Sastra Wayang Romo Mangun

Oleh Sulaiman Djaya (Komite Sastra Dewan Kesenian Banten)

ABSTRAK
Sebagaimana didakunya sendiri, ideologi dan ikhtiar penulisan sastra-prosa YB. Mangunwijaya berusaha keluar dari pakem Lekra dan Manikebu. Terkait dengan hal tersebut, tulisan ini ingin mengulas spirit, kosmos (dunia wawasan), dan ideologi sastra-prosa Romo Mangun atau YB. Mangunwijaya, terutama sekali pada pilihan Romo Mangun untuk menulis, mengisahkan, dan atau menarasikan dunia dan pergulatan bathin serta dunia sosial-politik ‘wong cilik’ yang menjadi tokoh-tokoh prosanya, selain dengan sendirinya mengulas juga lanskap wawasan dan ideologi literer dan estetik YB. Mangunwijaya itu sendiri.

BAHASAN
Sebagai seorang penulis, arsitek, budayawan, sekaligus rohaniwan, YB Mangunwijaya merupakan sosok penulis yang prolifik sekaligus figur inter-(multi) disipliner. Secara pribadi, Romo Mangun adalah salah-satu penulis Indonesia yang merupakan tempat saya belajar (membaca), tentu saja melalui tulisan-tulisannya yang humoris itu. Tentu ada beberapa alasan kenapa saya belajar darinya. Contohnya, saya justru menemukan spirit Islam saya melalui sikap dan tulisannya yang mempraksiskan agama dan spirit religius keteladanan. Romo Mangun, demikian akrab disebut dan disapa, menjadikan praksis agama sebagai rahmat bagi mereka yang hidup, membela mereka yang lemah dan tertindas. Sebuah spirit dan praksis religius yang juga tentu saja saya dapatkan pada diri Rasulullah, Imam Ali, dan Imam Husain, yang dalam bahasa kerennya adalah agama yang membebaskan dan mencerahkan, yang kalau dalam bahasa para mahasiswa/i” disebut “theology of liberation” alias teologi pembebasan atau yang dalam bahasa Romo Mangun sendiri disebut “teologi pemerdekaan”. Dalam tulisan-tulisan dan sikap Romo Mangun, saya menemukan dan mendapatkan kesepadanan nilai dan spirit apa yang dikatakan Imam Ali, “Barangsiapa yang diam di hadapan penindasan dan kezaliman, maka sama saja bekerjasama dengan penindasan dan kezaliman”, yang edisi lengkapnya dapat kita baca dalam Nahjul Balaghah.  Dan juga perkataan Imam Ali lainnya, “Jadikanlah dirimu sebagai timbangan dalam hubunganmu dengan orang lain, dan cintailah orang lain itu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri”.

Akan tetapi, mengingat banyak dan beragamnya minat dan konsen tulisan-tulisan dan karya-karya Romo Mangun, tulisan ini tak hendak mengeksplorasi atau mengkespose spirit dan praksis religius Romo Mangun secara khusus, namun lebih pada upaya untuk mencoba menziarahi visi dan ideologi estetik Romo Mangun sebagai penulis dan sastrawan, meski spirit dan praksis religius dan minat lain Romo Mangun lainnya dalam tulisan ini pada akhirnya akan terbicarakan juga dengan sendirinya sebagai pelengkap dan cermin pinjaman untuk meneropong “dunia” tulisan-tulisan Romo Mangun. Tak lain karena spirit dan praksis religius Romo Mangun itu sendiri merupakan kosmos dan wawasannya yang akan membentuknya sebagai seorang penulis dan pemikir kebudayaan, juga erudisinya dalam isu-isu yang lain.
           
Sebagaimana ia ungkapkan dalam salah-satu esainya berjudul “Novel Saya dan Lakon Wayang” (Jurnal Kalam Edisi 9 Tahun 1997, hal. 54-58) itu, Romo Mangun secara gamblang menegaskan visi dan posisi estetiknya yang yang berusaha menjembatani dan melampaui dua ideologi besar yang populer dalam sastra Indonesia: Lekra dan Manikebu, meski ia tak menyebut dua ideologi estetik itu secara eksplisit. Dalam esainya itu Romo Mangun menegaskan diri bahwa ikhtiarnya dalam menulis prosa tidak ingin jatuh pada gagrak “sastra pop” namun pada saat yang sama berusaha menjadikan realitas kehidupan keseharian, terutama dunia dan kehidupan wong cilik, sebagai bahan dan materi tulisan prosa-prosanya, bahkan juga esai-esainya. Visi dan pilihannya itu, seperti telah disebutkan, tak terlepas dari spirit religius Romo Mangun sendiri, terlebih posisinya sebagai seorang imam diosesan Katolik, yang berusaha “membumikan” ajaran dan nilai-nilai keagamaan dalam praktek emansipatif, pencerahan, dan pembebasan masyarakat, yang dalam istilah theology of liberation lazim disebut sebagai teologi yang berpihak kepada mereka yang tertindas dan terpinggirkan.

