang mereka malah berbondong-bondong kembali ke paham spiritualitas Timur, seperti ajaran Buddha, Hindu dan sufisme Islam. Hal ini dikupas tuntas oleh Martin van Bruinessen dalam bukunya Sufism and the Modern in Islam.

Dalam awal bab buku itu disebutkan bahwa tradisi sufisme di Islam pada abad ke-20 yang mengandung metafisika, etika, kekhusyukan beribadah, musik, puisi dan pengalaman mistis (bukan perdukunan!) dianggap tidak selaras dengan kehidupan modern. Namun di saat yang bersamaan muncul fenomena Gerakan Zaman Baru (New Age) yang berusaha mengkooptasi spiritualitas Timur.

Gerakan Zaman Baru yang kental akan pandangan oriental masyarakat Barat bisa kita temui dalam penerjemahan puisi-puisi Jalaluddin Rumi oleh Coleman Barks. Terjemahan Barks punya andil besar dalam mempopulerkan spiritualisme Timur. Yang dulunya dianggap udik, sekarang menjadi eskapisme keren dari hidup yang monoton. Tidak percaya? Tengok saja para bule-bule namaste yang mendekam di Bali dan India untuk “yoga” dan “meditasi”.

Mencabut “Timur” Dari Ajaran Timur

Masyarakat Barat jelas tak akan mengenal Rumi kalau bukan karena Barks. Terjemahannya yang paling anyar, “The Essential Rumi”, mendapat banyak pujian dan terjual jutaan eksemplar. Sebelumnya, Barks telah menerbitkan “The Soul of Rumi dan Rumi: The Book of Love”. Buku-bukunya laris manis, terjual di pasaran lebih dari lima ratus ribu eksemplar. Ini adalah prestasi besar, mengingat penjualan buku-buku puisi biasanya sulit menembus angka sepuluh ribu.

Saking tenarnya, banyak artis internasional yang tercantol Rumi. Beyoncé menamai anaknya Rumi.

Brad Pitt menato puisi Rumi di lengan kanannya, tepatnya di bicep, yang bertuliskan “there exists a field, beyond all notions of right and wrong. I will meet you there”. Chris Martin juga sama. Ia pertama kali diperkenalkan Rumi oleh temannya sebagai cara untuk mengeluarkannya dari lubang depresinya. Buku antologi puisi itu, tentunya, adalah terjemahan Barks. Saking membekasnya, ia mengutip puisi Rumi yang berjudul The Guest House dalam lagunya yang berjudul Kaleidoscope.

“This being human is a guest house / Every morning a new arrival / A joy, a depression, a meanness, / some momentary awareness comes / as an unexpected visitor.”

Tak hanya itu, impresi Martin akan puisi itu sampai membuatnya berhasil menelurkan album A Head Full Of Dreams. Menurutnya, puisi Rumi memiliki pesan bahwa perasaan—baik kebahagiaan maupun keputusasaan—mesti dimaknai sebagai ‘tamu yang harus diterima’.

Hal ini mengingatkan saya dengan tulisan Richard E. King yang berjudul Meditation and the Modern Encounter between Asia and the West. Ia membahas mengenai politik penerjemahan yang dilakukan oleh Inggris pada koloninya di benua Asia, Amerika, dan Afrika. Para penerjemah mereduksi konsep-konsep kompleks ini sebegitu rupanya sampai-sampai melenceng dari makna aslinya.

Mereka menyederhanakan dan mereduksi makna sehingga membuatnya melenceng dari makna aslinya. Ambil contoh konsep “dharma” Hinduisme yang diterjemahkan menjadi “agama”. Padahal keduanya berbeda seperti yang dinyatakan oleh Rajiv Malhotra, peneliti sekaligus pendiri Infinity Foundation yang fokus mempelajari studi tentang Hindu. Menurutnya, konsep “dharma” memiliki banyak arti dan bergantung sesuai dengan konteks ketika digunakan. “Dharma” melingkupi prinsip-prinsip yang ada di seluruh aspek kehidupan: perolehan kekayaan dan kekuasaan, pemenuhan keinginan, dan pembebasan—agama hanyalah salah satu bagian dari “dharma”.

Pada abad ke-20, Buddhisme mengalami transformasi besar-besaran di Barat. Menurut Kate Crosby, Buddhisme dianggap sebagai bentuk 'intelektualisme' dan cara ‘melatih mental’. Nasib serupa juga terjadi pada yoga. Praktik yoga yang sekarang digabungkan dengan gulat India yang akhirnya mengkultuskan maskulinitas dan kebugaran badan. Kemunculannya ada kaitannya dengan semakin populernya Hatha Yoga yang muncul di Mysore pada periode Perang Dunia I dan II.

Sayangnya, naiknya kepopularitasan ajaran spiritual Timur bukan berarti lebih banyak orang bijak tercerahkan di Barat. Karena bisa jadi seseorang yang belajar tentang ajaran ini berujung melakukan hal-hal ekstrem yang bisa membahayakan dirinya maupun orang lain. R.C. Zaehner, seorang guru besar dalam agama dan spiritualisme Timur, menulis dalam bukunya yang kontroversial Our Savage God “‘mendatangkan’ teks Hindu seperti Bhagavad Gita malah bisa melahirkan orang-orang seperti Charles Manson”.

Pernyataan ini tak hanya aneh, tapi juga bisa memperlebar sentimen anti-Asia. Produk kultural Asia dicabut dari akarnya, seperti yang sudah dilakukan oleh Jon Kabat-Zinn. Sebagai pionir pendekatan meditatif untuk meringankan rasa sakit fisik dan mental, ia ingin meditasi atau yoga tak lagi dianggap sebagai ajaran Buddhisme, Gerakan Zaman Baru, atau mistisisme Timur. Dengan kata lain, ia ingin praktek meditasinya hanya dianggap sebagai alat penyembuhan semata.

Merambat Ke Rumi

Hal serupa juga terjadi pada puisi Rumi. Karyanya dilepaskan dari konteks—ia hanya berdiri sebagai puisi buatan Rumi, tapi identitasnya sebagai muslim Persia tidak dianggap. Rumi bukan satu-satunya penyair yang dihilangkan identitas keislamannya. Para filolog Barat sudah menguliti identitas dan sejarah Islam dari puisi-puisi yang mereka sukai. Akibatnya, muncul salah kaprah bahwa Rumi adalah penyair universalis dan sekuler. Puisi-puisi cintanya hanya sebatas cinta kepada manusia, padahal maksudnya lebih luas dari itu.