SASTRA & WAYANG
Dalam esai berjudul Novel Saya dan Wayang yang menerang-jelaskan ihwal visi estetik dan proses kreatifnya itu Romo Mangun berusaha mengkomunikasikan spirit, visi, dan bentuk prosa-prosanya yang banyak mengambil khazanah dan wawasan dari wayang. Sebagai seorang yang lahir, hidup, dan akrab dengan kebudayaan Jawa, Romo Mangun adalah penulis yang berhasil, minimal dalam beberapa novel-nya semisal Burung-burung Manyar, menuliskan dan menarasikan relevansi dan universalisme nilai-nilai humanistik kebudayaan lokal bangsa sendiri. Ia sendiri dengan terus-terang menyatakan dalam esainya tersebut bahwa lakon dan tokoh prosa-prosanya tak lain “nasion Indonesia” dengan jalan menggambarkan dan menarasikan wong cilik, meski dalam kritik dan ulasan B. Rahmanto (Y.B. Mangunwijaya: Dunia dan Karyanya, Grasindo 2001, hal. 87) wong cilik atau masyarakat bawahnya novel-novelnya Romo Mangun bukanlah para tokoh utama, tetapi lebih merupakan tokoh-tokoh tambahan. Tetapi menurut saya hal itu tidak berlaku bagi sejumlah cerita pendek yang ditulisnya yang memang menjadikan orang-orang kelas bawah, seperti pengamen, pelacur, gembel, badut, gelandangan dan lainnya di kelas yang sama, sebagai tokoh-tokoh utama sejumlah cerpennya, seperti dalam buku kumpulan cerpennya yang berjudul Rumah Bambu (KPG, Mei 2006). Dan bila dilihat dari segi visi estetik, pilihannya pada wayang sebagai khazanah dan wawasan kosmologis prosa-prosanya, sebagaimana ia nyatakan langsung dengan lantang dan blak-blakkan, lebih karena menginginkan prosa-prosanya sebagai sastra adilihung, seni yang berpamor:

“Kita tahu bahwa dalam penghayatan pertunjukkan wayang kulit cara melihat siluet-siluet serba asbtrak itu diharapkan terasa pemaknaannya yang lebih dalam daripada bila orang melihat boneka-boneka wayang secara konkret wadak. Berkat pencahayaan blencong boneka wayang yang terbuat dari kulit dihadirkan sebagai bayangan, dengan kata lain bebas dari kewadakannya, alias dirohanikan. Bukan wujud, bentuk, warna dan cerita wadaknya yang punya arti dan dicari, akan tetapi pemaknaan serta pelambangannya. Itulah mengapa lakon yang dipilihnya pun tidak sembarangan. Selalu disesuaikan dengan peristiwa yang sedang dirayakan: kelahiran bayi atau pernikahan, hari ulang tahun kemerdekaan dst. Demikianlah wayang, kita tahu semua, lebih dari cuma pertunjukan, melainkan sebenarnya suatu upacara ibadat sakral yang memiliki pamor rohani” (Jurnal Kalam Edisi 9 Tahun 1997, hal.55).

Tampak jelaslah kepada kita, wayang yang diterangkan, diimajinasikan, dan diangankan Romo Mangun tersebut adalah wayang dalam mulanya yang ideal dan klasik, bukan yang dekaden seperti beberapa pentas dan pegelaran wayang belakangan ini. Dan ia mengkritik keras wayang yang telah dekaden tersebut: “Kini pertunjukan wayang kulit sayang sekali sudah dibuat dekaden, hanya dilihat sebagai pertunjukan hiburan belaka, serba dagelan bahkan pemenuhan nafsu-nafsu haus sensasi dan sering pelampiasan porno, pop komersial belaka dan dangkal karena unsur sakralnya sudah dilempar keluar. Keris tanpa pamor. Hanya besi runcing saja” (Ibid).

Beberapa kali, dalam esainya itu, Romo Mangun menekankan “pelambangan” dalam wayang yang menurutnya sepadan dengan simbolisme dalam sastra, yang kemudian ia perbandingkan dengan arsitektur Borobudur: “Setiap lakon pasti mempunyai makna serta pelambangannya. Namanya saja wayang, yang tentulah punya arti umum: bayangan, ialah bayangan yang menunjuk kepada sesuatu yang meng-atas-i cerita. Dalam seni tari ada istilah greget. Dalam pertunjukan wayang kulit, rakyat duduk di sisi dalang, pesinden, para penabuh gamelan, dan boneka-boneka wayang kulit yang biasanya tampak dilukis beraneka-warna dan emas perada; jadi wayang dalam bentuk wadaknya yang konkret (rupa-datu: bagian bawah candi Borobudur). Sedangkan tuan rumah dan para tamu terhormat di balik kelir melihat wayang dalam bentuk bayangan-bayangan siluet saja pada kain kelir, tanpa warna-warni serta bentuknya yang konkret (a-rupa-datu: bagian teratas candi Borobudur)” (Ibid, h. 54).

Memadukan kosmos wayang dan lanskap visi estetik sastra yang digali dari kosmos wayang tersebut dalam pandangan Romo Mangun tak lain karena baik wayang maupun sastra menampilkan sejumlah tokoh, cerita, dan kosmos atau dunia cerita yang pada dasarnya tidak berbeda, hingga dalam konteks ini baik wayang atau pun prosa, terutama novel, sama-sama menyuguhkan kisah dan adegan yang melibatkan tokoh-tokoh dalam suatu konteks pengisahan dan “kosmos”, yang pada saat bersamaan baik kisah dan adegan dalam wayang dan kisah serta adegan dalam prosa (novel) merupakan cermin moral dan refleksi pemahaman dan penghayatan bathin yang dipinjam sebagai pelambangan hidup dan dunia tempat kita berada ini. Namun, tentu saja, unsur dan spirit moral dan reflektif prosa-prosa Romo Mangun tidak serta-merta terjebak atau jatuh dalam “moralisme” yang dangkal dan artifisial alias verbal semata. Seperti dapat kita baca dalam beberapa novelnya dan sejumlah cerita pendeknya itu, prosa-prosa Romo Mangun lebih merupakan dunia-dunia dan kisahan-kisahan yang menyentil kita untuk peka, bersimpati, dan sekaligus berpihak kepada mereka yang kalah dan tidak beruntung, “yang bernasib sunyi” dan yang tertindas. Meskipun demikian, prosa-prosanya tidak kehilangan humor di saat berkisah dan bercerita tentang sebuah jaman, dunia dan tokoh-tokoh yang acapkali tragis. Suasana humor yang rileks sekaligus satiris, komedis, dan parodis itu, misalnya, dapat kita baca dan kita rasakan dalam “Pohon-pohon Sesawi” (KPG 2006).

Namun di sini rasanya patut juga dikemukakan bahwa tidak semua pegiat budaya dan para pengamat kebudayaan sepakat dan sepaham bahwa wayang masih relevan dalam konteks dunia dan masyarakat modern-demokratis saat ini. Yudhistira ANM Massardi, sebagai contohnya, dengan berani menyatakan bahwa wayang sebagai seni tradisi lebih mencerminkan kultur feodal dan sudah tidak relevan lagi untuk dunia saat ini. Alasannya tak lain, bagi Yudhistira ANM Massaradi, pentas dan pengisahan wayang berpakem pada tradisi kasta menyangkut bagaimana tokoh-tokoh wayang ditampilkan dengan tidak sederajat. Misalnya, seorang sahaya senantiasa membungkuk dan “menyembah” kasta ksatria, yang berbeda ketika seorang ksatria dengan ksatria lainnya beridiri sejajar. Barangkali karena hal itulah, para dalang modern dan kontemporer, seperti yang mereka ungkapkan dan mereka pentaskan pada Festival Wayang Jaringan Dalang di Taman Ismail Marzuki (7-9 Mei 1999) mulai mementaskan dan mempergelarkan pentas dan lakon wayang yang lebih egaliter dan selaras dengan kebutuhan dan trend masyarakat kontemporer. Sebuah upaya, sebagaimana telah disebutkan dalam tulisan ini, yang justru ditolak Romo Mangun, ketika memang saat ini banyak pentas dan pergelaran wayang hanya digelar dan dipentaskan demi hiburan yang sifatanya artifisial semata.

Berbeda dengan mereka yang mengkritik wayang yang masih berpegang teguh pada pakem klasik tersebut, Romo Mangun meminjam “dunia” wayang lebih karena “dunia” dan “pelambangannya” sesuai atau sama dengan realitas sosial-politik Indonesia di masa-masa ia produktif menulis dan kenyataan hidup masyarakat bawah yang acapkali tak berdaya berhadapan dengan “kebijakan” dan “manipulasi” politik yang ia gambarkan, ia kiaskan, dan ia narasikan melalui prosa-prosanya, terutama cerpen-cerpennya yang berkisah tentang nasib dan hidup wong cilik, seperti kumpulan cerpennya dalam buku Rumah Bambu (KPG, Mei 2006).

SASTRA & HATI NURANI
Selain esainya yang berjudul “Novel Saya dan Lakon Wayang” itu, esai Romo Mangun yang lain yang menunjukkan visi dan pandangan estetik-nya dalam kancah penulisan sastra, yang dalam hal ini berkenaan dengan dunia dan kosmologi prosa-prosanya, adalah “Sastrawan Hati Nurani”, meski nada dan spirit suaranya masih sama dengan esai berjudul “Novel Saya dan Lakon Wayang”. Terkait esainya yang kedua ini, Romo Mangun lebih melihat secara spesifik ragam “mentalitas” para sastrawan itu sendiri (Lihat juga B. Rahmanto, Y.B. Mangunwijaya: Karya dan Dunianya, Grasindo, Jakarta 2001, h. 5-6). Dalam esai tersebut, Romo Mangun menyebutkan lima “jenis” sastrawan. Pertama, sastrawan yang menulis demi mencari nafkah. Kedua, sastrawan yang karya-karya sastranya hanya menyanjung-nyanjung penguasa. Ketiga, sastrawan yang karya-karya sastranya berkubang pada pelampiasan nafsu manusiawi yang rendah (semisal sastra porno). Keempat, sastrawan yang sekedar iseng semata atau tidak memiliki komitmen estetik yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan Kelima, di mana Romo Mangun dengan terus-terang mendaku menempatkan dirinya di posisi ini, adalah “sastrawan hati nurani”.

Pilihan “sastrawan hati nurani” Romo Mangun itu, bagaimana pun tidak terlepas dari spirit dan pandangan teologisnya, seperti yang telah disebutkan, di mana visi teologisnya memandang bahwa agama sepatutnya menjadi praksis kebajikan bagi sesama manusia secara lintas-batas, tanpa dibatasi oleh sekat-sekat ras, keagamaan, kebangsaan, dan yang sejenisnya. Singkatnya, dalam banyak argumen dan pandangannya itu, visi estetik dan kepenulisan Romo Mangun bagaimana pun tidak mungkin dilepaskan dari visi teologis-nya sebagai seorang imam diosesan Katolik yang berusaha bergelut dan terlibat dengan orang-orang miskin, mereka yang kalah dan tertindas, orang-orang yang tertimpa ketidakadilan, dan orang-orang yang menanggung “nasib sunyi”. Rupa-rupanya, sebagaimana diakui oleh Romo Mangun sendiri, ada jejak dan pengaruh Max Havelaar sejauh menyangkut visi dan kerja kepenulisan Romo Mangun dalam kancah penulisan sastra. Dan sejalan dengan visi teologi pembebasan atau teologi pemerdekaan, sebagaimana dapat dibaca lewat esainya yang berjudul Gereja Antara Yesus dari Nazareth dan Caesar itu, bagi Romo Mangun sastra harus terlibat secara historis-politis dan pada saat bersamaan dapat memancarkan kebenaran serta keindahan estetis. Tak ragu lagi, visinya ini dapat menjadi visi dan pandangan alternatif yang melampaui atau “berusaha keluar” sekaligus “menengahi” dogmatisme tertentu sebuah pandangan, visi, dan ideologi Lekra dan Manikebu, dua ideologi yang bahkan secara politis acapkali saling berhadap-hadapan dan berkonfrontasi itu.