Pernyataan tadi semakin diperkuat oleh Fatemeh Keshavarz, profesor studi Persia di Universitas Maryland. Besar kemungkinan Rumi merupakan penghafal Al-Quran (hafidz). Fakta ini yang jarang sekali ditemui di terjemahan bahasa Inggris Rumi. Kesembronoan ini lagi-lagi tak bisa dilepaskan dari kesalahan para penerjemah dan ahli teologi Inggris periode Victoria yang tidak paham Islam.

Namun bukan berarti semua penerjemah Rumi serampangan dalam melakukan pekerjaannya. Ada karya terjemahan R. A. Nicholson yang berjudull Rumi’s Masnavi, A. J. Arberry dengan karya agungnya Mystical Poems of Rumi dan Annemarie Schimmel dengan The Triumphal Sun: A Study of the Works of Jalaloddin Rumi. Ketiganya tak hanya menerjemahkan, tapi juga mengkontekstualisasikan karyanya dengan sumber-sumber yang kaya dan sahih. Tengok saja latar belakang mereka: Nicholson merupakan profesor di Universitas Cambridge yang menghabiskan hidupnya untuk mempelajari mistisisme Islam dan dapat memahami serta menerjemahkan teks-teks Sufi dalam bahasa Arab, Persia dan Ottoman Turki. Lalu A. J. Arberry merupakan seorang orientalis Inggris, sarjana, penerjemah, dan penulis buku yang berguru ke Nicholson untuk mempelajari bahasa Persia dan Arab. Sepak terjangnya tak main-main: ia telah mengedit lebih dari 90 buku dalam dua bahasa tadi. Kemudian Schimmel yang berkutat dalam teks Islam, terutama karya para sufi dan karya Rumi yang berjudul Triumphal Sun. Schimmel melakukan investigasi yang mendalam terkait unsur teologi Rumi dengan mengutip Al-Qur’an, hadis, serta prosa dan puisi Rumi lainnya.

Dari segi kualitas intelektual, terjemahan Barks jauh dibawah terjemahan milik Nicholson, Arberry, dan Schimmel. Kualitas terjemahannya tak lagi jongkok, tapi sudah tiarap. Ya bagaimana tidak, Barks tidak bisa bahasa Persia. Yang ia lakukan adalah mengubah bentuk terjemahan abad kesembilan belas era Victoria ke dalam syair-syair umum Amerika Serikat.

Peristiwa ini bermula ketika Barks mulai menerjemahkan Rumi pada 1976 dan mentornya, Robert Bly, penyair sekaligus penerjemah yang meminjamkan buku syair-syair Rumi yang telah diterjemahkan oleh A. J. Arberry. Ia mendorong Barks untuk membuat terjemahan syair Rumi “dibikin lebih pop biar terkenal”. Lucunya lagi, sebelum peristiwa ini terjadi, Barks tidak pernah mendengar nama Rumi.

Kalau saja peristiwa tadi tidak pernah terjadi, Barks tidak akan menerjemahkan ulang hasil terjemahan Arberry—lalu Nicholson dan Moyne yang tidak diterbitkan sebelumnya—secara ugal-ugalan. Ia juga tidak akan halu menganggap mimpi dimana ia didatangi seorang guru Sufi kenamaan sebagai wahyu bahwa ia harus melanjutkan pekerjaannya. Omong-omong, Barks sendiri baru bertemu dengan guru Sufi yang muncul di mimpinya dua tahun setelahnya. Namanya adalah Bawa Muhaiyaddeen, seorang guru Sufi asal Sri Lanka yang menetap di Philadelphia. Hubungan keduanya terus berlanjut sampai kematian sang guru di tahun 1986.

Terjemahan Barks dapat disebut sebagai “terjemahan sekunder”, hanya pengulangan terjemahan utama dari teks aslinya. Parahnya lagi, ia menggunakan emosi sebagai basis analisisnya alih-alih berdasarkan penelitian akademis serta melepaskan konteks Islam dari puisi-puisi Rumi. Ia sendiri mengakui dalam kata pengantar Rumi: Bridge to the Soul tidak memahami Quran.

Rumi yang Dilepaskan dari Keislaman

Tak bisa dipungkiri, penerjemahan merupakan pekerjaan yang sulit. Bahasa memuat banyak hal—dari budaya, agama, hingga adat-istiadat. Hal ini yang kerap kali sulit diterjemahkan sehingga penting bagi penerjemah untuk paham seluk-beluk budaya bahasa. Belum lagi tiap penerjemah punya interpretasi tersendiri terhadap materi yang ia terjemahkan. Mari lihat perbandingan perbedaan terjemahan Rumi oleh Arberry, Barks, dan Lewis.

Tiga terjemahan syair Rumi

A.J. Arberry, #379 in The Mystical Poems of Rumi (Chicago: University of Chicago Press, 2009), p. 357-8

You who are Imam of love, say Allah Akbar, for you are drunk; shake you two hands, become indifferent to existence.

You were fixed to a time, you made haste; the time of prayer has come. Leap up - why are you seated?

In hope of the qibla of God you carve a hundred qibla; in hope of that idol's love you worship a hundred idols.

Fly upwards, O soul, O obedient soul; the moon is above, the shadow is low.

Do not like a beggar knock your hand at any door; knock at the ring of the door of heaven, for you have a long hand.

Since the flagon of heaven has made you like that, be a stranger to the world, for you have escaped out of self.

I say to you, “How are you?” No one ever says to the “how-less” soul, “How are you?”

Tonight you are drunk and dissolute, come tomorrow and you will see what bags you have torn, what glasses you have broken.

Every glass I have broken was my trust in you, for myriadwise you have bound up the broken.

O secret artist, in the depths of your soul you have a thousand forms, apart from the moon and the Lady of the Moon [Mahasti].

If you have stolen the ring, you have opened a thousand throats; if you have wounded a breast, you have given a hundred souls and hearts.

I have gone mad; whatever I say in madness, quickly say, “Yes, yes,” if you are privy to Alast.