ROMO MANGUN SEBAGAI DALANG SASTRA
Tak diragukan lagi,dengan menjadikan wayang sebagai visi dan kosmologi estetiknya, Romo Mangun mengimajinasikan dirinya sebagai “Ki Dalang” ketika menulis prosa, terutama ketika menulis novel. Bahkan tak segan-segan menyertakan prolog dan kutipan pewayangan dalam novel-novelnya, seperti dalam Burung-burung Manyar, Genduk Duku, Lusi Lindri, dan Durga Umayi. Dan salah-satu tema dan materi yang ia wayangkan melalui prosanya adalah sejarah Indonesia dan sejarah Mataram, di mana yang kedua menjadi latar di hampir semua novelnya, utamanya di tiga novel yang telah disebutkan: Genduk Duku, Lusi Lindri, dan Durga Umayi. Dengan sendirinya, tokoh-tokoh yang ada dalam prosa-prosanya ia bayangkan sebagai para wayang, tak terkecuali tokoh Setadewa dan Larasati dalam novel Burung-burung Manyar itu. Khusus dalam prosa-prosanya yang menarasikan dan menyisip sejarah dan kultur politik Mataram, Romo Mangun “menggambarkan” Soeharto sebagai Amangkurat yang dingin, tapi bengis dan kejam. Personifikasi Soeharto itu juga ia tampilkan dalam salah-satu cerpennya Saran “Groot” Major Prakoso, di mana Soeharto dialusikan dan digambarkan sebagai tokoh “Groot Major” yang sewenang-wenang dan anti-kritik.

Jika dibaca secara seksama, akan terasa pula bahwa ketika Romo Mangun menggambarkan dan menarasikan kisah serta konflik kultural dan politik Mataram itu sesungguhnya hendak mengambarkan dan melakukan “pelambangan” situasi politik dan nasib orang-orang kecil di masa-masa ia menulis prosa dan terlibat secara langsung dengan kehidupan dan keseharian wong cilik, yang seperti kita tahu, merupakan tokoh-tokoh yang acapkali tidak sanggup melawan “keadaan” dalam kebanyakan novel-novel dan cerpen-cerpennya.  Jika Romo Mangun mengimajinasikan dirinya sebagai “Ki Dalang”, maka dengan sendirinya ia tak ubahnya “figur” yang memainkan tokoh-tokoh “wayang sastranya”, tepatnya ia tak ubahnya sebagai sang pendongeng yang membacakan kisah-kisahnya kepada kita. Hal itu, secara implisit, tidak ditepisnya, seperti ketika dalam sebuah diskusi ia ditanya oleh Olivier Rolin (Jurnal Kalam Edisi 9 Tahun 1997, hal. 59-60), seputar dikotomi yang ia paparkan seputar sastra pop, sastra serius, dan metafora intelektual dan spiritual wayang yang ia jadikan sebagai lanskap dan visi estetiknya, yang di sini akan saya kutipkan jawaban Romo Mangun kepada Olivier Rolin itu:

“Karena saya seorang Jawa, dan sastra yang diciptakan di pulau Jawa ini mestinya menyumbang pada khazanah sastra dunia, harus ada yang spesifik, karakteristik. Bagi saya itulah wayang. Wayang itu bukan hanya cerita, sebab semua orang sudah tahu. Paling tidak sebelum tahun 1970-an –wayang sarat pemaknaan. Kalau misalnya ada bayi lahir, lakonnya bukan hanya sembarang lakon. Kalau Anda mengatakan arti intelektual, saya juga tak begitu setuju, tapi dari segi spiritual metafisik. Hidup di dunia ini sebagai mikrokosmos yang hanya menggambarkan, mewayangkan –merealisasikan, menghadirkan –makrokosmos….Dengan demikian sastra popular itu pemaknaannya tidak banyak; ya ada kalau dicari-cari. Dalam sastra serius itu mesti ada sesuatu….Bahwa dalam sastra serius ada Sinn un Bedautung, arti dan pelambangan”

Pernyataan Romo Mangun tersebut tak diragukan lagi memandang sastra sebagai kerja dan estetika yang mendekati “sakral”, dan sebagaimana ia tegaskan, memiliki muatan spiritual, bahwa sastra harus menghadirkan “semesta” atau “kosmik” dan “pelambangan” yang sanggup memberikan “pelajaran moral”, pemahaman yang lebih baik, dan refleksi bagi para pembacanya, bukan yang hanya sekedar hiburan semata, verbal, dan miskin perenungan dan pelambangan. Singkatnya, sastra “berpamor”, sebagaimana “pamor” bagi keris dan “greget” bagi seni tari sebagaimana yang ia nyatakan dalam esainya berjudul “Novel Saya dan Lakon Wayang” itu. Bila demikian, bagi Romo Mangun, sastra yang seperti halnya wayang, dengan sendirinya adalah “media pedagogi” dan “wahana pembebasan” sekaligus cermin yang dapat dan sanggup “memotret” dan “memancarkan” nilai-nilai keluhuran dan wahana bagi refleksi serta “pembangunan pemahaman” yang lebih baik sejauh menyangkut hidup dan sikap kita sendiri kepada hidup dan mereka yang hidup.

Hanya saja pandangan dan “visi wayang” Romo Mangun tersebut tidak terlepas dari tafsir Romo Mangun sendiri sebagai seorang penulis sekaligus pemikir kebudayaan. Di sini ada baiknya dan cukup relevan untuk membanding “wayang” dan “kosmos wayang” yang dipahami dan diimajinasikan oleh Romo Mangun dengan “wayang” dan “kosmos wayang” yang dimengerti dan ditafsir oleh Sindhunata dalam esainya yang berjudul “Berguru Pada Estetika Semar” (Jurnal Kalam Edisi 9 Tahun 1997, hal. 67-70) yang dalam tafsir Sindhunata “wayang” dan “kosmos wayang” dapat juga dilihat dari sisi yang tidak sakral dan tidak harus terpaku pada pakem tokoh-tokoh utama seperti Arjuna atau Bima, tapi juga dengan menafsir dan mengakrabi sosok dan tokoh Semar yang buruk rupa itu. Dalam esainya itu Sindhunata mengemukakan adanya kesamaan kosmos dan visi penyakralan dalam kultur Jawa, yang tak hanya berlaku pada kasus wayang saja, tetapi juga sastra: “Kesusastraan dalam tradisi Jawa kuno tidak dapat dilepaskan dari sesuatu yang transenden. Ketransendenan inilah yang akan menjamin lancarnya suatu “kerja sastra” dan indahnya suatu karya sastra.”

Tetapi, bagi Sindhunata, dalam konteks jaman ini, ketransendenan tersebut tak harus melulu dipahami dan diaktualisasi kembali dalam kerangka yang masih terikat pada hal-hal yang sifatnya “metafisis” dan “adikodrati” yang tak mengafirmasi realitas kehidupan profan keseharian: “Bagi sastra jaman ini, ketransendenan itu nampaknya masih diperlukan, asal ketransendenan itu dimengerti bukan sebagai suatu atribut atau instansi yang abstrak, melainkan suatu “pengalaman transcendental”.

Teranglah kepada kita, ketransendenan yang dimengerti dan diimajinasi oleh Sindhunata dapat juga berlaku dan didapatkan, serta digali, dari hal-hal keseharian dunia profan yang acapkali “dianggap” tidak memiliki nilai transenden bagi kebanyakan orang. Singkatnya, dari pengalaman apa saja dan di mana saja, sepanjang realitas kehidupan keseharian profan tersebut didekati dan diintimi dengan “kepekaan” dan cahaya pemahaman yang berusaha mengakrabinya dengan sungguh-sungguh. Sementara itu, pilihannya pada tokoh Semar tak lain karena menurutnya tokoh itu merupakan metafor yang pas untuk menggambarkan ambiguitas sekaligus kompleksitas hidup manusia dan dunia kita sendiri: “Semar adalah tokoh yang paling disayangi oleh kebanyakan orang Jawa. Asal-usulnya adalah dewa. Tapi tempatnya bukan di surga, melainkan di dunia. Ia adalah hamba yang setia bagi manusia. Semar juga dianggap sebagai “dewa kesuburan”, pelindung tanaman dan petani Jawa. Sebagian mengatakan Semar adalah “unsur kegelapan” dan dunia bawah tanah….Tak ada keindahan sedikit pun pada Semar? Sebaliknya dia makhluk yang sangat jelek rupa….Ia adalah manusia, yang menyimpan ketransendenan dalam dirinya, karena itu ia selalu bisa mengatasi dirinya.”

Jelaslah, ketransendenan wayang bagi Sindhunata dapat juga ditemukan dan digali dari “sesuatu dan tokoh yang kita anggap buruk rupa: Semar”, namun justru pada saat bersamaan di sana yang sakral dan yang profan sama-sama ada pada manusia dan hadir dalam hidup keseharian kita ini. Dengan demikian, di mata Sindhunata, wayang dapat diimajinasikan dan diaktualisasikan secara fleksibel dalam konteks sastra, di mana dalam Anak Bajang Menggiring Angin-nya Sindhunata, sebagai contohnya, tokoh-tokoh wayang “yang di-prosakan” itu bukan figur-figur agung yang pakem dipentaskan, tetapi makhluk-makhluk buruk rupa seperti raksasa, monyet, dan makhluk-makhluk lain yang sejenis itu. Seperti dikemukakan sendiri dalam esainya yang berjudul “Berguru Pada Estetika Semar” itu, dan ini tentu saja sebagai perbandingan dengan visi dan kosmos wayangnya Romo Mangun, seorang sastrawan bebas memaknakan dan menafsirkan ulang “pakem” wayang yang tak mesti terlampau hitam-putih dan terlampau dikotomis yang seakan tak memberikan “ruang lain” dan kemungkinan baru bagi kreativitas kosmologis baru bagi dunia dan khazanah prosa sejauh menyangkut bercerita dan berkisah tentang dunia dan kehidupan manusia.

Setidak-tidaknya, dalam kasus prosa Romo Mangun sendiri, pengisahan dan “pewayangan” yang sejalan dengan pemahaman dan pengimajinasian Sindhunata tersebut adalah novelnya yang berjudul Burung-burung Manyar. Dalam novel itu, Romo Mangun bahkan berusaha mendekonstruksi arti dan makna nasionalisme dengan meminjam tokoh Setadewa alias Teto yang lebih memilih menjadi tentara KNIL ketimbang bergabung dengan pasukan Republik (Indonesia) di mana kekasihnya sendiri, Larasati, adalah asisten Sutan Syahrir yang tentu saja merupakan tokoh pejuang Republik bersama-sama dengan Soekarno. Bila demikian, Romo Mangun pada saat bersamaan, hendak menggambarkan Setadewa sebagai seorang yang pasca-nasionalis.  