 

Coleman Barks, Open Secret: Versions of Rumi (Putney, Vermont: Threshold Books, 1984) p. 69

Forget your life. Say God is Great. Get up.

You think you know what time it is. It’s time to pray.

You’ve carved so many little figurines, too many.

Don’t knock on any random door like a beggar.

Reach your long hand out to another door, beyond where you go on the street, the street where everyone says, “How are you?” and no one says How aren’t you?

Tomorrow you’ll see what you’ve broken and torn tonight

thrashing in the dark. Inside you

there’s an artist you don’t know about.

He’s not interested in how different things look in moonlight.

If you are here unfaithfully with us,

you’re causing terrible damage.

If you’ve opened your loving to God’s love

you’re helping people you don’t know and have never seen.

Is what I say true? Say yes quickly,

if you know, you’ve known it

from the beginning of the universe.

 

Franklin Lewis, Rumi: Swallowing the Sun, (One World Publications, 2008), p. 92-93

YOU, LEADER of the prayers to Love

Let out with your “God is Great!”

for you are drunk

Shake your hands in dance

Turn your back on existence

You were promised to be on time

so you were making haste

Now that the call to prayer has come

Get moving! Don’t just sit there!

Hoping for the altar of truth

you carve a hundred altars

Hoping for the love of that idol

you adore a hundred idols

Fly up a little higher,

my love, my obedient love,

for the moon’s up high

and the shadow’s down low

Don’t bang on every door

like a door-to-door beggar

Grab the knocker of heaven’s door

Since your arms are long, it’s within your grasp

Since heaven’s flagon’s made you like this,

be stranger to the world, having freed yourself from self

I ask you how you are.

How can Howlessness be asked how are you?

Tonight you’re drunk and ruined,

when tomorrow comes you’ll see

How many casks you’ve opened

how many glasses smashed

For every glass I’ve broken

My reliance was on you:

You have mended countless kinds of breakings

You secret artist,

who contain within a thousand forms

beyond the moon,

beyond the bright beloved orb

You’ve left one rival in the dust, but filled a thousand throats with words

You’ve pierced one breast, but spared a hundred lives and hearts

I’ve gone crazy, whatever I say it’s madness talking,

so hurry up, if you were privy to God’s “Am I not …” [7:172]

and say yes, yes

Secara umum, penerjemah yang dianggap paling akurat di atas ialah Arberry, meski terlalu literal. Sementara dalam versi Arberry yang dikerjakan oleh Barks beberapa citraan dihilangkan atau disederhanakan. Misalnya di teks aslinya merujuk pada Tuhan atau “kemustahilan/بی‌چگونه” dihapus dan dibatasi pada realitas manusia “the street / where everyone says, “How are you?” and no one says, How aren't you?”. Dengan kata lain, nada puisi Barks terlalu individual dan mengajukan permintaan yang tak masuk akal kepada “kamu” dalam puisi tersebut. Walau terjemahan Barks canggung, tetap saja karyanya yang paling populer.

Terjemahan Barks menunjukkan perbedaan fundamental antara pandangan Barat vs Timur soal spiritualisme. Menurut Omid Safi, ada perbedaan yang cukup signifikan antara Barat dan Timur ketika membaca Rumi. Secara keseluruhan pandangan Barat terhadap Rumi menekankan pada spiritual individu dalam upaya mencari “kebahagiaan”. Sementara pandangan atau pembacaan tradisi Timur menjangkau pemikiran seorang sufi melalui tokoh sufi lain dan ajaran Islam yang lebih luas.

Lebih lanjut, Safi mengatakan alasan Rumi begitu terkenal di Barat karena “modernitas menjanjikan banyak hal namun hanya memberikan sedikit kebahagiaan sesungguhnya, keutuhan dan keharmonisan dunia.” Safi melanjutkan bahwa tampak “ada ruang kosong, tak pernah tersentuh, berantakan di dalam hatinya, dan karena itu mereka mencari kepingan kosong dalam hatinya pada puisi-puisi Rumi.”

Kita bisa setuju dengan pernyataan dari Safi, bahwa Rumi yang dipahami oleh Barat itu tidak mengutamakan keislaman yang melekat pada Rumi, atau memang karena penerjemahannya sengaja melepaskan jubah Islam yang biasa dikenakan oleh Rumi karena adanya anti-Islam yang telah mengakar. Pasalnya secara historis, kitab Masnavi/Masnawi yang berarti puisi dalam bahasa Persia ini disebut oleh Seikh Bahai, budayawan dan arsitek muslim Persia, “Masnawai Maknawi Maulawi (Rumi) adalah Quran dalam bahasa Pahlavi (Persia Kuno)” dan Safi menyebut karya-karya Rumi merupakan karya agung sastra Islam oleh Rumi yang disebut sebagai “keturunan dari jiwa Sang Nabi.”

Maka dari itu, adalah sebuah kesalahan besar untuk melepaskan Rumi dari konteks keislamannya dan menggantikannya dengan pesan kemanusiaan yang sekuler. Karena ruh utama dari syair Rumi adalah membawa manusia dari kehancuran menuju kesembuhan; menjadi manusia seutuhnya, paripurna (insan kamil) dan mencapai pada Cinta yang Sejati (Tuhan).


Coleman Barks: Rumi, Kasih Karunia dan Persahabatan Manusia

oeh Tami Simon (29 Desember 2013)

Tami Simon: Hari ini tamu saya Coleman Barks adalah seorang cendekiawan dan penerjemah terkemuka karya mistikus Persia abad ke-13, Jalaluddin Rumi. Ia mengajar puisi dan menulis kreatif di Universitas Georgia selama 30 tahun dan merupakan penulis banyak terjemahan Rumi, serta telah menjadi mahasiswa Sufisme sejak 1977.

Dalam episode Insights at the Edge ini, Coleman Barks dan saya berbicara tentang hubungan antara Rumi dan gurunya, yang ia panggil Sahabat, Shams Tabriz, dan bagaimana Coleman memperoleh wawasan tentang persahabatan ini berdasarkan hubungannya sendiri dengan seorang guru Sufi bernama Guru Bawa, Bawa Muhaiyaddeen. Kami juga berbicara tentang bagaimana Coleman pertama kali menerjemahkan Rumi dan bagaimana proses penerjemahan tersebut melibatkan Coleman yang jatuh ke dalam semacam trans sebagai bagian dari prosesnya. Terakhir, Coleman dan saya berbicara tentang anugerah, dan sebagai bagian dari percakapan kami, kami mendengarkan beberapa bagian baru dari rekaman Just Being Here: Rumi and Human Friendship. Berikut percakapan saya yang sangat menyentuh hati dengan Coleman Barks.

Coleman, saya ingin memulai dengan mengatakan bahwa saya sangat senang bisa berbicara dengan Anda, karena meskipun kita sudah lama saling kenal, saya belum pernah berkesempatan untuk berbincang seperti ini dengan Anda tentang pekerjaan Anda. Jadi, terima kasih.

Coleman Barks: Sama-sama. Terima kasih.

TS: Pertama-tama, saya ingin membahas sedikit tentang proses penerjemahan, dan proses Anda, apa yang Anda lalui ketika Anda mengambil sebuah puisi—puisi yang aslinya ditulis dalam bahasa Persia lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh orang lain—lalu Anda mengubahnya menjadi terjemahan Coleman Barks. Bisakah Anda menceritakan bagaimana proses itu bagi Anda?

CB: Yah, agak misterius. Saya masuk ke semacam trans, membaca puisi dalam terjemahan ilmiahnya, dan mencoba—yah, [tidak ada] yang luar biasa tentangnya, itu hanya semacam trans yang dialami dalam setiap pembacaan—di mana saya mencoba merasakan informasi spiritual apa yang mencoba muncul melalui gambaran-gambaran Rumi, lalu saya mencoba menuangkannya ke dalam puisi bebas Amerika dalam tradisi Walt Whitman dan banyak lainnya. Jadi, itulah garis besar prosesnya.

TS: Pernahkah Anda merasa khawatir, tahukah Anda, seberapa banyak karya Coleman dan seberapa banyak karya Rumi? "Apakah saya terlalu bebas berpuisi di sini?" Bagaimana Anda mengatasinya?

CB: Saya mencoba—saya tidak mengarang gambaran. Jadi saya mengambil gambarannya lalu mencoba mengembangkannya. Ini bukan puisi kata demi kata, tentu saja, dan Anda bahkan tidak akan menyebutnya beriman, karena saya tidak tahu bahasa aslinya, tahu? Saya tidak tahu bahasa Persia, saya baru mendengar nama Rumi di usia 39 tahun, terlalu tua untuk belajar bahasa itu. Lagipula, saya malas. [Tertawa]

Saya sangat menyukai medium yang saya gunakan untuk melakukan pekerjaan ini. Rasanya seperti sesuatu yang berbeda di luar pikiran. Saya menyebutnya "jantung jiwa", tetapi berada di suatu tempat yang berbeda dari mentalitas saya yang biasa. Sungguh memberi saya kesenangan luar biasa bisa memasuki wilayah kesadaran itu. Rasanya seperti saya hampir bisa bernapas di bawah air, tahu? Itu semacam—itu adalah cara bernapas—cara baru untuk berada dalam kegembiraan berada di dalam tubuh. Rumi mengatakan bahwa menjadi indrawi, dan dalam sebuah bentuk—di dalam tubuh—adalah penyebab kegembiraan yang luar biasa. Dan saya setuju dengan itu. Bagian itu ada dalam DNA saya, saya suka hidup. Dan Rumi juga. Dan saya pikir itulah mengapa kita tertarik padanya, karena ia memulihkan dimensi ekstatis kesadaran, dan kita mungkin telah melupakannya.

TS: Sekarang, ketika Anda mengatakan bahwa Anda tidak membuat gambar tetapi bekerja dengan gambar yang ada dalam aslinya, saya pikir akan menggoda bahwa, Anda tahu... satu gambar mengarah ke gambar lain... bahwa mereka dapat mengalir.

CB: Begitulah bentuk ode-odenya, ghazal-ghazalnya. Biasanya, ode-ode itu hanya berupa satu gambar demi satu. Dan masing-masing menguraikan semacam proses psikis, seperti kekosongan, atau apa pun arti ngengat yang terbang ke dalam api—Anda tahu, lenyap ke dalam cinta seseorang. Dia hebat dalam mengupas citra itu, gagasan tentang penyerahan diri. Saya tidak membantunya, saya tidak mengarang gambaran dengannya, saya mungkin terkadang merasa bersalah karena itu, tetapi saya tidak bisa memikirkan satu pun saat ini.

TS: Kamu bilang kamu bahkan tidak mendengar nama Rumi sampai kamu berusia akhir 30-an. Aku penasaran, ketika kamu mendengar namanya atau membaca puisi Rumi pertamamu, apakah kamu langsung terbakar semangat atau semacamnya?

CB: [ Tertawa ]

TS: Maksudku, karma hidupmu akan berubah selamanya.

CB: Itu memang benar, tapi bukan yang pertama. Itu konferensi Robert Bly, di mana dia pikir akan menjadi latihan menulis sore yang hebat untuk mengambil puisi Rumi dan terjemahan ilmiahnya, lalu mengubahnya menjadi syair bebas. Jadi kami melakukannya selama satu sore, dan dia memberi saya buku itu, dia berkata, "Puisi-puisi ini perlu dilepaskan dari kurungannya," artinya, kurungan bahasa ilmiah, dan dibuat lebih hidup dan lebih bebas. Saya telah mencoba melakukan itu, sekarang, selama 34 tahun. Tetapi setelah saya kembali ke Athena, Georgia, dan mulai mengerjakan puisi-puisi itu sendiri, saya benar-benar merasakan kebebasan—sesuatu yang sangat baru sedang terjadi, dan juga sesuatu yang lama dan sangat familiar bagi saya. Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tetapi begitulah rasanya. Rasanya seperti bentuk relaksasi yang luar biasa, Anda tahu, begitulah rasanya.

TS: Saya penasaran, apakah ada momen di mana Anda menyadari, "Saya akan menghabiskan banyak waktu mengerjakan puisi-puisi ini; ini benar-benar akan menjadi fokus hidup saya."

CB: Saya mengerjakannya, hanya sebagai latihan, selama tujuh tahun sebelum terpikir untuk menerbitkannya. Tidak terpikir oleh saya bahwa akan ada pembaca untuk karya ini. Yah, mungkin itu tidak sepenuhnya benar, tapi mungkin itu ada di benak saya. Saya tidak menerbitkan buku sejak tahun 1976 ketika saya mulai menulis hingga tahun 1984, ketika Open Secret terbit. Kemudian menjadi jelas bahwa karya-karya ini bermanfaat bagi banyak orang, jadi saya akan tetap melakukannya. Tapi situasinya berbeda ketika Anda memiliki pembaca untuk apa yang Anda lakukan dalam kesendirian. Akhirnya, HarperCollins mendapatkannya pada tahun 1995, dan sekarang sekitar satu setengah juta eksemplar telah terjual, jadi ini adalah fenomena penerbitan yang tidak dipahami sepenuhnya oleh siapa pun.

TS: Nah, Coleman, kamu bilang waktu kamu mulai menerjemahkan puisi-puisi Rumi ini, ada rasa familiar dan santai dalam prosesnya. Aku penasaran, di dunia batinmu, seperti apa rasanya hubunganmu dengan Rumi dan Shams?

CB: [ Berhenti sejenak ] Nah, sekarang saya ingin memastikan untuk tidak berbohong kepada Anda. [ Tertawa ]

TS: Bagus, saya hargai itu, terima kasih. Luangkan waktumu, saya senang menunggu kebenarannya.

CB: [ Tertawa ] Rumi dan Shams, dalam kehidupan saya sendiri?

TS: Ya, seperti apa hubungan kalian dengan mereka di dalam diri kalian? Apakah mereka terasa seperti legenda, apakah mereka terasa seperti teman-teman kalian? Bagaimana rasanya?

CB: Lebih tepatnya. Guru saya, Bawa Muhaiyaddeen, pernah berkata, "Bagi saya," kalau bicara tentang dirinya sendiri, "Rumi dan Shams bukanlah tokoh sastra. Mereka bukan orang-orang dalam buku. Saya mengenal mereka, seperti saya mengenal Anda." Dan itu memberi saya sebuah pemahaman—saya rasa, beliau mengizinkan saya masuk ke dalam identitas luas mereka berdua dalam persahabatan. Jika saya tidak bertemu dengannya, rasanya tidak akan sama. Akses saya terhadap puisi-puisi itu tidak akan seintim sekarang. Saya senang Anda menanyakan itu.

TS: Dan ceritakan sedikit—kapan Anda bertemu Bawa Muhaiyaddeen?

CB: Mungkin dalam mimpi, lho, lalu satu setengah tahun kemudian saya bertemu dengannya di dunia yang lebih nyata, tapi saya pernah mengalami beberapa mimpi prekognisi. Bagi saya, itu hanyalah fakta misterius bahwa pikiran dan kesadaran mimpi dapat bergerak maju dalam waktu dan melihat sesuatu, mungkin sebuah pemandangan, yang akan terlihat jelas di retina dua tahun kemudian. Saya tidak tahu bagaimana itu terjadi, tapi itu pernah saya alami, tidak sering, tapi pernah terjadi.

Jadi itulah yang terjadi dengannya, ia mampu datang kepadaku dalam kesadaran mimpi. Mimpi-mimpi itu menjadi jernih—aku terbangun di dalam mimpi, dan menyadari bahwa aku sedang bermimpi, tetapi aku masih tertidur. Dan dalam mimpiku bertemu dengannya, aku sedang tidur di tebing di atas Sungai Tennessee tempatku dibesarkan, dan di mana sekolah tempatku dibesarkan, tempat ayahku menjadi kepala sekolah, hanya lima mil di utara Chattanooga, di Sungai Tennessee. Saat itu malam, dan aku terbangun di dalam mimpi, dan sebuah bola cahaya muncul di atas Pulau Williams dan menghampiriku, dan tampak jernih dari dalam ke luar, dan seorang pria duduk di sana, dengan kepala tertunduk, dan selendang putih menutupi kepalanya. Ia mengangkat kepalanya dan berkata, "Aku mencintaimu," dan aku berkata, "Aku juga mencintaimu." Dan seluruh lanskap dipenuhi embun, atau kelembapan, dan kelembapan itu, entah bagaimana, adalah cinta. Ia menyebar ke seluruh lanskap. Aku merasakan proses pembentukan embun. Ini semua sangat misterius, tetapi sejauh yang saya tahu, itu benar-benar terjadi pada saya.

Lalu, satu setengah tahun kemudian, saya bertemu dengannya di Philadelphia dan dia bilang, karya Rumi ini, harus diselesaikan, dan saya berasumsi itu berarti dia akan membantu saya. Dan saya pikir dia, entah bagaimana, telah menjadi bagian dari prosesnya.

TS: Tahukah Anda, ketika Anda bermimpi, bahwa itu adalah mimpi yang penting?

CB: Ya ampun, ya. Ya. Saya mulai menuliskan mimpi-mimpi saya di awal tahun 1970-an dan sekarang punya sekitar 90 buku catatan mimpi. Saya masih menuliskannya. Ya, rasanya seperti—saya belum pernah melihat seorang pria muncul dalam bola cahaya sebelumnya! [Tertawa] Bahkan sejak itu pun tidak. Dia bisa mengunjungi saya dalam mimpi, dan dia melakukannya, dan saya akan pergi ke Philadelphia dan mulai menceritakan mimpi itu kepadanya, dan dia akan berkata, "Kamu tidak perlu menceritakannya, saya ada di sana." Jadi dia punya kemampuan untuk melakukan itu. Ada orang-orang yang berada di alam eksistensi lain. Saya hanya sangat beruntung dan bertemu salah satu dari mereka.

TS: Setelah Anda bermimpi, apakah Anda mencarinya?

CB: Tidak, tidak.

TS: Jadi itu terjadi begitu saja secara kebetulan, satu setengah tahun kemudian, Anda bertemu orang ini?

CB: Yah, itu agak berkaitan dengan karya ini, sangat erat. Saya mengirimkan beberapa versi, terjemahan, kepada seorang teman saya, yang mengajar hukum di Universitas Rutgers di Camden, dan dia membacakannya di kelas hukum perdatanya. Lalu, seorang pria muncul dari antara hadirin, Jonathan Granaw [ph], dan Jonathan bertanya, "Siapa yang membuat puisi-puisi itu?" Milna Ball [ph] memberi tahu Jonathan nama saya, dan Jonathan mulai menulis surat untuk saya, lalu dia berkata, "Ada guru di Philadelphia yang menurut saya harus Anda temui." Jadi, dalam suatu kunjungan pembacaan puisi ke sana, saya singgah di Philadelphia dan bertemu Jonathan, bertemu guru ini, dan saya menyadari bahwa dialah yang ada dalam mimpi saya. Dan tak seorang pun akan tahu itu kecuali saya dan dia. Tapi dia orang yang sangat unik dengan tatapan mata yang dalam dan indah sehingga dia sangat mudah dikenali. Begitulah pertemuan itu sebenarnya terjadi.

TS: Apakah Anda merasakan ada sesuatu dalam hubungan Anda dengan Bawa Muhaiyaddeen yang mirip dengan hubungan antara Rumi dan Shams, dan itulah bagian dari apa yang membuat Anda menghargai itu, dinamika guru-murid?

CB: Rasanya sangat mendalam, dan masih terasa mendalam, setidaknya sejak beliau meninggal di tahun 1986, rasanya hubungan ini lebih seperti persahabatan daripada hubungan guru-murid. Jadi, ya, saya memang merasakannya. Terlalu banyak yang ingin saya sampaikan, tapi saya merasakannya, ya.

TS: Senang sekali Anda menyinggung kata "persahabatan". Anda baru saja menerbitkan, melalui Sounds True, sebuah koleksi tiga CD bersama David Darling, sang pemain cello, berjudul Just Being Here: Rumi and Human Friendship. Dan sebentar lagi saya ingin mendengar sepotong dari koleksi tiga CD itu. Mungkin Anda bisa menyampaikan beberapa patah kata sebagai pengantar tentang gagasan inti persahabatan ini, Rumi dan persahabatan manusia.

CB: Nah, dia bilang persahabatan bisa berubah dari sekadar hubungan. Ya, memang begitu, sangat spesifik, dan Shams Tabriz adalah orang sungguhan, dari kota sungguhan, dan itu adalah hubungan yang spesifik, tetapi bisa meluas dan meluas hingga mencakup dan menjadi semacam atmosfer yang dijalani seseorang. Dalam salah satu metaforanya yang mengejutkan, dia berkata, "Apa yang tadinya hanya seseorang kini menjadi liburan tanpa batas." Tiba-tiba orang dalam hubungan itu menjadi seperti hari libur, hanya rasa kebebasan dan perluasan yang luar biasa, seperti liburan. Jadi, di bagian lain dia bilang Shams telah menjadi apa pun yang dikatakan orang—percakapan apa pun yang terjadi, seolah-olah dia tidak sengaja mendengar kekasihnya, itu telah menjadi bagian dari jalinan hidupnya. Mungkin kita harus mendengarkan sebagian dari set tiga CD itu.

TS: Ya, dan saya rasa Anda mungkin juga punya beberapa kemampuan prakognisi, karena lagu yang sudah saya siapkan, yang mungkin tidak Anda ketahui, berjudul "Holiday Without Limits."

CB: [ Tertawa ] Siapa yang bertanggung jawab di sini?

TS: Tepat sekali! Dan ini dari Just Being Here: Rumi dan Persahabatan Manusia. Mari kita dengarkan.

[ Musik dan puisi ]

TS: Coleman, menurut saya lagu ini memiliki begitu banyak lapisan makna, sampai-sampai Anda menciptakan koleksi terjemahan dengan musik tentang Rumi dan Persahabatan Manusia bersama seseorang yang, sebenarnya, adalah teman baik Anda, David Darling, sang musisi. Ceritakan sedikit tentang proses kerja sama tersebut dan bagaimana hal itu membentuk sebuah album tentang persahabatan.

CB: David Darling dan saya sudah lama ingin menciptakan sesuatu yang menggabungkan cello, musiknya, puisi Rumi, dan mungkin beberapa puisi saya sendiri yang memiliki nuansa orkestra, sesuatu yang lebih luas daripada instrumen tunggal. Jadi, dia menciptakan musik ini, lalu dia menambahkan sesuatu, seperti trek, lalu saya akan merasakan puisi apa yang cocok dengan musik itu. Dan sepertinya hasilnya cukup baik. Terkadang seperti itu, terkadang saya mulai membaca puisinya dan dia akan menambahkan musiknya, tetapi hasilnya dua arah, pertama puisi lalu musik, dan sebaliknya.

Kegembiraannya dalam proses, puisi, dan tentu saja, dalam musiknya, terlihat jelas di seluruh album. Ia memiliki kesegaran dan kegembiraan yang luar biasa. Saya sangat menikmati kehadirannya, dan saya rasa ia juga suka menghabiskan waktu bersama saya. Jadi, kami menikmati waktu kami di studio suaranya di hutan Connecticut dan mengerjakan ini. Itu bukan pekerjaan; itu benar-benar seperti bermain. Dan kami senang melakukannya.

TS: Saya rasa sebagian dari pertanyaan saya adalah saya ingin lebih memahami arti persahabatan bagi Anda, Coleman Barks. Bagian dari proyek ini, Anda sedang mengeksplorasi Rumi dan persahabatan manusia, tetapi saya juga tertarik untuk mengetahui apa artinya bagi Anda.

CB: Nah, apa yang bisa Anda katakan? Itu adalah pembukaan hati, dan semacam perasaan akan cara hidup yang baru, yaitu—seperti yang saya katakan di catatan—cara bernapas yang baru, mungkin. Itu tidak terlalu menakutkan dan tidak terlalu menyedihkan. Ketika Anda bertemu teman baru, dunia terasa lebih cerah, bukan? Segalanya menjadi lebih spontan, dan lebih penuh tawa, kebebasan, dan hal-hal baru, entah bagaimana. Semua itu tampak jelas dalam set tiga CD ini. Saya harap begitu.

TS: Salah satu komentar yang Anda buat di catatan liner yang menurut saya menarik adalah Anda berbicara tentang bagaimana, dalam puisi Rumi, matahari sering kali menjadi gambaran utama dalam memahami persahabatan manusia.

CB: "Shams" berarti "matahari", jadi setiap kali sinar matahari disebutkan, atau fajar yang akan terbit, selalu merujuk pada Shams, persahabatannya, cintanya, dan cinta mereka satu sama lain. Itu salah satu gambaran yang luar biasa. Seperti sebuah rahasia kecil yang ia ceritakan, dalam puisi-puisinya, bahwa dunia selalu memintamu untuk terbuka dan lebih mencintai. Lilin yang terbakar memberi tahumu; ngengat yang masuk ke dalam lilin memberi tahumu untuk melakukan itu; dan musik serta anggur selalu memberi tahumu untuk melepaskan buket bunga, nama-nama, dan sebagainya, lalu menjadi liar dan anonim, melalui otak manusia.

Di akhir puisi yang tidak saya masukkan dalam koleksi ini, ia berkata, "Segala sesuatu memohon pada bebatuan sunyi agar kau dilempar keluar bagai cahaya di atas dataran ini"—kehadiran Shams Tabriz. Jadi, cahaya itu sendiri—dan mungkin melihat dirinya sendiri, mendengar dan melihat—hanya karena hidup, baginya, adalah kehadiran seorang sahabat, persahabatan, kekasih. Anda tak bisa berkata banyak tentang misteri itu, tetapi tentu saja itu merupakan inti dari agama apa pun yang ada dalam puisi-puisi ini. Ini adalah agama tentang persahabatan yang mendalam, cahaya, dan musik juga, menurut saya. Citra seruling juga muncul, dan kekosongan yang harus terjadi agar seruling dapat menghasilkan musik, dan kekosongan pemain seruling. Dan kedua kekosongan itu entah bagaimana terkait dengan cinta, dan perpaduan kekosongan itu terkait dengan jenis cinta baru yang dibawa Rumi dan Shams kepada kita. Saya pikir itu baru, meskipun sudah berusia delapan abad, saya tidak tahu apakah kita telah menjalaninya. Ini adalah cara hidup yang baru, kedalaman batin, kegembiraan, dan berbagi. Tapi ketika kita mencoba membicarakannya, rasanya seperti lenyap begitu saja, hampir lenyap. [ Tertawa ] Jadi, cara terbaik untuk membicarakannya adalah melalui puisi dan musik. Jadi, mari kita dengarkan yang lain.

TS: Oke. Kita akan mendengarkan sebuah karya, yang berjudul "Raggedness". Dan ini juga dari Just Being Here: Rumi and Human Friendship. Mungkin kamu bisa memperkenalkannya untuk kami, Coleman.

CB: Nah, ini tentang banyak perubahan yang terjadi dalam hubungan murid-guru. Begini, "Dulu saya mati, lalu hidup." Jadi, intinya adalah sifat hubungan yang terus berubah, di mana mungkin ada guru yang terlibat, tetapi tidak ada yang tahu siapa muridnya dan siapa gurunya. Hubungan ini terus berubah-ubah. Baiklah, mari kita dengarkan.

[ Musik dan puisi ]

TS: Saya suka itu, sangat indah, Coleman.

CB: Gambaran bayangan tanah yang mengalir itu seperti sutra. Sungguh segar dan indah, ya?

TS: Ya.

CB: Ini masih sangat baru.

TS: Salah satu hal yang ingin saya dengar lebih lanjut, kalau boleh, agak pribadi, tapi saya belum pernah mendengar Anda bicara, sungguh, tentang hubungan Anda dengan Bawa Muhaiyaddeen —Guru Bawa, lebih mudah untuk mengatakannya. Anda sudah bercerita sedikit tentang pertemuan awal dalam mimpi, lalu saat pertama kali bertemu dengannya. Tapi saya penasaran bagaimana hubungan itu berkembang bagi Anda, lalu saat beliau wafat dan sekarang setelah wafatnya, 20+ tahun kemudian, bagaimana rasanya bagi Anda?

CB: Dulu beliau sering datang dalam mimpi setelah meninggal, tapi sudah beberapa tahun ini tidak muncul lagi. Saya tidak tahu apa maksudnya. Tapi saya masih merasa sangat dekat dengannya, dan saya senang mengunjungi makamnya di luar Philadelphia. Senang sekali rasanya bisa berada di sana.

Suatu kali, beliau datang dalam mimpi. Beliau mengajari saya menyesap sedikit demi sedikit dari segelas air, saya rasa. Saking kecilnya, seperti lebah atau kupu-kupu kecil yang sedang minum. Dan saya bertanya, "Apa artinya ini?" Beliau menjawab, "Kamu ingin menjadi bijak terlalu cepat. Teguk saja kebijaksanaan itu dan resapi." Jadi, itu nasihat yang bagus. Jangan terburu-buru mengambil kebijaksanaan. Ambil saja—jangan serakah. Saya tidak tahu apakah saya sudah mempelajarinya. Dalam mimpi yang sama, beliau mengajari saya untuk membungkukkan badan sepenuhnya. Beliau bilang punggung saya agak kaku, saya perlu membungkukkan badan sepenuhnya. Saya rasa saya tahu apa artinya: terlalu sombong. Jadi, saya perlu bersujud penuh. Saya yakin kejadian-kejadian lain akan terjadi pada saya, tetapi saat ini belum waktunya.

TS: Memberi saya firasat, terima kasih. Anda menyebutkan, Coleman, dalam tulisan dan terjemahan puisi Rumi Anda sendiri, bahwa Anda memulainya sebagai sebuah praktik, dan saya ingin tahu apakah Anda punya saran untuk orang-orang yang mendengarkan bacaan Anda atau terlibat dengan terjemahan Rumi Anda, buku-bukunya, bagaimana mereka akan menyikapinya sebagai sebuah praktik.

CB: Saya sudah sedikit berlatih—tidak hari ini—tapi saya suka mendengarkan terjemahan Rilke karya Stephen Mitchell. Saya punya teksnya, Elegi Duino ada di depan saya, jadi saya mendengarkan Stephen membacakan terjemahannya. Dan saya menunggu dengan selembar kertas kosong untuk melihat apa yang mungkin muncul di benak saya, ide untuk menulis atau untuk hidup saya atau apa pun, dan sepertinya—mendengarkan puisi, dengan teksnya dan selembar kertas kosong di sebelahnya, hanya untuk melihat apa yang mungkin ingin Anda tulis sebagai inspirasi dari puisi yang dibacakan dengan lantang. Ada hubungan yang erat, menurut saya, antara suara yang membacakan puisi dan gendang telinga Anda serta kemampuan menulis Anda. Jadi, menurut saya, ini adalah hal yang sangat intim antara suara yang diucapkan dan telinga yang mendengarkan.

Rumi punya puisi tentang mendengarkan. Ia berkata, "Kau harus meluangkan lebih banyak waktumu untuk mendengarkan secara mendalam." Ada praktik tersirat di sana, bahwa kau bisa menyelami lebih dalam ke dalam dirimu sendiri, jiwa dan hatimu sendiri, dengan mendengarkan. Aku tidak benar-benar punya praktik selain menulis puisi, puisiku sendiri dan ungkapan-ungkapan ulang Rumi ini. Itulah satu-satunya hal yang benar-benar kuperhatikan dengan setia setiap hari. Aku tidak bermeditasi. Oh, 20 menit di sana-sini, tapi tidak sampai kau menyebutnya praktik. Aku menulis setiap hari, aku meluangkan waktu untuk itu. Aku merekomendasikan kepada siapa pun yang ingin menulis agar kau tidak menunggu untuk terinspirasi, cobalah untuk memancing inspirasi keluar dari dirimu. Dan kau bisa melakukannya dengan mendengarkan berbagai produksi Sounds True.

TS: Baiklah, Coleman. Oke.

CB: Kerja bagus, Tami.

TS: Saya ingin mengakhiri dengan mendengarkan sepotong lagu dari salah satu CD favorit saya, Coleman. Ini dari rekaman kami hampir 20 tahun yang lalu—15 tahun yang lalu. Judulnya I Want Burning: The Ecstatic World of Rumi, Hafiz, and Lalla. Sebentar lagi kita akan mendengarkannya, tetapi sebelum itu, saya ingin menyampaikan betapa senangnya saya bisa berbicara dengan Anda, terutama—beberapa pendengar kita mungkin tahu ini, beberapa mungkin tidak—tetapi Anda baru saja terkena stroke.

CB: Ya, pada bulan Februari.

TS: Ya, kurang dari setahun lalu, dan Anda melakukannya dengan sangat luar biasa!

CB: Ya, memang, saya bisa mendengar suara saya tersendat-sendat dan tersendat-sendat, dan saya minta maaf atas hal itu, tapi begitulah dunia, begitulah tubuh. Tapi saya sangat, sangat beruntung bisa berbicara dengan lancar. Jadi saya bangga berada di sini.

TS: Saya penasaran apakah pengalaman itu mengubah Anda. Maksud saya, semua pengalaman mengubah kita, tetapi bagaimana pengalaman ini mengubah Anda?

CB: Itu membuat saya merasa lebih rapuh, lebih hancur, kurang fasih, seperti kata orang, kurang bangga pada diri sendiri. Seharusnya itu membuat segalanya lebih lucu, [ Tertawa ] tapi saya rasa tidak. Mengalami stroke adalah pengalaman yang aneh karena tidak sakit. Anda tidak tahu Anda mengalaminya kecuali Anda kebetulan seperti saya, berbicara di telepon dengan kekasih saya, Lisa Starr. Saya hanya berbicara dan saya menjadi tidak dapat dipahami. Jadi saya segera pergi ke ruang gawat darurat dan memeriksakan diri dan mendapatkan perawatan yang disebut TPA, saya rasa, yang hanya 2 persen korban stroke yang sampai di sana tepat waktu. Tetapi itu membantu Anda untuk pulih dan pulih jauh lebih baik daripada yang seharusnya.

Jadi saya sangat beruntung. Itu juga bagian dari persepsi saya, perubahan yang saya rasakan sejak saat itu. Sangat beruntung dan, entahlah, saya rasa agak tenang. Sedikit lebih tenang daripada sebelumnya. Dan saya merasakannya dalam suara saya, dan saya yakin orang-orang yang mendengarkan saya bisa membedakan antara suara rekaman sebelum stroke dan suara saya sekarang.

TS: Tapi itu sangat, sangat kecil, Coleman. Dan saya merasa sangat bahagia karena enam bulan kemudian—dan, tahukah Anda, ini aneh, karena Anda menyebutkan ketika Guru Bawa datang kepada Anda dalam mimpi, dan Anda berkata, "Saya sangat beruntung." Dan di sini Anda bisa langsung menyetir sendiri dan menerima perawatan yang hanya dua persen dari—"Saya merasa sangat beruntung." Apakah menurut Anda, maksud saya, apakah keberuntungan hanya seperti itu, jika dilihat sekilas?

CB: Tidak, maksud saya, saya tidak keberatan menggunakan kata "rahmat". Itu sebuah anugerah. Saya tidak tahu seperti apa kehadiran yang kita rasakan, tetapi saya lebih merasakan anugerah itu. Itu lebih berharga bagi saya karena pukulan ini. Saya pikir rahmat itu selalu terjadi, begitulah rasanya bagi saya. Itulah yang pasti terjadi dalam puisi Rumi—puisi itu dipenuhi dengan rasa syukur, keanggunan, dan kelucuan tentang semuanya. Ngomong-ngomong, mari kita dengarkan...

TS: Ini adalah karya yang disebut "Seperti Ini."

CB: Oh ya.

TS: Saya sangat menyukai karya ini dan seluruh rekamannya. Ini rekaman langsung saat Anda tampil di Santa Fe, dan saya sering menyebut produksi ini, I Want Burning: The Ecstatic World of Rumi, Hafiz, and Lalla, sebagai permata kecil, seluruh CD ini adalah permata kecil. Mari kita dengarkan.

[ Musik dan puisi ]

TS: Dan Coleman, seperti ini, momen ini, berbagi waktu ini denganmu, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak atas kehadiranmu di sini bersamaku, atas semua upaya yang telah kau lakukan, sungguh, untuk menghadirkan Rumi kepada begitu banyak dari kita. Tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa berharganya hal itu.

CB: Senang sekali. Dan terima kasih atas kerja kerasmu. Kamu mengerjakan set tiga CD ini dengan sangat indah, benar-benar sempurna. Dikerjakan dengan penuh cinta. Jadi, terima kasih untuk itu.