SASTRA, TEOLOGI HUMANIS, WAYANG
Jika kita membaca prosa-prosa dan esai-esainya, akan dapat kita temukan tebaran “nuansa teologis” dan “spirit iman” Romo Mangun sebagai seorang imam (pastor) sekaligus seorang Kristiani yang saleh. Bahkan dapat dikatakan visi estetiknya tidak mungkin dilepaskan dari spirit iman dan nuansa keagamaan Romo Mangun, terlebih iman dan agama yang ia pahami dan yang ia hayati adalah iman dan agama “yang terlibat dengan manusia” (teologi pembebasan dan iman pemerdekaan), dan Romo Mangun tak hanya mewujudkannya dalam prosa-prosa dan esai-esainya saja, tapi terjun langsung alias terlibat langsung dalam praksis kemanusiaan ke kancah dan hidup orang-orang kecil, mereka yang terpinggirkan, kalah, atau mereka “yang didera nasib sunyi”. Di sini, esai yang menurut saya paling baik dalam menggambarkan dan menarasikan dunia karya dan kerja serta “sosok” Romo Mangun, adalah esai yang pernah ditulis oleh KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan dipublikasi harian Kompas pada 11 Februari 1999. Mengingat sangat “mengena-nya” gambaran yang dipaparkan Gus Dur dalam esainya itu, di sini saya akan mengutipnya dengan porsi yang cukup panjang:  

“Romo Mangun adalah hiburan yang menguatkan hati di kala susah (bagi orang-orang susah), tetapi juga membawa harapan kemajuan dalam hidup. Mereka terdorong untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi karena simpati yang diperlihatkan oleh Romo Mangun dan kehangatan cinta kasihnya yang diberikan kepada sesama umat manusia….Sosok Romo Mangun adalah pribadi yang mampu memancarkan sinar kasih keimanan dalam kehidupan umat manusia. Dalam diri Romo Mangun, keimanan tidak sekadar terbelenggu dalam sekat-sekat ritual agama atau simbol-simbol semata….Lebih dari itu, cinta kasih keimanan Romo Mangun mampu menembus sekat-sekat formalisme dan simbolisme. Dia kasihi dan dia sentuh setiap manusia dengan ketulusan cinta kasihnya yang terpancar dari keimanan dan keyakinannya. Inilah yang menyebabkan Romo Mangun mampu hadir dalam hati setiap manusia, karena dia telah menyentuh dan menyapa setiap manusia. Hal itu, tidak hanya tampak dalam kehidupan sehari-hari, melainkan juga dalam karya tulisnya. Kombinasi antara keterusterangan, kecintaan pada manusia, dan kepercayaan yang teguh akan masa depan yang baik merupakan modal utamanya.

Hal ini tidak hanya tampak dalam karya-karya sastranya melainkan juga dalam kupasan-kupasannya mengenai sejarah modern bangsa kita dalam kolom-kolomnya. Karya-karya tulis itu memperlihatkan keagungan jiwa manusia yang tahu benar apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya. Begitu juga tentang kehidupan yang menderanya dan janji kehidupan lebih baik yang menunggunya di masa depan. Prinsip-prinsip di atas tampak dalam novel-novel yang ditulisnya, terutama tentang masyarakat Jawa masa lampau. Dunia Roro Mendut dan Pronocitro dalam kupasan Romo Mangun yang sangat tajam, ternyata adalah dunia kita juga dengan segala kemelut dan permasalahannya. Ketegaran jiwa Roro Mendut adalah juga ketegaran jiwa Romo Mangun yang memperjuangkan kemerdekaan umat manusia atau yang menentang militerisme.

Keyakinannya akan proses memberikan keyakinan padanya bahwa setiap zaman membawakan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kelebihan oknum-oknum ABRI dikupasnya dalam berbagai kolom bersama-sama kepengecutan sebagian perwira maupun ketololan sejumlah politikus. Semua itu dia sajikan dengan bahasa yang halus namun tajam. Sindiran-sindirannya membuat setiap orang yang berpikiran cerdas dan peka merasa malu. Dalam hal ini, seolah Romo Mangun menjadi wakil masyarakat yang terlupakan dan tertinggalkan. Di samping ketajaman batin dan kepekaan nuraninya yang tinggi, sosok Romo Mangun juga menjadi simbol kesederhanaan. Sebagai seorang tokoh yang sudah bertaraf internasional, Romo Mangun tidak pernah menampakkan sikap ketokohannya dalam performance dan penampilannya. Sikap glamour dan berlebihan hampir tidak tampak dari Romo Mangun. Sikapnya yang demikian seolah mengajarkan kita akan pentingnya makna kesederhanaan dan pentingnya pengekangan diri untuk tidak hanyut dalam setiap predikat yang disandang dan prestasi yang diraih, apalagi kedudukan”.

Paparan almarhum Gus Dur tersebut, menurut saya sampai saat ini, merupakan ikhtisar terbaik yang pernah ditulis tentang hidup dan karya, juga tentang visi dan kerja estetiknya. Jika kita berpegang pada paparan dan gambaran Gus Dur tersebut, prosa-prosa Romo Mangun pada dasarnya adalah karya sastra satire, terutama satir politik dan sosial, yang katakanlah bahwa “kosmos wayang” yang ia pahami dan ia imajinasikan adalah juga “dunia wayang” yang di dalamnya terkandung satir dan humor sebagai jalan berpikir dan mendapatkan pemahaman alternatif sekaligus dalam rangka menyampaikan kritik atas ketidakadilan, kesewenang-wenangan, penindasan, dan kekuasaan yang menyimpang serta kolusif, justru ketika sejumlah cerita pendeknya, sebagai contoh, mengisahkan dan menggambarkan wong cilik. Sebagaimana wayang yang ia pahami, dalam hal ini dapatlah dikatakan bahwa sastra di tangan Romo Mangun pada akhirnya adalah sebuah “medium” atau jembatan untuk menyuarakan dan “mengimplementasikan” spirit dan pemahaman iman-nya sebagai seorang romo sekaligus sebagai seorang Kristiani yang saleh dan humanis, selain terjun langsung ke dunia dan kehidupan yang dialami dan dijalani rakyat kecil.

Selain karena spirit iman dan “agama cintanya”, yang izinkanlah saya menyebutnya sebagai “teologi humanis”, yang juga turut “membentuk” visi estetik dan pribadinya adalah kultur Jawa-nya. Kiranya tepat dan tak berlebihan apa yang dikemukakan Ignas Kleden menyangkut hal ini (Kompas, 12 Februari 199): “Dengan latar belakang kebudayaan Jawanya yang mantap, Mangunwijaya selalu tampil sebagai pribadi santun yang sekaligus menyimpan sejumlah besar bakat humor dan ironi yang selalu menghangatkan tiap pertemuan dan membuat hidup tulisan-tulisannya yang amat banyak. Dalam berbagai kesempatan berjumpa dengannya yang terlihat ialah bahwa dia sanggup menjaga keseimbangan jiwa dan perasaan, atau mental equanimity, yang menjadi ideal pendidikan dalam kebudayaan ini, tanpa takut menghadapi perbedaan pendapat dan pertentangan kepentingan dan bahkan santai saja menghadapi konflik dengan kekuasaan. Dididik sebagai seorang rohaniwan katolik, Mangunwijaya melihat dirinya pertama-tama sebagai seorang agamawan. Tetapi tema hidup keagamaannya adalah pengembangan iman dan religius, dan bukan mengerasnya lembaga agama yang dapat mengakibatkan kompartmentalisasi”.

Berdasarkan pandangan dan tafsir sejumlah penulis, agamawan, dan budayawan, visi estetik dan sikap hidup Romo Mangun sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari ke-Katolik-annya dan dari pemahaman serta penghayatan keagamaannya yang berusaha mengagungkan Tuhan sekaligus “berbakti” kepada manusia pada saat bersamaan. Pendek kata, karena “berbakti” kepada manusia adalah juga ruh ajaran keagamaan karena bakti kepada manusia adalah juga bakti kepada Tuhan, mestinya orang yang beriman dan beragama menjadi seorang yang “humanis”, berbuat-baik kepada manusia dan memanusiawikan manusia tanpa harus dibatasi oleh embel-embel identitas yang keras dan dikeraskan, tanpa harus memandang label keagamaan, ras, kebangsaan, dan yang sejenisnya. Sementara itu, dalam kerja dan karya-karya sastranya, yang dalam hal ini dalam prosa-prosanya, ia menemukan “medium” dan “metafora” untuk mempraksiskan dan membagi visi estetik dan spirit iman-nya, yang saya sebut sebagai teologi humanis, tersebut kepada publik luas melalui bentuk “narasi”, pengisahan, dan “lakon” wayang.

REFLEKSI
Dalam tafsir dan pembacaan saya, visi estetik, prosa-prosa, dan spirit serta praksis teologi humanis atau teologi pembebasan Romo Mangun merupakan kepaduan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Cerpen-cerpennya menjadikan rakyat kecil alias wong cilik sebagai para tokoh cerita tak lain karena Romo Mangun sendiri hidup bersama mereka dan mengenali serta mengakrabi mereka dari dekat. Ia terlibat dengan orang-orang yang menjadi tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpennya, sebagai contoh. Dengan kata lain, ia seorang penulis sekaligus seorang rohaniwan yang terlibat langsung dengan subjek-subjek yang ditulisnya ke dalam prosa atau pun esai.

Selanjutnya, yang juga turut membentuknya sebagai seorang penulis sekaligus rohaniwan, selain pendidikan Katolik-nya, adalah pengalamannya di masa-masa revolusi Indonesia dan internalisasi budaya dan kosmologi Jawa, terutama lakon dan filosofi wayang yang dipahaminya sebagai “citraan” atau “gambaran” hidup dan eksistensi manusia sekaligus kiasan makrokosmos. Singkatnya, wayang yang dipahami dan dimengerti Romo Mangun adalah sebuah imitasi dan kiasan mikrokosmos dan makrokosmos itu sendiri. Sementara itu, pilihannya pada upaya menggambarkan dan menarasikan orang-orang kecil, rakyat jelata atau wong cilik dalam prosa-prosanya, utamanya dalam cerpen-cerpennya, tak lain karena Romo Mangun ingin mendekosntruksi arti dan makna pahlawan, di mana menurutnya mereka yang sesungguhnya dapat disebut para pahlawan adalah wong cilik, yang acapkali juga adalah orang-orang atau manusia-manusia yang terjebak kondisi dan situasi sosial-politik, sebagai orang-orang yang terkena dampak kebijakan politik yang sewenang-wenang, sebagai contohnya.

Sebagaimana diakuinya sendiri, upayanya untuk mendekonstruksi arti dan makna pahlawan dan berusaha menggambarkan wong cilik sebagai para pahlawan tersebut, Romo Mangun terinspirasi oleh pidatonya Mayor Isman dalam peristiwa penyambutan Tentara Indonesia oleh rakyat kecil, dan Romo Mangun sendiri adalah seorang Tentara Pelajar (Y.B. Mangunwijaya, Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, Yogyakarta, Kanisius 1999, hal. 59-60): “Kami bukan pahlawan. Kami bukan bunga bangsa. Kami bukan madu bagi rakyat. Karena kami sudah membunuh, kami sudah membakar, kami sudah berlumuran darah dan melakukan hal-hal yang kejam….Yang pahlawan adalah rakyat jelata, petani-petani yang menghidupi kami. Jika Belanda datang, kami lari. Memang bukan karena (kami) pengecut, melainkan karena kekuatan tidak seimbang. Tapi rakyat tidak bisa lari. Mereka yang menjadi korban diperkosa, dibakar rumahnya, ditembak. Mereka yang berkorban.”

Pidato sang Mayor Isman yang sekilas tampak remeh tersebut ternyata cukup memberi kesan yang sangat mendalam dalam diri Mangunwijaya muda saat itu. Pidato itu pula yang terbukti memberi kunci dan pemahaman baru tentang kepahawanan dan nasionalisme, dan kemudian Romo Mangun berusaha mendekonstruksi atau minimal memberikan perspektif baru tentang kepahlawanan dan nasionalisme, hingga akhir hayatnya. Inspirasi dan perspektif baru tersebut kemudian mendapatkan kesepadanan dan keselarasan dengan spirit dan wawasan keagamaan dan keimanan Romo Mangun sendiri yang mempraksiskan iman-nya sebagai iman yang terlibat dan berpihak kepada orang-orang malang, rakyat kecil, dan mereka yang tertindas dan ditimpa ketidakadilan. Dan dengan kosmologi dan perspektif pewayangan, rakyat kecil atau wong cilik tersebut yang ia kisahkan, ia lakonkan, ia dongengkan, atau yang ia gambarkan dan ia narasikan melalui prosa-prosanya, khususnya melalu cerpen-cerpennya yang menjadikan orang-orang kecil atau wong cilik sebagai para tokoh utamanya, semisal cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam buku Rumah Bambu (Jakrata, KPG 2006). 

Dapat dikatakan, bahkan dapat juga disimpulkan secara holistik dan padu, wayang dalam kultur dan tradisi Jawa yang dipahami dan diimajinasikan Romo Mangun, yang ia bayangkan dan yang berusaha ia aktualisasikan, yang kemudian ia jadikan model dan visi estetiknya sebagai seorang sastrawan ke dalam prosa-prosa yang ditulisnya, adalah kosmos wayang yang telah “dipadukan” dan “diintegrasikan” dengan spirit dan nilai-nilai keagamaan Romo Mangun sendiri, seperti yang telah disebutkan, yang memahami dan mempraksiskan perspektif keagamaan dan spirit imannya mewujud dalam iman yang terlibat, iman yang hendak mengagungkan dan berbakti kepada Tuhan dengan jalan “berbakti” dan terlibat dengan dan bersama manusia, utamanya dengan dan bersama rakyat kecil alias wong cilik, yang dalam literatur dan khazanah teologi disebut dan dikenal sebagai theology of liberation: teologi pembebasan atau teologi pemerdekaan, yang baktinya dengan bekerja untuk membebaskan dan memerdekakan mereka yang tertindas dan ditimpa ketidakadilan. Di mana itu semua, seperti yang sama-sama kita tahu dan dapat kita rasakan, diwacanakan dan dinarasikan melalui prosa-prosanya yang mengisahkan kehidupan orang-orang kecil dan pinggiran, semisal pelacur, badut, tukang becak, anak yang tidak sekolah, gelandangan dan lain sebagainya yang berada dalam kelas yang sama.


Dengan demikian, visi estetik Romo Mangun, sekaligus posisi dan keterlibatannya dengan rakyat kecil sebagai seorang Rohaniwan dan imam diosesan, di mana spirit dan pandangannya dalam hal kepastoran dan ke-imanan-nya ini ia gambarkan dengan tepat dengan meminjam tokoh Yunus (Kariyo) dalam novelnya yang diterbitkan setelah ia wafat: Pohon-pohon Sesawi (Jakarta, KPG 2006), yang bila saya meminjam bahasanya almarhum Gus Dur, “Romo Mangun menjadi wakil masyarakat yang terlupakan dan tertinggalkan”, masyarakat yang dalam lakon dan kisahan wayang lebih sering sebagai “narasi kecil” dan kaum figuran itu, dalam prosa-prosa Romo Mangun dalam beberapa novel-nya, dan terutama dalam cerpen-cerpennya, menjadi para tokoh dan pemeran utama. Singkatnya, seperti yang ia akui sendiri terinspirasi dari pidatonya Mayor Isman itu, Romo Mangun juga telah mendekonstruksi “lakon” dan “penokohan wayang” dalam pakem tradisinya yang klasik yang berkutat pada para raja dan ksatria, menjadi lakon dan kisahan rakyat kecil atau wong cilik. Akhirnya, saya berani menyimpulkan, Romo Mangun telah “mewayangkan” wong cilik melalui sejumlah prosanya, sekaligus melestarikan spirit dan nilai wayang itu sendiri melalui sastra. 

  

Tidak ada komentar: